Chapter 34 of 75

Chapter 34 — Hari Tanpa Pedang

1.2k words

Pagi datang lebih cepat dari perkiraan Julian. Ia terbangun sebelum matahari benar-benar muncul. Beberapa detik ia hanya berbaring, mendengarkan suara rumah. Langkah pelayan di lantai bawah. Suara pintu dibuka. Suara peralatan dapur. Tidak ada yang aneh. Julian bangkit. Hari ini ia tidak berencana berlatih. Bukan karena tubuhnya membutuhkan istirahat. Ia hanya ingin memberi tubuhnya satu hari tanpa latihan berat. Setelah berpakaian, Julian turun ke lantai bawah. Scarlet sudah berada di ruang makan. “Kau bangun pagi sekali.” “Seperti biasa.” Scarlet tersenyum. “Evelyne masih tidur.” Julian menarik kursi. “Biarkan.” Elena yang sedang mengambil roti langsung menyela. “Tumben kau tidak penasaran.” “Kenapa saya harus penasaran?” “Karena biasanya kalian bermain bersama.” Julian mengambil roti. “Hari ini dia tamu. Biar dia tidur.” Elena menatapnya beberapa detik. “Kadang-kadang kau terdengar seperti orang tua.” Julian menggigit rotinya. “Saya anggap itu pujian.” Scarlet tertawa. “Jangan terlalu serius menanggapi kakakmu.” “Saya tidak serius.” “Wajahmu serius.” “Wajah saya tidak bisa saya atur setiap saat.” Elena mendengus. “Benar-benar menyebalkan.” Julian tersenyum kecil. Pagi itu berjalan seperti biasanya. Tidak ada latihan. Tidak ada laporan. Tidak ada pembicaraan tentang simbol atau orang asing di hutan. Hanya sarapan. Dan itu cukup. --- Setelah sarapan, Julian pergi ke halaman. Zero sedang berada di dekat pagar. Lunara berbaring di bawah pohon. Julian membawa sebuah apel. Zero langsung mendekat. “Ini.” Ia memberikan apel itu. Zero memakannya. Julian mengusap kepalanya. “Evelyne masih tidur.” Zero mendengus. “Saya juga tidak tahu kenapa saya memberitahumu.” Suara tawa terdengar dari belakang. Julian menoleh. Evelyne berdiri di sana. Rambutnya sedikit berantakan. “Kau bicara dengan Zero?” “Tidak.” “Aku dengar.” “Saya sedang berbicara kepada diri sendiri.” Evelyne berjalan mendekat. “Pagi.” “Pagi.” Ia melihat Zero. “Boleh aku memberinya apel?” Julian menyerahkan satu. “Boleh.” Evelyne memberikan apel tersebut. Zero menerimanya tanpa masalah. “Dia lebih mudah didekati sekarang.” “Karena dia sudah mengenalmu.” Evelyne tersenyum. Kemudian matanya beralih kepada Lunara. Moon Lynx itu sedang membersihkan bulunya. Evelyne tidak langsung mendekat. Ia duduk beberapa meter dari sana. Julian memperhatikannya. “Kau tidak mau mencoba?” “Aku belajar dari kemarin.” “Bagus.” “Jangan mengejek.” “Saya tidak mengejek.” Mereka kemudian duduk diam. Beberapa menit berlalu. Lunara akhirnya bangkit. Ia berjalan mendekati Evelyne. Evelyne tetap diam. Lunara mengendus tangannya. Kemudian duduk di sampingnya. Evelyne tersenyum lebar. “Dia menerima aku.” “Sepertinya.” “Boleh kusentuh?” “Coba.” Evelyne perlahan mengusap bulunya. Lunara tidak menolak. “Lembut.” Julian mengangguk. “Dia biasanya tidak membiarkan orang lain menyentuhnya.” Evelyne tersenyum. “Berarti aku beruntung.” “Bisa jadi.” --- Menjelang siang, Damir menemukan Julian di perpustakaan. “Kau tidak latihan?” “Tidak hari ini.” Damir mengangguk. “Bagus.” Julian menutup buku. “Ayah juga tidak akan latihan?” “Tidak.” Damir berjalan ke salah satu rak. Ia mengambil sebuah buku tua. “Kalau begitu ikut aku.” Julian berdiri. Mereka keluar menuju halaman belakang. Damir membawa buku tersebut ke sebuah meja kayu di bawah pohon. “Ini?” “Catatan lama mengenai wilayah Varell.” Julian duduk. Damir membuka beberapa halaman. “Bukan sejarah keluarga.” Julian memperhatikan. “Lalu?” “Catatan wilayah.” Di dalam buku terdapat gambar peta lama. Hutan. Sungai. Beberapa desa. Jalur perdagangan. Julian memperhatikan posisi sungai yang mengalir di sebelah timur. “Wilayah kita dulu lebih besar?” “Ya.” “Kenapa berubah?” “Perang.” Jawaban itu sederhana. Damir membalik halaman. “Banyak wilayah berpindah tangan selama beberapa generasi. Ada yang direbut. Ada yang diberikan. Ada yang ditinggalkan.” Julian memperhatikan peta. “House Varell mendapatkan wilayah ini kapan?” “Sekitar beberapa generasi lalu.” “Karena perang?” “Sebagian.” Damir menutup buku. “Tidak semua hal dalam keluarga harus dimulai dari perang.” Julian tersenyum kecil. “Kalimat itu terdengar seperti Ayah sengaja menghindari pertanyaan.” Damir menatapnya. “Kau mulai pintar.” “Sejak kapan?” “Entahlah.” Keduanya diam. Kemudian Damir berkata, “Suatu hari nanti, kalau kau benar-benar ingin memahami sejarah