Chapter 25 of 75

Chapter 25 — Ruang yang Tidak Pernah Dibuka

1.5k words

Hari berikutnya dimulai dengan hujan. Tidak deras, tetapi cukup untuk membuat halaman belakang Varell Estate basah dan latihan di luar ruangan menjadi kurang nyaman. Julian berdiri di dekat jendela kamarnya sambil memperhatikan tetesan air yang jatuh dari atap. Di bawah sana, Zero berteduh di kandangnya yang lebih mirip gudang terbuka daripada kandang biasa. Kuda hitam itu tampak tidak terganggu oleh hujan. Lunara justru memilih tempat yang lebih nyaman. Moon Lynx itu berbaring di dekat perapian kecil yang disediakan Scarlet untuknya. Julian menutup tirai. “Sepertinya hari ini tidak ada hutan.” Lunara mengangkat kepalanya. Julian tersenyum kecil. “Jangan lihat aku seperti itu.” Lunara kembali berbaring. Julian mengambil sebuah buku dari meja. Baru saja ia hendak membukanya, terdengar ketukan dari pintu. Tok. Tok. “Masuk.” Pintu terbuka. Edmund berdiri di sana dengan postur seperti biasa. Tegak, rapi, dan tenang. “Tuan Muda Julian.” Julian menutup bukunya. “Ada apa, Edmund?” “Duke Varell meminta Tuan Muda datang ke ruang latihan.” “Sekarang?” “Sekarang.” Julian berdiri dan mengambil pedang latihan. Ia mengikuti Edmund keluar dari kamar. Mereka melewati koridor utama. Namun bukannya menuju halaman belakang, Edmund membawa Julian ke bagian lain dari bangunan. Semakin jauh mereka berjalan, semakin sedikit jendela yang terlihat. Akhirnya mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu besar. Julian memperhatikan pintu tersebut. Ia sudah tinggal di Varell Estate selama bertahun-tahun, tetapi tidak pernah melihat pintu itu terbuka. Edmund mengeluarkan sebuah kunci dari sakunya. Klik. Pintu terbuka. Ruangan di baliknya jauh lebih besar daripada yang Julian bayangkan. Lantainya terbuat dari batu hitam yang dipoles. Dindingnya dipenuhi rak senjata. Pedang. Tombak. Busur. Belati. Beberapa senjata bahkan memiliki desain yang tidak pernah Julian lihat digunakan oleh prajurit biasa. Di ujung ruangan terdapat boneka-boneka latihan dengan bekas tebasan lama. Namun bukan senjata yang pertama kali menarik perhatian Julian. Melainkan lambang besar House Varell yang terukir di lantai. Kepala naga. Julian masuk beberapa langkah. “Ruangan ini?” “Ruang latihan dalam.” “Kenapa saya baru melihatnya sekarang?” Edmund berjalan masuk setelahnya. “Karena selama ini Tuan Muda belum membutuhkannya.” Julian meliriknya. “Dan sekarang saya membutuhkannya?” Edmund tersenyum tipis. “Duke Varell tampaknya berpikir begitu.” Julian tertawa kecil. “Berarti saya mulai dianggap cukup besar.” “Menurut Duke Varell, Tuan Muda masih terlalu kecil.” Julian menghela napas. “Masuk akal.” Di tengah ruangan, Damir sudah menunggu. Ia tidak mengenakan pakaian bangsawan. Hanya pakaian latihan sederhana dengan pedang kayu di tangannya. “Datanglah.” Julian maju. Damir menunjuk lantai. “Berdiri di sana.” Julian mengambil posisi. Damir tidak langsung menyerang. “Kau sudah bisa merasakan Mana?” “Sedikit.” “Bagus.” Damir mengangkat pedangnya. “Hari ini kita tidak mengejar kekuatan.” Julian mengangkat pedangnya sendiri. “Lalu?” “Ketepatan.” Damir bergerak. Cepat. Pedangnya meluncur ke arah bahu Julian. Julian menghindar. Serangan kedua datang dari samping. Ia menangkis. Serangan ketiga. Julian mundur setengah langkah. Serangan keempat. Ia memutar tubuh dan membiarkan ujung pedang melewati sisi tubuhnya. Kelima— Julian memperkuat kakinya dengan Mana. Alirannya belum sempurna. Namun cukup. Tubuhnya bergerak sedikit lebih cepat. Serangan Damir melewati beberapa sentimeter dari bahunya. Julian langsung membalas. Tak! Pedang kayu mereka bertemu. Keduanya