Chapter 18 of 75

Chapter 18 — Suara dari Dalam Rumah

1.4k words

Pagi di Varell Estate selalu dimulai dengan suara yang hampir sama. Derit roda kereta yang keluar menuju kota. Langkah para pelayan di lorong utama. Suara burung dari pepohonan di sekitar kediaman. Dan, sesekali, suara Elena yang terdengar dari ruang makan ketika seseorang terlambat datang. “Julian!” Suara itu terdengar bahkan sebelum Julian memasuki ruang makan. Julian berhenti di depan pintu. Di sampingnya, Lunara duduk dengan tenang. Ekor biru-abu miliknya bergerak perlahan. “Ya, Kak Elena?” Elena berdiri dengan kedua tangan di pinggang. “Kau pergi ke kandang lagi pagi-pagi?” “Sebentar saja.” “Sebentar?” Elena menunjuk pakaian Julian. Ada sedikit tanah di ujung celananya. Julian melihat ke bawah. “Oh.” “Oh?” ulang Elena. “Itu jawabanmu?” Lunara mengeluarkan suara kecil. Seolah-olah sedang menertawakan Julian. Julian menoleh kepadanya. “Jangan berpihak kepada Kak Elena.” Lunara hanya memalingkan wajah. Elena langsung tertawa. “Bahkan Lunara tidak membelamu.” Dari ujung meja, Scarlet tersenyum sambil menuangkan teh. “Biarkan saja. Selama dia tidak masuk hutan terlalu dalam sebelum sarapan.” Julian menarik kursi. “Aku tidak pergi jauh.” Damir yang sejak tadi membaca laporan di sisi lain meja mengangkat pandangan. “Berapa lama?” “Sekitar setengah jam.” “Sendirian?” “Dengan Lunara.” Damir kembali melihat laporannya. “Baik.” Elena menatap ayahnya. “Cuma begitu?” Damir mengangkat alis. “Haruskah aku memarahinya?” “Tidak.” “Kalau begitu?” Elena menghela napas. “Ayah terlalu santai.” Damir melipat laporan. “Dia sudah cukup tahu batas.” Julian menahan senyum. Scarlet menatap suaminya. “Dan jangan lupa kau juga pernah melakukan hal yang sama ketika kecil.” Damir diam. Elena langsung tersenyum lebar. “Nah.” Damir mengambil cangkir tehnya. “Itu tidak relevan.” “Berarti benar,” kata Elena. Julian akhirnya tertawa kecil. Suasana pagi itu sederhana. Tidak ada monster. Tidak ada ancaman. Tidak ada urusan bangsawan. Hanya keluarganya yang berdebat mengenai hal-hal kecil. Dan justru karena itulah Julian menyukai pagi seperti ini. Setelah sarapan, Julian menuju halaman belakang. Zero sudah berada di dekat pagar kandang. Kuda hitam itu berdiri dengan tenang, tubuh besarnya hampir membuat beberapa kuda lain terlihat lebih kecil. Begitu melihat Julian, Zero mengangkat kepala. “Selamat pagi.” Zero mendengus pelan. Julian membuka pagar. “Jangan membuat masalah.” Zero langsung berjalan keluar. Julian mengikutinya bersama Lunara. Mereka bertiga menuju lapangan latihan kecil di belakang kediaman. Beberapa bulan terakhir, perubahan pada tubuh Julian mulai terlihat. Ia masih anak berusia enam tahun. Tubuhnya belum besar. Namun stamina dan kekuatannya sudah jauh lebih baik dibandingkan beberapa waktu lalu. Yang paling penting, tubuhnya mulai mampu mengikuti keputusan yang dibuat pikirannya. Tidak sempurna. Masih jauh dari sempurna. Tetapi cukup untuk membuat latihan terasa berbeda. Julian mengambil pedang kayu. Damir sudah menunggu di tengah lapangan. “Mulai.” Tidak ada penjelasan panjang. Julian bergerak. Satu langkah. Dua. Pedang kayu di tangannya melesat menuju bahu Damir. Damir menahan. Julian langsung mengubah arah. Serangan kedua datang dari sisi berbeda. Damir memutar tubuh dan kembali menangkis. Julian mundur satu langkah. Napasnya masih teratur. Dulu, setelah beberapa rangkaian