Chapter 28 of 75
Chapter 28 — Latihan yang Berbeda
1.2k words
Pagi berikutnya, Julian bangun lebih awal dari biasanya.
Bukan karena jadwal latihan.
Ia hanya terbangun sebelum matahari benar-benar muncul.
Kamar masih dipenuhi cahaya kebiruan dari luar jendela. Julian duduk di tepi ranjang, kemudian melihat pedang yang diberikan Damir kemarin.
Hari ini ia akan menggunakannya untuk pertama kali.
Julian mengenakan pakaian latihan dan turun ke halaman.
Namun sebelum menuju tempat latihan, ia berhenti di dekat kandang.
Zero sudah berdiri.
Seolah memang sudah menunggunya.
“Pagi.”
Zero mendengus pelan.
“Kalau kau mau ikut, tunggu sampai selesai.”
Zero tetap menatapnya.
Julian tersenyum tipis.
“Baiklah. Setelah latihan.”
Dari belakang terdengar suara langkah.
“Sepertinya dia lebih patuh kepadamu daripada kepada semua orang di kandang.”
Edmund berdiri sambil membawa tongkatnya.
Julian menoleh.
“Selamat pagi, Edmund.”
“Selamat pagi, Tuan Muda Julian.”
Edmund melirik Zero.
“Dan selamat pagi untukmu juga.”
Zero hanya mengibaskan ekornya.
Edmund tersenyum tipis.
“Benar-benar kuda yang sopan.”
Julian tertawa kecil.
---
Damir sudah berada di halaman latihan.
Di tangannya terdapat pedang kayu.
Julian berdiri beberapa meter di depannya.
Pedang asli tergantung di pinggang.
Damir memperhatikan pedang itu.
“Sudah kau bawa.”
“Ya.”
“Bagaimana rasanya?”
Julian menyentuh gagangnya.
“Lebih berat.”
“Bagus.”
Julian mengangkat alis.
“Bagus?”
“Kalau kau langsung merasa tidak ada perbedaan, justru itu masalah.”
Damir berjalan mendekat.
“Pedang yang sebenarnya memiliki berat, keseimbangan, dan respons yang berbeda. Kau harus mengenalnya.”
Julian menarik pedangnya.
Cahaya pagi memantul di permukaan bilah.
Pedang itu sederhana, tetapi terawat dengan baik.
Julian mengayunkannya perlahan.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Ia tidak mencoba menyerang apa pun.
Hanya merasakan bobotnya.
Damir memperhatikan.
“Jangan mengubah gerakanmu hanya karena menggunakan pedang asli.”
“Saya tidak akan.”
“Bagus.”
Damir mengambil posisi.
“Sekarang lawan aku.”
Julian maju.
Pedangnya bertemu dengan pedang kayu milik Damir.
Tak!
Julian mundur.
Ia kembali maju.
Tebasan rendah.
Damir menghindar.
Julian mengubah arah.
Tebasan berikutnya lebih cepat.
Damir menahannya.
Julian memperkuat kaki dengan Mana.
Tubuhnya melesat.
Namun sesaat sebelum menyerang, Julian menghentikan aliran Mana.
Gerakannya sedikit kehilangan momentum.
Damir langsung menyentuh bahunya dengan pedang kayu.
“Berhenti.”
Julian mundur.
“Apa yang salah?”
“Kau memutus Mana terlalu cepat.”
Julian mengingat gerakannya.
“Karena saya berpikir akan terlalu banyak.”
“Jangan takut menggunakan Mana.”
Damir menunjuk kakinya.
“Masalahmu bukan terlalu banyak atau terlalu sedikit. Masalahmu adalah kau belum mengetahui berapa banyak yang diperlukan.”
Julian mengangguk.
“Jadi saya harus mengenali batasnya.”
“Dan kapan harus menggunakannya.”
Julian tersenyum.
“Baik.”
Mereka kembali bertarung.
Kali ini Julian tidak berusaha mengatur Mana dengan pikirannya setiap detik.
