Hari itu berlalu tanpa kejadian besar.
Julian menghabiskan beberapa jam di hutan bersama Zero dan Lunara. Ia berburu seperti biasa, memeriksa jalur yang mereka lewati, lalu pulang sebelum sore.
Namun sejak menemukan jejak-jejak manusia beberapa hari sebelumnya, ia mulai memperhatikan satu hal.
Hutan berubah.
Bukan secara drastis.
Hanya sedikit.
Beberapa jalur yang biasanya dilewati hewan menjadi lebih sepi. Burung-burung terkadang berpindah lebih jauh ke utara. Bahkan beberapa hewan kecil mulai menghindari bagian timur.
Julian tidak langsung menganggapnya sebagai ancaman.
Hutan memiliki banyak alasan untuk berubah.
Musim.
Cuaca.
Monster.
Manusia.
Ia hanya mencatatnya.
Pagi berikutnya, Julian berdiri di halaman belakang.
Damir berada di depannya.
“Pedang.”
Julian mengangkat pedang latihan.
“Mana.”
Mana mengalir dari inti tubuhnya menuju lengan.
Belum deras.
Namun cukup stabil.
“Sekarang serang.”
Julian maju.
Pedang bertemu.
Tak!
Mana berpindah ke kakinya.
Julian mengubah arah.
Damir menghindar.
Julian mengikuti tanpa kehilangan keseimbangan.
Serangan kedua datang.
Damir menangkis.
Julian memutar pergelangan tangan.
Pedangnya berhenti beberapa sentimeter dari bahu Damir.
Damir tidak bergerak.
“Bagaimana?”
Julian menarik pedang.
“Lebih ringan.”
“Karena?”
“Saya tidak memaksa Mana bergerak ke seluruh tubuh.”
Damir mengangguk.
“Bagus.”
Julian menurunkan pedang.
“Berapa banyak Mana yang seharusnya saya gunakan?”
“Tidak ada angka pasti.”
“Berarti tergantung keadaan.”
“Ya.”
Damir mengambil pedang latihan lain.
“Mana bukan pengganti teknik.”
Ia bergerak.
Cepat.
Julian menangkis.
Tak!
“Dan teknik bukan pengganti kemampuan fisik.”
Serangan kedua.
Julian menghindar.
“Kalau keduanya seimbang?”
Damir menyerang lagi.
Julian memutar tubuh dan membalas.
“Barulah kau punya pilihan.”
Pedang mereka berhenti bersamaan.
Julian tersenyum tipis.
“Pilihan.”
Damir mengangguk.
“Selalu lebih baik memiliki pilihan.”
---
Setelah latihan, Julian duduk di tangga.
Ia minum air.
Damir duduk di sampingnya.
Beberapa saat mereka hanya melihat halaman.
Kemudian Julian bertanya,
“Ayah.”
“Hm?”
“Kenapa orang belajar menggunakan Mana?”
Damir berpikir.
“Untuk banyak alasan.”
“Menjadi kuat?”
“Ya.”
“Melindungi orang?”
“Ya.”
“Mendapatkan posisi?”
“Juga.”
Julian melihat tangannya.
“Berarti Mana sendiri tidak menentukan seseorang.”
“Benar.”
Damir menatapnya.
“Kekuatan hanya memperbesar kemampuan seseorang untuk melakukan sesuatu. Apa yang dia lakukan dengan kekuatan itu tetap pilihannya.”
Julian mengangguk.
Percakapan selesai.
Tidak ada ceramah panjang.
Namun kalimat itu tinggal di kepalanya.
---
Siang harinya, Julian membantu Scarlet di halaman.
Bukan pekerjaan berat.
Hanya memindahkan beberapa kotak buku dari kereta menuju gudang.
Elena ikut membantu.
Walau lebih banyak mengeluh daripada bekerja.
“Kenapa buku Ibu sebanyak ini?”