gerakan seperti itu, tubuhnya akan segera kehilangan tenaga. Sekarang tidak. Damir memperhatikannya dengan saksama. “Lebih baik.” Julian tersenyum tipis. “Terima kasih.” “Jangan senang dulu.” Julian langsung kembali memasang posisi. Damir menyerang. Kali ini Julian yang harus bertahan. Pedang kayu bertemu. Tak. Tak. Tak. Julian bergerak mundur, lalu memanfaatkan sudut lapangan untuk mengubah posisi. Damir mengejar. Julian memutar tubuh dan mencoba keluar dari jangkauan. Namun Damir berhenti tepat sebelum pedangnya mengenai Julian. “Cukup.” Julian menurunkan pedangnya. Napasnya sedikit berat. Damir melihatnya beberapa detik. “Tubuhmu sudah mulai terbiasa.” Julian mengusap keringat di dahinya. “Masih terasa berat.” “Memang.” Damir berjalan melewatinya. “Jangan mengejar hasil terlalu cepat.” Julian mengikuti. “Berapa lama sampai aku bisa menggunakan seluruh kemampuanku?” Damir berhenti. Pertanyaan itu membuatnya menoleh. “Tidak ada angka yang pasti.” “Kenapa?” “Karena tubuh manusia bukan senjata yang bisa diperbaiki hanya dengan mengganti satu bagian.” Julian diam. Damir melanjutkan. “Yang kau butuhkan bukan memaksa tubuhmu menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Kau perlu membuat tubuhmu mampu mengikuti kemampuanmu.” Julian memandang tangannya. Ia mengerti maksudnya. “Jadi terus berlatih.” “Bukan hanya berlatih.” Damir menunjuk dadanya sendiri. “Tidur.” Kemudian menunjuk kepala Julian. “Makan dengan baik.” Lalu menunjuk lapangan. “Dan berlatih dengan benar.” Julian tersenyum. “Baik.” Damir berjalan pergi. “Dan jangan lupa mandi.” Julian berhenti. Ia melihat pakaiannya yang kembali terkena tanah. Dari kejauhan, Elena yang baru keluar dari pintu belakang langsung berteriak. “AKU SUDAH BILANG!” Julian menghela napas. Lunara menutup matanya sebentar. Zero mendengus. Pagi itu berjalan seperti biasanya. Namun menjelang siang, suasana di estate berubah sedikit. Seorang penjaga datang dari gerbang luar. Ia membawa laporan dari para pengintai yang dikirim Damir beberapa hari sebelumnya. Damir membacanya di ruang kerja. Scarlet sedang berada di sana. Edmund berdiri di samping rak buku dengan kedua tangan bertumpu pada tongkatnya. Julian kebetulan sedang membawa sebuah buku ke perpustakaan ketika pintu ruang kerja terbuka. Edmund melihatnya. “Tuan Muda.” Julian berhenti. “Apakah ada sesuatu?” Edmund tersenyum tipis. “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Jawaban itu justru membuat Julian semakin penasaran. Damir muncul dari dalam ruangan. “Julian.” “Ya, Ayah?” “Kemarilah.” Julian masuk. Di atas meja terdapat sebuah peta wilayah sekitar Varell Estate. Ada beberapa tanda kecil di bagian timur hutan. Julian mengenali daerah itu. “Jejak monster?” Damir mengangguk. “Para pengintai kembali.” Julian mendekati meja. “Menemukan sesuatu?” “Beberapa hal.” Damir menunjuk peta. “Monster memang bergerak lebih sering ke arah timur.” “Karena sesuatu?” “Belum tentu.” Damir mengambil satu lembar laporan. “Tidak ditemukan sarang besar. Tidak ada tanda aktivitas monster tingkat tinggi. Tidak ada dungeon baru.” Julian memperhatikan tanda di peta. “Jadi mereka hanya berpindah?” “Untuk sementara, itu dugaan paling masuk akal.” Scarlet menyilangkan tangan. “Bisa jadi karena musim.” Edmund mengangguk. “Beberapa spesies monster memang berpindah wilayah ketika sumber makanan berubah.” Julian mengangguk pelan. Masuk akal. Tidak semua