Chapter 20 of 75
Chapter 20 — Nama yang Pernah Disembunyikan
1.2k words
Musim mulai berubah perlahan.
Udara pagi di sekitar Varell Estate menjadi sedikit lebih dingin. Kabut tipis sering muncul di antara pepohonan sebelum matahari benar-benar naik.
Bagi Julian, perubahan itu berarti satu hal.
Waktu berburu menjadi lebih menyenangkan.
Pagi itu, ia berjalan melewati halaman belakang bersama Lunara.
Zero mengikuti dari belakang tanpa tali.
“Jangan terlalu jauh,” kata Julian.
Zero mendengus.
“Aku bicara padamu.”
Kuda hitam itu tetap berjalan.
Julian tersenyum kecil.
“Baiklah.”
Lunara tiba-tiba berhenti.
Julian ikut berhenti.
Kucing besar itu menatap ke arah semak-semak.
Ada suara kecil dari sana.
Krek.
Julian perlahan mengambil busurnya.
Ia tidak langsung menarik anak panah.
Lunara maju beberapa langkah.
Semak bergerak.
Kemudian seekor kelinci kecil keluar.
Julian menurunkan busurnya.
Lunara hanya menatapnya.
Kelinci itu berlari menjauh.
Julian tertawa pelan.
“Bukan buruan hari ini.”
Mereka kembali berjalan.
Namun setelah beberapa langkah, Julian melihat sesuatu di tanah.
Sebuah benda kecil tergeletak di antara rerumputan.
Ia mengambilnya.
Sebuah pecahan logam.
Bentuknya seperti bagian dari gesper atau ornamen lama.
Julian membersihkannya dengan ibu jari.
Ada lambang kecil di permukaannya.
Bukan lambang House Varell.
Setidaknya bukan lambang yang biasa ia lihat.
Seekor burung dengan sayap terbuka.
Di bawahnya terdapat tiga garis pendek.
Julian menyimpannya.
Mungkin milik penjaga.
Mungkin milik pemburu.
Tidak ada alasan untuk terlalu memikirkannya.
Ia melanjutkan perjalanan.
---
Siang harinya, Julian berada di perpustakaan.
Ia membuka beberapa buku sejarah tentang wilayah sekitar Varell Estate.
Benda logam tadi diletakkan di samping buku.
Julian mencoba mencocokkannya dengan beberapa lambang keluarga.
Tidak ada.
Ia membuka buku lain.
Lambang kerajaan.
Tidak cocok.
Guild.
Tidak cocok.
Kesatuan militer.
Tidak cocok.
Julian mengernyit.
Kemudian pintu perpustakaan terbuka.
Edmund masuk membawa beberapa buku.
“Tuan Muda.”
Julian mengangkat benda logam itu.
“Edmund, apakah Anda mengenali lambang ini?”
Edmund berhenti.
Untuk pertama kalinya hari itu, ekspresinya berubah sedikit.
Tidak banyak.
Hanya sesaat.
Tetapi Julian melihatnya.
Edmund berjalan mendekat.
“Dari mana Anda mendapatkannya?”
“Di hutan.”
Edmund mengambil benda itu.
Ia memeriksanya dari dua sisi.
“Sudah lama saya tidak melihat lambang ini.”
“Lambang siapa?”
Edmund tidak langsung menjawab.
Ia mengembalikan benda tersebut.
“Bukan sesuatu yang perlu Anda pikirkan.”
Julian mengangkat alis.
“Itu jawaban yang biasanya diberikan seseorang ketika ada sesuatu yang memang menarik.”
Edmund tersenyum tipis.
“Tuan Muda semakin pandai berbicara.”
“Apakah saya salah?”
“Tidak.”
Edmund menarik sebuah kursi.
Ia duduk di hadapan Julian.
“Lambang itu milik sebuah kelompok lama.”
“Kelompok?”
“Bukan keluarga bangsawan.”
Edmund melihat ke arah jendela.
