Chapter 22 of 75
Chapter 22 — Darah House Varell
1.3k words
Pagi itu berlangsung lebih lama dari biasanya.
Julian masih duduk di halaman belakang dengan mata terpejam.
Mana yang sebelumnya hanya terasa seperti aliran samar kini mulai memiliki bentuk dalam kesadarannya.
Bukan bentuk yang bisa dilihat.
Lebih seperti arus tipis yang bergerak melewati tubuh dan udara di sekitarnya.
Namun setiap kali Julian mencoba memperhatikannya terlalu serius, sensasi itu menghilang.
“Jangan dikejar.”
Suara Damir terdengar di depannya.
Julian membuka mata.
“Sulit.”
“Memang.”
Damir duduk bersila.
“Mana bukan sesuatu yang harus kau tangkap.”
Julian mencoba lagi.
Ia menutup mata.
Menarik napas.
Membiarkan suara burung, angin, dan dedaunan masuk tanpa berusaha memisahkannya.
Beberapa detik kemudian, aliran itu kembali terasa.
Tipis.
Hampir tidak ada.
Namun kali ini Julian tidak mencoba mengikutinya.
Ia membiarkannya lewat.
Damir tersenyum kecil.
“Bagus.”
Julian membuka mata.
“Apakah itu sudah cukup?”
“Untuk hari pertama.”
Julian menghela napas lega.
Edmund yang berdiri tidak jauh dari mereka tersenyum.
“Belajar Mana memang tidak selalu terlihat mengesankan.”
Julian berdiri.
“Jadi aku belum bisa menggunakannya?”
“Belum.”
“Berapa lama?”
Edmund tertawa kecil.
“Itu tergantung pada Anda.”
Julian melihat tangannya.
Tidak ada cahaya.
Tidak ada perubahan.
Tidak ada kekuatan besar.
Namun ia tidak kecewa.
Ia baru saja menemukan sesuatu yang belum ia pahami.
Dan itu cukup.
---
Setelah latihan selesai, Julian menuju ruang makan.
Elena sudah duduk di sana.
Begitu melihat Julian, matanya langsung tertuju pada pakaian latihan yang basah oleh keringat.
“Kau latihan lagi?”
“Ya.”
“Sudah mandi?”
“Belum.”
Elena langsung menunjuk tangga.
“Mandi.”
Julian menahan senyum.
“Baik.”
“Jangan cuma bilang baik.”
Julian berdiri.
“Saya akan mandi.”
“Sekarang.”
“Sekarang.”
Julian berjalan pergi.
Scarlet yang sedang menuangkan teh tertawa kecil.
“Kasihan sekali.”
Elena menggeleng.
“Kalau tidak begitu, dia akan lupa.”
Damir masuk beberapa saat kemudian.
Ia duduk tanpa mengatakan apa-apa.
Scarlet menatapnya.
“Bagaimana latihan Mana?”
“Dia bisa merasakannya.”
Scarlet tersenyum.
“Cepat juga.”
“Bukan berarti dia langsung bisa menggunakannya.”
“Aku tahu.”
Damir mengambil roti.
Elena menoleh.
“Kalau begitu kapan Julian mulai belajar sihir?”
Damir berhenti.
“Sihir?”
“Ya.”
Scarlet ikut tertarik.
Damir menggeleng.
“Belum tentu dia akan menjadi mage.”
Elena memandang ayahnya.
“Memangnya harus memilih sekarang?”
“Tidak.”
Damir menyesap teh.
“Mana bisa digunakan dengan banyak cara.”
Ia menatap pintu tempat Julian menghilang.
“Biarkan dia menemukan yang cocok untuknya.”
---
Beberapa jam kemudian, Julian kembali ke halaman.
Kali ini ia membawa pedang barunya.
Ia sudah membersihkan tubuh dan berganti pakaian.
Damir berdiri di tengah lapangan.
“Pedang itu belum untuk bertarung serius.”
Julian mengangguk.
“Aku tahu.”
“Anggap sebagai bagian dari latihan.”
Julian menarik pedang.
Bilahnya berkilau terkena cahaya matahari.
Damir mengambil pedang kayu.
“Mulai.”
Julian maju.
Tak.
