Chapter 32 of 75

Chapter 32 — Hal yang Tidak Perlu Dikejar

1.1k words

Malam turun perlahan di atas Varell Estate. Setelah makan malam, Julian menuju ruang latihan bagian dalam seperti yang diminta Damir. Ruangan itu tetap sama seperti beberapa minggu terakhir—luas, sunyi, dan cukup jauh dari bagian utama rumah sehingga suara benturan senjata tidak mengganggu keluarga. Damir sudah menunggu. Di sampingnya terdapat dua pedang kayu dan sebuah pedang latihan dengan bilah tumpul. Julian mengambil salah satunya. “Latihan apa malam ini?” Damir tidak langsung menjawab. “Lawan aku.” Julian mengangkat alis sedikit. “Tanpa pemanasan?” “Kita sudah pemanasan sejak pagi.” Julian tersenyum tipis. “Baik.” Ia mengambil posisi. Damir menyerang lebih dulu. Cepat. Julian menggeser tubuh. Bukan mundur. Ia masuk ke sisi dalam serangan Damir. Pedang mereka bertemu. Tak! Damir langsung mengubah arah. Julian menangkis. Satu langkah. Dua langkah. Julian membaca gerakan bahu ayahnya, bukan pedangnya. Bahu bergerak sedikit lebih dahulu. Tanda perubahan arah. Julian memiringkan tubuh. Serangan lewat. Ia memutar pergelangan dan mengarahkan ujung pedangnya ke rusuk Damir. Damir menarik tubuh. Pedang Julian hanya menyentuh pakaian. “Bagus.” Damir kembali menyerang. Kali ini lebih cepat. Julian tidak mencoba mengejar kecepatannya. Ia menunggu. Satu serangan. Dua. Tiga. Pada serangan keempat, Julian memanfaatkan perubahan berat badan Damir. Ia memutar tubuh dan menyentuh sisi pedang ayahnya. Tak! Pedang Damir terpental beberapa sentimeter. Julian langsung berhenti. Damir juga berhenti. “Kenapa berhenti?” “Karena Ayah sudah kehilangan posisi.” Damir tersenyum. “Kalau ini pertarungan sungguhan?” “Saya akan mengakhiri pertarungan.” Jawaban itu keluar tanpa ragu. Damir memandangnya beberapa saat. Kemudian mengangguk. “Itu yang ingin kudengar.” Julian menurunkan pedang. Damir berjalan mendekat. “Namun ada satu hal yang masih perlu kau perbaiki.” “Apa?” “Kau terlalu cepat.” Julian mengernyit. “Bukankah kecepatan bagus?” “Kecepatanmu bagus.” Damir menunjuk tubuh Julian. “Tapi tubuhmu belum selalu mampu mengikuti keputusanmu.” Julian memahami maksudnya. Dalam beberapa gerakan tadi, tubuhnya sempat terlambat mengikuti perubahan arah. Tidak banyak. Namun cukup untuk menjadi masalah jika lawannya benar-benar berbahaya. “Jadi saya harus mengurangi kecepatan?” “Bukan.” Damir menggeleng. “Pilih kapan harus cepat.” Julian diam. “Tidak semua celah perlu diserang. Tidak semua gerakan perlu dibalas. Dan tidak semua pertarungan perlu dimenangkan dengan kecepatan.” Julian mengangguk. “Saya mengerti.” Damir kemudian melemparkan pedang kayu kepadanya. “Sekarang coba lagi.” Latihan berlanjut. Kali ini Julian tidak mengejar setiap celah. Ia menunggu. Mengukur. Menentukan kapan harus bergerak. Dan hasilnya jauh lebih baik. --- Setelah latihan selesai, Julian berjalan keluar. Edmund sedang menunggu di lorong. “Bagaimana?” “Tubuh saya masih punya batas.” Edmund tersenyum. “Semua tubuh punya batas.” “Kalau begitu saya hanya perlu tahu batasnya.” “Dan perlahan memperluasnya.” Julian mengangguk. “Benar.” Edmund memandangnya sebentar. “Tuan Muda semakin jarang memaksakan gerakan.” “Saya pernah melakukannya terlalu sering.” Edmund tersenyum tipis. “Sekarang Anda sudah belajar.” Julian tidak menjawab. Ia berjalan menuju kamarnya. --- Keesokan paginya, Julian pergi ke hutan. Kali ini hanya bersama Lunara dan Zero. Tidak ada latihan khusus. Tidak ada tujuan selain berburu. Udara pagi masih dingin. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan. Zero berjalan santai di belakang. Lunara bergerak lebih jauh ke depan. Julian membawa busur. Ia berhenti di sebuah bukit kecil. Di bawah sana, seekor rusa sedang minum. Julian mengambil anak panah. Ia menarik tali busur. Napasnya tenang. Tidak ada gerakan berlebihan. Ia menunggu sampai posisi tepat. Kemudian— Fwish. Anak panah melesat. Rusa itu jatuh. Julian berjalan mendekat. Ia memeriksa sekeliling sebelum mengambil hasil buruannya. Tidak ada jejak monster. Tidak ada manusia. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan. “Setidaknya hari ini tenang.” Lunara mendengus. Julian menoleh. “Apa?” Moon Lynx itu menatap ke arah kanan. Julian langsung memperhatikan. Ada suara. Pelan. Ranting patah. Julian memberi isyarat agar Zero tetap diam. Ia bergerak ke balik pohon. Bukan mendekat langsung. Ia mengambil posisi yang memberinya pandangan lebih luas. Beberapa detik kemudian, seekor rusa kecil muncul. Bukan manusia. Julian menghela napas pelan. “Jadi itu.” Lunara menatapnya seolah kecewa. Julian tersenyum kecil. “Tidak semua suara berarti masalah.” Mereka melanjutkan perjalanan. --- Menjelang siang, Julian tiba di bagian hutan yang lebih dekat dengan sungai. Ia berhenti. Di tanah terdapat bekas roda kereta. Masih baru. Julian berjongkok. Bekasnya belum tertutup daun. Sebuah kereta pernah lewat. Ia mengikuti jejak beberapa meter. Kemudian menemukan sesuatu. Kain kecil berwarna cokelat tersangkut di ranting. Julian mengambilnya. Tidak ada lambang. Tidak ada tanda khusus. Hanya kain biasa. Ia memasukkannya ke kantong. Tidak ada alasan untuk menganggapnya penting. Namun beberapa meter kemudian, ia menemukan bekas tapak sepatu. Dua orang. Kali ini arahnya berbeda dari jejak yang ditemukan sebelumnya. Julian berdiri. Ia memandang ke arah jejak. Kemudian melihat ke arah sungai. Ia bisa saja mengikuti. Namun ia tidak melakukannya. Ia sudah menyampaikan informasi kepada Edmund. House Varell sudah mengetahuinya. Jika ia mengejar sendiri, ia hanya akan menghilangkan batas antara rasa ingin tahu dan tindakan ceroboh. Julian berbalik. “Ayo pulang.” Zero mengikuti. Lunara juga. --- Ketika Julian tiba di estate, Damir sedang berada di halaman. Julian menyerahkan kain yang ditemukan. “Saya menemukan ini di dekat sungai.” Damir menerimanya. Ia melihat kain tersebut. Tidak ada perubahan besar di wajahnya. Namun Julian memperhatikan jarinya berhenti sejenak. “Di mana?” “Sekitar satu jam dari jalur utama.” Damir mengangguk. “Ada yang lain?” “Bekas kereta. Dua pasang jejak sepatu.” “Apakah kau mengikuti?” “Tidak.” Damir menatapnya. “Kenapa?” “Tidak ada alasan untuk mengejar sebelum mengetahui siapa mereka.” Beberapa detik berlalu. Kemudian Damir tersenyum. “Bagus.” Julian menyerahkan semuanya kepada ayahnya. “Kalau memang ada masalah, saya akan diberi tahu?” “Tentu.” “Baik.” Julian kemudian pergi. Damir memandang punggung anaknya. Edmund datang dari sisi lain. “Duke.” Damir menyerahkan kain tersebut. “Periksa.” Edmund menerimanya. “Baik.” Setelah Julian menghilang dari halaman, Edmund berkata pelan, “Dia tidak bertanya lebih jauh.” “Memang.” “Padahal dia bisa saja.” Damir melihat ke arah hutan. “Dia tahu kapan harus berhenti.” Edmund tersenyum. “Itu kemampuan yang jarang.” --- Sore hari, Julian duduk di bawah pohon dekat kandang. Buku sejarah berada di pangkuannya. Zero berdiri di dekat pagar. Lunara tidur di rumput. Julian membaca beberapa halaman. Kemudian ia berhenti. Ia menatap langit. Tidak ada kejadian besar hari ini. Tidak ada monster kuat. Tidak ada pertarungan. Tidak ada misteri yang harus diselesaikan. Dan justru itu yang membuatnya nyaman. Hari yang biasa ternyata tidak membosankan. Julian menutup buku. Zero mendekat. Ia mengusap leher kuda itu. “Besok kita latihan lagi.” Zero mendengus. Lunara membuka satu mata. Julian tersenyum. “Dan setelah itu kita berburu.” Angin bergerak melewati dedaunan. Untuk sesaat, tidak ada yang perlu dilakukan. Tidak ada yang perlu dikejar. Namun jauh di balik pepohonan, sesuatu bergerak. Bukan monster. Bukan penjaga Varell. Seseorang berdiri di antara pepohonan, cukup jauh dari estate. Ia memperhatikan rumah bangsawan itu dalam diam. Kemudian berbalik. Ia tidak tahu bahwa dari jendela lantai dua, seseorang juga sedang melihat ke arahnya. Damir. Tatapan Duke Varell tetap tenang. Ia tidak mengejar. Tidak memberi perintah untuk menyerang. Hanya mengingat wajah yang bahkan belum terlihat jelas itu. Kemudian tirai ditutup. Malam kembali tenang. Untuk sekarang.

End of Chapter 32

Chapter 32: Chapter 32 — Hal yang Tidak Perlu Dikejar - TWO SOULS BENEATH ONE SHADOW | Novel AI Studio