Chapter 16 of 75

Chapter 16 — Jalan yang Dipilih

1.0k words

Pagi itu, hutan di belakang Varell Estate terlihat lebih cerah dari biasanya. Cahaya matahari menembus sela-sela pepohonan dan jatuh dalam garis-garis tipis ke tanah. Kabut pagi masih menggantung rendah di beberapa tempat. Julian berdiri di depan kandang dengan busur di punggung. Lunara sudah menunggunya. Zero juga. Kuda hitam itu berdiri di belakang pagar dengan kepala sedikit menunduk. Begitu Julian membuka pintu kandang, Zero langsung keluar. “Pagi.” Zero mendengus. Julian mengusap lehernya. “Hari ini kita masuk sedikit lebih dalam.” Dari belakang terdengar suara. “Sedikit?” Julian menoleh. Damir berdiri di dekat pintu kandang. Julian tersenyum kecil. “Tidak terlalu dalam.” “Bagian mana?” “Daerah yang biasanya saya gunakan untuk berburu.” Damir mengangguk. “Jangan melewati sungai kecil.” “Saya ingat.” “Kalau menemukan jejak monster yang tidak biasa, jangan dikejar.” “Saya juga ingat.” Damir menatap Zero. “Dan jangan menungganginya.” Julian tertawa. “Saya belum berniat.” “Bagus.” Damir kemudian menyerahkan sebuah pisau kecil kepada Julian. Bukan senjata utama. Hanya perlengkapan sederhana untuk kegiatan di hutan. “Kalau ada masalah, kembali.” Julian menerima benda itu. “Baik.” Lunara berjalan lebih dulu. Julian menyusul. Zero mengikuti dari belakang. --- Mereka berjalan selama hampir setengah jam. Bagian hutan yang biasa didatangi Julian terasa familiar. Ada pohon tua yang batangnya bengkok. Ada sungai kecil yang biasa digunakan hewan untuk minum. Ada beberapa semak berry yang sering menjadi tempat Lunara mencari makanan. Julian berhenti ketika melihat jejak kaki kecil di tanah. “Rusa.” Lunara langsung mengangkat kepala. Julian menunjuk ke arah kiri. “Di sana.” Lunara bergerak tanpa suara. Zero tetap berdiri. Julian tersenyum. “Kau tunggu di sini.” Zero tidak bergerak. Julian mengambil busurnya. Ia berjalan perlahan. Beberapa puluh meter kemudian, ia melihat dua ekor rusa sedang mencari makanan. Julian menarik anak panah. Menunggu. Angin bergerak dari arah yang tepat. Ia menarik tali busur sedikit lebih jauh. Kemudian— Fuut. Anak panah melesat. Salah satu rusa jatuh. Yang satunya langsung berlari. Lunara mengejar beberapa langkah, lalu berhenti ketika Julian bersiul. “Biarkan.” Lunara kembali. Julian berjalan menuju hasil buruannya. Ia mengurusnya dengan cepat dan kemudian kembali ke tempat Zero menunggu. Zero mendekat. Julian menyentuh lehernya. “Bagaimana?” Zero mendengus. “Tidak ada komentar?” Kuda itu mengibaskan ekornya. Julian tertawa kecil. Mereka melanjutkan perjalanan. Kali ini Julian membiarkan Zero berjalan lebih dekat. Beberapa kali Zero berhenti untuk mencium tanah atau dedaunan. Julian tidak memaksanya. Ia hanya menunggu. Ternyata Zero cukup peka terhadap lingkungan. Sesekali telinganya bergerak ke arah tertentu bahkan sebelum Julian mendengar sesuatu. Hal itu membuat Julian mulai memperhatikannya. Tidak lama kemudian Zero berhenti total. Julian ikut berhenti. Lunara menoleh. Hutan mendadak terasa lebih sunyi. Julian mengangkat tangan. Lunara merendahkan tubuh. Zero mengangkat kepala. Beberapa detik kemudian terdengar suara dari balik semak. Grrr... Julian menarik busurnya. Tiga ekor monster muncul. Bentuknya menyerupai serigala, tetapi tubuh mereka lebih besar daripada yang pernah Julian temui sebelumnya. Bulu mereka abu-abu gelap. Mata mereka berwarna kuning. Lunara menggeram pelan. Julian tidak mundur. Ia memperhatikan. Tiga. Jarak sekitar tiga puluh meter. Yang paling depan lebih besar. Dua lainnya sedikit menyebar. “Mereka bukan dari kelompok yang kemarin.” Zero menghentakkan satu kaki. Monster terbesar bergerak maju. Julian menarik busur. Fuut! Anak panah pertama mengenai tanah di depan monster tersebut. Bukan untuk melukainya. Monster