Chapter 33 of 75
Chapter 33 — Orang yang Datang sebagai Tamu
1.3k words
Dua hari berlalu tanpa kejadian apa pun.
Tidak ada laporan baru dari hutan.
Tidak ada jejak tambahan.
Tidak ada orang asing yang mencoba mendekati Varell Estate.
Bagi sebagian orang, keadaan seperti itu mungkin berarti masalah sudah selesai.
Bagi Damir, itu hanya berarti belum ada alasan untuk bertindak.
Dan bagi Julian, itu berarti ia bisa kembali menjalani rutinitasnya.
Pagi itu, ia berada di halaman belakang bersama Damir.
Pedang latihan berada di tangannya.
“Sekali lagi,” kata Damir.
Julian maju.
Pedang mereka bertemu.
Tak!
Julian mengubah posisi kaki, memutar tubuh, lalu mengarahkan tebasan ke sisi Damir.
Damir menahannya.
Julian tidak memaksa.
Ia mundur setengah langkah.
Damir langsung menyerang.
Julian menghindar ke kanan.
Kali ini ia tidak mencoba membalas.
Ia menunggu.
Damir menyerang lagi.
Julian tetap bertahan.
Serangan ketiga.
Barulah Julian bergerak.
Ia masuk melalui celah kecil yang muncul ketika berat tubuh Damir berpindah.
Pedangnya berhenti di depan bahu.
Damir menghentikan gerakannya.
“Lebih baik.”
Julian menurunkan pedang.
“Ada yang masih salah.”
“Ya.”
“Ayah sengaja memperlambat gerakan tadi.”
Damir tersenyum.
“Dan kau menyadarinya.”
“Gerakannya terlalu jelas.”
“Bagus.”
Damir menyimpan pedang.
“Sekarang kau mulai memahami sesuatu yang lebih penting daripada sekadar bergerak cepat.”
Julian menunggu.
“Memaksa lawan membuat keputusan.”
Julian mengangguk.
Ia sudah memahami konsep itu sejak lama.
Namun tubuh mudanya sekarang mulai mampu menerapkannya kembali dengan lebih alami.
Damir menepuk bahunya.
“Cukup.”
Julian mengangguk.
“Terima kasih, Ayah.”
Ia kemudian mengambil handuk.
Tidak ada pujian berlebihan.
Tidak perlu.
Kemajuan terlihat dari latihan itu sendiri.
---
Menjelang siang, suara kereta terdengar dari halaman depan.
Julian sedang membaca di ruang keluarga ketika Elena masuk.
“Julian.”
Ia mengangkat kepala.
“Ya?”
“Kita kedatangan tamu.”
“Siapa?”
Elena tersenyum.
“Keluarga Arclaire.”
Julian menutup bukunya.
“House Arclaire?”
“Benar.”
Julian berdiri.
Ia tidak terlihat terkejut.
House Arclaire bukan keluarga asing bagi Varell.
Mereka sudah beberapa kali bertemu dalam acara keluarga dan urusan bangsawan.
Namun kali ini ada satu alasan lain mengapa kunjungan itu sedikit berbeda.
Putri keluarga Arclaire juga datang.
Evelyne.
Tunangan Julian sejak kecil.
Hubungan mereka tidak seperti pasangan bangsawan dalam cerita-cerita yang sering dibaca Julian.
Mereka hanya tumbuh bersama.
Kadang bertemu.
Kadang berbicara.
Kadang saling mengganggu.
Tidak ada kewajiban untuk bertingkah seolah mereka sudah memahami perasaan orang dewasa.
Julian mengambil mantel tipisnya.
Elena menatapnya.
“Kau tidak gugup?”
“Kenapa saya harus gugup?”
Elena tersenyum jahil.
“Tidak ada.”
Julian menatapnya beberapa detik.
“Kak Elena.”
“Ya?”
“Kalau mau menggoda saya, setidaknya buat alasan yang masuk akal.”
Elena tertawa.
“Kau makin sulit diganggu.”
“Itu karena Kakak terlalu sering mencoba.”
Mereka berjalan keluar bersama.
---
Kereta House Arclaire berhenti di depan kediaman.
Seorang pria berambut cokelat gelap turun lebih dulu.
Duke Arclaire.
Di belakangnya seorang wanita dengan pakaian elegan turun sambil tersenyum.
Kemudian seorang gadis seusia Julian.
Rambutnya berwarna putih keperakan dengan sedikit rona biru di ujungnya.
Matanya berwarna biru muda.
Ia melihat halaman Varell Estate.
