Chapter 24 of 75
Chapter 24 — Enam Jejak
1.2k words
Pagi datang seperti biasa di Varell Estate.
Tidak ada alarm.
Tidak ada suara benturan senjata.
Tidak ada utusan yang datang membawa kabar buruk.
Hanya suara burung dari pepohonan dan langkah para pelayan yang mulai menjalankan pekerjaan mereka.
Julian sudah berada di halaman belakang ketika matahari belum sepenuhnya naik.
Pedang kayu berada di tangannya.
Di depannya berdiri Damir.
“Sekali lagi,” kata Damir.
Julian mengambil posisi.
Ia menarik napas.
Mana mengalir tipis melalui tubuhnya.
Kali ini berbeda dari kemarin.
Tidak banyak.
Namun alirannya lebih stabil.
Julian bergerak.
Satu langkah.
Dua.
Tiga.
Pedang kayu menebas ke depan.
Damir menahannya.
Julian memutar pergelangan tangan, mengubah arah serangan, lalu mundur sebelum tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Damir tidak menyerang balik.
Ia hanya memperhatikan.
“Lebih baik.”
Julian menurunkan pedangnya.
“Mana saya masih terlalu sedikit?”
“Bukan masalah jumlah.”
Damir mengambil posisi.
“Masalahmu adalah kau masih mencoba mengatur semuanya dengan pikiran.”
Julian sedikit mengernyit.
“Bukankah kontrol memang harus dilakukan dengan pikiran?”
“Awalnya.”
Damir bergerak maju.
Pedangnya berhenti beberapa sentimeter dari bahu Julian.
“Setelah itu, tubuh harus ikut memahami.”
Julian melihat posisi pedang Damir.
Ia mengerti maksudnya.
Bukan belajar gerakan baru.
Tubuhnya hanya perlu terbiasa dengan sesuatu yang sebelumnya belum pernah ia gunakan.
Mana.
Damir mundur.
“Sekali lagi.”
Latihan berlanjut.
Kali ini Julian tidak memikirkan setiap aliran Mana.
Ia membiarkannya bergerak bersama langkah.
Hasilnya jauh lebih baik.
Pedang kayunya kembali beradu dengan pedang Damir.
Tak.
Tak.
Tak.
Julian menyerang tiga kali.
Damir menahan semuanya.
Kemudian Damir menggeser langkah dan menyentuh bahu Julian dengan ujung pedang.
“Cukup.”
Julian menarik napas.
“Berapa lama?”
“Sekitar empat menit.”
Julian melihat tangannya.
Empat menit.
Beberapa minggu lalu, tubuhnya akan mulai kehilangan tenaga jauh lebih cepat.
Sekarang setidaknya tubuhnya mulai mengikuti apa yang diminta.
Damir mengangguk.
“Kemajuan yang bagus.”
Julian tersenyum.
“Berarti besok lima menit?”
“Jangan mengejar angka.”
“Baik.”
“Dan jangan memaksakan Mana.”
“Baik.”
Damir menatapnya.
“Benar-benar mendengarkan?”
“Ya.”
“Bagus.”
Dari kejauhan terdengar suara Elena.
“JULIAN!”
Julian langsung menoleh.
Damir menghela napas.
“Kau lupa sarapan lagi.”
Julian menatap langit.
“Sepertinya begitu.”
Damir mengambil pedang kayu.
“Kita kalah dari kakakmu lagi.”
Julian tertawa kecil.
“Sepertinya begitu.”
---
Setelah sarapan, Julian membawa kain hitam yang ditemukannya kemarin kepada Edmund.
Butler tua itu sedang berada di ruang penyimpanan keluarga.
Ruangan tersebut tidak sebesar perpustakaan, tetapi jauh lebih tua.
Rak-rak kayu memenuhi dinding.
Beberapa kotak berisi dokumen lama.
Ada senjata rusak, lambang keluarga terdahulu, pakaian upacara, dan berbagai benda yang sudah tidak digunakan selama bertahun-tahun.
Edmund memakai monocle-nya.
Ia menerima kain dari Julian.
“Menarik.”
Julian berdiri di samping meja.