perubahan harus berarti ancaman. Damir melipat laporan. “Untuk sementara, patroli akan diperketat di bagian timur.” “Dan hutan?” “Masih aman untuk wilayah dekat estate.” Damir menatap Julian. “Tetapi kau tetap tidak boleh pergi terlalu jauh.” Julian tersenyum. “Saya mengerti.” Scarlet langsung menyela. “Dan jangan membawa Zero terlalu jauh.” Julian menoleh. “Kenapa Zero?” “Karena kalau dia tiba-tiba berlari mengejar sesuatu, kau pasti ikut.” Julian melihat ke arah jendela. Seolah-olah Zero bisa mendengar pembicaraan itu dari luar. “Itu mungkin.” Scarlet tertawa. “Lihat?” Damir menghela napas kecil. “Setidaknya dia jujur.” Percakapan itu berakhir tanpa kejadian besar. Tidak ada alarm. Tidak ada monster menyerang estate. Tidak ada pasukan yang datang. Dan justru itu yang Julian sukai. Dunia tetap berjalan tanpa harus selalu memberikan jawaban. Sore harinya, Julian kembali ke halaman. Kali ini ia tidak membawa pedang. Ia hanya membawa busur dan beberapa anak panah untuk latihan memanah. Zero berdiri di dekat pohon. Lunara berbaring di bawah bayangannya. Julian memasang anak panah. Tarik. Lepas. Anak panah menancap di bagian tengah target. Tidak tepat di pusat. Julian mengambil anak panah berikutnya. Tarik. Lepas. Kali ini lebih dekat. Zero mengangkat kepala. “Kau juga mau mencoba?” Zero mendengus. Julian tertawa kecil. “Baiklah. Mungkin lain kali.” Ia mengambil anak panah ketiga. Namun sebelum menembak, ia merasakan sesuatu. Sangat samar. Bukan suara. Bukan gerakan. Hanya sensasi tipis di udara. Julian menurunkan busurnya. Ia memejamkan mata. Angin bergerak dari arah pepohonan. Daun bergesekan. Mana. Ia belum benar-benar bisa melihatnya. Belum bisa mengendalikannya. Tetapi kali ini... Ia merasakan sesuatu. Samar sekali. Seperti hangat yang melewati kulit. Julian membuka mata. Lunara berdiri. Telinganya bergerak. Julian menatapnya. “Kau juga merasakannya?” Lunara tidak menjawab. Ia hanya menatap pepohonan. Julian memandang ke arah yang sama. Tidak ada apa-apa. Beberapa detik berlalu. Kemudian Lunara kembali duduk. Julian menghela napas. Mungkin hanya angin. Atau mungkin bukan. Ia tidak mengejarnya. Ia kembali mengangkat busur. Tarik. Lepas. Anak panah menancap tepat di tengah target. Julian tersenyum. “Lumayan.” Dari kejauhan, Damir memperhatikan dari balkon lantai dua. Edmund berdiri di sampingnya. “Dia mulai merasakannya,” kata Edmund. Damir mengangguk. “Sedikit.” “Apakah Anda akan mengajarinya?” “Belum.” Edmund menoleh. “Kenapa?” Damir memandang Julian yang masih berlatih. “Karena dia baru mulai menemukan jalannya sendiri.” Edmund tersenyum tipis. “Keputusan yang bijaksana.” Damir tidak menjawab. Di bawah sana, Julian kembali mengambil anak panah. Satu demi satu. Tanpa terburu-buru. Tanpa memikirkan seberapa kuat dirinya kelak. Untuk hari itu, cukup baginya mengetahui bahwa tubuhnya semakin kuat, Lunara masih berada di sisinya, Zero memilih tetap dekat dengannya, dan keluarganya masih ada di rumah. Hal-hal kecil. Namun justru hal-hal kecil itulah yang membuat sebuah kehidupan terasa nyata. Dan untuk pertama kalinya, Julian mulai memahami bahwa kehidupan yang ingin ia jalani tidak harus ditemukan sekaligus. Mungkin kehidupan itu dibangun sedikit demi sedikit. Hari demi hari. Pilihan demi pilihan. Julian menarik tali busurnya lagi. Kemudian melepaskannya. Tak. Anak panah berikutnya tepat mengenai pusat target.

End of Chapter 18