Chapter 1 of 75
Chapter 1 — Anak yang Terlahir Kembali
1.4k words
Adrian Voss tidak pernah mengingat kapan tepatnya ia mulai berhenti menganggap hidup sebagai sesuatu yang berharga.
Mungkin sejak misi pertamanya.
Mungkin setelah misi kesepuluh.
Atau mungkin setelah ia menyadari bahwa manusia yang berada di balik setiap target hanyalah angka yang harus diselesaikan.
Satu.
Dua.
Tiga.
Begitu seterusnya.
Selama bertahun-tahun, Adrian hidup di dunia yang tidak mengenal belas kasihan.
Ia adalah seorang assassin profesional.
Namanya tidak pernah muncul di surat kabar.
Wajahnya tidak pernah terpampang di berita.
Tidak ada penghargaan.
Tidak ada medali.
Tidak ada orang yang bertepuk tangan ketika pekerjaannya selesai.
Hanya laporan.
Target ditemukan.
Misi diterima.
Misi selesai.
Adrian telah menerima lebih dari seribu empat ratus misi sepanjang hidupnya.
Tingkat keberhasilannya mencapai sekitar sembilan puluh persen.
Angka yang cukup tinggi untuk membuat banyak orang takut.
Tetapi bagi Adrian, angka itu tidak pernah berarti apa-apa.
Ia hanya melakukan pekerjaannya.
Sampai suatu hari, ia mulai merasa lelah.
Bukan lelah secara fisik.
Tubuhnya masih mampu bergerak.
Pikirannya masih tajam.
Tangannya masih stabil.
Instingnya masih bekerja lebih cepat daripada kebanyakan orang.
Yang lelah adalah dirinya sendiri.
Adrian ingin berhenti.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia ingin menjalani kehidupan yang sederhana.
Bangun pagi.
Makan makanan yang layak.
Berjalan tanpa harus memperhatikan apakah seseorang sedang mengikutinya.
Tidur tanpa memikirkan rute pelarian.
Dan yang paling penting—
ia ingin memiliki kehidupan yang benar-benar miliknya.
Sayangnya, organisasi tempat Adrian bekerja tidak berpikir demikian.
Adrian mengetahui terlalu banyak.
Ia telah melihat terlalu banyak.
Ia mengetahui nama orang-orang yang seharusnya tidak pernah diketahui.
Mengetahui operasi yang seharusnya tidak pernah tercatat.
Mengetahui rahasia yang bahkan tidak boleh dibicarakan.
Seorang assassin yang mengetahui terlalu banyak adalah masalah.
Dan organisasi tidak menyukai masalah.
Maka datanglah sebuah misi terakhir.
Adrian membaca berkasnya dengan tenang.
Tidak ada yang aneh pada awalnya.
Sebuah perjalanan udara.
Sebuah target.
Sebuah operasi yang tampaknya sederhana.
Namun Adrian sudah cukup lama hidup di dunia itu untuk memahami satu hal.
Jika sesuatu terlihat terlalu mudah, biasanya ada sesuatu yang disembunyikan.
Ia menutup berkas tersebut.
"Jadi ini caranya."
Adrian tersenyum tipis.
Ia sudah mengerti.
Mereka tidak ingin memberinya misi terakhir.
Mereka ingin memberinya pemakaman terakhir.
Pesawat mulai meninggalkan landasan.
Beberapa menit pertama berlangsung normal.
Kemudian masalah muncul.
Satu demi satu.
Gangguan sistem.
Kepanikan.
Suara peringatan.
Dan akhirnya, pesawat kehilangan kendali.
Adrian tetap duduk tenang.
Di sebelahnya ada seorang pria yang wajahnya tampak pucat.
Leon.
Seorang rekan yang ditugaskan ikut dalam operasi tersebut.
Adrian tahu Leon tidak berada di sana karena keinginannya sendiri.
Leon juga tahu apa yang sedang terjadi.
"Adrian..."
Leon menatapnya.
Adrian menoleh.
"Ya?"
"Sepertinya kita tidak akan pulang."
Adrian diam sejenak.
Kemudian ia tertawa kecil.
"Sepertinya begitu."
Leon menunduk.
"Aku minta maaf."
Adrian tidak menjawab.
Ia hanya melihat keluar jendela.
Langit terbentang luas di hadapannya.
Aneh.
Di saat seperti itu, Adrian justru tidak memikirkan organisasi.
