Chapter 26 of 75

Chapter 26 — Kota yang Menyimpan Cerita

1.4k words

Perjalanan menuju Elaris berlangsung tenang. Jalan utama masih cukup ramai meskipun pagi belum terlalu siang. Pedagang membawa gerobak, petani menuju pasar, dan beberapa rombongan bangsawan melewati jalan yang sama dengan pengawalan masing-masing. Julian duduk di dalam kereta bersama Scarlet dan Elena. Elena sibuk membaca daftar belanja. “Buku sejarah dua, tinta tiga botol, kain untuk tirai, beberapa bahan makanan…” Ia berhenti. “Kenapa kebutuhan rumah sebanyak ini?” Scarlet tersenyum. “Karena rumah tidak bisa mengurus dirinya sendiri.” Elena menghela napas. “Kalau begitu kenapa aku yang membuat daftar?” “Karena kau yang paling teliti.” Julian yang sedang membaca buku menoleh. “Bukankah itu berarti Bunda sengaja memberinya pekerjaan?” Scarlet tersenyum polos. “Mungkin.” Elena menatap keduanya. “Kalian berdua mulai kompak.” Julian kembali membaca. “Saya hanya menyampaikan pengamatan.” Elena menunjuknya. “Lihat? Dia semakin pandai menjawab.” Scarlet tertawa kecil. Suasana kembali tenang. Julian memandang keluar jendela. Beberapa minggu terakhir, ia mulai menyadari sesuatu. Dunia tidak selalu membutuhkan alasan besar untuk bergerak. Orang-orang hanya menjalani hari mereka. Ada yang bekerja. Ada yang berdagang. Ada yang bepergian. Ada yang bertengkar karena hal kecil. Ada yang tertawa. Dan ada yang mungkin tidak pernah tahu bahwa di tempat lain, seseorang sedang menghadapi masalah besar. Elaris semakin dekat. Gerbang kota mulai terlihat. --- Setelah melewati pemeriksaan, kereta House Varell masuk ke Elaris. Kota itu masih terlihat seperti yang Julian ingat. Bangunan batu berdiri rapat di sepanjang jalan utama. Toko senjata berdampingan dengan toko pakaian. Pedagang Mana Crystal memajang barang dagangan di balik kaca. Suara para petualang bercampur dengan suara pedagang yang menawarkan barang. Julian turun bersama Scarlet dan Elena. “Pertama kita ke toko kain,” kata Scarlet. Elena langsung mengeluh. “Kenapa harus pertama?” “Karena kalau kita ke toko buku dulu, kau akan menghabiskan waktu terlalu lama.” “Itu fitnah.” Julian menatap Elena. “Kakak memang pernah menghabiskan dua jam di toko buku.” Elena langsung menoleh. “Jangan ikut campur.” Julian tersenyum. Scarlet tertawa. Mereka berjalan menyusuri jalan utama. Julian memperhatikan kota seperti biasa. Namun kali ini, sesuatu menarik perhatiannya. Di ujung jalan berdiri sebuah bangunan tua dengan papan nama: Balai Prajurit Elaris. Di depan bangunan itu terdapat beberapa orang berlatih menggunakan pedang kayu. Julian berhenti sebentar. Seorang pria tua sedang mengawasi mereka. Rambutnya sudah memutih. Tubuhnya tidak sebesar Damir, tetapi posturnya masih tegap. Salah satu pemuda melakukan tebasan. Pria tua itu menggeleng. “Ulangi.” Pemuda tersebut menghela napas. “Saya sudah melakukannya sepuluh kali.” “Kalau sepuluh kali belum benar, lakukan sebelas.” Pemuda itu menggerutu. Julian tersenyum kecil. Pria tua itu tiba-tiba menoleh. Tatapan mereka bertemu. Julian tidak terlalu memikirkannya. Ia kembali mengikuti Scarlet dan Elena. Namun pria tua itu masih memperhatikannya. --- Toko kain pertama selesai dalam waktu hampir satu jam. Kemudian mereka menuju toko buku. Begitu masuk, Elena langsung berubah. “Julian.” “Ya?” “Cari bagian