Chapter 13 of 75

Chapter 13 — Kuda yang Tidak Mau Ditunggangi

973 words

Beberapa hari setelah penyelidikan di hutan selesai, kehidupan di Varell Estate kembali berjalan seperti biasa. Tidak ada serangan monster. Tidak ada tamu penting. Tidak ada kabar buruk dari kota. Bagi sebagian orang, keadaan seperti itu mungkin terasa membosankan. Bagi Julian, justru sebaliknya. Pagi itu ia sedang berada di area kandang kuda. Lunara berjalan santai di sampingnya, sesekali mengendus tanah yang basah oleh hujan malam. Julian sebenarnya datang untuk mengambil kuda yang biasa digunakan keluarga ketika bepergian. Namun sebelum sampai ke kandang utama, ia mendengar suara gaduh. HIIIIIH! Disusul suara seseorang berteriak. “Pegang talinya!” “Aku sudah memegangnya!” “Jangan berdiri di depannya!” Julian menghentikan langkah. Lunara ikut berhenti. Dari balik pagar kayu, terlihat tiga orang penjaga kandang sedang berusaha menghadapi seekor kuda berwarna hitam pekat. Kuda itu jauh lebih besar dibandingkan kuda-kuda lain di sekitarnya. Tubuhnya tinggi dan kokoh, dengan kaki panjang serta leher yang kuat. Yang paling menarik perhatian Julian bukan penampilannya. Melainkan ekspresinya. Kuda itu tampak benar-benar tidak tertarik bekerja sama. Seorang penjaga mencoba memasang tali kekang. Kuda itu mengangkat kepala. Penjaga tersebut langsung mundur. “Lihat?” katanya kepada rekannya. “Dia bahkan tidak mau disentuh.” “Sudah berapa lama seperti ini?” “Sejak dulu.” Julian mendekat. Salah seorang penjaga langsung membungkuk. “Tuan Muda.” “Apa yang terjadi?” “Ini kuda yang paling merepotkan di seluruh kandang.” Julian memandang kuda tersebut. “Namanya?” “Belum ada, Tuan Muda.” “Belum ada?” “Tidak ada yang pernah berhasil menungganginya cukup lama untuk memberinya nama.” Julian sedikit mengangkat alis. “Bukankah dia bisa digunakan untuk menarik kereta?” “Tidak mau.” “Diberi makan?” “Mau.” “Dibersihkan?” “Kadang-kadang.” “Diberi pelana?” Kepala penjaga menggeleng. “Langsung ditendang.” Julian menatap kuda itu. Kuda tersebut membalas tatapannya. Beberapa detik berlalu. Lunara maju satu langkah. Kuda itu langsung mengarahkan telinganya kepada Moon Lynx tersebut. Lunara tidak takut. Ia hanya berdiri di samping Julian. “Dia tidak takut pada Lunara,” kata Julian. “Tidak, Tuan Muda. Justru kami tidak pernah melihat dia bereaksi seperti itu kepada orang lain.” Julian membuka pagar kecil. “Tuan Muda—” “Saya hanya ingin mendekat.” Kepala kandang terlihat ragu. “Lebih baik hati-hati.” Julian mengangguk. Ia tidak membawa tali. Tidak membawa pelana. Tidak membawa makanan. Ia hanya berjalan mendekati kuda tersebut. Satu langkah. Dua langkah. Kuda itu mulai mengangkat kepalanya. Julian berhenti. Ia tidak memaksakan jarak. Kuda tersebut menatapnya. Julian mengulurkan tangan. Tidak sampai menyentuh. Hanya membiarkannya berada di sana. Kuda itu mendengus. Lalu maju. Satu langkah. Kemudian satu lagi. Ujung hidungnya menyentuh telapak tangan Julian. Julian tersenyum kecil. “Begitu rupanya.” Kuda itu mengembuskan napas panjang. Lunara duduk di belakang Julian, mengamati mereka. Kepala kandang sampai tidak bisa berkata-kata. “Dia... membiarkan Tuan Muda menyentuhnya.” Julian mengusap bagian depan kepalanya perlahan. Kuda itu tidak menolak. “Kenapa kalian terus mencoba menungganginya?” Kepala kandang terdiam. “Karena... dia terlalu bagus untuk dibiarkan begitu saja.” Julian melihat tubuh kuda tersebut. “Seberapa bagus?” “Yang tercepat di sini.” Kepala kandang menunjuk kandang sebelah. “Dia juga paling kuat. Kalau mau berlari, tidak ada kuda lain yang mampu mengejarnya.” “Lalu kenapa disebut merepotkan?” “Karena