Scarlet menjawab,
“Karena rumah ini punya banyak orang yang suka membaca.”
Elena melihat Julian.
“Terutama dia.”
Julian membawa dua kotak sekaligus.
“Kalau tidak ingin membawa, jangan.”
“Aku membawa!”
Elena mengambil satu kotak.
Baru berjalan beberapa langkah, ia berhenti.
“Berat.”
Julian meletakkan kotaknya.
“Kakak tidak perlu memaksakan diri.”
“Aku bisa.”
“Saya tahu.”
Elena mengangkat kotak lagi.
“Jangan meremehkanku.”
“Saya tidak meremehkan.”
Julian mengambil kotak lain.
“Saya hanya menghitung kemampuan.”
Elena menatapnya.
“Kau benar-benar bicara seperti Ayah.”
Julian tersenyum kecil.
“Berarti saya belajar dari orang yang tepat.”
Scarlet yang mendengar dari belakang langsung tertawa.
“Dua-duanya jangan terlalu serius.”
Hari itu terasa sederhana.
Dan justru karena sederhana, Julian menikmatinya.
---
Menjelang sore, suara langkah kuda terdengar dari gerbang.
Seorang penjaga datang membawa laporan.
“Duke.”
Damir keluar dari ruang kerja.
“Ada apa?”
“Patroli timur kembali.”
“Laporan?”
Penjaga menyerahkan sebuah kertas.
Damir membacanya.
Wajahnya tetap tenang.
Namun matanya berhenti pada satu bagian.
Edmund datang beberapa saat kemudian.
“Apa yang mereka temukan?”
“Tidak ada orang.”
Edmund mengangguk.
“Jejak?”
“Masih ada.”
Damir menyerahkan laporan.
Edmund membacanya.
“Dua jalur?”
“Sekarang tiga.”
Edmund mengangkat pandangan.
“Dan simbol?”
“Masih ada.”
Enam garis.
Kali ini terukir pada batu di dekat sungai.
Damir menutup mata sejenak.
Kemudian berkata,
“Jangan kejar.”
Edmund menatapnya.
“Duke?”
“Kalau mereka ingin memasuki wilayah kita, mereka akan bergerak sendiri.”
“Dan jika mereka menyerang?”
“Baru kita bertindak.”
Edmund mengangguk.
Namun sebelum pergi, ia bertanya,
“Bagaimana dengan Tuan Muda?”
Damir melihat ke arah halaman.
Julian sedang bersama Zero.
“Biarkan dia hidup seperti biasa.”
---
Sore itu, Julian sedang berjalan menuju hutan ketika Edmund menghampiri.
“Tuan Muda.”
Julian berhenti.
“Ya?”
“Duke meminta Anda tidak pergi terlalu jauh hari ini.”
Julian melihat hutan.
Kemudian mengangguk.
“Baik.”
Tidak ada perdebatan.
Tidak ada pertanyaan.
Edmund terlihat sedikit lega.
Julian menatapnya.
“Edmund.”
“Ya?”
“Apakah ada sesuatu yang terjadi?”
Edmund tersenyum.
“Belum.”
Julian memahami pilihan kata itu.
Belum.
Bukan tidak ada.
Namun ia tidak memaksa.
“Baik.”
Ia berbalik.
“Kita pergi ke jalur barat saja.”
Zero mengikuti.
Lunara berjalan di depan.
Edmund memperhatikan mereka pergi.
---
Jalur barat lebih tenang.
Julian tidak menemukan sesuatu yang aneh.
Mereka berjalan sampai sebuah padang kecil.
Di sana terdapat beberapa bunga liar.
Lunara langsung berlari ke tengah rerumputan.
Zero mengikuti dengan langkah santai.
Julian duduk di bawah pohon.
Ia membuka buku flora yang baru dibelinya.
Beberapa halaman membahas tanaman obat.
Satu jenis tanaman tumbuh di sekitar wilayah Varell.