“Dahulu, sebelum wilayah ini sepenuhnya berada di bawah administrasi Valdoria, hutan di sekitar sini lebih luas. Banyak kelompok pemburu dan penjaga perbatasan hidup di daerah tersebut.”
“Lalu?”
“Sebagian menghilang.”
Julian memandang benda di tangannya.
“Karena monster?”
“Sebagian karena perang. Sebagian pindah. Sebagian lagi bergabung dengan pasukan kerajaan.”
Edmund berdiri.
“Kelompok yang menggunakan lambang itu termasuk salah satunya.”
“Namanya?”
Edmund berjalan menuju rak buku.
Tangannya berhenti di salah satu bagian paling atas.
Ia menarik sebuah buku tua yang sampulnya sudah kusam.
“Ordo Veyran.”
Julian mengulang nama itu dalam hati.
“Ordo?”
“Dahulu mereka menjaga jalur hutan.”
Edmund meletakkan buku tersebut di meja.
“Bukan ksatria kerajaan. Bukan tentara resmi. Mereka bekerja bersama beberapa keluarga bangsawan untuk menjaga wilayah yang jauh dari kota.”
Julian membuka buku itu.
Halaman-halamannya sudah menguning.
Ada catatan lama tentang kelompok tersebut.
Namun informasi yang tersedia sangat sedikit.
“Kenapa mereka menghilang?”
“Catatan resmi mengatakan mereka dibubarkan.”
“Kenapa?”
Edmund tersenyum tipis.
“Itu tidak tertulis.”
Julian membaca beberapa halaman lagi.
Nama Ordo Veyran muncul beberapa kali.
Kemudian menghilang begitu saja.
Tidak ada catatan tentang siapa yang membubarkan mereka.
Tidak ada daftar anggota terakhir.
Tidak ada penjelasan jelas.
Julian menutup buku.
“Menarik.”
Edmund menatapnya.
“Kata itu sebaiknya tidak Anda gunakan terlalu sering.”
Julian tersenyum.
“Kenapa?”
“Karena biasanya setelah Anda mengatakannya, Anda mulai mencari tahu.”
Julian tidak membantah.
Edmund tertawa kecil.
“Namun kali ini, jangan.”
“Baik.”
Edmund mengangguk puas.
Lalu ia mengambil buku itu kembali.
“Anggap saja benda yang Anda temukan adalah bagian dari sejarah.”
Julian memperhatikan Edmund pergi.
Ia tidak mengejar.
Tidak ada alasan.
Setidaknya belum.
---
Sore menjelang ketika Julian pergi ke halaman latihan.
Damir sudah berada di sana.
“Latihan pedang?”
Julian mengangguk.
Damir melemparkan pedang kayu kepadanya.
Julian menangkapnya.
“Mulai.”
Latihan berlangsung seperti biasa.
Serangan.
Tangkisan.
Perubahan posisi.
Gerakan pendek.
Tidak ada gerakan yang sia-sia.
Namun kali ini Damir mengubah ritme.
Serangannya menjadi lebih cepat.
Julian menahan.
Satu.
Dua.
Tiga.
Pada serangan berikutnya, Julian mencoba mengubah posisi terlalu cepat.
Kakinya kehilangan pijakan.
Damir menghentikan pedangnya sebelum mengenai bahu Julian.
“Ulangi.”
Julian kembali ke posisi.
Mereka mulai lagi.
Kali ini Julian tidak terburu-buru.
Ia menunggu.
Damir menyerang.
Julian bergerak.
Pedang kayu mereka beradu.
Julian memutar tubuh.
Serangan balasan.
Damir menahan.
Kemudian mundur.
“Lebih baik.”
Julian mengatur napas.
“Aku terlalu cepat tadi.”
“Bukan cepatnya.”
Damir menurunkan pedangnya.
“Kau memilih gerakan sebelum tubuhmu selesai menyiapkannya.”
Julian mengangguk.
“Berarti masalahnya koordinasi.”
“Ya.”
Damir kembali memasang posisi.
“Sekali lagi.”
