Chapter 27 of 75

Chapter 27 — Pedang yang Mulai Menyatu

1.3k words

Pagi di Varell Estate kembali cerah setelah hujan semalam. Sisa air masih menempel di dedaunan. Udara terasa lebih dingin dari biasanya, sementara cahaya matahari perlahan masuk melewati pepohonan di sekitar kediaman. Julian sudah berada di halaman belakang. Pedang kayu ada di tangannya. Di hadapannya berdiri Damir. “Mulai.” Julian bergerak. Tidak ada aba-aba kedua. Tubuhnya langsung melesat maju. Satu langkah pendek. Tebasan dari kanan. Damir menahan. Julian mengubah arah serangan, menarik pedangnya dan menyerang dari sisi lain. Tak! Damir kembali menahan. Julian mundur. Kali ini ia tidak langsung menyerang. Mana mengalir tipis melalui kakinya. Tidak banyak. Cukup untuk membuat gerakannya lebih ringan. Ia maju kembali. Damir mengayunkan pedangnya. Julian menghindar. Kaki kanannya menekan tanah. Tubuhnya berputar. Pedang kayu bergerak menuju sisi tubuh Damir. Damir menangkis. Tak! Julian langsung berhenti. Napasnya tetap teratur. Damir menurunkan pedangnya. “Lebih baik.” Julian melihat tangannya. “Mana saya lebih stabil.” “Benar.” “Namun masih terasa berat ketika digunakan terlalu lama.” “Karena tubuhmu masih beradaptasi.” Julian mengangguk. Damir berjalan mendekat. “Jangan mencoba mempertahankan Mana di seluruh tubuh sepanjang pertarungan.” Julian menatapnya. “Gunakan saat dibutuhkan.” “Ya.” “Untuk gerakan tertentu?” “Untuk apa pun yang memang membutuhkan tambahan.” Damir mengangkat pedang kayu. “Misalnya ini.” Ia mengayunkan pedangnya perlahan. “Jika kau membutuhkan kecepatan, gunakan pada kaki.” Damir mengubah gerakan. “Jika membutuhkan tenaga, arahkan ke bagian tubuh yang menyerang.” Ia menurunkan pedang. “Tidak perlu membuat seluruh tubuh dipenuhi Mana hanya untuk satu serangan.” Julian tersenyum tipis. “Itu lebih masuk akal.” “Memang.” Julian kembali mengambil posisi. “Sekali lagi?” Damir mengangguk. “Sekali lagi.” --- Latihan berlangsung hampir satu jam. Julian tidak menjadi jauh lebih kuat dalam satu pagi. Namun ada satu hal yang berubah. Ia mulai memahami bagaimana tubuhnya bekerja bersama Mana. Sebelumnya, setiap kali Mana mengalir, perhatiannya otomatis tertuju pada aliran tersebut. Sekarang ia tidak lagi harus memikirkannya setiap saat. Sedikit. Cukup. Kemudian kembali kepada gerakan. Setelah latihan selesai, Julian duduk di bawah pohon sambil meminum air. Damir berdiri di sampingnya. “Kau mulai terbiasa.” Julian mengangguk. “Rasanya lebih alami.” “Bagus.” Damir mengambil pedang kayu miliknya. “Besok gunakan pedang asli.” Julian menoleh. “Yang Ayah berikan?” “Ya.” Julian melihat pedang yang selama beberapa hari terakhir tergantung di kamarnya. Pedang itu bukan senjata luar biasa. Bilahnya sederhana. Gagangnya juga tidak terlalu mewah. Namun cukup baik untuk seorang anak yang sedang belajar. “Apakah boleh?” “Kenapa tidak?” “Saya kira masih terlalu cepat.” Damir menatapnya. “Pedang bukan sesuatu yang harus ditakuti. Yang perlu kau pahami adalah tanggung jawab ketika menggunakannya.” Julian mengangguk. “Saya mengerti.” Damir menepuk bahunya. “Sekarang sarapan.” Julian tersenyum. “Sepertinya itu bagian paling penting dari latihan.” “Menurut