sejarah.” “Saya tahu.” “Kau mencari apa?” “Sejarah Valdoria.” Elena mengangguk puas. “Bagus.” Julian menyusuri rak. Ada buku tentang perang lama. Tentang kerajaan. Tentang monster. Tentang Mana. Tentang keluarga bangsawan. Tangannya berhenti pada sebuah buku berjudul Catatan Awal Perkembangan Kerajaan Valdoria. Ia menariknya. Membuka halaman pertama. Beberapa bagian membahas bagaimana Valdoria berkembang dari kerajaan kecil menjadi kekuatan utama. Julian membaca beberapa halaman. Namun tidak menemukan banyak informasi mengenai House Varell. Ia justru menemukan sesuatu yang lain. Nama Deep. Julian berhenti. Ia membaca lebih lanjut. Kerajaan Deep disebut sebagai salah satu kerajaan yang pernah terlibat dalam konflik besar di wilayah barat. Namun catatan itu sangat singkat. Sebagian besar halaman membahas dampak perang terhadap perdagangan. Julian mengernyit. “Deep…” “Elena.” Kakaknya datang dari belakang. “Apa?” “Kau pernah mendengar nama kerajaan Deep?” Elena mengambil buku tersebut. “Pernah.” “Dari mana?” “Pelajaran sejarah.” “Apa yang terjadi?” Elena membuka beberapa halaman. “Setahuku kerajaan itu sudah lama runtuh.” “Kenapa?” “Perang.” Jawaban singkat. Julian membaca kembali halaman tersebut. “Tidak ada banyak catatan.” “Banyak dokumen lama hilang.” “Karena perang?” “Sebagian.” Elena mengembalikan buku. “Kalau kau penasaran, nanti tanyakan kepada Ayah.” Julian menghela napas. “Lagi-lagi Ayah.” Elena tertawa. “Karena Ayah memang tahu banyak hal.” Julian memasukkan buku itu ke keranjang. “Saya beli.” Elena mengangguk. “Sudah kuduga.” --- Setelah dari toko buku, mereka berhenti di sebuah kedai kecil untuk makan siang. Scarlet memilih tempat yang tidak terlalu ramai. Julian duduk di samping jendela. Dari sana ia bisa melihat jalan. Beberapa petualang lewat. Seorang kurir berlari membawa surat. Dua pedagang sedang berdebat mengenai harga. Seorang anak kecil menjual buah. Semuanya terasa biasa. Sampai Julian melihat seorang pria tua berjalan melewati jendela. Pria yang sama dari Balai Prajurit. Ia berhenti di seberang jalan. Matanya kembali tertuju kepada Julian. Kali ini cukup lama. Julian memperhatikannya. Pria itu akhirnya berjalan masuk ke kedai. Scarlet menoleh. “Kenapa?” “Tidak apa-apa.” Pria tua itu mendekat. Ia berhenti beberapa langkah dari meja mereka. Kemudian membungkuk sopan kepada Scarlet. “Duchess Varell.” Scarlet membalas dengan anggukan. “Sir Alden.” Julian mengangkat wajah. Scarlet memperkenalkan. “Julian, beliau Sir Alden Rusk. Mantan prajurit kerajaan.” Alden tersenyum. “Dan ini Tuan Muda Julian.” Julian berdiri sedikit dari kursinya dan membungkuk. “Senang bertemu dengan Anda, Sir Alden.” Alden memperhatikan Julian. “Begitu juga dengan saya.” Ia kemudian melihat pedang kecil yang tergantung di pinggang Julian. “Sudah mulai berlatih?” “Ya.” “Pedang?” “Ya.” “Mana?” Julian menjawab jujur. “Baru mulai mempelajarinya.” Alden mengangguk. “Bagus.” Ia tidak bertanya lebih jauh. Namun tatapannya sempat turun ke tangan Julian. Kemudian ke cara Julian berdiri. Lalu kembali ke wajahnya. Julian menyadarinya. Tetapi tidak mengatakan apa-apa. Alden menoleh kepada Scarlet. “Duke Varell masih sering datang ke kota?” “Tidak terlalu sering.” “Sayang sekali.” Scarlet tersenyum. “Kenapa?” “Sudah lama tidak melihatnya.” Julian menatap Alden. Ada