mundur. Damir tersenyum tipis. “Bagus.” Julian tidak menjawab. Ia kembali maju. Kali ini ia tidak menggunakan banyak Mana. Sedikit pada kaki. Kemudian sedikit pada lengan ketika menyerang. Pedang mereka kembali beradu. Tak. Tak. Tak. Julian mulai memahami ritmenya. Mana tidak harus memenuhi seluruh tubuh. Ia bisa digunakan seperlunya. Sedikit untuk mempercepat satu langkah. Sedikit untuk memperkuat satu tebasan. Sedikit untuk mempertahankan keseimbangan. Damir tiba-tiba menghentikan gerakan. “Cukup.” Julian menurunkan pedang. Napasnya lebih berat, tetapi tidak sampai kehilangan tenaga. “Bagaimana?” “Lebih baik.” Damir meletakkan pedang kayunya. “Sekarang lihat ruangan ini.” Julian menoleh. “Kenapa?” “Mulai hari ini kau boleh berlatih di sini.” Julian memperhatikan rak-rak senjata. “Sendiri?” “Dengan pengawasan.” Julian menatap ayahnya. “Apakah Ayah akan mengajari saya?” “Jika kau membutuhkannya.” Jawaban itu sederhana. Tidak ada paksaan. Tidak ada tuntutan. Julian mengangguk. Kemudian matanya tertuju pada salah satu rak di sisi kiri. Di sana terdapat enam senjata yang berbeda. Satu pedang panjang. Satu tongkat. Sepasang belati. Sebuah busur. Dua bilah pendek dengan bentuk yang tidak biasa. Dan sebuah pedang tipis dengan gagang yang terlihat sudah sangat tua. Semuanya tampak seperti telah disimpan selama bertahun-tahun. Julian menunjuk ke arah rak itu. “Itu milik siapa?” Damir mengikuti arah pandangnya. Ekspresinya berubah sedikit. “Hanya peninggalan lama.” “Dari keluarga?” “Tidak semuanya.” Julian memperhatikan keenam senjata itu. “Kenapa disimpan bersama?” Damir tidak langsung menjawab. Edmund yang berdiri di belakang mereka juga diam. Akhirnya Damir berkata, “Karena ada beberapa hal yang lebih baik disimpan daripada dilupakan.” Julian menoleh kepadanya. “Sejarah?” Damir mengangguk. “Sejarah.” Julian kembali melihat keenam senjata tersebut. Ada sesuatu yang terasa aneh. Bukan Mana. Bukan pula aura yang mengancam. Hanya perasaan bahwa keenam benda itu pernah digunakan oleh orang-orang yang memiliki arti besar bagi keluarga ini. Julian tidak bertanya lagi. Ia hanya menyimpan informasi itu di dalam pikirannya. Damir berjalan menuju pintu. “Besok latihan lagi.” Julian mengikuti. Namun sebelum keluar, ia kembali melihat rak tersebut. Enam senjata. Angka yang sama seperti ukiran yang ia temukan di hutan. Julian tidak mengatakan apa-apa. --- Malam harinya, suasana ruang makan lebih ramai dari biasanya. Scarlet sedang membicarakan rencana kunjungan ke Elaris. Elena ingin membeli beberapa buku baru. Damir sedang membaca laporan sambil makan. Sementara Julian makan dengan tenang. “Julian.” Ia mengangkat kepala. Scarlet tersenyum. “Besok ikut Bunda ke kota?” “Untuk apa?” “Beberapa kebutuhan rumah.” Elena langsung menyela. “Dan aku ingin mencari buku.” Julian berpikir sebentar. “Baik.” Scarlet tersenyum. “Bagus.” Damir tiba-tiba berkata, “Jangan pulang terlalu sore.” Scarlet menoleh. “Kenapa?” “Ada laporan dari wilayah timur.” Julian berhenti makan sejenak. Damir melanjutkan, “Bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.” “Kalau begitu kenapa dibahas saat makan?” Elena bertanya. Damir terdiam. Scarlet menatap suaminya. “Damir.” “Ya?” “Jangan membuat anak-anak ikut memikirkan pekerjaan.” Damir mengangguk. “Baik.” Julian kembali makan. Pembicaraan kemudian berganti menjadi hal-hal sederhana. Tentang buku. Tentang makanan. Tentang Elena yang mengeluh karena seseorang mengambil kue yang sudah ia simpan. Julian bahkan hampir melupakan laporan tadi. Hampir. --- Setelah makan malam, Julian kembali ke ruang latihan dalam. Kali ini sendirian. Edmund memberinya izin selama