Chapter 31 of 75
Chapter 31 — Kota yang Tetap Berjalan
1.3k words
Pagi berikutnya, Varell Estate kembali dipenuhi kesibukan kecil.
Kereta keluarga sudah menunggu di depan kediaman ketika Julian keluar bersama Scarlet dan Elena.
Julian mengenakan pakaian bangsawan sederhana berwarna gelap dengan mantel biru tua. Pedangnya tetap berada di pinggang, bukan sebagai hiasan.
Scarlet membawa beberapa daftar belanja.
Elena membawa tas kosong yang ukurannya terlihat terlalu besar untuk perjalanan singkat.
Julian melihat tas itu.
“Apakah kita akan membeli sebanyak itu?”
Elena tersenyum.
“Belum tentu.”
“Berarti tasnya untuk berjaga-jaga?”
“Persis.”
Julian mengangguk kecil.
“Jawaban yang sangat berbahaya.”
Elena langsung tertawa.
Scarlet menahan senyum.
“Jangan ikut-ikutan, Julian.”
“Saya hanya menyampaikan pengamatan.”
“Pengamatanmu benar,” kata Scarlet.
Elena memandang ibunya dengan wajah tidak percaya.
“Ibu!”
Scarlet tertawa.
“Naiklah sebelum kakakmu mulai memenuhi kereta dengan daftar belanja.”
Mereka akhirnya berangkat.
Zero tidak ikut kali ini.
Lunara juga tetap berada di estate.
Julian sebenarnya lebih menyukai perjalanan bersama keduanya, tetapi perjalanan ke Elaris kali ini tidak membutuhkan mereka.
Ia duduk di dalam kereta sambil membaca buku yang dibelinya beberapa waktu lalu.
Elena beberapa kali melirik.
“Kau membaca lagi?”
“Ya.”
“Tidak bosan?”
“Belum.”
“Buku sejarah?”
“Sebagian.”
Elena menghela napas.
“Aku tidak mengerti bagaimana kau bisa membaca buku seperti itu tanpa tertidur.”
Julian membalik halaman.
“Karena isinya berguna.”
“Bagian mana yang berguna?”
“Banyak.”
Elena menunggu.
Julian menutup bukunya sebentar.
“Misalnya, mengetahui wilayah mana yang sering terjadi serangan monster.”
Elena terdiam.
“Itu... sebenarnya masuk akal.”
Scarlet tersenyum dari seberang.
“Jangan coba menang debat dengan Julian soal buku.”
“Aku cuma penasaran.”
Julian membuka bukunya lagi.
“Tidak masalah.”
Kereta terus melaju.
Tidak lama kemudian, bangunan-bangunan Elaris mulai terlihat.
---
Seperti biasa, Elaris jauh lebih ramai daripada wilayah sekitar Varell Estate.
Pedagang berteriak menawarkan barang.
Gerobak berlalu-lalang.
Petualang membawa perlengkapan perjalanan.
Beberapa penyihir muda terlihat membawa tongkat dan tas berisi buku.
Julian turun dari kereta.
Matanya bergerak secara alami.
Jalan utama.
Gang di sebelah kiri.
Bangunan dua lantai di kanan.
Dua penjaga kota di persimpangan.
Tiga jalan keluar dari alun-alun.
Kebiasaan itu muncul begitu saja dalam pikirannya.
Namun ia tidak memikirkannya terlalu lama.
Scarlet sudah berjalan lebih dulu.
“Julian.”
“Ya, Ibu?”
“Jangan terlalu jauh.”
“Saya di sini.”
Elena menarik lengan Julian.
“Ayo. Aku tahu toko yang bagus.”
Julian membiarkan dirinya ditarik.
Mereka masuk ke beberapa toko.
Scarlet membeli bahan makanan dan perlengkapan rumah.
Elena membeli pakaian.
Julian mendapatkan dua buku baru.
Satu mengenai flora dan fauna Aetheria.
Satu lagi mengenai sejarah wilayah Valdoria.
Setelah selesai, mereka berhenti di sebuah kedai untuk makan siang.
Julian duduk menghadap jalan.
Scarlet memperhatikannya.
“Kau selalu memilih tempat duduk seperti itu.”
Julian menoleh.
“Seperti apa?”
“Menghadap pintu.”