Ia membiarkan alirannya mengikuti gerakan.
Langkah.
Dorongan.
Tebasan.
Mana mengalir.
Pedang bertemu.
Tak!
Julian memutar tubuh.
Damir mundur setengah langkah.
Untuk pertama kalinya pagi itu, Julian berhasil membuat Damir benar-benar bergeser dari posisi awalnya.
Damir tersenyum tipis.
“Lumayan.”
Julian juga tersenyum.
“Lumayan?”
“Jangan terlalu cepat bangga.”
Damir maju.
Julian mengangkat pedangnya.
Tak!
Serangan berikutnya langsung membuat Julian mundur tiga langkah.
“Karena kau masih harus mengejarku.”
---
Latihan berlangsung sampai matahari naik cukup tinggi.
Ketika selesai, Julian duduk di bawah pohon.
Tangannya terasa berat.
Namun bukan karena cedera.
Tubuhnya hanya kelelahan.
Damir berdiri di depannya.
“Bagaimana?”
“Pedang ini lebih menyenangkan daripada pedang kayu.”
Damir tertawa kecil.
“Kenapa?”
“Karena terasa lebih nyata.”
“Jangan terlalu menyukai bagian ‘nyata’-nya.”
Julian tersenyum.
“Saya akan berhati-hati.”
Damir kemudian duduk di sampingnya.
“Julian.”
“Ya?”
“Ada sesuatu yang ingin kutanyakan.”
Julian menoleh.
“Apakah kau benar-benar ingin menjadi pendekar?”
Pertanyaan itu sederhana.
Julian melihat pedangnya.
Kemudian melihat hutan di kejauhan.
“Saya belum tahu.”
Damir tidak memaksa.
“Jawaban yang jujur.”
Julian melanjutkan,
“Saya suka berburu. Saya suka belajar. Saya juga suka menggunakan pedang.”
Ia berhenti sebentar.
“Tapi saya tidak ingin hidup hanya untuk bertarung.”
Damir terdiam.
Kemudian mengangguk.
“Itu keputusan yang bagus.”
Julian menatap ayahnya.
“Ayah sendiri?”
“Apa?”
“Apakah Ayah suka bertarung?”
Damir terdiam beberapa detik.
Kemudian tersenyum tipis.
“Pertanyaan yang sulit untuk pagi-pagi.”
Julian tertawa kecil.
Damir berdiri.
“Suatu hari nanti akan kuceritakan.”
Julian tidak bertanya lagi.
“Baik.”
Mereka kembali ke rumah.
---
Saat makan siang, Elena sudah menunggu dengan wajah penasaran.
“Jadi?”
Julian duduk.
“Jadi apa?”
“Kau sudah memakai pedang asli?”
“Sudah.”
“Bagaimana?”
“Berat.”
Elena tertawa.
“Tentu saja berat!”
Scarlet ikut tersenyum.
“Jangan terlalu memaksakan diri.”
“Saya tidak memaksakan diri, Ibu.”
Damir yang baru masuk langsung berkata,
“Dia hampir membuatku mundur.”
Elena berhenti makan.
“Serius?”
Scarlet menatap Damir.
“Benarkah?”
Damir duduk.
“Untuk sesaat.”
Elena langsung melihat Julian.
“Wah.”
Julian menghela napas.
“Ayah hanya menggeser satu langkah.”
“Satu langkah tetap satu langkah.”
Damir menatap Elena.
“Jangan membuatnya besar kepala.”
“Saya hanya mengatakan fakta.”
Scarlet tertawa.
Untuk beberapa saat, pembicaraan berubah menjadi perdebatan kecil tentang apakah satu langkah Damir benar-benar berarti atau tidak.
Julian hanya makan sambil tersenyum.
---
Sore hari, Julian kembali ke halaman.
Namun kali ini bukan untuk latihan.
Ia membawa sebuah buku.
Duduk di bawah pohon.
Lunara berbaring di sampingnya.
Zero berada beberapa meter dari mereka.
Julian membuka buku sejarah yang dibelinya di Elaris.
