Chapter 19 of 75

Chapter 19 — Tamu dari Utara

1.1k words

Beberapa hari setelah laporan tentang pergerakan monster diterima, Varell Estate kembali menjalani hari-hari yang tenang. Pagi diisi latihan. Siang dengan membaca atau membantu kegiatan kecil di rumah. Sore menjadi waktu Julian pergi ke kandang atau hutan bersama Lunara. Tidak ada kejadian besar. Dan Julian mulai terbiasa dengan ritme itu. Pagi itu, setelah sarapan, Julian sedang membaca buku tentang sejarah Valdoria di ruang keluarga ketika suara roda kereta terdengar dari luar. Bukan suara kereta keluarga Varell. Julian mengangkat kepala. Elena yang sedang duduk di sofa juga menoleh. “Siapa yang datang?” Scarlet melihat ke arah jendela. “Sepertinya tamu.” Beberapa saat kemudian, seorang pelayan masuk. “Yang Mulia Duchess, ada rombongan dari utara.” Scarlet berdiri. “Dari utara?” “Ya. Mereka membawa lambang House Arkenhart.” Elena langsung berdiri. “Arkenhart?” Julian menutup bukunya. Nama itu pernah ia baca. House Arkenhart adalah salah satu keluarga bangsawan besar di Valdoria. Keluarga militer yang memiliki hubungan kuat dengan pertahanan wilayah utara kekaisaran. Scarlet mengangguk. “Persilakan mereka masuk.” Pelayan membungkuk. “Baik, Duchess.” Julian ikut berdiri. “Apakah aku harus ikut?” Scarlet menatapnya. “Kalau kau mau.” Julian berpikir sebentar. “Kalau begitu, aku ikut.” Mereka menuju aula utama. Damir sudah berada di sana. Ia mengenakan pakaian bangsawan formal berwarna gelap, jauh berbeda dari pakaian latihan yang biasa dikenakannya. Beberapa saat kemudian, pintu utama terbuka. Tiga orang memasuki aula. Yang pertama adalah seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun dengan rambut hitam pendek dan tubuh tinggi. Ia mengenakan mantel biru gelap dengan lambang perisai dan pedang milik House Arkenhart. Di belakangnya terdapat seorang wanita dan seorang anak laki-laki yang tampaknya sebaya dengan Julian. Pria itu berhenti beberapa langkah dari Damir. “Duke Varell.” Damir membalas dengan anggukan. “Lord Arkenhart. Sudah lama.” Keduanya berjabat tangan. Pria itu kemudian menoleh kepada Scarlet. “Duchess Varell.” “Selamat datang di kediaman kami.” Setelah itu, pandangan pria tersebut berpindah kepada Elena. “Lady Elena.” Elena membungkuk sopan. Terakhir, matanya berhenti pada Julian. “Dan ini pasti putramu.” Damir meletakkan tangan di bahu Julian. “Putra kami, Julian.” Julian maju satu langkah dan membungkuk. “Salam kenal, Lord Arkenhart.” Pria itu tersenyum. “Salam kenal, Young Lord Varell.” Julian kembali ke tempatnya. Di samping ayahnya, anak laki-laki dari House Arkenhart memperhatikannya. Tatapannya cukup terang-terangan. Julian menyadarinya. Anak itu akhirnya berkata, “Apakah kau benar-benar sering pergi ke hutan?” Damir mengangkat alis. “Cedric.” Anak itu langsung berdiri lebih tegak. “Maaf, Ayah.” Julian justru tersenyum. “Tidak apa-apa.” Cedric menatapnya lagi. “Jadi?” “Kadang-kadang.” “Berburu?” “Ya.” “Monster?” “Kalau kebetulan bertemu.” Mata Cedric langsung berbinar. “Aku juga ingin berburu.” Ayahnya menghela napas. “Kau datang untuk menemui Duke Varell, bukan untuk membicarakan berburu.” Cedric menunduk. “Baik.” Elena menahan tawa. Scarlet kemudian mengajak rombongan menuju ruang makan kecil untuk berbincang. Julian ikut duduk bersama keluarga. Pembicaraan orang dewasa berlangsung mengenai wilayah utara, perdagangan, keamanan jalan, dan beberapa urusan bangsawan. Julian tidak ikut campur. Ia lebih tertarik mendengarkan. Dari percakapan itu, ia mengetahui bahwa beberapa jalur perdagangan di utara mengalami gangguan karena monster liar yang turun dari daerah pegunungan. Tidak banyak. Tetapi cukup untuk membuat beberapa pedagang memilih jalur lain. “Apakah itu alasan Lord Arkenhart datang?” tanya Scarlet. Lord Arkenhart menggeleng. “Sebagian. Kami sedang mengunjungi beberapa keluarga yang memiliki hubungan lama dengan House Arkenhart.” Ia mengambil cangkir tehnya. “Kebetulan Varell Estate berada di jalur kami.” Damir mengangguk. “Begitu.” Tidak ada konspirasi besar. Tidak ada permintaan bantuan mendadak. Hanya kunjungan seorang bangsawan yang sedang