Julian melihat kursinya.
Baru kali itu ia menyadarinya.
“Lebih nyaman.”
Elena tertawa.
“Nyaman dari mana?”
“Kalau ada orang masuk, saya bisa melihatnya.”
Elena mengangkat alis.
“Memangnya siapa yang akan menyerang kedai?”
“Tidak ada.”
“Lalu?”
Julian mengambil gelasnya.
“Saya hanya suka melihat jalan.”
Scarlet tidak mengatakan apa-apa.
Ia hanya tersenyum kecil.
---
Setelah makan, mereka berjalan menuju toko buku.
Di tengah perjalanan, suara keributan terdengar dari arah pasar.
Scarlet berhenti.
“Sepertinya ada masalah.”
Elena langsung ingin melihat.
“Jangan terlalu dekat.”
“Aku hanya melihat.”
Mereka mendekat secukupnya.
Seorang pedagang sedang berdebat dengan dua pria yang membawa pakaian perjalanan.
“Barang ini sudah rusak!”
“Rusak dari awal memang begitu.”
“Jangan bohong!”
Orang-orang mulai berkumpul.
Julian memperhatikan.
Tidak ada senjata terhunus.
Tidak ada gerakan agresif.
Hanya pertengkaran mengenai barang.
Seorang penjaga kota datang beberapa saat kemudian.
“Cukup. Kalau ada masalah, tunjukkan barang dan bukti pembelian.”
Kedua pihak mulai menjelaskan.
Julian hanya melihat sebentar.
Kemudian berjalan kembali bersama keluarganya.
Elena menoleh.
“Kau tidak mau ikut?”
“Tidak perlu.”
“Biasanya kau penasaran.”
Julian menggeleng.
“Itu urusan penjaga kota.”
Elena terdiam sebentar.
Kemudian tersenyum.
“Benar juga.”
Mereka melanjutkan perjalanan.
---
Toko buku berada di sebuah bangunan tua dekat distrik perdagangan.
Pemiliknya seorang pria tua bernama Master Oren, yang sudah dikenal Scarlet sejak beberapa tahun lalu.
“Duchess Varell!”
Pria tua itu menyambut mereka.
Scarlet tersenyum.
“Masih ingat saya rupanya.”
“Sulit melupakan pelanggan yang selalu membeli tiga buku dan pulang membawa tujuh.”
Elena tertawa.
“Itu pasti Ibu.”
Scarlet menatapnya.
“Jangan membongkar rahasia keluarga.”
Julian berjalan menuju rak sejarah.
Matanya menyusuri judul-judul buku.
Kerajaan lama.
Perang Valdoria.
Perjanjian lima kerajaan.
Sejarah perdagangan.
Monster.
Dungeon.
Tidak ada yang langsung menarik perhatiannya.
Kemudian ia melihat sebuah buku tipis dengan sampul hitam.
Catatan Wilayah Timur Valdoria.
Julian mengambilnya.
Ia membuka beberapa halaman.
Isinya berupa catatan lama tentang hutan, desa-desa yang pernah ada, jalur perdagangan yang sudah ditutup, dan beberapa laporan mengenai perubahan perilaku monster.
Julian berhenti.
Satu kalimat membuatnya membaca lebih lama.
“Beberapa kelompok pemburu melaporkan adanya pergerakan manusia tanpa identitas di wilayah hutan timur.”
Julian mengernyit tipis.
Tanggalnya sudah lebih dari dua puluh tahun lalu.
Ia membaca halaman berikutnya.
Tidak ada penjelasan.
Hanya catatan bahwa patroli dilakukan dan laporan dihentikan setelah beberapa bulan.
Julian menutup buku.
“Menarik.”
Ia membawa buku itu ke meja.
Master Oren melihat judulnya.
“Buku tua.”
“Apakah isinya masih akurat?”
“Sebagian. Kenapa?”
“Catatan tentang wilayah timur.”
Master Oren tertawa kecil.
“Ah, bagian itu. Banyak catatan lama yang tidak pernah diselesaikan.”
“Tidak diselesaikan?”
“Dulu wilayah timur memang lebih liar. Beberapa desa bahkan pindah karena monster.”
Julian mengangguk.
“Begitu.”
Tidak lebih.
Ia membayar buku tersebut.