ibumu, iya.” --- Di ruang makan, Scarlet sudah menunggu. Julian baru saja duduk ketika Scarlet langsung memperhatikan rambutnya yang sedikit berantakan. “Kau latihan lagi?” “Ya.” “Dan langsung datang ke sini?” Julian terdiam. Scarlet menyipitkan mata. “Julian.” “Saya sudah mencuci muka.” “Itu bukan jawaban.” Elena yang sedang makan tertawa. “Dia pikir kalau wajahnya sudah bersih berarti sudah siap sarapan.” Julian mengambil roti. “Saya lapar.” Scarlet akhirnya tersenyum. “Ya sudah. Makan.” Julian mulai makan. Beberapa saat kemudian, Damir masuk. Scarlet langsung menatapnya. “Damir.” “Ya?” “Kau juga.” Damir berhenti. “Apa?” “Jangan mengajak Julian latihan terlalu lama.” “Satu jam.” “Baginya itu lama.” Damir duduk. “Tubuhnya sudah mampu.” Scarlet menghela napas. “Aku tahu. Tapi dia tetap anak kecil.” Julian mengunyah rotinya sambil diam. Elena meliriknya. “Jangan senang dulu.” “Saya tidak melakukan apa-apa.” “Kau pasti sedang berpikir tentang latihan berikutnya.” Julian tersenyum kecil. “Mungkin.” Scarlet menggeleng. “Anak ini.” Suasana meja makan kembali dipenuhi percakapan ringan. Tidak ada pembicaraan tentang perang. Tidak ada pembicaraan tentang simbol lama. Tidak ada rahasia besar. Hanya keluarga yang sedang sarapan. Dan bagi Julian, pagi seperti itu sudah cukup. --- Setelah sarapan, Julian pergi ke kandang. Zero sedang berdiri di dekat pagar. Julian membuka pintunya. “Ayo.” Zero keluar. Lunara yang sedang berbaring di dekat pohon langsung bangkit dan mengikuti. Mereka berjalan menuju bagian hutan yang biasa digunakan Julian untuk berburu. Tidak terlalu jauh. Julian membawa busur dan pedang. Hari itu ia ingin menguji kemampuan barunya. Bukan untuk mencari masalah. Hanya ingin melihat seberapa banyak perubahan yang terjadi setelah mulai menggunakan Mana. Mereka berjalan cukup lama sebelum Julian melihat beberapa jejak rusa. Ia berlutut. Lunara mendekat. “Masih baru.” Zero berhenti beberapa meter di belakangnya. Julian mengambil busur. Ia mengikuti jejak itu tanpa terburu-buru. Beberapa menit kemudian, seekor rusa muncul di antara pepohonan. Julian menarik tali busur. Napas. Tenang. Ia tidak menggunakan Mana. Anak panah melesat. Tepat mengenai sasaran. Rusa itu jatuh dengan cepat. Julian menurunkan busur. Lunara mendekat. Zero menyusul. “Setidaknya latihan masih berguna.” Julian memeriksa hasil buruannya. Ia kemudian memotong bagian yang diperlukan dan mengikatnya. Tidak lama kemudian terdengar suara dari arah kiri. Krek. Julian berhenti. Lunara langsung mengangkat telinga. Zero juga menoleh. Julian meletakkan tangannya di gagang pedang. Suara itu terdengar lagi. Krek. Dari balik semak muncul seekor babi hutan. Bukan monster. Hanya hewan liar. Namun ukurannya cukup besar. Babi itu menatap mereka. Kemudian mengeluarkan suara keras. Julian tidak bergerak. Zero berdiri di depan Julian. Babi itu maju beberapa langkah. Lunara menggeram pelan. Julian mengangkat satu tangan. “Tenang.” Babi itu tiba-tiba berlari. Julian memperkuat kakinya dengan Mana. Tubuhnya bergerak ke samping. Babi itu lewat. Julian tidak menyerang. Ia hanya menghindar. Babi tersebut berhenti beberapa meter di belakang mereka, kemudian berbalik. Kali ini Julian tidak