Chapter 15 of 75

Chapter 15 — Zero

935 words

Pagi berikutnya, Julian kembali ke kandang. Namun kali ini ia tidak datang sendirian. Lunara berjalan di sebelah kirinya, sementara seekor kuda hitam mengikuti dari belakang tanpa perlu dipanggil. Beberapa penjaga yang sedang membersihkan kandang langsung memperhatikan mereka. “Selamat pagi, Tuan Muda.” “Pagi.” Julian berhenti di depan kuda hitam itu. Sudah beberapa hari ia memperhatikannya. Ia tahu kuda itu cepat. Ia tahu tubuhnya kuat. Ia tahu ia memiliki aliran Mana yang sedikit berbeda dari kuda biasa. Tetapi semua itu belum menjawab satu hal sederhana. Namanya. Julian mengusap lehernya. “Kau tidak bisa terus dipanggil ‘kuda hitam’.” Kuda itu mendengus. Salah seorang penjaga tersenyum. “Memang agak sulit kalau tidak punya nama.” Julian berpikir sebentar. Beberapa nama muncul di kepalanya. Tidak ada yang terasa cocok. Ia melihat pelana yang tergantung di dinding. Kemudian tali kekang. Beberapa potong armor kuda tersusun di rak. Semua benda itu pernah digunakan untuk mencoba menjadikan kuda tersebut seperti kuda-kuda lainnya. Namun tidak ada yang berhasil. Kuda itu tidak mau. Bukan karena ia tidak mampu. Ia hanya tidak memilihnya. Julian kembali menatap matanya. “Zero.” Kuda itu mengangkat kepala. Julian tersenyum kecil. “Bagaimana?” Kuda itu mendekat. Ujung hidungnya menyentuh bahu Julian. Salah seorang penjaga tertawa. “Sepertinya dia menyukainya.” Julian mengusap kepalanya. “Zero.” Kali ini kuda itu mendengus pelan. “Baiklah.” Julian menepuk lehernya. “Mulai sekarang namamu Zero.” Lunara yang berada di sampingnya tiba-tiba berjalan mendekat dan mengendus Zero. Zero menurunkan kepalanya. Keduanya saling memperhatikan beberapa detik. Kemudian Lunara berbalik dan berjalan pergi. Zero mengikutinya. Julian tertawa kecil. “Sepertinya kalian sudah sepakat.” --- Ketika mereka kembali ke rumah, Elena langsung menyambut dari tangga. “Kau pergi ke kandang?” “Ya.” “Dengan kuda itu?” “Namanya Zero sekarang.” Elena berhenti. “Zero?” Julian mengangguk. Elena memandang kuda tersebut. “Kenapa Zero?” Julian melihat Zero sebentar. “Karena dia tidak punya pelana.” Elena mengerutkan dahi. “Lalu?” “Tidak punya armor.” “Ya.” “Tidak punya tali kekang.” Elena mulai memahami arahnya. “Dan dia tidak mau diperintah?” “Benar.” Julian mengusap leher Zero. “Jadi untuk sekarang, dia tidak membawa apa-apa.” Elena terdiam. Kemudian tersenyum. “Zero.” Ia mendekati kuda itu. “Nama yang bagus.” Zero langsung memalingkan kepala. Elena berhenti. “Dia masih tidak mau disentuh.” Julian tertawa. “Jangan terburu-buru.” “Baiklah.” Elena mengangkat kedua tangan menyerah. “Aku tunggu sampai dia mau sendiri.” Scarlet yang baru keluar dari rumah mendengar percakapan itu. “Jadi akhirnya dia punya nama?” “Ya, Ibu.” “Zero?” Julian mengangguk. Scarlet tersenyum. “Kalau itu nama yang kau pilih, Ibu suka.” Damir datang beberapa saat kemudian. Ia melihat kuda tersebut. “Zero?” “Ya, Ayah.” Damir memperhatikan Zero. “Nama yang pendek.” “Lebih mudah dipanggil.” Damir mengangguk. “Bagus.” Lalu ia berjalan melewati mereka. Setelah beberapa langkah, Damir berhenti. “Dan jangan mencoba menungganginya sebelum dia siap.” Julian tersenyum. “Saya tidak akan.” Damir melanjutkan langkahnya. Edmund yang berdiri di dekat pintu memperhatikan pemandangan tersebut. “Sepertinya Tuan Muda mendapatkan anggota baru.” Julian menggeleng. “Bukan