Setelah itu, mereka meninggalkan toko.
---
Di perjalanan pulang, Julian membaca buku barunya.
Kereta berguncang perlahan.
Scarlet sedang berbicara dengan Elena.
Julian tidak ikut percakapan.
Sampai akhirnya Elena bertanya,
“Julian.”
“Ya?”
“Kau tadi membeli buku tentang wilayah timur.”
“Benar.”
“Kenapa?”
Julian menutup bukunya.
“Karena saya menemukan catatan yang menarik.”
“Masih soal simbol enam garis?”
Julian menggeleng.
“Bukan.”
Scarlet menoleh.
“Apa isinya?”
“Laporan lama tentang orang-orang yang bergerak di hutan timur tanpa identitas.”
Scarlet terdiam sebentar.
“Sudah lama?”
“Lebih dari dua puluh tahun.”
Scarlet kembali menatap ke luar jendela.
“Kalau begitu jangan terlalu dipikirkan.”
“Saya tidak memikirkannya terlalu jauh.”
Scarlet tersenyum.
“Bagus.”
Julian membuka bukunya kembali.
Namun beberapa menit kemudian, ia menutupnya lagi.
Ada satu hal yang mengganggunya.
Bukan isi catatan tersebut.
Melainkan waktunya.
Dua puluh tahun lalu.
Dan sekarang, House Varell baru saja menemukan jejak manusia di wilayah yang sama.
Bisa jadi kebetulan.
Kemungkinan besar memang begitu.
Tetapi kebetulan yang berulang layak dicatat.
Bukan untuk dikejar.
Hanya untuk diingat.
---
Ketika mereka tiba di estate menjelang sore, suasana terlihat normal.
Julian turun dari kereta.
Zero langsung mengeluarkan suara dari kandang ketika melihatnya.
Lunara muncul dari sisi halaman.
Elena berjalan lebih cepat menuju rumah.
“Aku mau menunjukkan barang-barangku kepada Ibu!”
Scarlet mengikutinya sambil tertawa.
Julian membawa bukunya sendiri.
Ia berjalan menuju kandang.
Zero mendekat.
Julian mengusap lehernya.
“Maaf. Hari ini aku tidak membawamu.”
Zero mendengus.
“Kau tidak suka ditinggal?”
Kuda itu menggerakkan kepalanya.
Julian tersenyum tipis.
“Besok.”
Lunara datang dan duduk tidak jauh dari mereka.
Untuk beberapa saat, Julian hanya berdiri di sana.
Tidak ada latihan.
Tidak ada monster.
Tidak ada masalah.
Hanya sore yang tenang.
Kemudian suara langkah terdengar dari belakang.
Edmund.
“Tuan Muda Julian.”
Julian menoleh.
“Ya?”
“Duke meminta Anda datang ke ruang latihan setelah makan malam.”
Julian mengangguk.
“Baik.”
Edmund hendak pergi.
Namun Julian memanggilnya.
“Edmund.”
“Ya?”
“Apakah Ayah menemukan sesuatu tentang jejak di hutan?”
Edmund terdiam sesaat.
“Belum ada laporan lengkap.”
Julian memperhatikan wajahnya.
Tidak ada kepanikan.
Tidak ada tanda bahaya langsung.
Tetapi ada sedikit perubahan pada cara Edmund menjawab.
“Begitu.”
Julian tidak bertanya lagi.
Edmund kemudian pergi.
Lunara memandang ke arah pria itu.
Julian mengusap kepala Moon Lynx tersebut.
“Kita lihat saja nanti.”
Ia tidak membutuhkan jawaban malam ini.
Kalau ada sesuatu yang perlu diketahui, ayahnya akan memberitahunya.
Kalau belum, berarti belum waktunya.
Julian kemudian membawa bukunya masuk ke rumah.
Malam nanti, ia akan berlatih lagi.
Dan besok, ia mungkin pergi ke hutan.
Bukan untuk mencari siapa pun.
Hanya untuk berburu.
Hanya untuk menjalani hari seperti biasa.
Namun jauh di wilayah timur, dua sosok yang meninggalkan jejak itu sudah menyadari satu hal.
Mereka bukan satu-satunya yang memperhatikan hutan.
Dan House Varell bukan keluarga yang mudah dilewati tanpa meninggalkan jejak.