Ia membaca tentang perkembangan Valdoria.
Kerajaan kecil yang perlahan tumbuh menjadi kekuatan besar.
Beberapa halaman membahas perang lama.
Beberapa nama kerajaan muncul.
Namun tidak ada penjelasan panjang tentang House Varell.
Julian membalik halaman.
Kemudian berhenti.
Sebuah gambar lama menarik perhatiannya.
Enam sosok berdiri di sebuah medan perang.
Gambar itu sudah tua dan sebagian tintanya pudar.
Di bawahnya hanya tertulis:
“Enam Bayangan Bulan.”
Julian membaca sekali.
Kemudian dua kali.
Ia mengernyit kecil.
“Menarik.”
Lunara membuka mata.
Julian menutup buku.
“Tidak perlu dipikirkan sekarang.”
Ia memasukkan penanda halaman.
Kemudian kembali bersandar.
Beberapa menit kemudian, Elena datang.
“Julian.”
“Ya?”
“Kau di sini lagi.”
“Ya.”
Elena duduk di sampingnya.
“Apa yang kau baca?”
“Sejarah Valdoria.”
Elena melihat sampulnya.
“Kau benar-benar suka buku sejarah.”
“Lumayan.”
Elena mengambil buku itu.
Membuka beberapa halaman.
“Ini membosankan.”
Julian tertawa.
“Bagi Kak Elena.”
“Benar.”
Elena mengembalikan buku.
Kemudian melihat Zero.
“Kuda itu masih tidak mau mendekatiku.”
“Dia tidak terlalu suka orang baru.”
“Aku sudah tinggal di rumah ini sejak kau lahir.”
“Bagi Zero, Kakak tetap orang baru.”
Elena memasang wajah kesal.
“Jahat.”
Julian tersenyum.
Elena kemudian berdiri.
“Ayo.”
“Ke mana?”
“Ibu memanggil.”
Julian bangkit.
“Kenapa?”
“Katanya kau harus mencoba pakaian baru.”
Julian berhenti.
“Untuk apa?”
“Tidak tahu.”
Elena tersenyum lebar.
“Tapi sepertinya bagus.”
Julian langsung curiga.
---
Beberapa menit kemudian, kecurigaan itu terbukti.
Di kamar Julian terdapat tiga set pakaian.
Satu pakaian formal.
Satu pakaian untuk bepergian.
Dan satu pakaian latihan yang lebih nyaman.
Scarlet berdiri di tengah kamar.
“Coba yang ini.”
Julian mengambil pakaian formal.
“Untuk apa?”
“Damir akan menerima tamu minggu depan.”
Julian menatap ibunya.
“Tamu?”
“Ya.”
“Siapa?”
Scarlet tersenyum.
“Keluarga dari utara.”
Julian berpikir sejenak.
“Arkenhart?”
Scarlet mengangguk.
“Mereka akan datang untuk urusan dengan ayahmu.”
Elena muncul dari belakang.
“Dan mungkin membawa Cedric.”
Julian tersenyum.
“Kalau begitu saya akan bertemu dengannya lagi.”
“Benar.”
Scarlet merapikan kerah pakaian Julian.
“Kau harus terlihat seperti putra seorang Duke.”
Julian melihat dirinya di cermin.
Pakaian itu memang lebih formal daripada pakaian sehari-hari.
Namun ia tidak keberatan.
“Baik.”
Scarlet tersenyum.
“Bagus.”
Julian kemudian menoleh ke jendela.
Di luar, Zero sedang berdiri di bawah pohon.
Lunara duduk di dekat kakinya.
Hari-harinya terus berjalan.
Latihan.
Buku.
Hutan.
Keluarga.
Teman-teman kecilnya.
Dan sesekali, dunia luar datang mengetuk pintu.
Julian belum tahu apa yang akan dibawa keluarga Arkenhart minggu depan.
Namun untuk saat ini, ia tidak terlalu memikirkannya.
Ia hanya perlu menjalani hari esok ketika hari itu tiba.