Pagi di Varell Estate kembali dimulai seperti biasanya.
Matahari baru saja muncul dari balik pepohonan ketika Julian sudah berada di halaman belakang rumah. Udara pagi terasa dingin, sementara embun masih menempel di rerumputan.
Lunara duduk beberapa meter darinya.
Moon Lynx itu memperhatikan Julian dengan mata peraknya yang tenang.
Di tangan Julian terdapat sebuah busur kecil.
Ia menarik tali busur.
Menahan napas.
Membidik.
Lalu—
Fuut!
Anak panah melesat dan menancap tepat di tengah papan sasaran.
Julian menurunkan busurnya.
“Lebih baik,” gumamnya.
“Jauh lebih baik.”
Suara itu datang dari belakang.
Julian menoleh.
Edmund berdiri dengan tongkatnya seperti biasa. Wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya memperhatikan setiap gerakan Julian.
“Selamat pagi, Edmund.”
“Selamat pagi, Tuan Muda.”
Edmund berjalan mendekati sasaran.
Ia mencabut anak panah tersebut.
“Tarikan Anda sudah lebih stabil.”
“Karena saya tidak memaksakan tubuh saya.”
Edmund tersenyum tipis.
“Benar.”
Beberapa minggu terakhir, Julian mulai memahami satu hal penting.
Masalah terbesar dalam tubuh barunya bukanlah bagaimana cara bertarung.
Ia sudah tahu cara bertarung.
Masalahnya adalah mengetahui seberapa jauh tubuh ini mampu mengikutinya.
Ketika menjadi Adrian, tubuhnya telah ditempa selama bertahun-tahun. Kecepatan, refleks, daya tahan, kekuatan, dan koordinasi sudah menjadi sesuatu yang alami.
Sekarang ia memiliki semua pengalaman itu.
Tetapi tubuhnya masih tubuh anak berusia enam tahun.
Jika ia bergerak terlalu cepat, ototnya cepat lelah.
Jika ia menggunakan tenaga terlalu besar, persendiannya terasa sakit.
Jika ia mencoba memaksa gerakan yang dulu mudah dilakukan, tubuhnya justru kehilangan keseimbangan.
Karena itu, Julian mulai mengubah pendekatannya.
Bukan menjadi lebih lambat.
Melainkan menjadi lebih efisien.
“Sekarang,” kata Edmund, “pedang kayu.”
Julian mengambil pedang kayu yang diletakkan di dekatnya.
Lunara langsung bangkit.
Ia berjalan ke sisi halaman dan duduk di bawah pohon.
Seolah sudah tahu bahwa waktu latihan akan dimulai.
Edmund mengangkat tongkat pedangnya.
“Tidak perlu menyerang.”
Julian mengangguk.
“Baik.”
“Cukup bertahan.”
Julian mengambil posisi.
Edmund bergerak.
Tidak cepat.
Tidak kuat.
Namun tepat.
Tongkat kayu itu mengarah ke bahu Julian.
Julian menggeser tubuh.
Tak!
Serangan kedua datang dari arah berbeda.
Julian menunduk.
Serangan ketiga.
Ia mundur setengah langkah.
Keempat.
Ia memiringkan tubuh.
Kelima.
Ia menahan dengan pedang kayu.
Tak!
Suara kayu beradu terdengar di halaman.
Julian tidak membalas.
Ia hanya bertahan.
Satu menit.
Dua menit.
Tiga menit.
Keringat mulai mengalir di dahinya.
Edmund masih berdiri seperti biasa.
Julian menarik napas.
Dulu, tiga menit bukan apa-apa.
Sekarang, tiga menit mulai terasa panjang.
Serangan berikutnya datang.
Julian menghindar.
Namun kali ini langkahnya sedikit terlambat.
Ujung tongkat Edmund berhenti hanya beberapa sentimeter dari dadanya.
“Cukup.”
Julian menurunkan pedangnya.
Napasnya terdengar lebih berat.
Edmund juga menurunkan senjatanya.
“Bagaimana?”
“Lebih baik dari sebelumnya.”
“Benar.”
Edmund menatapnya.
“Tetapi Anda masih mencoba menggunakan kecepatan lama.”
Julian diam.
Edmund benar.
“Ketika Anda melihat serangan,” lanjut Edmund, “pikiran Anda sudah menentukan respons sebelum tubuh Anda bergerak.”
“Itu buruk?”