Kemudian melihat Julian.
Wajahnya langsung cerah.
“Julian!”
Ia berjalan cepat.
Scarlet yang berdiri di dekat pintu tertawa.
“Evelyne, pelan-pelan.”
Evelyne berhenti.
Kemudian merapikan pakaiannya.
Ia berdiri dengan sopan.
“Maaf, Duchess Varell.”
Scarlet tersenyum.
“Tidak perlu terlalu formal di rumah ini.”
Evelyne kemudian kembali melihat Julian.
“Kau masih lebih tinggi dariku.”
Julian memperhatikan mereka berdua.
“Kita seumuran.”
“Bukan itu masalahnya.”
“Lalu?”
Evelyne berpikir sebentar.
“Aku hanya memastikan.”
Julian tersenyum kecil.
“Begitu rupanya.”
Evelyne mendekat.
“Aku dengar kau punya Moon Lynx.”
“Lunara.”
“Dan kuda hitam besar.”
“Zero.”
“Aku ingin melihat mereka.”
Julian mengangguk.
“Boleh.”
Elena langsung ikut.
“Aku juga ikut.”
Evelyne tersenyum.
Mereka bertiga berjalan menuju kandang.
---
Zero langsung mengangkat kepala ketika melihat rombongan itu.
Evelyne berhenti beberapa langkah dari pagar.
“Wow.”
Zero berdiri diam.
Tatapannya tertuju pada Evelyne.
Evelyne tidak mencoba mendekat.
Ia hanya mengamati.
“Dia besar sekali.”
“Dia memang paling besar di kandang.”
“Boleh disentuh?”
Julian melihat Zero.
Kemudian kembali melihat Evelyne.
“Kalau dia mendekat sendiri.”
Evelyne mengangguk.
Ia tidak memaksa.
Beberapa saat kemudian Zero berjalan mendekat.
Evelyne tersenyum.
Tangannya perlahan terangkat.
Zero mengendusnya.
Kemudian membiarkan tangannya menyentuh leher.
“Dia jinak.”
“Tidak.”
Julian menjawab datar.
“Dia hanya memilih tidak menolakmu.”
Evelyne menoleh.
“Bedanya?”
“Banyak.”
Evelyne tertawa kecil.
“Baiklah. Aku akan mengingatnya.”
Lunara muncul beberapa saat kemudian.
Ia berhenti di dekat Julian.
Evelyne melihatnya.
“Boleh?”
Julian mengangguk.
Evelyne berjongkok.
Lunara mendekat sendiri.
Namun ketika tangan Evelyne hampir menyentuh kepalanya, Lunara berhenti.
Ia mengendus.
Kemudian mundur sedikit.
Evelyne menarik tangannya.
“Dia tidak suka?”
“Belum terbiasa.”
“Tidak apa-apa.”
Evelyne tersenyum.
“Aku bisa menunggu.”
Julian memandangnya sekilas.
Jawaban itu membuatnya sedikit tersenyum.
---
Setelah makan siang, anak-anak pergi ke halaman belakang.
Cedric kebetulan tidak ikut kali ini.
Jadi hanya Julian dan Evelyne.
Evelyne melihat pedang di pinggang Julian.
“Kau masih latihan?”
“Setiap pagi.”
“Dengan Duke Varell?”
“Ya.”
“Boleh melihat?”
Julian mengangguk.
Mereka mengambil pedang latihan.
Evelyne menggunakan tongkat pendek sebagai senjata latihan.
“Jangan terlalu serius,” katanya.
Julian mengangkat pedangnya.
“Saya tidak pernah mengatakan akan serius.”
“Wajahmu mengatakan sebaliknya.”
Julian tersenyum tipis.
“Kalau begitu wajah saya yang salah.”
Evelyne tertawa.
“Mulai!”
Evelyne bergerak lebih dahulu.
Tidak secepat Cedric.
Namun langkahnya ringan.
Julian memperhatikan.
Ia tidak langsung menyerang.
Evelyne mencoba menusuk.
Julian menggeser tubuh.
Serangan kedua.
Ia menghindar.
Serangan ketiga datang dari sisi berbeda.
Julian menahan dengan pedangnya.
Tak!
Evelyne mundur.
“Kau tidak menyerang.”
“Saya sedang melihat.”
“Melihat apa?”
“Cara Anda bergerak.”
Evelyne mengerucutkan bibir.
“Kalau begitu aku tidak akan memberimu waktu.”
Ia menyerang lagi.
Lebih cepat.
