Chapter 2 of 75

Chapter 2 — Anak yang Menyukai Hutan

1.5k words

Pagi di kediaman House Varell selalu dimulai lebih cepat daripada yang Julian inginkan. Bukan karena seseorang membangunkannya. Justru sebaliknya. Julian sudah terbiasa bangun sebelum siapa pun memanggilnya. Kebiasaan itu terbentuk sejak dirinya masih kecil. Bahkan sebelum memahami apa itu Mana, ia sudah memiliki kebiasaan memeriksa keadaan sekitar begitu membuka mata. Jendela. Pintu. Suara langkah di lorong. Suara burung di luar. Arah angin. Kebiasaan lama dari kehidupan sebelumnya masih tertanam begitu dalam hingga terkadang Julian sendiri tidak menyadarinya. Pagi itu, ia duduk di tepi tempat tidur dan memandang kedua tangannya. Enam tahun. Sudah enam tahun sejak Adrian Voss mati. Enam tahun sejak ia membuka mata sebagai Julian Varell. Dan selama enam tahun itu, ia mulai menyadari sesuatu yang aneh. Ia tidak merindukan kehidupan lamanya. Ia masih mengingat semuanya. Nama. Wajah. Misi. Pelatihan. Kematian. Semuanya masih ada dalam ingatannya. Namun kenangan itu perlahan terasa seperti sesuatu yang jauh. Sesuatu yang pernah menjadi miliknya. Bukan sesuatu yang harus ia kembali. Julian berdiri. Hari ini ia ingin pergi ke hutan. Bukan untuk melarikan diri dari rumah. Ia hanya ingin berjalan. Hutan di belakang wilayah Varell selalu menarik perhatiannya. Tempat itu luas, penuh pepohonan tua dan jalur-jalur kecil yang belum pernah ia jelajahi. Dan yang paling penting— tidak ada yang banyak berbicara di sana. Julian menyukai itu. Ia baru saja membuka pintu kamar ketika sebuah suara langsung menyambutnya. "Julian!" Julian berhenti. Elena muncul dari ujung lorong. Rambut biru panjangnya sedikit berantakan. Sepertinya ia baru saja bangun. "Kau mau ke mana?" "Ke bawah." Elena menyipitkan mata. "Jawaban macam apa itu?" Julian menghela napas kecil. "Ke ruang makan." "Oh." Elena berjalan mendekat. "Kalau begitu ayo." Mereka berjalan bersama. "Kau tidur nyenyak?" "Ya." "Sudah sarapan?" "Belum." "Makanya jangan langsung pergi." "Aku memang belum pergi." Elena berhenti. "Benar juga." Julian menatap kakaknya. Elena mengangguk dengan serius. "Bagus. Berarti aku masih bisa mengawasimu." Julian tersenyum kecil. "Kak Elena terlalu banyak khawatir." "Aku kakakmu. Itu pekerjaanku." Mereka sampai di ruang makan. Scarlet sudah berada di sana. Damir juga sudah duduk. Edmund berdiri di sisi ruangan seperti biasa, dengan ekspresi tenang dan tongkat yang selalu berada di tangannya. "Selamat pagi," kata Julian. "Selamat pagi, sayang." Scarlet tersenyum. Damir mengangguk. "Selamat pagi." Julian duduk. Makanan mulai disajikan. Suasana pagi itu sederhana. Tidak ada rapat keluarga. Tidak ada pembicaraan serius. Elena bercerita tentang sesuatu yang terjadi kemarin. Scarlet sesekali menanggapi. Damir lebih banyak diam. Edmund menuangkan teh. Julian mendengarkan semuanya. Ia tidak pernah mengira suara seperti ini akan menjadi sesuatu yang ia sukai. Dulu, meja makan baginya hanyalah tempat untuk mengisi energi sebelum bekerja. Sekarang meja makan berarti rumah. "Julian." Ia mengangkat wajah. Scarlet sedang menatapnya. "Ya, Ibu?" "Kau nanti mau melakukan apa?" Julian berpikir sebentar. "Pergi ke hutan." Elena langsung berhenti makan. "Hutan?" Julian mengangguk. "Aku ingin berburu." "Sendiri?" "Ya." "Tidak." Jawaban Elena terlalu cepat. Julian menatapnya. "Aku bisa menjaga diri." "Kau baru enam tahun." "Aku tahu." "Dan hutan itu luas." "Aku juga tahu." "Dan ada monster." Julian diam. Scarlet ikut memandangnya. "Julian, kalau ingin pergi ke hutan, setidaknya jangan terlalu jauh." Julian mengangguk. "Baik." Damir yang sejak tadi diam akhirnya berbicara. "Kalau kau ingin berburu, bawa pendamping." Julian menatap ayahnya. "Ayah akan ikut?" Damir