Chapter 21 of 75
Chapter 21 — Jalan yang Akan Datang
1.1k words
Pagi berikutnya, hujan turun di Varell Estate.
Bukan hujan deras.
Hanya gerimis panjang yang membuat halaman basah dan pepohonan terlihat lebih gelap dari biasanya.
Julian berdiri di depan jendela kamar.
Di luar, Zero berteduh di bawah atap kandang.
Lunara tidur di tempatnya dekat perapian.
Julian memandang halaman beberapa saat.
Hari ini sepertinya bukan hari yang cocok untuk pergi berburu.
Ia mengambil buku dari meja.
Namun baru beberapa halaman dibaca, terdengar ketukan.
Tok. Tok.
“Masuk.”
Pintu terbuka.
Elena muncul sambil membawa pakaian.
“Julian.”
“Ya?”
“Kau ikut Ibu dan aku ke kota.”
Julian mengangkat kepala.
“Untuk apa?”
“Belanja.”
Julian melihat hujan di luar.
“Dalam hujan?”
Elena mengangguk.
“Kereta.”
Julian menutup bukunya.
“Baik.”
Dari belakang Elena terdengar suara Scarlet.
“Dan kita tidak akan lama.”
Julian berdiri.
“Kalau begitu aku bersiap.”
---
Beberapa saat kemudian, kereta keluarga Varell meninggalkan estate.
Jalan menuju Elaris masih basah.
Julian duduk di dekat jendela bersama Elena dan Scarlet.
Lunara tidak ikut.
Ia lebih memilih tinggal di estate.
Zero juga tidak ikut.
Scarlet mengatakan bahwa kuda itu akan lebih nyaman tetap di kandang daripada membuat perjalanan menjadi lebih merepotkan.
Julian tidak keberatan.
Ia menikmati perjalanan yang tenang.
Elena sibuk membicarakan beberapa pakaian yang ingin dibeli.
“Menurutmu warna biru tua cocok untukku?”
Julian menoleh.
“Cocok.”
“Jangan jawab terlalu cepat.”
“Kenapa?”
“Karena kau belum melihat bajunya.”
Julian terdiam.
Scarlet tertawa.
“Elena hanya ingin memastikan kau memperhatikan.”
“Aku memperhatikan.”
Elena menyipitkan mata.
“Benarkah?”
Julian mengangguk.
“Ya.”
“Lalu apa yang sedang kupakai?”
Julian melihat pakaian Elena.
“Gaun warna burgundy.”
Elena tersenyum puas.
“Bagus.”
Scarlet menggeleng.
“Anak ini ternyata hafal.”
Julian kembali melihat keluar jendela.
Kota Elaris semakin dekat.
---
Setelah tiba, mereka mengunjungi beberapa toko.
Tidak ada urusan penting.
Scarlet memilih kain.
Elena mencoba beberapa pakaian.
Julian membeli sebuah buku tentang flora Aetheria setelah menemukan toko kecil yang menjual buku-buku bekas.
Saat keluar dari toko, ia melihat sesuatu.
Seorang anak laki-laki sedang berdiri di depan toko pandai besi.
Usianya mungkin sekitar tujuh atau delapan tahun.
Ia memegang pedang kayu yang sudah rusak.
Seorang pria tua di sebelahnya sedang memperbaiki alat pertanian.
“Kau ingin menjadi ksatria?” tanya Julian ketika mereka berpapasan.
Anak itu menoleh.
“Ya!”
Jawabannya sangat cepat.
Julian tersenyum.
“Kenapa?”
“Karena ksatria kuat.”
“Lalu?”
Anak itu berpikir.
“Bisa melindungi orang.”
Julian mengangguk.
Jawaban sederhana.
Namun cukup.
Elena memanggil dari depan.
“Julian!”
“Aku datang.”
Julian melambaikan tangan kecil kepada anak itu.
Anak tersebut membalas.
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan.
Beberapa menit kemudian, Julian berkata,
“Apakah semua orang punya alasan untuk menjadi kuat?”
Scarlet yang berjalan di sampingnya menjawab,
“Kurasa begitu.”
“Kalau tidak?”
“Tidak semua orang ingin menjadi kuat.”
Julian menoleh.
Scarlet tersenyum.
“Sebagian orang hanya ingin hidup tenang.”
Julian diam sebentar.
Elena langsung menyela.
“Seperti kau?”
Julian tersenyum.
“Mungkin.”
Elena menepuk kepalanya.
“Tidak masalah.”
Mereka melanjutkan perjalanan.
---
Menjelang sore, mereka kembali ke estate.
Begitu kereta berhenti, Julian langsung melihat Zero.
Kuda hitam itu berdiri di dekat pagar.
Begitu Julian turun, Zero berjalan mendekat.
“Kau menunggu?”
Zero mendengus.
Julian mengusap kepalanya.
“Aku juga merindukanmu.”
Dari belakang, Elena tertawa.
“Dia bahkan lebih senang melihat Zero daripada melihat kita.”
Julian menoleh.
“Itu tidak benar.”
“Buktikan.”
Julian berjalan mendekati Elena.
Ia memeluk kakaknya sebentar.
“Sudah?”
Elena tertawa.
“Sudah.”
Scarlet tersenyum melihat mereka.
Hari itu berjalan seperti biasa.
Namun malamnya, sesuatu terjadi.
Setelah makan malam, Damir meminta Julian datang ke ruang kerja.
Julian masuk.
Damir berdiri di dekat meja.
Edmund juga ada di sana.
Tidak ada laporan di meja.
Tidak ada peta.
Tidak ada surat.
Hanya dua pedang kayu dan sebuah pedang asli yang terbungkus kain.
