Chapter 23 of 75
Chapter 23 — Jejak yang Tertinggal
1.5k words
Pagi di Varell Estate terasa sedikit berbeda.
Bukan karena cuaca.
Bukan pula karena sesuatu yang buruk telah terjadi.
Hanya saja, sejak kemarin Julian mengetahui sisi lain keluarganya, beberapa hal yang sebelumnya terlihat biasa kini memiliki makna yang berbeda.
Orang-orang yang berjaga di sekitar kediaman.
Pelayan yang ternyata mampu menggunakan senjata.
Beberapa pria yang jarang terlihat di ruang utama tetapi selalu muncul ketika Damir membutuhkan sesuatu.
Semuanya masih sama.
Hanya saja sekarang Julian tahu bahwa House Varell bukan sekadar keluarga bangsawan.
Julian duduk di halaman belakang dengan kedua kaki disilangkan. Pedang latihan terletak di sampingnya.
Di hadapannya, sebuah mangkuk kecil berisi air.
Ia mencoba merasakan sesuatu yang kemarin baru pertama kali muncul.
Mana.
Bukan melihatnya.
Bukan pula memaksanya keluar.
Hanya merasakannya.
Julian menarik napas perlahan.
Udara pagi masuk ke paru-parunya.
Daun-daun bergerak pelan.
Rumput basah oleh embun.
Dan di antara semuanya...
Ada sesuatu.
Sangat tipis.
Seperti aliran hangat yang melewati udara tanpa suara.
Julian membuka mata.
“Jadi itu Mana.”
“Benar.”
Suara Damir terdengar dari belakang.
Julian menoleh.
Damir berdiri beberapa langkah darinya sambil membawa dua pedang kayu.
“Sudah berapa lama Ayah di sana?”
“Cukup lama.”
Julian tersenyum kecil.
“Berarti Ayah sengaja tidak mengganggu.”
“Kalau kau sedang berkonsentrasi, mengganggu bukan kebiasaanku.”
Damir meletakkan salah satu pedang kayu di depan Julian.
“Sekarang berdiri.”
Julian mengambil pedang itu.
Tubuhnya sudah jauh lebih baik dibanding beberapa bulan sebelumnya. Kakinya lebih kuat, napasnya lebih teratur, dan tubuhnya mulai mampu mengikuti gerakan yang sebelumnya terlalu cepat.
Namun Damir tidak langsung menyuruhnya bertarung.
“Pertama,” katanya, “gunakan Mana hanya untuk memperkuat tubuhmu.”
Julian mengangkat alis.
“Bukan pedang?”
“Belum.”
Damir menunjuk kaki Julian.
“Mana yang kau gunakan untuk tubuh harus mengalir dengan stabil. Jangan mencoba membuatnya besar.”
Julian mengangguk.
Ia memejamkan mata.
Mana yang sebelumnya terasa seperti aliran tipis mulai ia rasakan sedikit lebih jelas.
Namun ketika ia mencoba mengarahkannya ke kaki—
Alirannya pecah.
Tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Julian segera membuka mata dan memperbaiki pijakan.
Damir tersenyum tipis.
“Jangan dipaksa.”
“Saya tidak merasa memaksanya.”
“Tubuhmu yang berpikir begitu.”
Julian menatap kakinya.
Damir melanjutkan.
“Mana bukan tenaga tambahan yang tinggal kau masukkan ke tubuh. Kau harus membiarkannya mengikuti tubuhmu.”
Julian mencoba lagi.
Kali ini lebih perlahan.
Mana mengalir dari inti di dalam tubuhnya menuju kaki.
Sedikit.
Sangat sedikit.
Namun tidak pecah.
Julian membuka mata.
“Berhasil.”
“Sebentar.”
Damir menunjuk ke arah halaman.
“Jangan bergerak dulu.”
Julian menghela napas.
“Baik.”
Beberapa detik berlalu.
Lalu—
“Sekarang lari.”
Julian langsung bergerak.
Langkah pertama biasa.
Langkah kedua lebih cepat.
Pada langkah ketiga, Mana yang mengalir di kakinya mulai berantakan.
Julian menghentikan dirinya sebelum terjatuh.
Ia menatap Damir.
“Ayah sudah tahu akan gagal.”
“Ya.”
“Kenapa tetap menyuruh saya?”
“Karena kalau hanya berdiri, kau tidak akan tahu kapan alirannya rusak.”
Julian mengangguk pelan.
Masuk akal.
Ia mengambil kembali posisi.
Latihan dilanjutkan.
Tidak ada gerakan spektakuler.
Tidak ada ledakan Mana.
Tidak ada teknik rahasia.
Hanya langkah.
Lari.
Berhenti.
Mengatur napas.
Mencoba lagi.
Dan lagi.
Sampai matahari mulai naik.
---
“Julian!”