itu terkejut dan berhenti. Anak panah kedua melesat. Kali ini tepat mengenai kaki depan. Monster itu jatuh. Dua lainnya langsung bergerak dari sisi berbeda. Julian mundur. Lunara melompat ke samping. Salah satu monster mencoba mendekat. Julian mengambil pedang pendek yang dibawanya sebagai cadangan dan menahannya. Tak! Benturan membuat tangan Julian bergetar. Monster itu lebih kuat dari yang diperkirakan. Julian memutar tubuh dan menghindari serangan berikutnya. Ia tidak mengejar. Tidak perlu. Monster kedua mencoba menyerang dari belakang. Namun Zero bergerak. Kuda itu maju satu langkah dan menghentakkan kakinya. Monster tersebut berhenti mendadak. Julian memanfaatkan celah itu. Satu serangan. Monster mundur. Lunara kemudian melompat dan membuat monster tersebut kehilangan keseimbangan. Julian menyelesaikan pertarungan dengan cepat. Monster terakhir melihat kedua rekannya jatuh. Ia tidak menyerang. Ia mundur. Kemudian berbalik dan lari. Julian tidak mengejarnya. Ia memasukkan kembali pedangnya. “Biarkan.” Lunara duduk. Zero berdiri beberapa meter darinya. Julian melihat kedua monster yang sudah tidak bergerak. Ia tidak merasa puas. Tidak juga merasa takut. Ia hanya menghela napas. “Sepertinya daerah ini mulai berubah.” Lunara mengendus tanah. Zero juga. Julian memperhatikan sekeliling. Tidak ada jejak lain. Tidak ada suara. Tetapi ada sesuatu yang aneh. Monster-monster itu datang dari arah yang sama. Arah timur. Julian mengingat potongan sisik hitam yang pernah ia temukan. Ia tidak bergerak menuju sana. “Pulang.” Lunara langsung berdiri. Zero mengikuti. --- Perjalanan pulang berlangsung lebih tenang. Namun ketika mereka sampai di dekat sungai kecil, Zero tiba-tiba berhenti. Julian menoleh. “Ada apa?” Zero menatap permukaan sungai. Kemudian berjalan mendekat. Julian mengikuti. Air sungai terlihat jernih. Tidak ada yang aneh. Tetapi di antara batu-batu terdapat beberapa jejak kaki. Bukan milik monster serigala. Lebih besar. Dan jejak itu baru. Julian berjongkok. Ia menyentuh tanah di sampingnya. Masih lembap. Jejak tersebut menuju ke arah timur. Julian tidak mengejarnya. Ia hanya mengingat bentuknya. Lalu berdiri. “Ini cukup.” Zero menatapnya. “Kita pulang.” Mereka kembali berjalan. --- Ketika tiba di estate, Damir sudah menunggu. Tatapannya langsung tertuju kepada Julian. “Kau menemukan sesuatu?” Julian mengangguk. “Tiga monster serigala menyerang kami.” Damir langsung memperhatikan tubuh putranya. “Ada luka?” “Tidak.” “Lunara?” “Tidak.” “Zero?” Julian menoleh. Kuda itu berdiri dengan tenang. “Tidak.” Damir mengangguk. “Bagus.” Julian kemudian menjelaskan tentang jejak kaki di dekat sungai. Damir menjadi lebih serius. “Bentuknya?” Julian menjelaskan sebisanya. Damir mendengarkan tanpa memotong. Setelah selesai, ia berkata, “Besok aku akan meminta penjaga memeriksanya.” “Saya juga berpikir begitu.” Damir mengusap kepala Julian. “Untuk hari ini, cukup.” Julian mengangguk. Kemudian Damir memperhatikan Zero. “Dan kau.” Zero menatapnya. “Terima kasih sudah menjaga Julian.” Julian menoleh. Zero hanya mendengus. Damir berjalan masuk. Julian tersenyum. “Sepertinya Ayah mulai menyukaimu.” Zero mengibaskan ekornya. “Jangan sombong.” Lunara berjalan melewati keduanya. Julian mengikuti. Sore itu, mereka bertiga kembali ke halaman belakang. Julian membersihkan busurnya. Lunara tidur di bawah pohon. Zero berdiri tidak jauh dari mereka. Hari berburu yang sederhana telah selesai. Tidak ada kemenangan besar. Tidak ada penemuan yang mengubah dunia. Hanya tiga monster, beberapa jejak baru, dan satu perjalanan pulang. Tetapi bagi Julian, satu hal menjadi jelas. Hutan yang selama ini ia kenal perlahan berubah. Dan suatu saat nanti, ia mungkin harus mencari tahu alasannya. Namun bukan hari ini. Hari ini ia memilih pulang.

End of Chapter 16