Chapter 37 of 75

Chapter 37 — Hari yang Biasa

1.3k words

Beberapa hari berikutnya berjalan tenang. Tidak ada orang asing yang kembali terlihat di sekitar hutan. Patroli House Varell tetap berjalan seperti biasa, tetapi tidak ada laporan mengenai serangan ataupun penyusupan. Bagi Julian, keadaan itu cukup sederhana. Jika tidak ada masalah, ia tidak perlu menciptakan masalah. Pagi hari tetap diisi latihan. Siang digunakan untuk membaca atau membantu keluarga. Sore menjadi waktunya bersama Zero dan Lunara. Rutinitas itu mulai terasa seperti bagian dari hidupnya. Dan Julian tidak keberatan. --- Pagi itu, Julian sedang berada di halaman belakang ketika Elena datang membawa sebuah kotak. “Julian.” Julian menoleh. “Ya, Kak?” “Aku menemukan sesuatu.” Elena meletakkan kotak itu di meja. Julian memperhatikannya. “Kotak apa?” “Barang lama.” “Dari mana?” “Gudang.” Julian membuka tutupnya. Di dalamnya terdapat beberapa benda kecil. Kain lama. Beberapa buku yang sudah menguning. Sebuah bros rusak. Dan sebuah papan permainan kayu. Julian mengangkat papan itu. “Ini milik siapa?” Elena duduk di kursi. “Entahlah.” “Kenapa membawanya kemari?” “Karena aku bosan.” Julian menatapnya. Elena tersenyum. “Dan kupikir kau mungkin tahu cara memainkannya.” Julian memeriksa papan tersebut. Ada beberapa lubang kecil dan pola garis di permukaannya. “Ini bukan permainan biasa.” “Memangnya kau tahu?” “Belum.” Elena menyandarkan dagu di tangan. “Jadi?” Julian membalik papan. Di bagian belakang terdapat tulisan yang sudah hampir pudar. Permainan Enam Bulan. Julian berhenti sebentar. Enam. Kata itu kembali muncul. Namun ia tidak langsung menghubungkannya dengan simbol yang ditemukan di hutan. Ia hanya membaca tulisan tersebut. “Sepertinya permainan strategi lama.” Elena langsung tertarik. “Bisa dimainkan?” “Mungkin.” “Kalau begitu ajari aku.” “Saya belum tahu aturannya.” Elena terdiam. “Benar juga.” Julian tersenyum kecil. “Berarti kita harus mencari tahu.” Mereka membawa papan itu ke perpustakaan. --- Edmund sedang menyusun beberapa dokumen ketika Julian masuk. “Edmund.” “Ya, Tuan Muda?” “Kami menemukan ini di gudang.” Julian meletakkan papan di meja. Edmund melihatnya. Awalnya biasa saja. Namun ketika matanya membaca tulisan di bagian belakang, ekspresinya berubah sedikit. Sangat singkat. Hampir tidak terlihat. Julian memperhatikannya. “Apa Anda mengenalnya?” Edmund mengangkat papan tersebut. “Permainan lama.” “Namanya Enam Bulan.” “Benar.” “Bagaimana cara memainkannya?” Edmund membalik papan. “Saya tidak yakin.” Elena langsung protes. “Edmund, jangan bilang Anda juga tidak tahu.” Edmund tersenyum. “Sayangnya, Nona Elena, saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk membaca laporan daripada bermain.” “Berarti tidak ada yang tahu?” “Belum tentu.” Edmund berjalan menuju rak. Ia mengambil sebuah buku tua. Kemudian membuka beberapa halaman. “Ah.” Ia menemukan sesuatu. “Di sini.” Julian mendekat. Sebuah gambar papan permainan yang hampir sama terlihat di dalam buku. Di bawahnya terdapat penjelasan singkat. Enam pemain. Satu pusat. Lima jalur. Tujuan permainan adalah menguasai titik pusat dengan menggunakan posisi dan pergerakan yang tepat. Elena membaca dengan wajah serius. “Enam pemain?” Edmund mengangguk. “Sepertinya.” Julian