Chapter 17 of 75

Chapter 17 — Hari yang Tidak Direncanakan

1.1k words

Dua hari setelah perjalanan terakhir ke hutan, Julian tidak pergi ke mana-mana. Bukan karena dilarang. Ia hanya memilih tinggal di rumah. Pagi itu, halaman belakang Varell Estate dipenuhi suara orang bekerja. Beberapa penjaga sedang memperbaiki pagar, pelayan membawa tanaman baru, sementara para pekerja kandang sibuk membersihkan area tempat Zero biasa berdiri. Julian duduk di bawah pohon sambil membaca buku. Lunara tidur di dekat kakinya. Zero berdiri beberapa meter dari sana. Sesekali kuda itu menoleh ke arah Julian untuk memastikan anak itu masih berada di tempat yang sama. Julian membalik halaman. “Tidak perlu terus melihatku.” Zero mengibaskan telinganya. “Aku tidak akan pergi.” Zero kembali menghadap ke depan. Julian tersenyum kecil. Ia melanjutkan membaca. Buku yang ada di tangannya bukan tentang Mana atau monster. Melainkan sejarah Valdoria. Ia baru membaca beberapa halaman ketika sebuah bayangan jatuh di atas bukunya. Julian mengangkat kepala. Elena berdiri di depannya. “Kau sibuk?” “Sedikit.” “Bagus.” Elena langsung duduk di sampingnya. Julian menutup buku. “Kenapa?” “Aku bosan.” “Lalu?” “Aku ingin jalan-jalan.” Julian melihat langit. “Dengan saya?” “Iya.” “Ke mana?” Elena tersenyum. “Kota.” Julian sedikit mengernyit. “Lagi?” “Kenapa? Kau tidak suka kota?” “Saya suka.” “Kalau begitu tidak ada masalah.” Julian menghela napas. “Baik.” Elena langsung berdiri. “Aku akan bilang kepada Ibu!” Ia baru berjalan dua langkah sebelum Julian berkata, “Kak.” “Apa?” “Jangan pergi sendiri.” Elena berbalik. “Memangnya kenapa?” Julian menunjuk halaman. “Zero belum mengenal banyak orang. Kalau Kakak membawa dia, mungkin dia akan—” “Aku tidak akan membawa Zero.” Elena memotongnya. “Kita naik kereta.” “Oh.” Elena menyeringai. “Kau kira aku mau jalan kaki ke kota?” “Tidak.” “Wajahmu tadi seperti berharap aku membawa kuda.” Julian tersenyum. “Mungkin sedikit.” Elena mencubit pipinya. “Dasar.” Julian menepis tangannya dengan santai. “Kakak terlalu banyak bicara.” “Dan kau terlalu sedikit bicara.” “Seimbang.” Elena tertawa. --- Menjelang siang, kereta keluarga Varell meninggalkan estate menuju kota terdekat. Scarlet ikut bersama mereka. Damir sebenarnya ingin ikut, tetapi ada beberapa urusan wilayah yang harus diselesaikan. Edmund juga tinggal di estate. Akibatnya, hanya Julian, Elena, Scarlet, dan dua pengawal yang pergi. Perjalanan berlangsung tenang. Elena duduk di seberang Julian. Ia tampak jauh lebih bersemangat daripada adiknya. “Kita harus membeli kain.” “Untuk apa?” “Baju.” “Kita masih punya banyak.” “Bukan untukmu.” Julian kembali membaca. Elena memandangnya. “Kenapa kau selalu membaca?” “Karena menarik.” Elena tersenyum. “Kalau begitu nanti kita cari buku juga.” Julian mengangguk. “Boleh.” Scarlet memperhatikan kedua anaknya dari samping. “Sudah lama kita tidak pergi seperti ini.” Julian menutup bukunya. “Memangnya biasanya Ibu pergi ke kota tanpa Ayah?” “Kadang.” Scarlet tersenyum. “Ayahmu lebih suka pekerjaannya daripada berbelanja.” Elena langsung menyela. “Bukan hanya berbelanja. Ayah bahkan tidak tahu warna apa yang cocok untuk pakaiannya sendiri.” Julian menahan tawa. “Itu benar.” Scarlet ikut tertawa. “Jangan bilang kepadanya.” “Ayah ada di rumah.” “Justru itu.” Kereta terus melaju. Beberapa jam kemudian, mereka tiba di Elaris. Kota yang pernah Julian kunjungi sebelumnya. Namun kali ini suasananya lebih ramai. Ada pedagang dari berbagai wilayah. Beberapa peti besar diturunkan dari kereta. Seorang pria membawa dua kristal Mana berwarna biru menuju sebuah bangunan batu dengan lambang timbangan emas. Julian sempat memperhatikannya. Di atas bangunan tertulis: Auremont Banking Union. Ia pernah mendengar nama itu dari buku tentang perdagangan. Keluarga Auremont. Salah satu keluarga bangsawan besar yang menguasai banyak aktivitas perbankan dan perdagangan di Valdoria. Julian tidak berhenti. Mereka hanya melewati bangunan tersebut. Tidak ada alasan