menggeleng. "Aku ada urusan." Julian tidak kecewa. Ia sudah menduga. Damir kemudian menatap Edmund. Edmund langsung memahami maksudnya. "Tuan Muda?" Julian menoleh. Edmund tersenyum tipis. "Saya bisa menemani." Julian berpikir sebentar. Namun akhirnya menggeleng. "Saya ingin mencoba sendiri." Edmund tidak langsung menjawab. Ia menatap Damir. Damir juga menatap Julian. Beberapa detik berlalu. "Baik," kata Damir akhirnya. "Tapi jangan melewati batas hutan bagian luar." Julian mengangguk. "Baik, Ayah." "Dan kalau melihat monster yang terlalu kuat, jangan mendekat." "Baik." Elena menunjuk Julian dengan sendok. "Dan jangan pulang dalam keadaan penuh lumpur lagi." Julian menatap pakaian bersihnya. "Aku akan berusaha." "Jangan berusaha. Jangan kotor." Scarlet tertawa kecil. Damir menundukkan wajah, menyembunyikan senyum. Julian juga tersenyum. Beginilah pagi yang ia inginkan. Sederhana. Tidak istimewa. Namun terasa berharga. --- Beberapa jam kemudian, Julian berdiri di tepi hutan. Ia membawa busur kecil yang dibuat khusus untuknya. Bukan senjata yang berat. Bukan pula busur yang cukup kuat untuk menghadapi monster besar. Hanya senjata untuk belajar. Julian menarik napas. Suara daun bergerak tertiup angin. Burung berkicau. Jauh di dalam hutan terdengar suara sesuatu bergerak. Ia melangkah masuk. Satu langkah. Kemudian langkah berikutnya. Tubuh kecilnya bergerak dengan tenang. Tidak seperti anak seusianya. Ia tidak menginjak ranting kering tanpa alasan. Tidak berlari. Tidak membuat suara berlebihan. Insting Adrian masih ada. Namun Julian tidak memaksanya keluar. Ia hanya membiarkannya menjadi bagian dari dirinya. Setelah berjalan cukup jauh, ia berhenti. Ada jejak. Kelinci. Julian berjongkok. Ia memperhatikan tanah. Jejak itu masih baru. Ia mengikuti arahnya. Beberapa menit kemudian, ia melihat seekor kelinci sedang memakan rumput. Julian perlahan mengangkat busur. Tarik. Tahan. Napas. Lepaskan. Anak panah melesat. Tepat mengenai sasaran. Julian berjalan mendekat. Ia menatap hasil buruannya beberapa saat. Tidak ada rasa bangga berlebihan. Tidak ada kegembiraan. Ia hanya menarik napas. "Setidaknya cukup untuk makan." Ia sudah terbiasa membunuh di kehidupan sebelumnya. Namun kali ini rasanya berbeda. Ia tidak membunuh karena perintah. Tidak karena uang. Tidak karena target. Ia berburu karena memilihnya sendiri. Perbedaan kecil itu terasa lebih besar daripada yang ia kira. Julian memasukkan hasil buruannya ke dalam kantong yang dibawanya. Kemudian ia kembali berjalan. Tak lama kemudian, ia mendengar suara. Geraman. Julian berhenti. Telinganya menangkap suara lain. Satu. Dua. Tiga. Ia perlahan menoleh. Di antara pepohonan berdiri tiga makhluk menyerupai serigala. Namun ukurannya lebih besar. Mata mereka berwarna merah samar. Bulu mereka kusam dan kasar. Monster. Julian langsung memahami situasinya. Jarak sekitar dua puluh meter. Tiga lawan satu. Tubuhnya masih kecil. Ia belum memiliki Mana. Dan busurnya tidak cocok untuk pertarungan jarak dekat. Julian tidak panik. Ia hanya mengamati. Monster pertama bergerak. Julian mundur. Monster itu menerjang. Julian bergeser ke samping. Cakar melewati tubuhnya. Ia tidak menyerang. Belum. Monster kedua datang dari kiri. Julian berputar dan berlari menuju pohon. Monster mengejarnya. Ia sudah mengetahui sesuatu. Monster itu cepat. Tetapi tidak terlalu pintar. Julian memanfaatkan lingkungan. Ia melompati akar pohon. Monster pertama kehilangan keseimbangan sesaat. Julian mengambil kesempatan. Busurnya sudah berada di tangannya. Tarik. Lepaskan. Anak panah menancap di bahu monster. Monster itu meraung. Julian mundur lagi. Monster ketiga datang dari belakang. Julian mendengar suara langkahnya. Ia berbalik tepat waktu. Cakar hampir menyentuh