“Ayah mengatakan Anda mungkin mengenalinya.”
“Duke Varell benar.”
Edmund membentangkan kain itu.
Ia membaliknya.
Kemudian memperhatikan benang merah di bagian pinggir.
Wajahnya tetap tenang.
Namun matanya sedikit menyipit.
“Di mana Young Lord menemukannya?”
“Di hutan timur.”
“Apakah ada jejak lain?”
“Ada beberapa bekas langkah. Tapi sudah lama.”
Edmund mengangguk.
“Bagaimana dengan ukiran?”
Julian terdiam sebentar.
“Anda tahu?”
“Saya menebak.”
Julian mengeluarkan gambar kecil dari buku catatannya.
Ia menggambar simbol yang dilihatnya kemarin.
Sebuah bulan sabit dengan enam garis.
Edmund melihat gambar itu.
Kali ini ia benar-benar diam.
Beberapa detik berlalu.
Kemudian ia membuka salah satu laci.
Dari dalamnya ia mengambil sebuah buku tua.
Sampulnya sudah kusam.
Edmund membuka beberapa halaman.
“Simbol ini pernah digunakan.”
“House Varell?”
“Bukan.”
Julian mendekat.
“Lalu?”
“Unit militer lama.”
Edmund membalik halaman.
“Namun catatan tentang mereka sangat terbatas.”
“Namanya?”
Edmund berhenti.
Matanya membaca tulisan yang hampir pudar.
“Tidak ada nama resmi yang tercatat di bagian ini.”
Julian melihat halaman tersebut.
Ada beberapa catatan pendek.
Sebagian besar sudah tidak bisa dibaca.
“Kenapa simbolnya ada di hutan?”
“Itu belum tentu berhubungan.”
Julian mengangguk.
Edmund menutup buku.
“Jangan terlalu memikirkan benda tua.”
“Kenapa?”
“Karena sejarah memiliki kebiasaan membuat orang penasaran terhadap sesuatu yang seharusnya dibiarkan tidur.”
Julian tersenyum tipis.
“Kalimat itu terdengar seperti peringatan.”
“Memang.”
Edmund mengembalikan kain tersebut.
“Tapi ada satu hal yang bisa saya katakan.”
“Apa?”
“Benang merah ini bukan bagian dari pakaian pemburu.”
Julian menatapnya.
“Militer?”
“Mungkin.”
Edmund menyentuh bagian tepi kain.
“Atau seseorang yang pernah hidup dalam masa perang.”
Julian tidak bertanya lebih jauh.
Ia mengambil kembali kain tersebut.
“Terima kasih.”
Edmund mengangguk.
“Dan Young Lord.”
“Ya?”
“Jangan pergi ke hutan timur untuk mencari jawabannya.”
Julian tersenyum.
“Sepertinya Ayah dan Anda sepakat.”
“Dalam beberapa hal, Duke Varell memang masih bisa berpikir.”
Julian tertawa kecil.
Edmund hanya tersenyum tipis.
---
Siang hari, suasana rumah kembali ramai.
Scarlet sedang berbicara dengan Elena mengenai pakaian baru.
Julian sebenarnya tidak terlalu memperhatikan.
Sampai Elena mengangkat satu pakaian di depannya.
“Menurutmu bagaimana?”
Julian menatap pakaian itu.
“Bagus.”
“Bagus bagaimana?”
“Warnanya bagus.”
Elena menyipitkan mata.
“Kau bahkan tidak melihat modelnya.”
“Saya sudah melihat.”
“Tidak.”
“Saya melihatnya.”
“Tidak.”
Scarlet menahan tawa.
Julian akhirnya mengalah.
“Kalau begitu, menurut Kakak bagaimana?”
Elena langsung tersenyum puas.
“Lebih bagus.”
Julian kembali membaca bukunya.
Beberapa menit kemudian, Scarlet duduk di sebelahnya.
“Kau tadi bersama Edmund?”
“Ya.”
“Membicarakan kain yang kau temukan?”
Julian mengangguk.
“Beliau bilang itu mungkin berasal dari masa perang.”
Scarlet tidak mengatakan apa-apa.