Tidak memikirkan target.
Tidak memikirkan uang.
Tidak memikirkan masa lalunya.
Ia hanya memikirkan satu hal.
Andai saja aku bisa hidup sekali lagi.
Bukan sebagai assassin.
Bukan sebagai senjata.
Hanya sebagai manusia.
Pesawat terus jatuh.
Suara di sekitarnya perlahan menghilang.
Pandangan Adrian menjadi kabur.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun—
ia merasa benar-benar bebas.
---
Tangisan bayi memenuhi sebuah ruangan.
Seorang wanita muda dengan rambut merah gelap memeluk bayi kecil di dadanya.
Wajahnya terlihat lelah.
Namun senyum di bibirnya tidak bisa disembunyikan.
"Dia sehat."
Seorang pria berdiri di samping tempat tidur.
Tubuhnya tinggi dan tegap.
Rambutnya berwarna biru gelap.
Tatapannya serius seperti seseorang yang terbiasa menghadapi bahaya.
Namun saat melihat bayi di pelukan istrinya, ekspresinya berubah lembut.
"Anak kita..."
Scarlet Varell tersenyum.
"Ya."
Damir mendekat.
Ia menatap bayi itu cukup lama.
Bayi tersebut memiliki rambut berwarna biru muda.
Beberapa helai rambutnya memiliki warna putih alami.
Matanya masih tertutup.
Tangannya bergerak kecil.
Damir mengulurkan satu jari.
Tangan mungil itu secara refleks menggenggamnya.
Damir terdiam.
Scarlet tertawa pelan.
"Kenapa?"
"Dia menggenggam jariku."
"Itu memang bayimu."
Damir menatap istrinya.
"Menurutmu dia akan menjadi seperti apa?"
Scarlet melihat anaknya.
"Aku tidak tahu."
Kemudian ia tersenyum.
"Tapi aku ingin dia tumbuh menjadi seseorang yang bahagia."
Damir tidak langsung menjawab.
Kalimat sederhana itu terasa lebih berat daripada yang seharusnya.
Bahagia.
Bukan kuat.
Bukan hebat.
Bukan terkenal.
Hanya bahagia.
Scarlet menatap suaminya.
"Kita harus memberinya nama."
Damir kembali melihat bayi itu.
"Julian."
Scarlet mengangkat alis.
"Julian?"
"Julian Varell."
Scarlet tersenyum.
"Bagus."
Damir menatap anaknya.
"Selamat datang di keluarga, Julian."
---
Kesadaran Adrian kembali perlahan.
Hal pertama yang ia rasakan adalah hangat.
Bukan hangatnya matahari.
Bukan panasnya mesin.
Hangat yang berbeda.
Ia mencoba bergerak.
Tidak bisa.
Tubuhnya terasa sangat kecil.
Kemudian ia mendengar suara.
"Dia bangun."
Suara wanita.
Lembut.
Hangat.
Adrian membuka mata.
Cahaya memenuhi pandangannya.
Semuanya buram.
Namun perlahan, wajah seorang wanita muncul.
Rambut merah gelap.
Mata berwarna abu-abu terang.
Senyum yang sangat lembut.
Wanita itu menatapnya dengan mata penuh kasih.
"Hai..."
Adrian tidak memahami apa yang terjadi.
Wanita itu mendekat.
"Julian."
Adrian terdiam.
Julian?
Siapa Julian?
Kemudian suara seorang pria terdengar dari samping.
"Dia melihatmu."
Wanita itu tertawa kecil.
"Karena dia anak kita."
Adrian mencoba berbicara.
Tidak ada suara yang keluar.
Yang keluar hanyalah tangisan bayi.
Ia terkejut.
Aku... bayi?
Pikirannya bergerak cepat.
Kesadarannya masih utuh.
Ia mengingat pesawat.
Ia mengingat Leon.
Ia mengingat kematiannya.
Tetapi sekarang—
ia hidup.
Tidak sebagai Adrian Voss.
Melainkan sebagai seorang bayi.
Julian Varell.
Hari-hari berikutnya membuat Adrian semakin menyadari betapa aneh situasinya.
Ia terlahir di dunia yang tidak dikenalnya.
Tidak ada gedung pencakar langit.
Tidak ada kendaraan modern.
Tidak ada senjata api yang terlihat.
Tidak ada teknologi yang ia kenal.
Sebaliknya, ia melihat kereta kuda.
Pedang.