Mereka terus berlatih sampai matahari hampir tenggelam.
Ketika latihan selesai, Julian duduk di tepi lapangan.
Zero datang mendekat.
Julian mengusap lehernya.
“Kau melihat semuanya?”
Zero mendengus.
“Jangan tertawa.”
Zero kembali mendengus.
Julian tersenyum.
Beberapa saat kemudian Damir duduk di sebelahnya.
Keduanya memandang matahari yang perlahan turun.
“Ayah.”
“Hmm?”
“Apakah House Varell selalu tinggal di sini?”
Damir menoleh.
“Tidak.”
Julian tidak langsung bertanya lebih jauh.
Namun Damir sendiri melanjutkan.
“Keluarga kita sudah berpindah beberapa kali.”
“Kenapa?”
“Perang. Wilayah. Politik.”
Damir menyandarkan kedua tangannya di belakang tubuh.
“Banyak alasan.”
Julian memandang hutan.
“Apakah Varell selalu keluarga bangsawan?”
“Tidak.”
Jawaban itu membuat Julian menoleh.
Damir tersenyum kecil.
“Dulu tidak.”
“Lalu bagaimana bisa menjadi Duke?”
“Karena leluhur kita berjasa dalam sebuah perang.”
Julian diam.
Damir tidak menjelaskan lebih jauh.
“Apakah Ayah pernah ingin hidup berbeda?”
Pertanyaan itu membuat Damir tertawa kecil.
“Pertanyaan yang sulit.”
“Kenapa?”
“Karena dulu aku tidak pernah memikirkan pilihan sebanyak itu.”
Julian menatapnya.
Damir berdiri.
“Yang penting sekarang bukan bagaimana seseorang memulai.”
Ia mengulurkan tangan.
“Yang penting adalah apa yang dia lakukan dengan apa yang dimilikinya sekarang.”
Julian menerima tangannya dan berdiri.
“Baik.”
Mereka berjalan kembali menuju rumah.
Di tengah jalan, Damir tiba-tiba berkata,
“Dan Julian.”
“Ya?”
“Kalau kau menemukan sesuatu di hutan yang tidak kau kenali, jangan langsung menyelidikinya.”
Julian menatap ayahnya.
“Aku hanya bertanya.”
“Aku tahu.”
Damir tersenyum tipis.
“Itulah sebabnya aku mengatakannya sekarang.”
Julian ikut tersenyum.
“Baik.”
Mereka melanjutkan perjalanan.
Di belakang mereka, Zero mengikuti.
Lunara berjalan di sisi lain.
Rumah Varell terlihat dari kejauhan.
Lampu-lampu mulai dinyalakan.
Suara Elena terdengar samar dari dalam.
“Julian! Jangan bilang kau belum mandi!”
Julian berhenti.
Ia menghela napas.
Damir langsung tertawa kecil.
“Pergilah.”
“Ayah juga?”
“Aku akan menyusul.”
Julian berlari kecil menuju rumah.
Zero berhenti di depan kandang.
Lunara mengikutinya.
Hari itu tidak berakhir dengan pertempuran.
Tidak ada monster kuat.
Tidak ada bahaya besar.
Hanya sebuah lambang tua yang ditemukan di hutan, sebuah nama dari masa lalu, dan sedikit cerita tentang House Varell.
Namun tanpa Julian sadari, semakin banyak ia melihat dunia, semakin banyak pula ia menemukan bahwa Aetheria memiliki sejarah yang jauh lebih panjang daripada yang tertulis dalam buku-buku yang ia baca.
Dan beberapa bagian dari sejarah itu...
pernah bersinggungan dengan keluarga Varell.
Malam itu, Julian menyimpan pecahan lambang Ordo Veyran di dalam kotak kecil di mejanya.
Bukan untuk diselidiki.
Belum.
Untuk sekarang, ia memilih tidur.
Besok pagi masih ada latihan.
Dan mungkin setelah itu, ia akan pergi ke hutan lagi bersama Zero dan Lunara.