Chapter 14 of 75

Chapter 14 — Teman yang Tidak Perlu Dipanggil

1.1k words

Sejak hari itu, ada satu pemandangan baru di Varell Estate. Seekor kuda hitam berjalan mengikuti Julian. Awalnya para penjaga kandang mengira kejadian itu hanya kebetulan. Hari pertama, kuda itu mengikuti Julian sampai halaman belakang. Hari kedua, ia menunggu di dekat pagar ketika Julian pergi berlatih. Hari ketiga, ketika Julian memasuki hutan bersama Lunara, kuda itu berdiri di depan gerbang kandang seolah menunggu sesuatu. Dan hari keempat— “Dia lagi.” Elena berdiri di dekat jendela ruang makan sambil melihat ke halaman. Julian yang sedang sarapan menoleh. “Apa?” Elena menunjuk keluar. Di sana, kuda hitam itu berdiri di bawah pohon. Lunara sedang tidur di dekat kakinya. Keduanya tampak sama sekali tidak peduli dengan dunia. Elena menghela napas. “Kenapa sekarang ada dua hewan aneh yang selalu menunggumu?” Julian menatap halaman. “Lunara bukan hewan aneh.” “Dia menatapku seperti sedang menilai apakah aku layak menjadi manusia.” Julian tertawa kecil. “Memang begitu sifatnya.” Elena memasang wajah tidak percaya. “Dan kuda itu?” “Dia hanya suka berjalan.” “Denganmu.” “Sepertinya.” Scarlet yang duduk di seberang meja tersenyum. “Kalau begitu mungkin dia menyukaimu.” Julian mengangkat bahu. “Mungkin.” Damir tetap makan dengan tenang. Namun setelah beberapa detik, ia berkata, “Namanya tetap belum ada.” Julian berhenti makan. Benar juga. Sudah hampir seminggu kuda itu mengikuti dirinya, tetapi tidak seorang pun memberinya nama. Elena langsung bersemangat. “Kalau begitu kita beri nama!” Julian langsung tahu ke mana arah percakapan ini. “Kak Elena...” “Apa?” “Jangan terlalu bersemangat.” “Kenapa?” “Terakhir kali Kakak memberi nama pada tanaman di kamarmu sendiri, tanaman itu mati tiga hari kemudian.” Scarlet menahan tawa. Elena menatap Julian. “Itu bukan karena namanya!” “Namanya apa?” Elena terdiam. Scarlet tersenyum. “Lihat? Bahkan ibumu juga lupa.” “Itu tidak penting!” Damir akhirnya ikut berbicara. “Kalau begitu jangan beri nama sembarangan.” Elena menunjuk ayahnya. “Kalau begitu Ayah saja yang memberi nama.” Damir langsung kembali makan. “Tidak.” “Kenapa?” “Karena aku tidak pandai memberi nama.” Julian hampir tertawa. Edmund yang berdiri di dekat pintu ikut berkata, “Duke Varell benar. Nama bukan keahlian beliau.” Damir melirik Edmund. “Terima kasih atas dukunganmu.” “Sama-sama.” Julian akhirnya tersenyum. Suasana meja makan kembali ramai. Hal sederhana seperti itu mulai menjadi sesuatu yang biasa di rumah Varell. Dan Julian tidak keberatan. --- Siang harinya, Julian kembali ke halaman. Kuda hitam itu langsung berjalan mendekat. Julian membawa beberapa apel. Ia mengangkat satu. Kuda tersebut mendekat dan mengambilnya dari tangannya. “Pelan.” Krunch. Apel langsung habis. Julian menatap kosong. “Kau tidak perlu menggigit tanganku juga.” Kuda itu mendengus. Lunara yang duduk di dekat pagar menatapnya. Julian mengambil apel kedua. Kuda itu mendekat lagi. “Yang ini terakhir.” Krunch. Habis. Julian menatap apel ketiga yang sebenarnya sudah ia sembunyikan di belakang tubuh. Kuda itu menatap tangannya. “Kau tahu, kan?” Kuda itu mengibaskan ekornya. Julian menghela napas. “Baik.” Ia memberikan apel terakhir. Dari kejauhan, kepala kandang melihat pemandangan itu sambil tersenyum. “Tuan Muda sudah dijinakkan.” Julian menoleh. “Siapa yang menjinakkan siapa?” Kepala kandang tertawa. “Itu saya juga belum tahu.” Setelah selesai makan, Julian berjalan menuju area latihan. Kuda itu mengikutinya. Namun kali ini Julian berhenti. “Kau tunggu di sini.” Kuda itu berhenti. Julian melangkah beberapa meter. Kuda itu tetap di tempat. Julian melanjutkan latihan bersama Edmund. Pedang kayu beradu. Tak! Julian bergerak menghindar. Langkahnya lebih ringan dibandingkan beberapa minggu sebelumnya. Tubuhnya mulai terbiasa. Bukan hanya menjadi lebih kuat. Koordinasinya mulai membaik. Ia tidak lagi memaksa gerakan dengan tenaga yang belum dimiliki tubuhnya. Edmund