keluarga ini, aku akan menceritakannya.” Julian tidak mendesak. “Baik.” Damir terlihat sedikit terkejut. “Kau tidak bertanya lebih jauh?” “Kalau Ayah bilang nanti, berarti nanti.” Damir tersenyum tipis. “Itu jawaban yang bagus.” Julian mengambil buku tersebut. “Boleh saya baca?” “Tentu.” Ia membuka kembali halaman peta. Tidak ada simbol misterius. Tidak ada nama rahasia. Hanya sejarah wilayah yang berubah seiring waktu. Julian justru lebih menyukainya seperti itu. Dunia tidak selalu membutuhkan rahasia besar. Kadang sebuah wilayah berubah karena perang. Sebuah desa berpindah karena monster. Sebuah jalan hilang karena sungai. Sesederhana itu. --- Sore harinya, Julian dan Evelyne berada di halaman latihan. Namun kali ini tidak ada pedang. Evelyne membawa tongkat kecil. Julian membawa beberapa batu kecil. “Apa yang akan kita lakukan?” “Latihan.” Evelyne mengernyit. “Tanpa pedang?” “Tanpa.” Julian meletakkan batu pertama di tanah. “Pilih satu.” Evelyne mengambil batu putih. Julian mengambil batu hitam. “Sekarang?” “Kita bermain strategi.” Evelyne terlihat tertarik. “Bagaimana?” Julian menjelaskan aturan sederhana. Mereka bergantian menempatkan batu di atas papan kayu. Evelyne awalnya bermain tanpa banyak berpikir. Namun beberapa giliran kemudian, ia mulai memperhatikan pola. Julian sengaja membuka satu sisi. Evelyne hampir mengambil kesempatan itu. Kemudian berhenti. “Ini jebakan.” Julian tersenyum. “Bagus.” “Aku tidak akan jatuh dua kali.” “Berarti kau belajar.” Permainan berlanjut. Kali ini Julian tidak menang dengan mudah. Evelyne beberapa kali memaksanya mengubah rencana. Pada akhirnya, Julian tetap menang. Evelyne menyandarkan tubuh. “Kau memang menyebalkan.” “Kenapa?” “Karena kau berpikir terlalu jauh.” “Bukankah itu bagus?” “Kalau bermain denganmu, tidak.” Julian tertawa kecil. “Kalau begitu lain kali saya akan bermain lebih buruk.” Evelyne langsung menunjuknya. “Jangan!” Julian tersenyum. Untuk beberapa saat, tidak ada pedang. Tidak ada Mana. Tidak ada latihan fisik. Hanya permainan sederhana di halaman. --- Malam sebelum keluarga Arclaire pulang, kedua keluarga makan bersama. Duke Arclaire berbicara dengan Damir mengenai beberapa urusan perdagangan. Scarlet dan Duchess Arclaire membicarakan perjalanan. Elena sibuk bercerita kepada Evelyne. Julian makan sambil mendengarkan. Kemudian Duke Arclaire menoleh. “Julian.” Julian mengangkat kepala. “Ya, Duke Arclaire?” “Evelyne mengatakan kau sering pergi ke hutan.” “Benar.” “Apakah tidak takut?” Julian berpikir sebentar. “Hutan memiliki bahaya.” Duke Arclaire menunggu. “Tetapi saya tahu batas wilayah yang boleh saya masuki.” Damir tersenyum tipis. Duke Arclaire mengangguk. “Itu jawaban yang baik.” Evelyne menyela. “Dia juga punya Zero dan Lunara.” Julian menoleh. “Mereka bukan pengawal.” “Aku tahu.” Evelyne tersenyum. “Mereka temanmu.” Julian tidak membantah. “Benar.” Scarlet memperhatikan mereka dengan senyum kecil. Makan malam berlanjut. --- Keesokan paginya, keluarga Arclaire bersiap pulang. Evelyne berdiri di samping kereta. Ia memandang Julian. “Kapan kita bertemu lagi?” “Entahlah.” “Kau harus datang ke rumahku.” Julian mengangguk. “Kalau ada kesempatan.” “Bukan jawaban.” Julian menatapnya. “Baik. Saya akan datang kalau Ayah dan Ibu mengizinkan.” Evelyne tersenyum puas. “Janji?” Julian mengangkat alis. “Saya tidak suka membuat janji untuk sesuatu yang belum pasti.” Evelyne terdiam. Kemudian tertawa. “Baiklah. Kalau begitu jangan lupa.” “Saya tidak akan lupa.” Kereta mulai bergerak. Evelyne melambaikan tangan. Julian membalasnya. Setelah kereta menghilang dari jalan, Julian kembali masuk ke rumah. Hari kembali tenang. Namun ketika ia melewati ruang kerja, ia melihat Damir dan Edmund sedang berbicara. Keduanya berhenti ketika melihat Julian. “Ayah?” Damir menatapnya. “Tidak ada apa-apa.” Julian mengangguk. Ia tidak bertanya. Namun sebelum berjalan pergi, ia melihat selembar laporan di atas meja. Hanya satu bagian yang sempat terlihat. Wilayah timur. Julian berhenti sebentar. Kemudian melanjutkan langkah. Ia tidak perlu mengetahui semuanya sekarang. Ada hal-hal yang memang lebih baik datang pada waktunya. Di luar rumah, Zero sedang menunggu. Lunara duduk di sampingnya. Julian berjalan mendekat. “Baiklah.” Ia melihat keduanya. “Hari ini kita berburu.” Zero mengangkat kepala. Lunara berdiri. Dan untuk sementara, itulah satu-satunya hal yang Julian pikirkan.

End of Chapter 34