Julian berhenti.
“Ada apa?”
Damir menunjuk kursi.
“Duduk.”
Julian duduk.
Damir mengambil pedang yang terbungkus kain.
“Aku ingin memberimu sesuatu.”
Ia meletakkannya di meja.
Julian membuka kain itu.
Sebuah pedang.
Bukan senjata luar biasa.
Bilahnya sederhana, panjangnya disesuaikan untuk anak seusianya, dengan gagang yang dibuat agar mudah digenggam.
Julian menyentuh gagangnya.
“Pedang?”
“Pedang latihan yang bisa kau gunakan sampai tubuhmu cukup besar untuk menggunakan senjata yang lebih sesuai.”
Julian mengangkat pandangan.
“Bukankah sebelumnya Ayah mengatakan aku belum membutuhkan pedang?”
“Benar.”
Damir duduk.
“Sekarang tubuhmu sudah lebih siap.”
Julian mengangkat pedang itu.
Bobotnya terasa berbeda dari pedang kayu.
Lebih nyata.
Lebih seimbang.
Ia melakukan satu ayunan kecil.
Tidak berlebihan.
Edmund mengamati.
“Bagaimana?”
“Nyaman.”
Damir mengangguk.
“Besok kita mulai.”
Julian tersenyum.
“Baik.”
Namun sebelum ia berdiri, Damir berkata,
“Bukan hanya latihan pedang.”
Julian kembali duduk.
“Apa lagi?”
Damir menatapnya.
“Mana.”
Julian diam.
“Sudah waktunya kau belajar dengan benar.”
Julian menatap tangannya.
Selama ini Mana hanya menjadi sensasi samar.
Ia belum bisa menggunakannya.
“Apakah aku sudah bisa?”
“Belum tentu.”
Damir tersenyum tipis.
“Tapi kau sudah cukup siap untuk mencoba.”
Edmund kemudian membuka sebuah buku kecil.
“Latihan pertama tidak akan membuat Anda mampu menggunakan sihir.”
Julian mengangguk.
“Lalu apa?”
“Mengenali.”
“Mana?”
“Tubuhmu sendiri.”
Julian memperhatikan Edmund.
Edmund melanjutkan.
“Mana ada di sekitar kita. Tetapi sebelum seseorang dapat mengendalikannya, ia harus mampu merasakan alirannya.”
Julian mengangguk.
Damir berdiri.
“Besok pagi.”
Julian ikut berdiri.
“Baik.”
Ia mengambil pedang tersebut.
Sebelum keluar, Julian berhenti.
“Ayah.”
“Ya?”
“Kenapa sekarang?”
Damir memandangnya.
“Karena kau sudah siap menerima sesuatu yang baru.”
Jawaban itu sederhana.
Julian mengangguk.
“Selamat malam.”
“Selamat malam.”
Julian keluar.
Pintu tertutup.
Damir memandang Edmund.
“Dia tumbuh cepat.”
Edmund tersenyum.
“Bukan hanya tubuhnya.”
Damir tidak menjawab.
Di lorong, Julian berjalan menuju kamarnya.
Ia melewati jendela.
Di luar, bulan terlihat di antara awan.
Lunara sedang tidur.
Zero berdiri di kandang.
Rumah itu tenang.
Julian menatap pedang di tangannya.
Besok akan menjadi awal baru.
Bukan karena ia tiba-tiba mendapatkan kekuatan besar.
Bukan karena dunia berubah.
Hanya karena satu langkah berikutnya akhirnya tiba.
Ia masuk ke kamarnya dan meletakkan pedang di samping tempat tidur.
Sebelum tidur, Julian membuka buku catatannya.
Ia menulis satu kalimat.
Besok aku mulai belajar Mana.
Ia menutup buku.
Lampu dipadamkan.
Dan malam berlalu.
---
Pagi berikutnya, Julian berdiri di halaman sebelum matahari benar-benar muncul.
Pedang barunya berada di pinggang.
Damir sudah menunggu.
Edmund berdiri beberapa meter di belakangnya.
Lunara duduk di dekat pohon.
Zero mengamati dari kandang.
Julian menarik napas.
Damir berkata,
“Duduk.”
Julian duduk di atas rumput.
“Tutup mata.”
Julian menutup mata.
“Jangan mencari Mana.”
Julian sedikit mengernyit.
“Kalau begitu?”
“Biarkan ia datang.”
Julian diam.
Angin pagi menyentuh wajahnya.
Suara daun.
Burung.
Napas.
Detak jantung.
Lalu...
Samar.
Sangat samar.
Ada sesuatu di udara.
Bukan angin.
Bukan panas.
Bukan suara.
Sebuah aliran tipis yang terasa seperti benang tak terlihat.
Julian membuka matanya.
Damir tersenyum kecil.
“Bagaimana?”
Julian menatap telapak tangannya.
“Sepertinya... aku merasakannya.”
“Bagus.”
Damir duduk di hadapannya.
“Sekarang jangan coba mengendalikannya.”
Julian mengangguk.
Ia kembali menutup mata.
Kali ini, ia tidak terburu-buru.
Untuk pertama kalinya, Mana bukan sekadar sesuatu yang ia baca dalam buku.
Ia merasakannya sendiri.
Dan pagi itu menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar latihan.
Arc pertama hampir selesai.
Julian telah memiliki rumah.
Keluarga.
Lunara.
Zero.
Tempat yang ia sebut miliknya.
Dan sekarang, untuk pertama kalinya, dunia Aetheria mulai membuka pintu berikutnya.
Bukan dengan perang.
Bukan dengan kematian.
Melainkan dengan sebuah kekuatan yang perlahan mengalir di dalam dirinya.
Mana.