Tiga minggu berlalu sejak kunjungan kedua keluarga Arkenhart.
Hari-hari Julian kembali ke rutinitas.
Pagi latihan.
Siang membaca atau membantu Ibu.
Sore berburu bersama Lunara dan Zero.
Namun tubuhnya mulai menunjukkan perubahan yang semakin jelas.
Ia sudah mampu mengalirkan Mana ke kaki tanpa harus berhenti memikirkan setiap gerakannya. Penggunaan pedang juga mulai terasa lebih alami.
Damir tidak lagi menghabiskan sebagian besar latihan untuk memperbaiki gerakan dasar Julian.
Sekarang latihan mereka lebih sering berupa pertarungan.
Bukan untuk mengajarkan Julian cara bertarung.
Melainkan untuk melihat sejauh mana tubuh mudanya mampu mengikuti apa yang sudah ada di dalam kepalanya.
Pagi itu, Damir berdiri di tengah halaman.
Julian berada sekitar sepuluh langkah di depannya.
Pedang asli tergantung di pinggangnya.
“Siap?”
“Ya.”
Damir mengangkat pedang kayu.
“Mulai.”
Julian bergerak.
Bukan lurus ke depan.
Ia mengambil sudut.
Kakinya menyentuh tanah dengan ringan.
Damir menyerang.
Julian menunduk.
Pedang melewati atas kepalanya.
Dalam satu gerakan yang hampir bersamaan, Julian sudah berada di sisi kiri Damir.
Pedangnya terangkat.
Damir memutar tubuh.
Tak!
Pedang mereka bertemu.
Julian tidak memaksa.
Ia justru melepaskan tekanan, mundur satu langkah, kemudian kembali masuk.
Tebasan rendah.
Damir melompat mundur.
Julian mengikuti.
Namun kali ini Damir mengubah ritme.
Serangan datang lebih cepat.
Julian menangkis satu.
Dua.
Tiga.
Pada serangan keempat, ia tidak menangkis.
Ia menghindar.
Membiarkan ujung pedang kayu lewat hanya beberapa sentimeter dari bahunya.
Kemudian Julian menghentikan pedangnya tepat di depan dada Damir.
Diam.
Beberapa detik berlalu.
Damir menatap ujung pedang tersebut.
Kemudian tersenyum.
“Bagus.”
Julian menurunkan pedangnya.
“Ada celah.”
“Ya.”
“Ayah sengaja membukanya.”
“Benar.”
Julian memasukkan pedang ke sarungnya.
Damir mengangguk.
“Dan kau tidak langsung mengambilnya.”
Julian memandangnya.
“Karena terlalu mudah.”
“Bagus.”
Damir berjalan mendekat.
“Kalau lawan sengaja memberimu celah, jangan langsung percaya bahwa itu benar-benar celah.”
Julian mengangguk.
“Bisa jadi perangkap.”
“Bisa.”
Damir menatap mata anaknya.
“Di luar sana, tidak semua orang akan menyerang dengan pedang.”
Julian diam.
“Sebagian menyerang dengan kata-kata. Sebagian menggunakan uang. Sebagian menggunakan orang lain.”
Julian menjawab tenang.
“Dan sebagian menunggu sampai lawannya lengah.”
Damir tersenyum tipis.
“Karena itu jangan hanya melihat senjata.”
Julian memandang halaman.
“Saya mengerti.”
Damir kemudian menyimpan pedangnya.
“Cukup untuk hari ini.”
Julian mengangguk.
Namun sebelum pergi, ia melihat sesuatu di dekat pagar.
Salah satu penjaga Varell berdiri di sana.
Tidak bergerak.
Tatapannya mengarah ke jalan luar.
Julian hanya melihat sekilas.
Tidak ada sesuatu yang jelas.
Namun posisi penjaga itu berbeda dari biasanya.
Biasanya penjaga berdiri menghadap gerbang.
Sekarang pria itu sedikit memiringkan tubuh, seolah ingin melihat sesuatu di balik pepohonan.
Julian tidak bertanya.
Ia hanya mengingatnya.
---
Saat sarapan, suasana rumah tetap seperti biasa.
Scarlet sedang menuangkan minuman.
Elena berbicara tentang pakaian yang baru dibelinya di Elaris.
Julian makan sambil mendengarkan.
“Julian.”
Ia mengangkat kepala.
“Ya, Ibu?”
“Kau mau ikut ke Elaris besok?”
Julian berpikir sebentar.
“Untuk apa?”
“Membeli beberapa buku dan kebutuhan rumah.”
“Saya ikut.”
Elena langsung tersenyum.
“Bagus. Sekalian aku ingin melihat toko baru.”
Damir yang sedang membaca laporan hanya berkata,
“Jangan pulang terlalu malam.”
Scarlet menoleh.
“Kami pergi pagi.”
“Lebih baik.”
Julian kembali makan.
Namun pikirannya sempat kembali pada penjaga tadi.
Ia tidak menganggapnya masalah.
Belum.
---
Sore harinya, Julian pergi ke hutan.
Zero mengikuti seperti biasa.
Lunara berjalan di depan.
Hutan terasa tenang.
Terlalu tenang.
Julian berhenti.
Lunara ikut berhenti.
Zero mengangkat kepala.
Julian melihat sekeliling.
Tidak ada suara burung di sekitar mereka.