menyerang dari samping. Julian menggeser kaki. Menahan. Berputar. Kemudian mundur. “Bagus,” kata Edmund. Julian menarik napas. “Masih kurang cepat.” “Tidak perlu selalu cepat.” Edmund menyerang lagi. Julian menahan. “Yang Anda butuhkan sekarang adalah konsistensi.” Serangan berikutnya datang. Julian menghindar. Lalu menyerang balik. Ujung pedang kayunya berhenti tepat di depan bahu Edmund. Edmund mengangkat alis. “Lebih baik.” Julian menurunkan pedang. “Kali ini tubuh saya mengikuti.” “Ya.” Edmund tersenyum. “Itulah yang ingin kita lihat.” Dari belakang terdengar suara hentakan kaki. Duk. Julian menoleh. Kuda hitam itu berdiri di luar area latihan. “Dia menonton,” kata Julian. “Sepertinya begitu.” Kuda itu tiba-tiba meringkik. Edmund menatapnya. “Dia tampaknya tidak suka Anda dipukul.” Julian tertawa. “Padahal saya baik-baik saja.” Kuda itu kembali mendengus. Julian berjalan mendekat. Ia mengusap lehernya. “Kau tidak perlu khawatir.” Kuda itu menundukkan kepala. Untuk pertama kalinya, Julian memperhatikan sesuatu. Ada aliran Mana yang sangat tipis di sekitar tubuh kuda itu. Hampir tidak terlihat. Julian menyipitkan mata. Ia belum bisa merasakan Mana dengan jelas dari tubuhnya sendiri. Namun setelah beberapa waktu mempelajari dasar-dasarnya bersama Damir, ia mulai memahami sedikit sensasi yang berbeda dari lingkungan. Dan kuda ini... Mana di dalam tubuhnya terasa lebih padat daripada kuda biasa. “Menarik.” Edmund mendengar ucapan itu. “Ada sesuatu?” “Mana.” Edmund mendekat. “Mana?” Julian mengangguk. “Alirannya berbeda.” Edmund memperhatikan kuda tersebut. “Memang ada sedikit perbedaan.” “Apakah semua kuda seperti ini?” “Tidak.” Edmund mengusap dagunya. “Sebagian besar hewan memiliki Mana dalam jumlah kecil. Tetapi beberapa makhluk memiliki kapasitas lebih besar sejak lahir.” Julian memandang kuda tersebut. “Jadi dia istimewa?” “Mungkin.” Edmund menatap kuda itu beberapa saat. “Namun jangan langsung mencoba apa pun.” Julian mengangguk. “Saya tidak akan.” Ia kembali mengusap leher kuda itu. Untuk saat ini, ia hanya ingin mengenalnya. Tidak lebih. --- Sore mulai turun ketika Julian membawa Lunara berjalan ke tepi hutan. Kuda hitam itu kembali mengikuti. Namun kali ini ia tidak berhenti di gerbang. Ia masuk beberapa langkah ke dalam hutan. Julian menoleh. “Kau yakin?” Kuda itu terus berjalan. Lunara meliriknya, kemudian melanjutkan langkah. Akhirnya mereka bertiga berjalan bersama. Tidak ada pelana. Tidak ada tali. Tidak ada perintah. Hanya langkah yang mengikuti langkah lainnya. Mereka berhenti di sebuah lapangan kecil yang dikelilingi pepohonan. Julian duduk di atas akar pohon. Lunara berbaring di dekatnya. Kuda itu berdiri beberapa meter di depan. Julian mengeluarkan buku kecilnya. Ia menulis beberapa catatan. Tentang latihan. Tentang hutan. Tentang Lunara. Lalu ia berhenti. Ia melihat kuda hitam itu. Nama. Julian memang harus memberinya nama suatu hari nanti. Namun ia tidak ingin terburu-buru. Nama bukan sesuatu yang perlu diberikan hanya karena orang lain merasa seekor makhluk harus memilikinya. Ia menutup buku. “Kita pikirkan nanti.” Kuda itu mengangkat kepala. Julian tersenyum. “Untuk sekarang, kau boleh tetap tanpa nama.” Kuda itu berjalan mendekat. Kemudian berdiri tepat di sampingnya. Julian mengusap bagian samping lehernya. “Kalau suatu hari kau memilih nama yang cocok, mungkin aku akan menemukannya.” Angin sore melewati pepohonan. Lunara membuka mata sebentar. Kuda itu berdiri tenang. Julian memandang mereka berdua. Kemudian ia menyandarkan tubuhnya pada akar pohon. “Besok kita latihan lagi.” Kuda itu mendengus pelan. Julian tersenyum. “Ya. Kau juga.” Untuk pertama kalinya, hutan di belakang Varell Estate tidak terasa seperti tempat yang hanya digunakan untuk berburu. Ada Lunara. Sekarang ada pula seekor kuda yang memilih berjalan bersamanya. Dan tanpa Julian sadari, kehidupan kecil yang perlahan terbentuk di sekelilingnya mulai membuat Varell Estate terasa semakin seperti rumah.

End of Chapter 14