ia tidak menggunakan senjata tajam. Julian mengambil pedang kayu. Ia berdiri di tengah ruangan. Kemudian mulai bergerak. Satu langkah. Tebasan. Mundur. Putar. Tebasan. Ia mengulang rangkaian gerakan itu. Tidak terlalu cepat. Tidak terlalu lambat. Mana mulai mengalir. Sedikit. Julian memperkuat kaki. Berhasil. Ia memperkuat lengan. Berhasil. Kemudian mencoba menggabungkan keduanya. Alirannya langsung kacau. Julian menghentikan gerakan. Menarik napas. Mencoba lagi. Lebih perlahan. Kali ini berhasil. Senyum kecil muncul di wajahnya. “Begitu.” Ia mengangkat pandangan. Pantulan dirinya terlihat samar pada permukaan logam salah satu senjata di rak. Anak laki-laki berusia enam tahun. Rambut biru muda dengan beberapa helai putih. Mata abu-abu keperakan. Pedang kayu di tangan. Tidak ada sesuatu yang luar biasa dari penampilan itu. Julian memalingkan wajah. Ia kembali berlatih. --- Sementara itu, di ruangan lain. Damir berdiri di depan sebuah meja. Tiga laporan berada di atasnya. Edmund berdiri di hadapannya. “Berapa jauh?” “Sekitar dua hari perjalanan dari wilayah timur.” Damir membaca laporan tersebut. “Monster?” “Beberapa kelompok.” “Jenis?” “Belum jelas.” Damir meletakkan kertas. “Dan simbol?” Edmund mengeluarkan sebuah gambar. Enam garis di bawah bulan. Damir menatap gambar itu cukup lama. “Masih muncul?” “Ditemukan pada batu tua di dekat jalur lama.” Damir diam. Edmund bertanya, “Apakah Anda ingin mengirim lebih banyak orang?” “Tidak.” “Duke?” “Belum.” Edmund mengangguk. Damir mengambil salah satu laporan. “Untuk sekarang, cukup pengawasan.” “Baik.” Edmund hendak pergi. “Edmund.” “Ya?” “Jangan ceritakan kepada Julian.” Edmund berhenti. “Karena simbol itu?” “Karena dia belum perlu membawanya.” Edmund mengangguk. “Saya mengerti.” Ia keluar dari ruangan. Damir kembali menatap gambar enam garis itu. Untuk sesaat, matanya teringat pada sebuah masa yang sangat jauh. Masa ketika enam anak berdiri di bawah cahaya bulan. Namun ingatan itu segera ia tekan kembali. Bukan waktunya. --- Keesokan paginya, Julian bersiap pergi ke Elaris bersama Scarlet dan Elena. Zero tidak ikut. Lunara juga tinggal di rumah. Sebelum naik kereta, Julian sempat menoleh ke arah kandang. Zero berdiri di sana. Kuda hitam itu menatapnya dengan tenang. Julian mengangkat tangan. “Kami akan kembali sore.” Zero menggerakkan telinganya. Julian tersenyum. “Jaga rumah.” Ia naik ke kereta. Scarlet sudah duduk di dalam. Elena berada di samping jendela dengan sebuah daftar belanja di tangannya. “Kau membawa uang?” Scarlet bertanya. Julian mengangguk. “Sudah.” “Buku?” “Sudah.” “Jangan membeli terlalu banyak.” “Saya tahu.” Elena tertawa. “Dia bahkan lebih hemat daripada Ayah.” Scarlet menatap Damir yang berdiri di luar kereta. Damir mengangkat alis. “Apa?” “Tidak apa-apa.” Kereta mulai bergerak. Julian bersandar di kursinya sambil melihat Varell Estate perlahan menjauh. Hari itu terlihat seperti hari biasa. Pergi ke kota. Membeli buku. Menemani keluarganya. Pulang sebelum sore. Tidak ada yang istimewa. Namun jauh di belakang mereka, di sebuah ruangan yang jarang dibuka, sejarah lama House Varell kembali diperhatikan. Enam nama yang sudah lama tidak disebut. Enam senjata yang tidak pernah dibuang. Dan sebuah simbol yang perlahan muncul kembali di wilayah timur. Julian belum mengetahui apa pun tentang itu. Dan untuk sekarang, memang belum perlu. Karena ia masih punya waktu untuk menjalani hidupnya. Sementara masa lalu keluarganya... perlahan mulai bergerak dari tempatnya yang selama ini terkubur.

End of Chapter 25

Chapter 25: Chapter 25 — Ruang yang Tidak Pernah Dibuka - TWO SOULS BENEATH ONE SHADOW | Novel AI Studio