Chapter 36 of 75
Chapter 36 — Nama yang Salah
1.1k words
Julian tidak langsung menceritakan semuanya kepada Damir.
Bukan karena ia ingin menyembunyikannya.
Ia hanya ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
Pria itu telah berbohong mengenai asalnya.
Itu fakta.
Namun alasan dia datang belum diketahui.
Bisa jadi pengintai.
Bisa jadi pemburu yang memang kebetulan salah menyebut desa.
Bisa juga seseorang yang sedang menguji seberapa mudah House Varell menerima orang asing.
Julian tidak akan memilih kesimpulan sebelum memiliki cukup informasi.
Begitu tiba di estate, ia menyerahkan hasil buruannya kepada salah satu pelayan, lalu membawa Zero ke kandang.
Lunara masuk ke rumahnya sendiri di sisi halaman.
Julian mengusap leher Zero.
“Besok jangan pergi terlalu jauh.”
Zero mendengus.
“Aku tahu.”
Julian kemudian masuk ke rumah.
Di lorong, ia bertemu Edmund.
“Tuan Muda.”
“Edmund.”
Edmund melihat busur di punggung Julian.
“Berburu?”
“Ya.”
“Berhasil?”
“Cukup.”
Edmund mengangguk.
Julian hendak melewatinya.
Namun ia berhenti.
“Edmund.”
“Ya?”
“Saya bertemu seseorang di hutan.”
Ekspresi Edmund berubah sedikit.
“Siapa?”
“Dia mengaku pemburu dari Desa Harven.”
Edmund diam.
Julian melanjutkan,
“Dia mengatakan hutan timur tidak aman karena banyak monster.”
“Di mana Anda bertemu dengannya?”
“Jalur barat.”
Edmund menatap Julian.
“Dan menurut Anda?”
“Dia berbohong.”
Jawaban itu keluar begitu saja.
Edmund tidak langsung bertanya mengapa.
“Kenapa?”
“Dia datang dari arah timur.”
Edmund mengangguk perlahan.
“Lalu?”
“Dia mengatakan berasal dari Desa Harven.”
“Dan?”
“Desa itu berada di barat.”
Edmund terdiam.
Julian menambahkan,
“Dia juga tidak membawa hasil buruan.”
“Senjata?”
“Busur.”
“Anak panah?”
“Enam.”
“Digunakan?”
“Tidak.”
Edmund memandang Julian lebih serius.
“Apakah dia mengenali Anda?”
“Ya.”
“Bagaimana?”
“Dia mengatakan saya anak Duke Varell.”
Edmund tidak menjawab.
Julian memperhatikan wajahnya.
“Dia tidak mencoba menyerang.”
“Apakah dia mengancam Anda?”
“Tidak.”
“Lalu apa yang dia lakukan?”
“Memberi peringatan tentang hutan timur.”
Edmund menghela napas pelan.
“Baik. Saya akan menyampaikan ini kepada Duke.”
Julian mengangguk.
“Silakan.”
Ia kemudian pergi.
Tidak ada pertanyaan tambahan.
Edmund memperhatikannya sampai menghilang.
Kemudian berjalan cepat menuju ruang kerja Damir.
---
Damir sedang membaca laporan ketika Edmund masuk.
“Duke.”
Damir mengangkat kepala.
“Ada apa?”
“Informasi dari Tuan Muda.”
Damir langsung meletakkan laporan.
Edmund menceritakan semuanya.
Tidak ada bagian yang dilewatkan.
Ketika selesai, Damir bertanya,
“Apakah Julian yakin?”
“Dia tidak mengatakan yakin.”
Damir menatapnya.
“Dia mengatakan pria itu berbohong.”
“Ya.”
“Berarti dia membedakan fakta dan dugaan.”
Edmund mengangguk.
Damir berdiri.
“Di mana pria itu sekarang?”
“Tidak diketahui.”
“Patroli?”
“Bisa dikirim.”
Damir berjalan menuju jendela.
Beberapa detik ia memandang halaman.
“Jangan cari dia.”
Edmund sedikit terkejut.
“Duke?”
“Kalau dia memang pengintai, dia ingin tahu apakah kita menyadarinya.”
“Jadi kita membiarkannya?”
“Tidak.”
Damir menatap Edmund.
“Kita biarkan dia merasa tidak diperhatikan.”
Edmund tersenyum tipis.
“Lalu?”
“Awasi jalur yang dia gunakan.”
“Tanpa mengejarnya?”
“Benar.”
Edmund mengangguk.
“Baik.”
Ia hendak pergi.
Namun Damir berkata,
“Edmund.”
“Ya?”
“Jangan biarkan Julian pergi ke timur untuk sementara.”
“Sudah saya pikirkan.”
“Dan jangan membuatnya merasa dikurung.”
Edmund tersenyum.
“Itu mungkin lebih sulit.”
Damir menghela napas.
“Dia akan tahu.”
“Memang.”
Keduanya saling memandang.
Kemudian Edmund berkata,
“Anak itu cukup peka.”
“Ya.”
Damir kembali menatap jendela.
“Karena itu jangan berbohong kepadanya.”
---
Malamnya, Julian duduk di perpustakaan.
Buku flora terbuka.
Namun perhatiannya tidak sepenuhnya berada di sana.
Ia mengingat percakapan sore tadi.
Saya hanya pemburu.
Julian membalik halaman.
Pria itu tidak terlihat seperti orang yang terbiasa berburu.