Suara Elena terdengar dari arah rumah.
Julian baru saja selesai membersihkan keringat ketika kakaknya datang sambil membawa handuk.
“Kau latihan lagi tanpa sarapan?”
Julian terdiam.
Elena menyipitkan mata.
“Jangan bilang kau lupa.”
“Saya belum lupa.”
“Kalau begitu kenapa belum makan?”
“Saya sedang latihan.”
“Itu bukan jawaban.”
Julian menerima handuk dari tangannya.
“Terima kasih.”
Elena menghela napas.
“Kadang-kadang aku bingung kau ini anak enam tahun atau orang tua yang menyamar.”
Julian tersenyum kecil.
“Saya juga tidak tahu.”
Elena menatapnya beberapa saat.
Kemudian dia mengacak rambut Julian.
“Sudahlah. Mandi dulu.”
“Baik.”
“Dan jangan lupa sarapan.”
“Baik.”
“Dan jangan langsung pergi ke hutan setelah itu.”
Julian berhenti.
Elena menunjuk wajahnya.
“Aku tahu wajah itu.”
“Wajah apa?”
“Wajah seseorang yang sedang merencanakan pergi ke hutan.”
Julian tersenyum.
“Saya hanya ingin berjalan-jalan.”
“Dengan Zero dan Lunara?”
“...Mungkin.”
Elena menghela napas panjang.
“Sudah kuduga.”
---
Setelah sarapan, Julian memang tidak langsung pergi.
Ia duduk di ruang keluarga bersama Scarlet.
Di atas meja terdapat beberapa dokumen yang sedang dibaca Scarlet.
Julian awalnya hanya ingin membaca buku.
Namun sebuah lambang di salah satu dokumen membuat matanya berhenti.
Lambang itu adalah kepala naga sederhana.
Emblem House Varell.
“Bunda.”
Scarlet mengangkat wajah.
“Ya?”
“Orang-orang yang kemarin datang... mereka semua bagian dari pasukan House Varell?”
Scarlet menutup dokumennya.
“Sebagian.”
“Dan sebagian lainnya?”
Scarlet tersenyum kecil.
“Pekerjaan mereka berbeda.”
Julian tidak bertanya lebih jauh.
Namun Scarlet justru melanjutkan.
“Kenapa bertanya?”
“Saya baru tahu keluarga kita punya banyak orang yang bekerja di balik layar.”
“Memang.”
“Apakah sejak dulu seperti itu?”
Pertanyaan itu membuat Scarlet terdiam sebentar.
Tidak lama.
Tetapi cukup untuk membuat Julian menyadarinya.
“House Varell sudah ada cukup lama,” jawab Scarlet akhirnya. “Namun keluarga kita tidak selalu memiliki bentuk seperti sekarang.”
Julian menatapnya.
“Bagaimana dulu?”
Scarlet tersenyum.
“Itu pertanyaan yang lebih cocok kau tanyakan kepada Ayahmu.”
“Karena Ayah tahu lebih banyak?”
“Karena Ayahmu lebih tua.”
Julian tertawa kecil.
“Bunda juga lebih tua dari saya.”
Scarlet langsung mencubit pipinya.
“Anak ini mulai pandai menjawab.”
Julian mengusap pipinya.
“Saya hanya menyampaikan fakta.”
“Sekarang mandi.”
“Baik.”
Julian berdiri.
Saat melewati meja, matanya kembali melihat dokumen tadi.
Ada sebuah nama wilayah di dalamnya.
Ia tidak mengenalnya.
Namun ia tidak berhenti untuk membaca.
Belum.
---
Sore harinya, Julian akhirnya pergi ke hutan.
Zero berjalan di sampingnya.
Lunara berada beberapa meter di depan, sesekali berhenti untuk mengendus tanah.
Hutan terasa damai.
Tidak ada suara monster.
Tidak ada tanda bahaya.
Hanya suara burung dan dedaunan.
Julian membawa busur di punggungnya.
Pedang berada di pinggang.
Ia tidak berniat berburu hari ini.
Hanya berjalan.
Namun setelah beberapa puluh menit, Lunara berhenti.
Telinganya bergerak.
Julian ikut berhenti.
Zero mengangkat kepalanya.
“Ada apa?”
Lunara menatap ke arah semak-semak.
Julian memperhatikan.
Tidak ada apa-apa.
Ia melangkah mendekat.
Kemudian melihat sesuatu di antara akar pohon.
Sebuah potongan kain.
Berwarna hitam.
Julian mengambilnya.
Kain itu sudah kotor dan sedikit robek.
Tidak ada lambang House Varell.
Tidak ada lambang kerajaan.
Hanya terdapat sebuah benang berwarna merah tua di salah satu sisinya.
Julian memeriksanya beberapa saat.
“Bukan pakaian pemburu biasa.”