dia tidak mau menjadi kuda yang kami inginkan.” Julian menatapnya. Kalimat itu cukup menarik. “Dia tidak mau?” “Tidak.” Kepala kandang menghela napas. “Dia menolak pelana, menolak ditunggangi, dan hampir tidak pernah mengikuti perintah. Kalau dipaksa, dia akan melawan.” Julian kembali menatap kuda itu. Kuda tersebut berdiri tenang. Seolah tidak peduli dengan percakapan mereka. “Kalau begitu jangan paksa.” Kepala kandang terkejut. “Tuan Muda?” “Kalau dia tidak mau ditunggangi, jangan ditunggangi.” “Tapi—” “Dia masih bisa berlari.” “Ya.” “Masih sehat?” “Sehat.” “Masih mau makan?” “Selalu.” “Berarti dia tidak bermasalah.” Kepala kandang membuka mulut, tetapi tidak menemukan jawaban. Julian mengusap leher kuda itu sekali lagi. “Tidak semua sesuatu yang sulit dikendalikan harus diperbaiki.” Kuda tersebut tiba-tiba mendekat dan mendorong bahu Julian dengan kepalanya. Julian hampir kehilangan keseimbangan. “Whoa.” Lunara mengeluarkan suara kecil. Kepala kandang langsung panik. “Tuan Muda!” “Tidak apa-apa.” Julian tertawa kecil. Kuda itu kembali berdiri tenang. Julian memperhatikannya beberapa saat. “Dia lucu.” “Lucu?” “Sedikit.” Kepala kandang tampak tidak yakin apakah dirinya boleh tertawa. Dari belakang terdengar suara lain. “Julian?” Julian menoleh. Damir berjalan menuju kandang bersama Edmund. “Ayah.” Damir melihat kuda hitam tersebut. Lalu melihat Julian. “Jangan bilang kau ingin menungganginya.” “Belum.” “Bagus.” Damir berjalan mendekat. Kuda itu langsung memperhatikan sang Duke. Berbeda dengan Julian, Damir tidak mencoba menyentuhnya. Ia hanya berdiri. Kuda itu mendengus. “Masih sama,” kata Damir. “Sudah lama?” “Sejak pertama kali dibawa ke sini.” Julian menatap ayahnya. “Dari mana?” “Peternakan di wilayah utara. Mereka hampir menjualnya sebagai kuda biasa, tetapi salah satu prajurit melihat kemampuannya.” “Kenapa tidak dikembalikan?” Damir tersenyum tipis. “Karena tidak ada yang mau membelinya setelah tahu sifatnya.” Julian tertawa kecil. “Kasihan.” “Menurutku dia baik-baik saja.” Damir melirik putranya. “Jangan terlalu dekat sampai kau benar-benar mengenalnya.” “Saya mengerti.” Damir kemudian berkata kepada kepala kandang, “Biarkan dia tetap di sini. Jangan dipaksa.” “Baik, Yang Mulia.” Julian memandang kuda itu lagi. Entah kenapa, ia merasa kuda tersebut berbeda. Bukan karena kekuatannya. Bukan karena kecepatannya. Tetapi karena cara hewan itu mempertahankan pilihannya sendiri. Julian akhirnya meninggalkan kandang bersama Lunara. Baru beberapa langkah, terdengar suara kaki kuda menghantam tanah. Duk. Julian menoleh. Kuda hitam itu berdiri di balik pagar. Mereka saling menatap. Julian tersenyum. “Kalau kau mau ikut, datanglah sendiri.” Kepala kandang tertawa kecil. “Dia tidak akan melakukan itu, Tuan Muda.” Julian hanya mengangkat bahu. “Tidak masalah.” Ia berjalan pergi. Namun ketika Julian sudah hampir mencapai halaman utama, terdengar suara langkah dari belakang. Duk. Duk. Julian berhenti. Lunara mengangkat telinga. Kepala kandang yang masih berada di dekat kandang langsung berteriak. “Tuan Muda!” Julian menoleh. Kuda hitam itu berdiri di depan pintu kandangnya. Pintunya masih terbuka. Tidak ada tali. Tidak ada pelana. Ia hanya berdiri di sana. Julian menatapnya cukup lama. Kemudian ia tersenyum. “Jadi kau benar-benar mau ikut.” Kuda itu mendengus. Julian tidak memanggilnya. Tidak memerintah. Ia hanya melanjutkan langkah. Kuda itu mengikuti dari belakang. Hari itu Julian tidak mendapatkan tunggangan baru. Ia mendapatkan sesuatu yang jauh lebih sederhana. Seekor kuda yang memilih berjalan bersamanya. Dan untuk saat ini, itu sudah cukup.

End of Chapter 13