Cara memegang busurnya benar.
Terlalu benar.
Busurnya juga bukan perlengkapan murah.
Tidak mencolok, tetapi kualitasnya jauh di atas peralatan pemburu desa biasa.
Julian menyandarkan punggung.
Ada satu kemungkinan lain.
Mungkin pria itu memang pemburu.
Tetapi bukan pemburu dari Harven.
Julian menutup buku.
Ia tidak membutuhkan jawaban malam ini.
Langkah kaki terdengar dari lorong.
Damir masuk.
“Kau belum tidur?”
“Belum.”
Damir melihat buku.
“Flora?”
“Ya.”
Damir duduk di kursi seberang.
Beberapa detik mereka diam.
Kemudian Damir berkata,
“Edmund memberitahuku tentang orang yang kau temui.”
Julian mengangguk.
“Baik.”
“Ada yang ingin kau tanyakan?”
Julian berpikir.
“Tidak banyak.”
“Silakan.”
“Apakah dia berbahaya?”
Damir tidak langsung menjawab.
“Belum tahu.”
Julian mengangguk.
“Apakah saya tidak boleh ke hutan?”
“Bukan begitu.”
Damir menatapnya.
“Kau tetap boleh pergi.”
“Bagian mana?”
“Untuk sementara, jangan ke timur terlalu jauh.”
Julian mengangguk.
“Baik.”
Tidak ada protes.
Damir sedikit terkejut.
“Kau tidak ingin tahu alasannya?”
“Saya sudah tahu ada sesuatu di sana.”
Damir tersenyum tipis.
“Dan?”
“Kalau Ayah belum memberi tahu, berarti informasinya belum cukup.”
Damir menatap anaknya cukup lama.
Kemudian bersandar.
“Benar.”
Julian membuka kembali bukunya.
Namun sebelum membaca, ia berkata,
“Ada satu hal.”
“Apa?”
“Dia mengetahui siapa saya.”
Damir tidak bergerak.
“Bagaimana kau tahu?”
“Dia tidak bertanya siapa saya.”
Julian mengangkat pandangan.
“Dia langsung mengatakan saya anak Duke Varell.”
Damir mengangguk perlahan.
“Itu memang patut diperhatikan.”
“Apakah banyak orang tahu saya sering pergi ke hutan?”
“Tidak sedikit.”
“Kalau begitu belum tentu berarti apa-apa.”
“Benar.”
Julian kembali membaca.
Percakapan selesai.
Damir berdiri dan berjalan menuju pintu.
“Julian.”
“Ya?”
“Kalau bertemu dia lagi, jangan mengejarnya.”
Julian menatap ayahnya.
“Kalau dia menyerang?”
“Lindungi dirimu.”
Jawaban itu sederhana.
Julian mengangguk.
“Baik.”
Damir meninggalkan ruangan.
Julian kembali membaca.
Namun kali ini senyum tipis muncul di wajahnya.
Bukan karena situasi tersebut menyenangkan.
Ia hanya menghargai satu hal.
Damir tidak menyuruhnya menjadi pengecut.
Ia hanya memberinya batas.
---
Keesokan paginya, Julian tidak pergi ke hutan.
Ia tetap berada di estate.
Bukan karena diperintah.
Ia memang memilih untuk tidak pergi.
Pagi itu ia berlatih dengan pedang.
Damir tidak muncul.
Edmund yang menjadi lawannya.
Mereka berdiri di halaman.
Edmund menggunakan pedang kayu.
Julian mengangkat pedangnya.
“Siap, Tuan Muda?”
“Ya.”
Edmund menyerang.
Julian menangkis.
Tak!
Serangan berikutnya datang dari kiri.
Julian menghindar.
Edmund memutar pedang.
Julian membaca perubahan bahu.
Ia tidak mundur.
Justru maju.
Pedang mereka bertemu.
Edmund tersenyum.
“Bagus.”
Julian mengubah posisi.
Edmund menyerang lagi.
Kali ini Julian tidak terburu-buru.
Ia mengamati.
Pola.
Jarak.
Kecepatan.
Kebiasaan.
Pada serangan berikutnya, Julian sengaja membuka sisi kanannya.
Edmund langsung mengambil kesempatan.
Namun begitu pedangnya bergerak—
Julian menggeser tubuh.
Membiarkan serangan lewat.
Kemudian ujung pedang Julian berhenti di depan dada Edmund.
Edmund terdiam.
“Kalau ini pertarungan sungguhan,” katanya, “saya sudah kalah.”
Julian menurunkan pedang.
“Karena Anda mengambil celah.”
“Benar.”
“Berarti umpan berhasil.”
Edmund tertawa kecil.
“Sekarang Anda yang mulai membuat perangkap.”
Julian tersenyum.
“Bukankah itu bagian dari latihan?”
“Benar.”
Edmund mengembalikan pedangnya.
“Sekali lagi?”
Julian mengangguk.
“Silakan.”
Latihan berlanjut.
Di satu sisi halaman, Zero memperhatikan mereka.
Lunara berbaring di bawah pohon.
Hari itu berjalan seperti biasa.
Tidak ada pengejaran.
Tidak ada penyelidikan.
Tidak ada perburuan terhadap orang asing.
Namun jauh dari sana, di sebuah jalan kecil menuju wilayah timur, pria yang kemarin ditemui Julian berhenti di bawah pohon.
Ia membuka sebuah kantong kecil.