Pedang bertemu.
Julian menyerang dari kanan.
Damir menahan.
Julian mengubah arah.
Damir menghindar.
Gerakan Julian mulai terlihat lebih ringan dibanding beberapa bulan lalu.
Tubuhnya masih kecil.
Tetapi kontrolnya semakin baik.
Ia tidak lagi memaksakan setiap gerakan.
Tidak berusaha membuat satu serangan menjadi akhir dari pertarungan.
Ia bergerak.
Membaca.
Menyesuaikan.
Damir mempercepat serangan.
Julian mundur.
Satu langkah.
Dua.
Kemudian maju kembali.
Pedangnya hampir menyentuh bahu Damir.
Damir menahan dengan ujung pedangnya.
“Cukup.”
Julian menurunkan pedang.
Napasnya lebih berat daripada sebelumnya, tetapi tidak sampai kehilangan tenaga.
Damir mengangguk.
“Sudah jauh lebih baik.”
Julian tersenyum.
“Terima kasih.”
“Jangan puas.”
“Saya tahu.”
Damir menatap pedang di tangan Julian.
“Pedang itu dulu milik salah satu anggota keluarga.”
Julian melihat bilahnya.
“Siapa?”
“Tidak penting.”
Julian menatap ayahnya.
Damir tersenyum tipis.
“Setidaknya belum.”
Julian tidak bertanya lagi.
Ia sudah mulai memahami bahwa House Varell menyimpan banyak cerita yang belum waktunya ia dengar.
---
Sore harinya, Julian pergi ke kandang.
Zero langsung mendekat.
“Kita pergi sebentar.”
Zero mendengus.
Lunara muncul dari sisi kandang.
Julian mengambil busurnya.
“Bukan jauh.”
Mereka bertiga berjalan menuju hutan.
Hari itu tidak ada latihan khusus.
Julian hanya ingin berjalan.
Ia menikmati suara tanah di bawah sepatu.
Daun yang bergerak.
Angin.
Lunara yang sesekali berhenti mencium sesuatu.
Dan Zero yang berjalan bebas tanpa tali.
Setelah beberapa saat, Julian berhenti di dekat sebuah batu besar.
Ia duduk.
Zero berdiri di sampingnya.
Lunara berbaring di rumput.
Julian mengeluarkan buku kecil.
Ia membuka halaman kosong.
Hari ini ia menulis tentang Mana.
Mana terasa seperti aliran tipis.
Ia berpikir sebentar.
Lalu menambahkan:
Belum tahu bagaimana menggunakannya.
Ia menutup buku.
Tidak ada alasan untuk memaksakan hasil.
Namun ketika hendak berdiri, terdengar suara dari kejauhan.
Klak.
Klak.
Klak.
Suara roda kereta.
Julian menoleh.
Beberapa saat kemudian, sebuah kereta muncul dari jalur hutan.
Bukan kereta keluarga Varell.
Dua orang berkuda berada di depan.
Di belakangnya terdapat lambang House Varell.
Julian berdiri.
Kereta itu berhenti tidak jauh darinya.
Seorang pria turun.
Ia mengenakan pakaian resmi keluarga Varell.
“Young Lord.”
Julian mengangguk.
“Ada apa?”
Pria itu membungkuk.
“Duke memanggil Anda.”
“Sekarang?”
“Ya.”
Julian melihat Zero.
Kemudian Lunara.
“Baik.”
Ia kembali menuju estate.
---
Ketika sampai di rumah, suasananya sedikit berbeda.
Beberapa orang yang tidak biasa Julian lihat berada di aula.
Mereka bukan tamu bangsawan.
Setidaknya tidak dari pakaian mereka.
Mereka mengenakan pakaian hitam sederhana dengan lambang Varell di bagian dada.
Julian berhenti sebentar.
Damir berdiri di ujung aula.
Di sampingnya terdapat Edmund.
“Julian.”
Julian mendekat.
“Ada apa?”
Damir memandang orang-orang di ruangan.
“Mereka datang untuk latihan rutin.”
“Latihan?”
“Untuk pasukan keluarga.”
Julian menatap mereka.
Beberapa orang terlihat seperti penjaga biasa.