Julian tetap tenang.
Satu serangan.
Dua.
Tiga.
Pada serangan keempat, Julian memutar pedangnya dan mengetuk tongkat Evelyne hingga terlepas.
Tok.
Tongkat jatuh.
Evelyne memandang tangannya.
Kemudian memandang Julian.
“Kau curang.”
“Tidak.”
“Kau membaca gerakanku.”
“Bukankah itu tujuan latihan?”
Evelyne terdiam.
Kemudian tertawa.
“Baik. Sekali lagi.”
Julian mengambil tongkatnya dan menyerahkannya.
“Kali ini coba ubah pola.”
Evelyne menyipitkan mata.
“Kau bahkan memberiku saran?”
“Kalau saya terus menang dengan cara yang sama, latihan ini tidak berguna.”
Evelyne tersenyum.
“Baik.”
Mereka mulai lagi.
Kali ini gerakan Evelyne berubah.
Ia tidak menyerang langsung.
Menunggu.
Memancing.
Julian memperhatikan.
Menarik.
Ada perkembangan.
Ia tidak buru-buru masuk.
Mereka bertukar beberapa serangan.
Kemudian Julian menghentikan pedangnya.
“Lebih baik.”
Evelyne tersenyum bangga.
“Berarti aku hampir menang?”
“Belum.”
“Yah.”
“Tapi jauh lebih sulit dibaca.”
Evelyne terlihat puas.
“Itu sudah cukup.”
---
Sore menjelang.
Kedua keluarga duduk di teras.
Para orang dewasa berbicara mengenai perdagangan, wilayah, dan urusan bangsawan.
Julian dan Evelyne duduk agak jauh.
Evelyne memandang halaman.
“Julian.”
“Ya?”
“Kalau kita besar nanti, menurutmu kita akan tetap seperti ini?”
Julian menoleh.
“Seperti apa?”
“Teman.”
Julian berpikir sebentar.
“Kenapa tidak?”
Evelyne tersenyum.
“Aku tidak tahu.”
Ia memandang Zero yang sedang berdiri di kandang.
“Orang dewasa selalu bilang banyak hal akan berubah.”
“Memang.”
“Kau tidak takut?”
“Takut terhadap apa?”
“Perubahan.”
Julian melihat halaman.
“Tidak semua perubahan buruk.”
Evelyne diam.
Kemudian tersenyum.
“Jawabanmu aneh.”
“Sering dikatakan begitu.”
Evelyne tertawa.
“Kalau begitu aku akan mengingatnya.”
Julian mengangguk.
Percakapan itu berakhir begitu saja.
Tidak ada janji besar.
Tidak ada kata-kata berlebihan.
Hanya dua anak bangsawan yang tumbuh bersama dan belum tahu seperti apa dunia yang menunggu mereka.
---
Malamnya, keluarga Arclaire menginap di Varell Estate.
Julian kembali ke kamarnya.
Ia membuka buku sejarah yang dibelinya kemarin.
Namun sebelum membaca, ia teringat sesuatu.
Jejak di hutan.
Orang asing.
Catatan lama dari dua puluh tahun lalu.
Ia menutup buku.
Kemudian membuka jendela.
Angin malam masuk.
Dari kejauhan, hutan terlihat gelap.
Tidak ada sesuatu yang bergerak.
Julian tidak merasa perlu mencarinya.
Kalau mereka memang masih ada di sana, waktu akan mempertemukan mereka.
Dan kalau tidak—
maka hidup tetap berjalan.
Ia menutup jendela.
Mengambil buku.
Lalu kembali membaca.
Di luar kamar, langkah seseorang terdengar melewati lorong.
Edmund.
Ia membawa sebuah laporan menuju ruang kerja Damir.
Di dalam laporan itu terdapat satu informasi baru.
Dua orang yang ditemukan di sekitar hutan bukan pemburu.
Bukan pedagang.
Dan bukan warga dari desa terdekat.
Mereka ditemukan beberapa kilometer dari wilayah Varell.
Namun mereka sudah pergi sebelum penjaga tiba.
Yang tersisa hanya satu tanda.
Sebuah simbol kecil terukir pada batang pohon.
Enam garis pendek.
Damir menatap simbol tersebut cukup lama.
Kemudian menutup laporan.
“Jangan ganggu Julian.”
Edmund mengangguk.
“Baik.”
Untuk saat ini, masa lalu House Varell masih berada di tempatnya.
Jauh di balik bayangan.
Tetapi untuk pertama kalinya, bayangan itu mulai bergerak.