anggota.” Edmund mengangkat alis. “Lalu?” Julian melihat Zero. “Teman.” Edmund tersenyum. “Kalau begitu, saya rasa itu lebih tepat.” --- Beberapa jam kemudian, Julian kembali ke halaman latihan. Hari ini Damir yang menunggunya. Tidak ada pedang kayu. Tidak ada sasaran. Hanya area terbuka. “Latihan apa hari ini?” tanya Julian. “Berlari.” Julian memandang ayahnya. “Berlari?” “Ya.” “Sejauh?” “Tidak terlalu jauh.” Damir menunjuk jalur yang mengelilingi halaman. “Lima putaran.” Julian menghela napas. “Baik.” Ia mulai berlari. Putaran pertama terasa ringan. Kedua masih nyaman. Ketiga mulai terasa berat. Pada putaran keempat, napasnya mulai tidak teratur. Julian mengurangi kecepatan sedikit. Dulu, ia mungkin akan memaksa. Sekarang ia tahu tubuhnya belum siap. Ia menjaga ritme. Langkah demi langkah. Ketika menyelesaikan putaran kelima, Julian berhenti. Napasnya berat. Damir tidak mengatakan apa-apa. Julian membungkuk sedikit, menarik napas, kemudian berdiri kembali. “Tidak buruk.” “Tidak buruk?” Julian mengusap keringat dari dahinya. “Kau menyelesaikannya tanpa memaksakan tubuh.” “Berarti saya lulus?” “Tidak ada lulus atau gagal.” Damir berjalan mendekat. “Kita sedang membangun kemampuanmu sedikit demi sedikit.” Julian mengangguk. “Dimengerti.” Tiba-tiba terdengar suara langkah dari sisi halaman. Duk. Julian menoleh. Zero berdiri di sana. Damir melihatnya. “Dia lagi.” Julian tersenyum. “Sepertinya dia ingin melihat latihan.” “Biarkan.” Julian duduk sebentar di bawah pohon. Zero berjalan mendekat. Kuda itu berhenti tepat di depannya. Julian mengangkat tangan. Zero menundukkan kepala. Sentuhan singkat. Tidak ada pelana. Tidak ada tali. Tidak ada perintah. Hanya hubungan yang perlahan terbentuk. Julian berdiri. “Besok ikut denganku ke hutan.” Damir langsung menoleh. “Dengan Zero?” “Ya.” “Jangan terlalu jauh.” “Saya tahu.” Damir menatap putranya beberapa saat. “Kau mulai sering masuk hutan.” “Saya hanya berburu di bagian luar.” “Jangan mengejar monster.” “Saya tidak akan.” Damir mengangguk. “Bagus.” Julian berjalan menuju Zero. Ia berhenti di samping tubuh besar kuda itu. Untuk sesaat, ia melihat punggung Zero. Tinggi. Cukup tinggi untuk seorang anak seusianya. Namun Julian tidak mengambil pelana. Ia juga tidak mencoba naik. Ia hanya berjalan di sampingnya. Zero ikut berjalan. Lunara menyusul dari belakang. Tiga makhluk dengan tiga langkah yang berbeda. Namun entah bagaimana, mereka bergerak menuju arah yang sama. --- Malamnya, Julian duduk di kamarnya sambil menulis di buku catatan. Hari ini ia menulis beberapa hal. Latihan lari. Perkembangan tubuh. Pergerakan monster di hutan. Dan satu nama baru. Zero. Julian menutup buku. Dari jendela, ia bisa melihat halaman belakang. Zero berada di bawah pohon. Lunara tidur tidak jauh darinya. Julian membuka jendela sedikit. Angin malam masuk ke kamar. “Selamat malam, Zero.” Kuda itu mengangkat kepala. Julian tersenyum. Ia kemudian menutup jendela dan kembali ke tempat tidurnya. Di luar, Zero kembali menurunkan kepala. Malam di Varell Estate berjalan tenang. Namun mulai hari itu, ketika Julian pergi ke hutan, ia tidak lagi hanya membawa busur dan ditemani Lunara. Akan ada satu sosok lain yang berjalan bersamanya. Seekor kuda yang tidak membutuhkan pelana. Tidak membutuhkan tali. Tidak membutuhkan perintah. Zero hanya membutuhkan satu hal. Alasan untuk memilih ke mana ia ingin berjalan.

End of Chapter 15