Namun ada beberapa hal yang menarik perhatiannya.
Cara berdiri.
Cara tangan mereka berada dekat pinggang.
Cara pandangan mereka bergerak ketika seseorang masuk.
Mereka bukan sekadar penjaga.
Julian tidak mengatakan apa-apa.
Damir memperhatikan tatapannya.
“Kau menyadarinya?”
Julian mengangguk.
“Mereka terlatih.”
Salah satu pria di belakang Damir tersenyum kecil.
“Anak itu memperhatikan.”
Damir langsung menoleh.
“Jaga ucapanmu.”
Pria itu segera menunduk.
“Maaf, Duke.”
Julian memandang ayahnya.
Damir kemudian berkata,
“Sudah waktunya kau mengetahui sedikit tentang House Varell.”
Julian diam.
“Varell bukan hanya keluarga bangsawan.”
Damir berjalan menuju salah satu ruangan di sisi aula.
Julian mengikutinya.
Pintu ditutup.
Edmund ikut masuk.
Di dalam ruangan terdapat beberapa senjata yang disimpan rapi.
Pedang.
Pisau.
Busur.
Beberapa senjata yang Julian belum pernah lihat.
Damir berdiri di tengah ruangan.
“Sejak dahulu, House Varell memiliki dua wajah.”
Julian memperhatikan.
“Yang pertama adalah keluarga bangsawan yang kau kenal.”
Damir menunjuk lambang Varell yang tergantung di dinding.
“Tanah. Kekuasaan. Perdagangan. Hubungan politik.”
Kemudian ia menunjuk rak senjata.
“Yang kedua adalah tangan yang menjaga keluarga ini tetap hidup ketika semua hal lain gagal.”
Julian tidak menjawab.
Damir melanjutkan.
“Orang-orang seperti mereka tidak selalu terlihat.”
“Apakah mereka assassin?”
Ruangan menjadi hening.
Edmund memandang Julian.
Damir tidak terlihat terkejut.
“Ya.”
Jawaban itu akhirnya datang.
Singkat.
Jelas.
Julian memandang senjata di ruangan.
Selama ini ia sudah menduga.
Tetapi mendengar jawabannya secara langsung membuat semuanya terasa lebih nyata.
“Apakah aku harus menjadi salah satunya?”
“Tidak.”
Jawaban Damir datang tanpa ragu.
Julian menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena itu bukan kehidupan yang ingin kupaksakan kepadamu.”
Damir berdiri di depan Julian.
“House Varell memiliki sejarah panjang.”
Ia meletakkan tangan di bahu putranya.
“Namun sejarah bukan perintah.”
Julian terdiam.
Damir tersenyum tipis.
“Kalau suatu hari kau memilih jalan itu, itu keputusanmu.”
“Kalau tidak?”
“Tidak akan ada yang memaksamu.”
Julian mengangguk.
“Baik.”
Damir membuka pintu.
“Untuk sekarang, kau cukup menjadi Julian Varell.”
Julian keluar bersama ayahnya.
Di aula, orang-orang tadi masih berdiri.
Namun sekarang Julian melihat mereka dengan cara berbeda.
Mereka bukan sekadar penjaga.
Mereka adalah bagian dari sesuatu yang sudah ada jauh sebelum dirinya lahir.
Sebuah sisi House Varell yang tidak pernah terlihat dari meja makan.
Tidak pernah terlihat ketika Elena mengomel.
Tidak pernah terlihat ketika Scarlet menyiapkan teh.
Dan mungkin memang seharusnya begitu.
Julian berjalan menuju pintu.
Di luar, Zero menunggu.
Lunara duduk di dekatnya.
Julian tersenyum.
Dunia di dalam rumahnya ternyata lebih luas daripada yang ia kira.
Namun tidak ada yang memintanya memilih sekarang.
Itu cukup.
Ia mengusap kepala Zero.
“Pulang.”
Zero berjalan di sampingnya.
Dan untuk pertama kalinya, Julian memasuki Arc baru dalam hidupnya bukan sebagai seseorang yang harus menemukan siapa dirinya.
Ia hanya mulai mengenal keluarga yang selama ini sudah menjadi rumahnya.
Arc 2 — Darah House Varell telah dimulai.