untuk masuk. Setidaknya belum. --- Tujuan pertama mereka adalah pasar kain. Elena memilih beberapa bahan. Scarlet memeriksa kualitasnya. Julian berdiri di samping sambil memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang. Seorang pedagang tua sedang berdebat dengan pembeli. Seorang anak kecil mengejar ayam. Dua petualang sedang membawa hasil buruan. Seorang Beastfolk membantu pemilik toko mengangkat peti. Semua berlangsung begitu biasa. Julian tersenyum kecil. “Kenapa kau tersenyum?” Elena bertanya. “Tidak apa-apa.” “Pasti ada sesuatu.” “Tidak.” Elena menyipitkan mata. Julian kembali melihat keramaian. Tidak ada yang luar biasa. Justru itu yang menarik. Ia suka tempat seperti ini. Setelah selesai membeli kain, mereka pergi ke toko buku. Julian langsung berjalan menuju bagian sejarah. Elena memandangnya. “Kau benar-benar suka buku.” “Lumayan.” “Lumayan katanya.” Scarlet tertawa kecil. “Biarkan saja. Selama dia mau membaca.” Julian mengambil sebuah buku tentang lima kerajaan Aetheria. Ia membukanya. Beberapa halaman menjelaskan hubungan antara Valdoria dan kerajaan-kerajaan lain. Eldravia mengirim para peneliti. Roderick menjalin kerja sama militer. Sylvarin menjadi sumber berbagai bahan alami. Dravencross memasok senjata dan Mana Crystal. Meridia menguasai jalur laut. Julian membaca dengan teliti. Aetheria ternyata jauh lebih terhubung daripada yang ia kira. Tidak ada satu kerajaan yang benar-benar berdiri sendiri. Setiap wilayah membutuhkan wilayah lainnya. Ia memasukkan buku itu ke dalam keranjang. “Aku mau ini.” Elena melihat harganya. “Serius?” “Ya.” “Bukunya tebal.” “Tidak masalah.” Scarlet tersenyum. “Ambil saja.” --- Saat mereka keluar dari toko buku, suara gaduh terdengar dari jalan utama. Beberapa orang berlari menuju arah yang sama. Elena langsung penasaran. “Ada apa?” Salah satu pengawal mendekati mereka. “Sepertinya ada kecelakaan di jalan depan.” Scarlet mengangguk. “Kita lewat jalan lain.” Namun Julian sudah melihat sesuatu. Di kejauhan, sebuah kereta barang berhenti miring. Satu roda rusak. Beberapa peti terjatuh. Orang-orang sedang membantu seorang kusir. Julian tidak melihat darah atau luka serius. Ia menghela napas lega. “Sepertinya tidak parah.” Elena melihatnya. “Kau ingin melihat?” “Tidak.” “Benar?” Julian mengangguk. “Kita bukan petugas kota.” Mereka melanjutkan perjalanan. Namun sebelum naik kereta, Julian sempat melihat lambang di salah satu peti yang jatuh. Timbangan emas. Auremont. Ia hanya mengingatnya. Tidak lebih. --- Menjelang sore, keluarga Varell kembali ke estate. Julian membawa dua buku baru. Elena membawa beberapa kain. Scarlet membawa berbagai bahan makanan. Dan ketika mereka memasuki halaman, Zero langsung mendekat. Elena turun dari kereta. “Dia menunggu Julian lagi.” Julian turun setelahnya. Zero mendekat dan menundukkan kepala. Julian mengusap lehernya. “Aku hanya pergi sebentar.” Zero mendengus. “Aku tahu.” Elena menyilangkan tangan. “Dia benar-benar menganggapmu akan selalu kembali.” Julian terdiam sebentar. Kemudian tersenyum. “Semoga begitu.” Ia membawa buku-bukunya ke dalam rumah. Namun sebelum masuk, Julian menoleh ke belakang. Lunara sedang berjalan menuju Zero. Keduanya kemudian mengikuti Julian dari belakang. Sore itu berlalu tanpa kejadian besar. Tidak ada monster. Tidak ada pertempuran. Tidak ada masalah keluarga. Hanya perjalanan singkat ke kota dan beberapa buku baru. Bagi Julian, hari seperti itu sudah cukup. Malamnya, ia membuka buku sejarah yang baru dibelinya. Di salah satu halaman terdapat peta besar Aetheria. Julian memperhatikan garis-garis wilayahnya. Valdoria. Eldravia. Roderick. Sylvarin. Dravencross. Meridia. Dunia ini ternyata luas. Sangat luas. Julian mengambil pena. Di sudut halaman, ia menulis kecil: Suatu hari nanti, aku ingin melihat semuanya. Ia menutup buku. Di luar jendela, suara Zero terdengar samar. Julian memandang keluar. Lalu mematikan lampu. Besok, latihan akan kembali dimulai. Dan untuk sementara, itu sudah cukup.

End of Chapter 17