Chapter 29 of 75

Chapter 29 — Kunjungan yang Kedua

1.4k words

Hampir dua bulan telah berlalu sejak kunjungan pertama keluarga Arkenhart ke Varell Estate. Musim belum banyak berubah, tetapi rutinitas Julian sudah mengalami beberapa perkembangan kecil. Latihan Mana yang sebelumnya terasa asing mulai menjadi bagian dari kesehariannya. Ia masih belum mampu menggunakan Mana dalam jumlah besar, tetapi tubuhnya semakin terbiasa dengan aliran energi tersebut. Pedangnya juga tidak lagi terasa asing. Setiap pagi, Julian berlatih bersama Damir. Beberapa hari dalam seminggu, ia berlatih bersama Edmund. Dan ketika tidak ada latihan, ia hampir selalu pergi ke hutan bersama Lunara dan Zero. Zero sendiri semakin terbiasa dengan keberadaan Julian. Kuda hitam itu masih tidak mau menerima pelana atau tali kekang. Namun sekarang ia bahkan tidak perlu dipanggil ketika Julian pergi ke hutan. Begitu melihat Julian keluar dari rumah, Zero biasanya sudah berdiri di dekat gerbang. Lunara pun semakin nyaman berada di sekitar keluarga Varell. Ia masih tidak terlalu menyukai orang lain yang mencoba menyentuhnya, tetapi setidaknya ia sudah tidak langsung menjauh ketika Elena berada di dekatnya. Hari-hari berjalan sederhana. Dan Julian menyukainya. Pagi itu, kesederhanaan tersebut kembali sedikit berubah. Dari jendela lantai dua, Julian melihat beberapa pelayan sedang mempersiapkan halaman depan. Beberapa penjaga berdiri di sekitar gerbang. Sebuah meja tambahan juga sedang dibawa masuk ke ruang makan. Julian turun ke lantai bawah. Ia menemukan Edmund sedang memberikan beberapa instruksi kepada para pelayan. “Edmund.” Butler itu menoleh. “Selamat pagi, Tuan Muda Julian.” “Apakah ada tamu?” “Benar.” Julian sudah bisa menebak. “House Arkenhart?” Edmund tersenyum tipis. “Tepat.” Julian melihat halaman. “Cedric ikut?” “Kemungkinan besar.” Julian mengangguk. Ia memang sudah cukup lama tidak bertemu Cedric. Hampir dua bulan. “Apakah mereka datang untuk urusan Ayah?” “Duke Varell dan Lord Arkenhart memiliki beberapa urusan mengenai wilayah utara.” “Begitu.” Edmund memperhatikan pakaian Julian. “Tuan Muda.” “Ya?” “Anda sebaiknya mengganti pakaian.” Julian melihat dirinya sendiri. Ia masih mengenakan pakaian latihan. “Ada debu?” “Sedikit.” Julian menepuk bagian lengannya. “Tidak terlalu banyak.” Edmund menatapnya. “Tuan Muda.” Julian menghela napas. “Baik.” Edmund tersenyum puas. “Terima kasih.” Julian baru berjalan beberapa langkah ketika Edmund menambahkan, “Dan rambut Anda.” Julian berhenti. “Apa lagi?” “Tidak apa-apa.” Edmund membetulkan monocle-nya. “Hanya sedikit berantakan.” Julian menyentuh rambutnya. “Baiklah.” --- Tidak lama setelah Julian berganti pakaian, suara roda kereta terdengar dari luar. Julian berdiri di aula bersama keluarganya. Damir dan Scarlet berada di depan. Elena berdiri di sisi Julian. Pintu utama terbuka. Lord Arkenhart masuk bersama istrinya. Setelah salam dan percakapan formal singkat, seorang anak laki-laki masuk dari belakang. Rambutnya masih sama. Ekspresinya juga masih sama. Cedric melihat sekeliling. Kemudian matanya langsung menemukan Julian. “Julian!” Julian tersenyum. “Cedric.” Cedric berjalan mendekat. “Kau masih ingat aku?” “Kau terlalu berisik untuk dilupakan.” Cedric terdiam. Elena langsung tertawa. Scarlet menutup mulutnya agar tidak ikut tertawa. Cedric menunjuk Julian. “Itu penghinaan.” “Itu fakta.” Cedric