wajahnya. Julian menjatuhkan tubuhnya ke tanah. Monster melewatinya. Ia segera berguling dan bangkit. Jantungnya berdetak lebih cepat. Bukan karena takut. Tubuh mudanya belum terbiasa dengan tekanan seperti ini. Namun pikirannya tetap tenang. Ia mengambil satu anak panah terakhir. Tidak cukup. Julian melihat sekeliling. Pohon. Batu. Tanah miring. Semak. Kemudian ia melihat sebuah celah sempit di antara dua pohon. Julian tersenyum tipis. Ia berlari ke sana. Ketiga monster mengejar. Begitu salah satu monster masuk terlalu cepat, tubuhnya tersangkut di antara dua batang pohon. Julian langsung berbalik. Ia mengambil batu besar yang berada di dekat kakinya dan melemparkannya ke arah kepala monster. Tidak cukup untuk membunuh. Tetapi cukup untuk membuatnya kehilangan keseimbangan. Julian mengambil kesempatan untuk menjauh. Ia tidak berniat menghabisi ketiga monster itu. Ia hanya ingin keluar. Namun ketika Julian mundur, sesuatu menarik perhatiannya. Di tanah dekat salah satu pohon terdapat bekas cakar. Bukan milik monster yang mengejarnya. Jejak itu jauh lebih besar. Sangat besar. Julian berjongkok. Ia menyentuh tanah. Bekasnya masih baru. Ada empat goresan panjang. Julian memandang lebih dalam ke hutan. Untuk pertama kalinya sejak masuk, ia merasa ada sesuatu yang sedang memperhatikannya. Bukan tiga monster tadi. Sesuatu yang lebih besar. Julian berdiri. Naluri lamanya berbisik. Pergi. Sekarang. Ia tidak membantah. Julian berlari meninggalkan tempat itu. --- Ketika sampai di rumah, matahari sudah mulai turun. Pintu utama terbuka. Elena berdiri di sana. Begitu melihat Julian, ekspresinya berubah. "JULIAN!" Julian berhenti. Elena berjalan cepat menghampirinya. "Kau lihat dirimu!" Julian melihat pakaiannya. Ada tanah di mana-mana. Beberapa bagian bajunya robek. Rambutnya berantakan. Elena menutup wajah dengan satu tangan. "Aku sudah bilang jangan pulang kotor!" "Maaf." "Dan kenapa bajumu robek?" "Monster." Elena langsung serius. "Monster?" Julian mengangguk. "Ada tiga." "Dan kau menghadapinya sendiri?" "Awalnya." Elena menatapnya tidak percaya. "Julian..." Scarlet keluar dari rumah. Ia melihat keadaan anaknya. Wajahnya langsung menunjukkan kekhawatiran. "Apakah kau terluka?" "Tidak, Ibu." Scarlet memeriksa tubuhnya sendiri untuk memastikan. "Benar-benar tidak?" "Benar." Damir muncul beberapa saat kemudian. Ia menatap pakaian Julian. Kemudian menatap wajah anaknya. "Kau bertemu monster?" "Ya." "Berapa?" "Tiga." Damir diam. "Dan kau melakukan apa?" Julian menjawab jujur. "Menghindar." Damir sedikit mengangkat alis. "Bagus." Julian terkejut. "Bagus?" "Jika kau tidak yakin bisa menang, jangan bertarung." Damir menatap anaknya dengan serius. "Menang bukan berarti harus membunuh lawan." Julian terdiam. Kalimat itu sederhana. Namun entah kenapa terasa berbeda baginya. Di kehidupan pertama, kemenangan hampir selalu berarti satu hal. Target tidak lagi bergerak. Sekarang ayahnya mengajarkan sesuatu yang berbeda. Bertahan hidup juga merupakan kemenangan. Damir kemudian melihat ke arah hutan. "Kau pergi terlalu jauh." Julian menunduk sedikit. "Maaf." "Jangan ulangi." "Baik." Damir berjalan mendekat dan meletakkan tangan di kepala Julian. "Untuk hari ini, kau sudah cukup." Julian menatap ayahnya. Kemudian tersenyum kecil. "Baik." Saat itu, Julian belum tahu apa yang berada jauh di dalam hutan. Ia belum tahu makhluk apa yang meninggalkan jejak besar itu. Ia juga belum tahu bahwa hutan tersebut suatu hari akan menjadi salah satu tempat yang paling berarti dalam hidupnya. Hari itu, Julian hanya pulang. Ke rumah. Ke keluarganya. Dan untuk seseorang yang pernah hidup sebagai senjata— pulang tanpa harus membawa perintah apa pun adalah sebuah kebahagiaan kecil yang tidak ternilai.

End of Chapter 2