Baju zirah.
Pelayan.
Rumah besar.
Dan lambang keluarga yang tidak pernah ia lihat sepanjang hidup sebelumnya.
Varell.
Awalnya Adrian mengira dirinya sedang bermimpi.
Tetapi mimpi tidak berlangsung bertahun-tahun.
Dan dunia ini benar-benar nyata.
Ia kemudian mengetahui nama dunia tersebut.
Aetheria.
Sebuah dunia yang memiliki kerajaan, kekaisaran, monster, dungeon, sihir, dan sesuatu yang disebut Mana.
Semakin banyak yang ia dengar, semakin Adrian menyadari satu hal.
Ia benar-benar mendapatkan kesempatan kedua.
Bukan sekadar selamat.
Bukan sekadar hidup kembali.
Ia mendapatkan kehidupan yang benar-benar berbeda.
Namun ada sesuatu yang jauh lebih mengejutkan.
Keluarganya.
Damir Varell.
Ayahnya.
Pria itu terlihat seperti seseorang yang dapat membuat seluruh ruangan diam hanya dengan satu tatapan.
Namun di rumah, Damir ternyata sering terlihat jauh lebih manusiawi.
Scarlet Varell.
Ibunya.
Wanita yang selalu memastikan Julian makan dengan benar, tidur cukup, dan tidak terlalu lama berada di luar rumah.
Kemudian Elena.
Kakaknya.
Gadis yang sepertinya tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan.
Dan Edmund Ravel.
Kepala pelayan keluarga yang selalu terlihat serius, tetapi diam-diam sangat memperhatikan semua anggota keluarga.
Mereka semua terasa asing.
Namun perlahan—
mereka menjadi keluarga.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Adrian memiliki seseorang yang menunggunya pulang.
Ia tidak pernah memahami perasaan itu sebelumnya.
Karena di kehidupan pertama, tidak ada rumah yang benar-benar menunggunya.
Tidak ada ibu yang bertanya apakah ia sudah makan.
Tidak ada ayah yang memperhatikannya dari kejauhan.
Tidak ada saudara yang mengomel karena ia pulang terlambat.
Sekarang semuanya ada.
Dan anehnya, Adrian mulai menyukainya.
---
Beberapa tahun berlalu.
Julian tumbuh menjadi anak laki-laki yang tenang.
Ia tidak banyak berbicara kepada orang yang baru dikenalnya.
Namun bersama keluarganya, ia bisa tersenyum.
Kadang bahkan tertawa.
Suatu pagi, Julian berdiri di dekat jendela.
Dari sana ia dapat melihat hutan luas yang berada tidak jauh dari kediaman keluarga Varell.
Hutan itu menarik perhatiannya sejak kecil.
Bukan karena cerita tentang monster.
Bukan pula karena tempat itu terlihat misterius.
Tetapi karena hutan terasa sunyi.
Dan Adrian sudah terbiasa dengan kesunyian.
Namun kali ini kesunyian tersebut berbeda.
Dulu kesunyian berarti tidak ada orang yang dapat dipercaya.
Sekarang kesunyian berarti kebebasan.
Julian membuka jendela.
Angin pagi masuk ke kamar.
Ia menutup mata.
Tidak ada suara perintah.
Tidak ada target.
Tidak ada organisasi.
Tidak ada misi.
Hanya angin.
Julian tersenyum kecil.
"Aku ingin melihatnya lebih dekat."
Ia belum tahu apa yang menunggunya di dalam hutan.
Ia belum tahu tentang monster.
Belum tahu tentang dungeon.
Belum tahu tentang kerajaan.
Belum tahu tentang politik para bangsawan.
Belum tahu bahwa suatu hari namanya akan dikenal di tempat-tempat yang bahkan belum pernah ia dengar.
Dan ia juga belum tahu bahwa kemampuan yang selama ini ia coba tinggalkan perlahan akan kembali membentuk jalan hidupnya.
Saat itu, Julian hanya tahu satu hal.
Ia tidak ingin menjadi Adrian Voss lagi.
Ia tidak ingin menjadi senjata siapa pun.
Ia ingin hidup.
Sebagai Julian Varell.
Seorang anak.
Seorang manusia.
Dan untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan—
ia ingin menentukan sendiri bagaimana hidupnya berjalan.
Julian melangkah keluar dari kamarnya.
Menuju pagi yang baru.
Menuju hutan.
Menuju kehidupan keduanya.