Beberapa menit sebelumnya masih terdengar.
Sekarang tidak ada.
Ia berjongkok.
Tanah lembap.
Ada jejak.
Bukan monster.
Sepatu.
Satu orang.
Kemudian dua.
Julian mengikuti jejak itu dengan mata.
Jejak pertama menuju utara.
Jejak kedua memotong jalur.
Ia berdiri.
Tidak mengejar.
Sebaliknya, Julian melihat pepohonan di sekitarnya.
Ada sesuatu yang terasa tidak cocok.
Ia menunjuk sebuah pohon.
“Lunara.”
Moon Lynx itu mendekat.
Julian menunjuk tanah di bawah pohon.
Lunara mengendus.
Kemudian menggeram pelan.
Julian tidak menyentuh apa pun.
Ada bau asing.
Bukan monster.
Manusia.
Seseorang pernah berhenti di sini.
Baru-baru ini.
Julian melihat ke arah Zero.
“Kita pulang.”
Zero berbalik.
Julian tidak mencari tahu lebih jauh.
Bukan karena takut.
Justru karena ia tahu kapan sebuah situasi belum membutuhkan tindakan.
Jika seseorang memang berada di hutan, mengejar tanpa mengetahui jumlah dan tujuannya hanya akan memberi mereka keuntungan.
Lebih baik membawa informasi kepada orang yang tepat.
---
Ketika kembali ke estate, Julian tidak langsung mencari Damir.
Ia lebih dahulu pergi ke kandang.
Zero masuk ke tempatnya.
Lunara berbaring di dekat pagar.
Julian kemudian menuju rumah.
Di lorong, ia bertemu Edmund.
“Edmund.”
“Ya, Tuan Muda Julian?”
“Saya menemukan jejak manusia di hutan.”
Edmund langsung berhenti.
“Di bagian mana?”
“Sebelah timur, tidak terlalu jauh dari jalur yang biasa saya gunakan.”
“Apakah Anda melihat orangnya?”
“Tidak.”
Edmund menatap Julian beberapa detik.
“Ada sesuatu yang lain?”
“Bau asing. Dua jalur berbeda. Sepertinya lebih dari satu orang.”
Edmund tidak langsung menjawab.
“Apakah mereka melihat Anda?”
“Saya tidak tahu.”
“Dan Anda tidak mengejar?”
“Tidak.”
Edmund tersenyum kecil.
“Keputusan yang tepat.”
Julian mengangguk.
Edmund kemudian berkata,
“Saya akan memberitahu Duke.”
“Baik.”
Julian hendak pergi.
“Tuan Muda.”
Julian menoleh.
Edmund berkata dengan nada lebih serius,
“Untuk sementara jangan pergi ke bagian timur sendirian.”
Julian mengangguk.
“Saya mengerti.”
Ia pergi.
Edmund memperhatikannya sampai menghilang di ujung koridor.
Ekspresi ramahnya perlahan menghilang.
Ia berbalik menuju ruang kerja Damir.
---
Malam tiba.
Julian berada di kamarnya.
Buku terbuka di atas meja.
Namun ia belum membacanya.
Ia menulis beberapa catatan pendek di buku kecilnya.
Jejak manusia.
Dua jalur.
Arah timur.
Tidak diketahui tujuan.
Ia menutup buku.
Tidak ada alasan untuk membuat kesimpulan.
Bisa saja pemburu.
Pedagang.
Pencari bahan.
Atau orang yang sekadar lewat.
Julian memandang jendela.
Di luar, halaman Varell Estate terlihat tenang.
Namun ia tahu ketenangan tidak selalu berarti tidak ada apa-apa.
Terkadang justru ketika semuanya terlihat biasa, seseorang sedang mengamati dari tempat yang tidak terlihat.
Julian mematikan lampu.
Kemudian berbaring.
---
Di sisi lain estate, Damir berdiri di ruang kerja.
Edmund berada di depannya.
“Dua orang?” tanya Damir.
“Setidaknya dua.”
“Julian melihat mereka?”
“Tidak.”
Damir terdiam.
“Bagaimana dia tahu?”
Edmund tersenyum tipis.
“Dia menemukan jejak.”
Damir memandang keluar jendela.
“Anak itu semakin peka.”
“Benar.”
“Besok kirim dua orang.”
“Untuk mengawasi?”
“Bukan.”
Damir menggeleng.
“Cari tahu siapa mereka.”
Edmund mengangguk.
“Baik.”
Damir kemudian menambahkan,
“Jangan melibatkan Julian.”
“Tentu.”
Keduanya terdiam.
Di luar, angin malam bergerak melewati pepohonan.
Tidak ada yang tahu siapa yang meninggalkan jejak di hutan.
Dan untuk saat ini, Julian tidak perlu tahu.
Ia masih punya banyak hal lain untuk dijalani.
Pagi besok, ia akan pergi ke Elaris bersama Ibu dan Elena.
Membeli buku.
Berjalan di kota.
Mungkin makan di tempat baru.
Mungkin menemukan sesuatu yang menarik.
Kehidupan kecil itu masih berjalan.
Namun tanpa disadari Julian, mata-mata pertama sudah mulai muncul di sekitar House Varell.
Dan kali ini, bukan Julian yang mengejar mereka.
Merekalah yang mulai mendekati wilayahnya.