akhirnya tertawa. “Kau berubah.” Julian mengangkat alis. “Benarkah?” “Sedikit lebih tinggi.” Julian melihat dirinya sendiri. “Saya tidak merasa.” “Aku juga sedikit lebih tinggi.” Elena melihat mereka bergantian. “Menurutku kalian sama saja.” Cedric langsung membantah. “Tidak mungkin!” Damir akhirnya menyela. “Kalian baru bertemu lagi dan sudah mulai berdebat.” Cedric tersenyum. “Memang begitu kalau bertemu Julian.” Julian hanya menggeleng kecil. --- Setelah percakapan orang dewasa dimulai, Cedric kembali menunjukkan kebiasaannya yang sama seperti sebelumnya. Ia tidak tahan duduk terlalu lama. Beberapa menit kemudian, ia mendekati Julian. “Ke kandang?” Julian langsung tahu maksudnya. “Zero?” Cedric mengangguk. “Dan Lunara.” Julian berdiri. “Ibu?” Scarlet menoleh. “Kalian boleh keluar. Jangan terlalu jauh.” “Baik.” Damir juga mengangkat kepala. “Jangan masuk terlalu dalam ke hutan.” Julian mengangguk. “Saya tidak akan.” Mereka kemudian keluar. --- Zero sedang berada di area rumput dekat kandang. Begitu melihat Julian, telinganya langsung bergerak. Cedric berjalan mendekat. “Dia semakin besar.” “Ya.” “Dan masih tidak mau ditunggangi?” “Tidak.” Cedric tersenyum. “Bagaimana kalau aku mencoba?” Julian langsung menggeleng. “Jangan.” “Kenapa?” “Karena dia tidak menyukainya.” Cedric tertawa. “Baiklah. Aku tidak akan memaksanya.” Ia berdiri beberapa langkah dari Zero. Dua bulan lalu, Zero masih cukup waspada terhadap Cedric. Sekarang, ketika Cedric mengulurkan tangannya, Zero tidak mundur. Ia bahkan mendekat sendiri. Cedric membelalakkan mata. “Lihat!” Julian tersenyum. “Dia mulai mengenalmu.” Cedric mengusap leher Zero. “Berarti aku sudah naik peringkat.” “Peringkat?” “Dari orang asing menjadi kenalan.” Julian tertawa. “Lumayan.” Zero mendengus pelan. Cedric menatap Julian. “Dia sepertinya mau mengatakan sesuatu.” “Dia mungkin menyuruhmu diam.” “Tidak mungkin.” Lunara muncul dari sisi kandang. Cedric berjongkok. “Halo, Lunara.” Lunara mendekat beberapa langkah. Kemudian berhenti. Cedric tidak berusaha menyentuhnya. Ia hanya tersenyum. “Sekarang aku tahu caranya.” Julian memperhatikannya. “Caranya apa?” “Menunggu.” Julian tersenyum kecil. “Benar.” Cedric mengangguk. “Dulu aku langsung mau menyentuhnya.” “Makanya dia menjauh.” “Sekarang aku tahu.” Lunara akhirnya berjalan lebih dekat. Ia mengendus tangan Cedric. Kemudian kembali ke sisi Julian. Cedric tersenyum puas. “Setidaknya sudah lebih baik.” --- Setelah itu, mereka pergi ke halaman belakang. Cedric membawa pedang kayu. Julian langsung memahami maksudnya. “Kau masih ingin bertarung?” “Sudah hampir dua bulan aku latihan.” “Begitu.” Cedric mengangkat pedangnya. “Kali ini aku akan menang.” Julian mengambil pedang kayu dari rak. “Kita lihat.” Mereka berdiri berhadapan. Cedric maju lebih dulu. Tebasan dari kanan. Julian menangkis. Tak! Cedric segera memutar tubuh dan menyerang dari kiri. Julian mundur. Tak! Kali ini Cedric tidak langsung menyerang. Ia menunggu. Julian memperhatikan perubahan itu. “Kau belajar.” Cedric tersenyum. “Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.” Cedric bergerak. Julian menangkis. Keduanya bertukar serangan. Cedric memang lebih baik daripada dua bulan lalu. Langkahnya lebih stabil. Serangannya lebih terarah. Staminanya juga meningkat. Namun Julian masih berada di atasnya. Ketika Cedric mencoba serangan terakhir, Julian