Julian memperhatikan bentuk daunnya.
Kemudian ia melihat bunga yang tumbuh tidak jauh darinya.
Sama.
Ia mencabut satu dengan hati-hati.
Tidak untuk dibawa pulang.
Hanya untuk membandingkan.
“Benar.”
Ia memasukkannya kembali ke tanah.
Lunara menatapnya.
Julian tersenyum.
“Aku hanya memastikan.”
Beberapa saat kemudian, suara Zero terdengar.
Bukan suara biasa.
Kuda itu berdiri tegak.
Julian langsung menutup bukunya.
Lunara juga berhenti bermain.
Mereka bertiga memandang ke arah pepohonan.
Julian tidak bergerak.
Satu detik.
Dua.
Tidak ada apa-apa.
Kemudian—
suara langkah.
Pelan.
Satu.
Dua.
Tiga.
Julian berdiri.
Tangannya tidak langsung menuju pedang.
Ia hanya memperhatikan.
Dari balik pepohonan muncul seorang pria membawa busur.
Pakaiannya sederhana.
Seperti pemburu.
Pria itu juga berhenti ketika melihat Julian.
Keduanya saling memperhatikan.
Kemudian pria itu tersenyum.
“Maaf.”
Julian tidak menjawab.
Pria itu mengangkat tangan.
“Saya hanya pemburu.”
Julian melihat busurnya.
Kemudian sepatu.
Kemudian tangan.
Tidak ada tanda luka.
Tidak ada lambang keluarga.
Namun ada sesuatu yang tidak cocok.
Seorang pemburu biasa tidak akan berjalan sedalam ini tanpa membawa hasil buruan.
Julian bertanya,
“Dari mana Anda?”
“Desa sebelah.”
“Nama desanya?”
Pria itu terdiam sesaat.
Hanya sesaat.
Namun cukup.
“Desa... Harven.”
Julian mengenal nama itu.
Desa Harven berada di sebelah barat.
Bukan timur.
Dan pria ini muncul dari arah timur.
Julian tidak menunjukkan bahwa ia menyadarinya.
“Begitu.”
Pria itu tersenyum.
“Kau anak Duke Varell, bukan?”
Julian menatapnya.
“Ya.”
“Sendirian?”
“Tidak.”
Julian melirik Zero dan Lunara.
Pria itu tertawa kecil.
“Tentu.”
Ia kemudian menurunkan busurnya.
“Saya tidak bermaksud mengganggu.”
Julian mengangguk.
“Kalau begitu, silakan lanjutkan.”
Pria itu berjalan melewati mereka.
Namun ketika melewati Julian, langkahnya berhenti sebentar.
“Anak muda.”
Julian menoleh.
“Hm?”
“Hutan timur sedang tidak aman.”
Julian menatapnya.
“Kenapa?”
Pria itu tersenyum.
“Banyak monster.”
Kemudian ia pergi.
Julian tidak bergerak.
Lunara mengendus udara.
Zero memandang pria itu sampai menghilang.
Julian menatap jalur yang dilewati pria tadi.
Kemudian melihat arah timur.
Tidak ada ekspresi takut di wajahnya.
Hanya satu kesimpulan sederhana.
Pria itu berbohong.
Bukan tentang monster.
Monster memang ada.
Yang salah adalah asalnya.
Dan yang lebih menarik—
pria itu tahu siapa dirinya.
Julian mengambil buku flora dari tanah.
“Pulang.”
Zero bergerak.
Lunara mengikuti.
Kali ini mereka tidak melanjutkan perjalanan.
Bukan karena Julian takut.
Ia hanya sudah mendapatkan cukup informasi untuk satu hari.
Di rumah nanti, seseorang akan menerima laporan.
Dan untuk pertama kalinya, mungkin Julian akan memberi tahu Damir bukan hanya tentang jejak.
Tetapi tentang seseorang yang sengaja datang menemuinya.