Zero mengembuskan napas.
Julian melihat sekeliling.
Ada bekas langkah.
Sangat samar.
Seseorang pernah berada di tempat ini.
Namun bukan satu atau dua hari lalu.
Mungkin sudah beberapa minggu.
Julian memasukkan kain itu ke kantong kecil.
Ia tidak mengejar jejak tersebut.
Sebaliknya, ia melanjutkan perjalanan.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di sebuah bagian hutan yang belum pernah Julian datangi sebelumnya.
Di sana berdiri sebuah batu besar.
Permukaannya penuh lumut.
Namun ada sesuatu yang menarik perhatian Julian.
Sebuah ukiran.
Sangat tua.
Bukan lambang Varell.
Bentuknya menyerupai bulan sabit dengan enam garis pendek di bawahnya.
Julian menyentuh permukaannya.
Tidak ada Mana yang terasa.
“Lunara?”
Moon Lynx itu mendekat.
Ia mencium batu tersebut lalu mundur.
Tidak tertarik.
Julian memandangnya beberapa saat.
Enam garis.
Ia mengingat angka itu.
Namun tidak tahu artinya.
“Sepertinya hutan ini lebih tua daripada yang kukira.”
Zero tiba-tiba mengeluarkan suara pendek.
Julian menoleh.
Kuda hitam itu berdiri beberapa meter di belakangnya.
Tatapannya mengarah ke sisi lain hutan.
Julian mengikuti arah pandangnya.
Tidak ada apa-apa.
Tetapi nalurinya mengatakan ada sesuatu.
Bukan bahaya.
Setidaknya bukan sekarang.
Julian memandang langit.
Matahari sudah mulai turun.
“Kita pulang.”
Ia berbalik.
Zero mengikuti.
Lunara berjalan di sisi lainnya.
Ukiran enam garis itu perlahan menghilang di balik pepohonan.
---
Malam.
Julian duduk di ruang kerja kecil miliknya.
Kain hitam tadi berada di atas meja.
Di sebelahnya ada buku catatan.
Ia menulis beberapa hal.
Kain hitam.
Jejak lama.
Ukiran enam garis.
Julian berhenti menulis.
Ia kemudian menambahkan satu kalimat.
Tanyakan kepada Ayah jika ada kesempatan.
Ia menutup buku.
Tidak ada alasan untuk terburu-buru.
Jika sesuatu itu memang penting, jawabannya akan datang pada waktunya.
Pintu terbuka.
Damir masuk.
“Kau belum tidur?”
“Sebentar lagi.”
Damir melihat buku di atas meja.
“Menulis catatan?”
“Ya.”
Damir berjalan mendekat.
Julian mengambil kain hitam dari meja.
“Saya menemukan ini di hutan.”
Damir menerimanya.
Awalnya ekspresinya biasa.
Kemudian berubah sedikit.
Hanya sesaat.
Tetapi Julian melihatnya.
Damir membalik kain tersebut.
Memeriksa benang merah di sisinya.
“Di mana kau menemukannya?”
“Dekat bagian timur.”
“Seberapa jauh?”
Julian menjelaskan lokasinya.
Damir terdiam.
Lalu mengembalikan kain itu.
“Besok berikan kepada Edmund.”
“Bukan Ayah?”
“Edmund lebih tahu mengenai barang-barang lama.”
Julian mengangguk.
Namun sebelum Damir pergi, Julian bertanya.
“Ayah.”
Damir berhenti.
“Ya?”
“Apakah keluarga kita pernah menggunakan pakaian seperti ini?”
Damir tidak langsung menjawab.
“Pernah.”
“Dulu?”
“Sudah lama.”
Julian menunggu.
Damir akhirnya berkata,
“Tidak semua bagian sejarah keluarga perlu diketahui dalam satu malam.”
Julian tersenyum tipis.
“Saya tidak memintanya malam ini.”
Damir menatap putranya.
Kemudian sudut bibirnya sedikit terangkat.
“Bagus.”
Damir berjalan menuju pintu.
Sebelum keluar, ia berhenti sekali lagi.
“Julian.”
“Ya?”
“Besok jangan pergi ke bagian timur hutan.”
Julian mengangkat alis.
“Karena kain ini?”
“Karena aku memintamu untuk tidak pergi.”
Julian memandang ayahnya beberapa detik.
Lalu mengangguk.
“Baik.”
Damir keluar.
Julian kembali melihat kain di atas meja.
Ada banyak hal tentang keluarganya yang belum ia ketahui.
Dan untuk pertama kalinya sejak mengetahui sisi tersembunyi House Varell, Julian tidak merasa perlu segera mencari semua jawabannya.
Ia mematikan lampu.
Besok masih ada.
Dan sejarah keluarganya tidak akan hilang hanya karena ia tidur malam ini.