melakukan perjalanan. Julian menyadari sesuatu. Dunia benar-benar berjalan tanpa dirinya. Orang-orang bepergian. Pedagang mengubah jalur. Monster berpindah wilayah. Keluarga bangsawan saling mengunjungi. Semuanya terjadi karena alasan masing-masing. Setelah makan siang selesai, Cedric menghampiri Julian. “Kau mau ke kandang?” Julian menatapnya. “Kandang?” “Aku dengar kau punya kuda yang aneh.” Julian terdiam sebentar. “Zero?” Cedric mengangguk cepat. “Ayahmu bilang kuda itu sulit dikendalikan.” Julian mengangkat bahu. “Dia memang tidak suka diperintah.” “Boleh kulihat?” Julian menoleh kepada Damir. Damir yang sedang berbicara dengan Lord Arkenhart hanya melirik sekilas. “Jangan keluar dari halaman.” “Baik.” Julian mengajak Cedric menuju kandang. Lunara mengikuti mereka dari belakang. Begitu sampai, Zero sudah berdiri di tempat biasa. Cedric berhenti. “Wow.” Ia mendekati pagar. Zero langsung menoleh. Cedric berhenti lagi. “Dia besar sekali.” “Memang.” “Boleh kusentuh?” Julian tidak langsung menjawab. “Coba perlahan.” Cedric membuka pagar sedikit. Ia mengulurkan tangan. Zero mengendus. Lalu mundur satu langkah. Cedric menarik tangannya. “Dia tidak suka aku.” Julian tersenyum. “Bukan berarti begitu.” “Lalu?” “Dia hanya belum mengenalmu.” Cedric mencoba lagi. Kali ini Zero tetap di tempat. Namun ketika tangan Cedric hampir menyentuh kepalanya, Zero menggeser tubuh. Cedric menghela napas. “Benar-benar sulit.” Julian tertawa kecil. “Jangan dipaksa.” Cedric memandang Julian. “Kenapa kau bisa?” “Karena aku tidak mencoba menungganginya.” Cedric tampak berpikir. “Jadi kau tidak pernah menaikinya?” “Belum.” “Padahal dia milikmu?” Julian menggeleng. “Dia bukan milikku.” Cedric mengerutkan kening. “Lalu?” Julian melihat Zero. “Dia hanya memilih berjalan bersamaku.” Cedric terdiam. Kemudian ia tersenyum. “Unik.” “Memang.” Mereka duduk di dekat pagar kandang. Cedric bercerita tentang kehidupan di utara. Tentang benteng besar keluarganya. Tentang latihan pedang. Tentang bagaimana ayahnya mengharuskannya bangun sebelum matahari terbit. Julian sesekali menjawab. Ternyata Cedric cukup banyak bicara. Bahkan lebih banyak daripada Elena. Julian mulai memahami kenapa perjalanan bersama keluarganya bisa terasa ramai. “Kau tidak bosan?” tanya Cedric. “Dengan apa?” “Dengan tempat ini.” Julian melihat ke arah estate. Rumah besar. Pepohonan. Kandang. Lapangan latihan. Hutan yang terbentang di kejauhan. “Tidak.” “Kenapa?” Julian berpikir sebentar. “Masih banyak yang belum kulihat.” Cedric tersenyum. “Kalau begitu, nanti kau harus datang ke utara.” Julian menoleh. “Kenapa?” “Benteng kami besar. Ada arena latihan. Ada pegunungan. Kalau beruntung, kau bisa melihat monster yang jauh lebih besar daripada yang ada di sini.” Julian tersenyum. “Mungkin suatu hari nanti.” Dari belakang mereka terdengar suara Elena. “Julian!” Julian menoleh. Elena berdiri beberapa meter jauhnya. “Makan buahnya jangan lupa!” Cedric tertawa. “Kakakmu memanggil.” Julian berdiri. “Ayo.” Cedric ikut berdiri. Mereka kembali ke rumah. Sore mulai turun. Rombongan House Arkenhart akan melanjutkan perjalanan keesokan paginya. Sebelum makan malam, Julian berdiri di balkon. Di bawah, Zero sedang berada di padang kecil. Lunara duduk di dekat pagar. Julian memandang langit. Utara. Elaris. Hutan. Kota-kota lain. Tempat-tempat yang selama ini hanya ia lihat melalui buku. Aetheria ternyata jauh lebih besar daripada yang bisa dijangkau dari halaman sebuah buku. Dan untuk pertama kalinya, ada seseorang yang memberinya alasan sederhana untuk melihat satu tempat lagi. Bukan karena tugas. Bukan karena kewajiban. Bukan karena sesuatu memaksanya. Hanya karena penasaran. Julian tersenyum kecil. “Mungkin nanti.” Ia berbalik dan masuk ke dalam rumah. Di meja makan, Elena sudah mengomel karena Julian terlambat. Scarlet tertawa. Damir hanya menggeleng. Dan malam kembali menjadi malam yang biasa. Namun di dalam buku catatan kecil milik Julian, malam itu bertambah satu kalimat baru. Suatu hari nanti, aku akan pergi ke utara.

End of Chapter 19

Chapter 19: Chapter 19 — Tamu dari Utara - TWO SOULS BENEATH ONE SHADOW | Novel AI Studio