menunggu. Ia mengambil sebuah batu kecil dan melemparkannya ke sisi lain. Babi itu mengikuti suara tersebut dan berlari menjauh. Julian menghela napas. “Tidak perlu membunuhnya.” Zero menatapnya. Julian tersenyum. “Kita sudah mendapat makanan.” Mereka kembali berjalan. --- Tidak jauh dari sana, Julian menemukan sesuatu yang tidak biasa. Sebuah jalan kecil. Bukan jalan besar. Hanya tanah yang sedikit lebih padat daripada bagian hutan lainnya. Jejak roda terlihat di sana. Julian berjongkok. “Kereta?” Lunara mencium tanah. Julian melihat ke depan. Jalan itu menuju arah timur. Ia mengingat pesan Damir. Jangan pergi terlalu jauh ke timur. Julian berdiri. “Bukan urusan kita.” Ia berbalik. Tidak ada rasa penasaran berlebihan. Kalau jalan itu memang digunakan orang lain, tentu suatu saat ia akan mengetahui siapa yang menggunakannya. Julian memilih kembali. Namun baru beberapa langkah, ia mendengar suara. “Tolooong!” Julian berhenti. Suara itu datang dari arah jalan tadi. Ia menoleh. Kemudian terdengar lagi. “Tolong!” Julian menghela napas kecil. “Sepertinya kita tidak jadi pulang.” Ia memberi isyarat kepada Zero dan Lunara. Mereka bergerak mengikuti Julian. --- Tidak jauh dari sana terdapat sebuah kereta kecil yang terbalik di sisi jalan. Dua pria sedang berusaha mengangkatnya. Seorang anak laki-laki berdiri di samping mereka dengan wajah panik. Julian mendekat. “Ada yang terluka?” Salah satu pria menoleh. “Kau siapa?” “Julian Varell.” Kedua pria itu langsung sedikit membungkuk. “Tuan Muda?” Julian menunjuk kereta. “Apa yang terjadi?” “Roda patah.” Pria itu menunjuk bagian bawah kereta. “Barang kami jatuh dan kami tidak bisa mengangkatnya sendirian.” Julian melihat keadaan. Tidak ada luka serius. Tidak ada monster. Hanya kecelakaan kecil. “Zero.” Kuda hitam itu maju. Julian mengambil tali dari sisi kereta. “Pasang di sini.” Pria itu menatapnya. “Dengan kuda itu?” “Ya.” Zero menarik. Kereta bergeser sedikit. Kedua pria itu mendorong dari sisi lain. Perlahan, kereta kembali ke posisi semula. Anak laki-laki tadi tersenyum lega. “Terima kasih!” Julian mengangguk. “Periksa roda sebelum melanjutkan.” Pria itu mengangguk cepat. “Tentu.” Julian hendak pergi ketika salah satu pria berkata, “Tuan Muda, tunggu.” Julian menoleh. “Ini.” Ia memberikan sebuah apel dari kereta. “Sebagai ucapan terima kasih.” Julian melihat apel tersebut. Kemudian menerimanya. “Terima kasih.” Ia kembali berjalan. Zero berada di sampingnya. Lunara di depan. Julian menggigit apel itu. Rasanya manis. “Lumayan.” Zero mendengus. Julian menatapnya. “Tidak, ini bukan untukmu.” Zero terus menatap. Julian menghela napas. “Baiklah.” Ia memotong sedikit apel dan memberikannya. Lunara langsung mendekat. “Jangan berebut.” Untuk beberapa saat, hutan kembali dipenuhi suasana tenang. Julian berjalan pulang bersama dua temannya. Hari itu tidak menghasilkan teknik baru. Tidak ada musuh kuat. Tidak ada rahasia besar. Hanya latihan, berburu, membantu orang yang kebetulan membutuhkan bantuan, dan pulang sebelum matahari tenggelam. Namun tubuh Julian sedikit lebih terbiasa dengan Mana. Dan perlahan, pedang di pinggangnya mulai terasa seperti bagian dari kehidupannya sendiri.

End of Chapter 27