Julian menutup bukunya.
“Bunda.”
“Ya?”
“Apa Bunda tahu tentang simbol enam garis itu?”
Scarlet memandang Julian.
Ada jeda singkat.
Kemudian ia menggeleng.
“Tidak banyak.”
“Benarkah?”
Scarlet tersenyum.
“Kenapa bertanya begitu?”
“Karena Bunda terlihat seperti tahu sesuatu.”
Scarlet tertawa kecil.
“Sekarang kau mulai terlalu memperhatikan ekspresi orang.”
Julian tersenyum.
“Mungkin.”
Scarlet mengusap rambutnya.
“Kalau suatu hari kau benar-benar ingin mengetahui sejarah keluarga kita, tanyakan langsung kepada Ayah.”
“Kenapa semua orang menyuruh saya bertanya kepada Ayah?”
“Karena dia kepala keluarga.”
“Bunda juga istrinya.”
“Dan karena itu aku tahu kapan harus membiarkannya menjelaskan sesuatu.”
Julian tertawa.
Elena yang mendengar percakapan itu ikut menyela.
“Kalau Ayah mulai bicara terlalu panjang, panggil aku.”
“Untuk apa?”
“Supaya aku menyuruhnya berhenti.”
Scarlet tertawa.
Julian ikut tersenyum.
Untuk beberapa saat, pembicaraan tentang sejarah tua itu hilang begitu saja.
---
Menjelang sore, Julian pergi ke halaman belakang.
Zero sedang berdiri di bawah pohon.
Lunara berbaring di dekat kakinya.
Julian membawa busur.
Ia memasang target sederhana.
“Lima anak panah.”
Zero mengangkat kepala.
Lunara membuka satu mata.
Julian menarik busur.
Anak panah pertama melesat.
Tepat di tengah.
Kedua.
Sedikit ke kanan.
Ketiga.
Tepat di samping yang pertama.
Julian menghela napas kecil.
“Masih kurang.”
Ia memasang anak panah keempat.
Namun sebelum menarik tali, ia merasakan sesuatu.
Mana.
Sangat tipis.
Bukan dari tubuhnya.
Dari Zero.
Julian menurunkan busur.
Ia mendekati kuda hitam itu.
Tangannya menyentuh leher Zero.
Aliran Mana itu masih ada.
Tidak besar.
Tidak liar.
Hanya berbeda dari kuda biasa.
“Sejak kapan kau seperti ini?”
Zero menatapnya.
Tidak menjawab.
Tentu saja.
Julian tersenyum.
“Baiklah.”
Ia tidak mencoba menggunakan Mana pada Zero.
Belum.
Sesuai nasihat Edmund.
Jangan memaksa sesuatu yang belum dipahami.
Julian menggaruk ringan bagian lehernya.
Zero menundukkan kepala.
Lunara bangkit dan berjalan mendekat.
Mereka bertiga berdiri di bawah pohon ketika matahari mulai tenggelam.
Dari arah jauh, terdengar lonceng kecil dari gerbang utama.
Seorang kurir baru tiba.
Tidak ada yang aneh.
Tidak ada yang tahu bahwa di salah satu ruang rumah itu, beberapa laporan lama sedang dibawa masuk bersama dokumen perdagangan.
Salah satunya berasal dari wilayah timur.
Tentang jejak monster.
Tentang beberapa jalan lama yang mulai ditemukan kembali.
Dan tentang sebuah simbol yang sudah bertahun-tahun tidak digunakan.
Enam garis di bawah bulan.
Namun untuk saat ini, Julian tidak mengetahuinya.
Ia hanya berdiri bersama Zero dan Lunara.
Kemudian berkata,
“Besok kita latihan lagi.”
Zero mengibaskan ekornya.
Lunara mengeong pelan.
Julian tersenyum.
“Anggap saja itu jawaban.”
Ia mengambil busurnya.
Lalu berjalan kembali menuju rumah.
Sejarah House Varell perlahan mulai bergerak.
Tetapi Julian belum perlu mengejarnya.
Karena beberapa jejak memang lebih baik ditemukan ketika waktunya tiba.