melihat papan. Ada satu titik di tengah. Lima jalur mengarah ke sana. Menarik. “Bisa dimainkan dua orang?” Edmund membaca lagi. “Versi aslinya untuk enam orang. Tapi mungkin bisa disesuaikan.” Elena langsung mengambil papan. “Kalau begitu kita coba.” Julian duduk. “Baik.” Mereka mulai bermain. Pada awalnya Elena bergerak tanpa pola. Julian memperhatikan. Tidak menyerang. Tidak terburu-buru. Ia hanya mengamati bagaimana Elena memilih posisi. Beberapa giliran kemudian, Julian mulai memahami aturan dasarnya. Setiap bagian memiliki pergerakan tertentu. Menguasai titik tengah memberikan keuntungan. Namun membuka satu jalur terlalu cepat bisa membuat bagian lain terjebak. Elena tersenyum. “Aku tahu kau sedang menghitung.” Julian menatap papan. “Sedikit.” “Jangan terlalu serius.” “Saya sedang bermain.” “Itu masalahnya.” Julian tersenyum. Permainan berlangsung hampir setengah jam. Pada akhirnya Elena kalah. Ia menyandarkan tubuh ke kursi. “Tidak adil.” “Kenapa?” “Kau menemukan polanya terlalu cepat.” “Bukankah itu tujuan permainan?” Elena memandang Edmund. “Dia menyebalkan.” Edmund tertawa kecil. “Tuan Muda memang memiliki cara bermain yang cukup... efisien.” Julian mengambil papan. “Permainan ini menarik.” Elena langsung menunjuknya. “Jangan bilang ‘menarik’ seperti orang tua.” Julian menatapnya. “Saya hanya mengatakan permainan ini menarik.” Elena menghela napas. --- Setelah Elena pergi, Julian masih berada di perpustakaan. Ia membuka buku yang ditemukan Edmund. Bagian mengenai permainan Enam Bulan hanya beberapa halaman. Tidak ada cerita panjang. Tidak ada nama tokoh. Tidak ada sejarah lengkap. Hanya permainan strategi yang tampaknya pernah populer di kalangan bangsawan dan perwira militer. Julian membaca beberapa catatan. Kemudian menemukan satu kalimat kecil. “Permainan ini juga digunakan untuk melatih pengambilan keputusan dalam kondisi ketika lima arah harus diperhatikan secara bersamaan.” Julian berhenti. Itu masuk akal. Bukan sekadar permainan. Sebuah alat latihan. Namun tidak ada alasan baginya untuk menggali lebih jauh. Ia menutup buku. --- Sore harinya, Julian pergi ke kandang. Zero sedang berdiri di bawah naungan. Julian membawa sisir. Ia mulai membersihkan bulu kuda itu. Zero berdiri tenang. “Besok kita pergi lebih jauh.” Zero mengangkat kepala. “Tidak ke timur.” Kuda itu mendengus. “Ke utara.” Zero kembali menurunkan kepalanya. Julian tersenyum. “Aku menganggap itu persetujuan.” Lunara muncul dari balik pagar. Julian memandangnya. “Kau ikut?” Lunara berjalan mendekat. “Baik.” --- Keesokan harinya, Julian benar-benar pergi ke bagian utara hutan. Wilayah itu tidak terlalu jauh dari estate, tetapi jarang ia kunjungi. Tanahnya lebih tinggi. Pohon-pohonnya lebih rapat. Dan beberapa bagian memiliki bebatuan besar. Zero berjalan dengan tenang. Lunara bergerak di depan. Julian membawa busur. Ia tidak membawa pedang latihan. Pedang asli tetap berada di pinggang. Bukan karena ia mengharapkan masalah. Ia hanya terbiasa membawa sesuatu yang bisa diandalkan ketika memasuki wilayah liar. Setelah berjalan cukup jauh, mereka menemukan sebuah aliran air kecil. Julian berhenti. Ia berjongkok. Airnya jernih. Ada jejak hewan di sekitar. Beberapa rusa. Kelinci. Dan sesuatu yang lebih