sesuatu dalam cara pria itu berbicara. Bukan seperti orang yang sekadar mengenal Damir. Seperti seseorang yang pernah melihat Damir dalam keadaan berbeda. Namun Alden tidak menjelaskan. Ia hanya berkata, “Kalau begitu saya tidak akan mengganggu makan siang kalian.” Alden membungkuk lalu pergi. Julian duduk kembali. Scarlet memperhatikan anaknya. “Kau penasaran?” “Sedikit.” “Jangan terlalu dipikirkan.” Julian mengangguk. --- Selesai makan, mereka kembali berjalan. Namun sebelum pulang, Julian meminta izin melihat toko senjata. Scarlet mengizinkan dengan syarat tidak membeli apa pun tanpa memberitahunya. Toko itu lebih kecil daripada yang Julian bayangkan. Pedang dipajang di dinding. Busur dan anak panah berada di bagian belakang. Ada beberapa belati. Julian memperhatikan salah satu pedang. Pedang biasa. Kualitasnya cukup baik. Namun tidak ada yang istimewa. Seorang penjaga toko datang. “Cari sesuatu, Tuan Muda?” “Tidak. Saya hanya melihat-lihat.” Penjaga itu tersenyum. “Kalau begitu silakan.” Julian berjalan pelan. Di salah satu sudut terdapat beberapa senjata tua yang tidak dijual. “Yang itu?” Penjaga mengikuti pandangannya. “Ah, itu barang lama.” “Boleh saya lihat?” “Boleh.” Julian mendekat. Salah satu pedang tua memiliki gagang yang sudah kusam. Tidak ada lambang. Namun di sarungnya terdapat goresan berbentuk enam garis. Julian berhenti. Ia tidak menyentuhnya. Hanya melihat. “Dari mana itu?” “Tidak tahu.” “Tidak tahu?” “Pemilik sebelumnya bilang itu ditemukan di gudang lama.” Julian memandangnya beberapa detik. Kemudian mundur. “Baik.” Ia tidak mengatakan apa pun tentang simbol yang ditemukannya di hutan. Ia juga tidak membeli pedang itu. --- Dalam perjalanan pulang, Julian duduk diam. Elena sedang membaca buku barunya. Scarlet memandang keluar jendela. Julian membuka buku tentang sejarah Valdoria yang baru dibelinya. Halaman tentang Deep kembali ia buka. Ia membaca sekali lagi. Kemudian melihat keluar jendela. Langit sore mulai berubah warna. “Bunda.” “Ya?” “Apakah Ayah pernah ikut perang?” Scarlet menoleh. Pertanyaan itu membuat suasana di dalam kereta sedikit berubah. Elena juga menurunkan bukunya. Scarlet tersenyum tipis. “Pernah.” “Perang apa?” “Banyak.” Julian menunggu. Scarlet tidak langsung melanjutkan. “Ketika Ayah masih muda, dunia belum seperti sekarang.” “Lebih buruk?” “Jauh lebih buruk.” Julian memandangnya. Scarlet menyentuh rambutnya dengan lembut. “Suatu hari nanti kau akan mendengar ceritanya sendiri.” Julian mengangguk. “Baik.” Tidak ada penjelasan panjang. Tidak ada cerita tentang enam anak. Tidak ada nama Six Moon. Tidak ada cerita tentang Deep. Belum. Kereta terus bergerak meninggalkan Elaris. Julian kembali membuka bukunya. Namun kali ini, ia membaca halaman-halaman itu dengan perhatian yang berbeda. Ia mulai memahami bahwa House Varell tidak hanya memiliki rahasia. Keluarganya pernah menjadi bagian dari sejarah besar Aetheria. Dan suatu hari nanti, ia akan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Tapi bukan hari ini. Hari ini ia hanya seorang anak yang pulang bersama keluarganya membawa dua buku baru. Di luar jendela, matahari perlahan tenggelam. Dan jauh di dalam hutan timur Varell Estate, angin melewati sebuah batu tua. Ukiran bulan dengan enam garis masih berada di sana. Diam. Menunggu.

End of Chapter 26