memiringkan tubuh dan menyentuh sisi bahunya dengan pedang kayu. “Berhenti.” Cedric melihat pedang di bahunya. Kemudian menghela napas. “Aku masih kalah.” “Tapi lebih lama.” Cedric duduk di tanah. “Berapa lama?” Julian berpikir. “Sekitar tiga kali lebih lama daripada sebelumnya.” Cedric langsung tersenyum. “Itu berarti aku berkembang.” “Ya.” Cedric melihat pedang Julian. “Kau juga berkembang.” Julian mengangguk. “Saya berlatih setiap hari.” “Mana?” Julian terdiam sejenak. “Sedikit.” Cedric langsung tertarik. “Kau sudah bisa menggunakan Mana?” “Sedikit.” “Tunjukkan.” Julian tersenyum. “Tidak.” “Kenapa?” “Karena tidak ada alasan.” Cedric menghela napas. “Kau sekarang makin sulit dibujuk.” “Elena bilang saya dulu terlalu mudah dibujuk.” “Benarkah?” “Tidak juga.” Cedric tertawa. --- Sementara itu, di ruang kerja, Damir dan Lord Arkenhart sedang membicarakan urusan wilayah. “Beberapa kawanan monster bergerak lebih jauh ke utara,” kata Lord Arkenhart. Damir mengangguk. “Di wilayah kami juga ada perubahan serupa.” “Apakah ada tanda monster tingkat tinggi?” “Belum.” Lord Arkenhart menyandarkan tubuhnya. “Kalau begitu kita hanya perlu memperkuat patroli.” “Benar.” Percakapan mereka terdengar tenang. Tidak ada kepanikan. Tidak ada alasan untuk menganggap keadaan sebagai ancaman besar. Hanya dua kepala keluarga yang membandingkan laporan wilayah mereka. Namun ada satu hal yang sama-sama mereka sadari. Beberapa bulan terakhir, pergerakan monster di sejumlah wilayah memang sedikit berubah. Belum cukup untuk disebut krisis. Tetapi cukup untuk dicatat. --- Menjelang sore, keluarga Arkenhart bersiap pulang. Cedric berdiri di dekat kereta. Ia memandang Julian. “Lain kali aku yang menang.” Julian tersenyum. “Saya tunggu.” “Aku serius.” “Saya juga.” Cedric menjulurkan tangannya. Julian menjabatnya. “Kau harus datang ke utara.” “Saya ingat.” “Jangan cuma bilang ingat.” “Saya akan datang suatu hari nanti.” Cedric tersenyum lebar. “Bagus.” Ia menaiki kereta. Sebelum masuk sepenuhnya, Cedric menoleh. “Julian!” “Ya?” “Kalau kau datang, aku akan menunjukkan benteng kami.” Julian mengangguk. “Saya ingin melihatnya.” “Janji?” “Janji.” Pintu kereta ditutup. Kereta mulai bergerak meninggalkan halaman. Julian berdiri sampai kereta itu menghilang di balik jalan. Elena kemudian muncul di sampingnya. “Jadi kau benar-benar ingin pergi ke utara?” “Ya.” “Karena Cedric?” Julian menggeleng. “Bukan hanya karena Cedric.” Ia melihat hutan luas di kejauhan. “Aku memang ingin melihat tempat-tempat yang belum pernah kulihat.” Elena tersenyum. “Kalau begitu suatu hari nanti kita bisa pergi bersama.” Julian menoleh. “Benarkah?” “Tentu.” Elena kemudian menunjuk ke arah Zero. “Tapi dia ikut.” Julian tertawa kecil. “Kalau Zero mau.” Dari kejauhan, Zero mendengus seolah mendengar namanya. Lunara yang berada di dekatnya mengibaskan ekor. Julian tersenyum. Dua bulan. Hanya dua bulan sejak pertemuan pertama. Namun hubungan kecil itu sudah terasa lebih akrab daripada sebelumnya. Cedric bukan lagi sekadar anak dari keluarga bangsawan yang pernah berkunjung. Ia sudah menjadi salah satu teman Julian. Dan mungkin, suatu hari nanti, jalan mereka akan membawa mereka jauh lebih jauh daripada halaman Varell Estate. Untuk sekarang, Julian kembali masuk ke rumah. Besok pagi, latihan akan dimulai lagi. Dan kehidupan kecil yang ia pilih masih terus berjalan.

End of Chapter 29