besar. Julian mengikuti jejak itu. Beberapa meter kemudian, ia menemukan seekor monster kecil. Bentuknya mirip kadal besar dengan tanduk pendek. Monster itu sedang memakan tanaman. Julian tidak langsung menyerang. Ia mengamati. Tidak agresif. Tidak menunjukkan tanda penyakit Mana. Tidak perlu dibunuh. Ia memberi isyarat kepada Lunara untuk tidak mendekat. Mereka melewatinya. Julian kembali berjalan. --- Menjelang sore, mereka menemukan sebuah bangunan kecil dari batu. Bukan reruntuhan. Lebih seperti pos lama. Pintunya sudah rusak. Julian berhenti. Ia melihat sekeliling. Tidak ada jejak baru. Tidak ada bau manusia. Ia masuk beberapa langkah. Di dalam hanya ada meja rusak dan beberapa rak. Pada salah satu dinding terdapat ukiran. Enam garis pendek. Julian berhenti. Ia tidak menyentuhnya. Hanya melihat. Kemudian memperhatikan pola di sekelilingnya. Tidak ada simbol bulan. Tidak ada lambang keluarga. Hanya enam garis. Julian mengingat papan permainan yang ditemukan kemarin. Enam pemain. Enam jalur. Enam garis. Terlalu banyak kebetulan untuk diabaikan. Namun juga belum cukup untuk menarik kesimpulan. Julian keluar dari bangunan. Ia tidak membawa apa pun. Tidak menyentuh ukiran. Tidak mencari pintu rahasia. Ia hanya mengingat lokasinya. “Pulang.” Zero berbalik. Lunara mengikuti. Dalam perjalanan pulang, Julian tidak mengatakan apa-apa. Ia tidak merasa takut. Juga tidak merasa perlu menyelesaikan teka-teki itu sekarang. Ia hanya punya satu kesimpulan. Ada sesuatu yang pernah terjadi di wilayah ini. Dan mungkin suatu hari nanti, seseorang akan menceritakannya. --- Malam itu, Julian menunjukkan lokasi bangunan tua tersebut kepada Damir. “Di utara?” “Ya.” Damir melihat peta. Julian menunjuk sebuah titik. “Di sini.” Damir memperhatikan lokasi tersebut. Kemudian mengambil pena. Ia memberi tanda kecil. “Kau tidak masuk terlalu dalam?” “Tidak.” “Ada sesuatu di dalam?” “Bangunan lama.” Damir diam. Julian memperhatikan wajah ayahnya. “Apakah Ayah mengenalnya?” Damir menggeleng. “Tidak.” Jawabannya terdengar terlalu cepat. Julian tidak mengatakan apa-apa. Damir kemudian berkata, “Besok jangan ke sana lagi.” Julian mengangguk. “Baik.” Tidak ada pertanyaan lanjutan. Namun setelah Julian pergi, Damir tetap berdiri di depan peta. Edmund masuk beberapa menit kemudian. “Duke?” Damir menunjuk titik yang diberi Julian. “Pos lama.” Edmund mendekat. Ia melihat lokasinya. Kemudian wajahnya berubah. “Ini dekat jalur lama.” “Ya.” “Yang menuju...” Damir mengangguk. “Kita belum perlu memberitahunya.” Edmund terdiam. “Apakah menurut Anda mereka kembali?” Damir menatap peta. “Belum tentu.” Ia kemudian menggulung peta. “Namun sekarang aku tahu satu hal.” “Apa?” “Jejak yang ditemukan Julian bukan muncul secara kebetulan.” Di luar ruangan, langkah kaki kecil terdengar semakin jauh. Julian sudah kembali ke kamarnya. Ia tidak mendengar percakapan mereka. Dan malam itu, ia tidak memikirkan simbol enam garis. Ia justru memikirkan permainan yang ia mainkan bersama Elena. Enam pemain. Lima jalur. Satu pusat. Entah kenapa, permainan sederhana itu terasa seperti sesuatu yang pernah ia lihat dalam bentuk lain. Namun sebelum menemukan jawabannya, Julian menutup bukunya. Besok masih ada latihan. Dan hidupnya masih berjalan.

End of Chapter 37