“Tidak.”
Edmund mengetukkan ujung tongkatnya ke tanah.
“Itu justru kelebihan Anda.”
Julian menatapnya.
“Namun tubuh Anda belum mampu mengejar keputusan tersebut.”
Julian tersenyum kecil.
“Jadi saya harus membuat keputusan yang sesuai dengan tubuh saya.”
“Sekarang Anda mulai mengerti.”
Julian melihat tangannya sendiri.
Kecil.
Belum memiliki kekuatan yang dulu ia miliki.
Namun tangan itu akan tumbuh.
Tubuh ini akan tumbuh.
Dan sampai waktunya tiba, ia tidak perlu memaksa sesuatu yang belum bisa dicapai.
“Edmund.”
“Ya, Tuan Muda?”
“Apakah menurut Anda saya harus berhenti menggunakan pedang sampai tubuh saya lebih kuat?”
Edmund terdiam sesaat.
“Tidak.”
Jawaban itu langsung.
“Kalau begitu?”
“Gunakan pedang.”
Edmund tersenyum tipis.
“Tetapi jangan gunakan pedang seperti orang dewasa yang terjebak dalam tubuh anak-anak.”
Julian sedikit mengernyit.
“Gunakan pedang sebagai anak yang memiliki pengalaman orang dewasa?”
“Kurang lebih.”
Julian tertawa kecil.
“Penjelasan yang aneh.”
“Dunia memang penuh hal aneh, Tuan Muda.”
Untuk sesaat, keduanya hanya berdiri dalam keheningan.
Lalu terdengar suara langkah dari arah rumah.
“Julian!”
Suara Elena.
Julian langsung menoleh.
Kakaknya berjalan menuju halaman sambil membawa sebuah kain.
Wajahnya terlihat kesal.
“Kau habis latihan lagi?”
“Ya.”
“Dan kau berkeringat lagi.”
“Itu biasanya terjadi setelah latihan.”
Elena menatapnya datar.
“Jangan pintar menjawab.”
Julian tersenyum kecil.
Elena menyerahkan kain itu kepadanya.
“Usap wajahmu.”
“Terima kasih.”
“Kau juga belum sarapan.”
Julian terdiam.
Elena menyipitkan mata.
“Kau lupa?”
“Sedikit.”
“Julian.”
“Baik. Saya akan segera makan.”
“Bagus.”
Elena berbalik.
“Lunara juga!”
Moon Lynx yang sedang berbaring membuka satu mata.
Elena menunjuknya.
“Jangan hanya menemani Julian latihan. Kau juga belum makan.”
Lunara berdiri.
Kemudian berjalan santai melewati Elena.
Elena tersenyum.
“Lihat? Dia lebih patuh darimu.”
Julian menghela napas.
“Saya merasa sedang kalah dengan seekor Moon Lynx.”
Edmund menahan senyum.
“Kemungkinan besar.”
---
Setelah sarapan, Julian kembali ke halaman.
Namun kali ini bukan untuk latihan.
Damir sedang menunggunya.
Sang Duke berdiri dengan pakaian latihan sederhana. Wajahnya serius seperti biasa.
“Julian.”
“Ya, Ayah?”
“Ada sesuatu yang ingin kuberitahukan.”
Julian langsung memperhatikan.
“Orang-orang yang kukirim ke hutan sudah kembali.”
Tatapan Julian berubah sedikit lebih serius.
“Bagaimana keadaan hutan?”
“Tidak ada monster kelas tinggi yang ditemukan.”
Julian mengangguk pelan.
“Namun?”
Damir menatapnya.
“Pergerakan monster memang berubah.”
Julian tidak terkejut.
“Apakah mereka berpindah wilayah?”
“Sebagian.”
“Karena apa?”
“Belum diketahui.”
Damir kemudian mengeluarkan sebuah potongan kulit kayu yang memiliki beberapa garis tanda.
“Beberapa monster meninggalkan wilayah lama mereka. Ada yang bergerak lebih dekat ke bagian luar hutan. Ada pula yang masuk lebih dalam.”
Julian memperhatikan tanda tersebut.
“Apakah berbahaya?”
“Belum.”
Jawaban Damir tenang.
“Tetapi cukup untuk membuatku meningkatkan penjagaan.”
Julian mengangguk.
Ia tidak bertanya lebih jauh.
Dulu, rasa ingin tahu adalah sesuatu yang membuat Adrian tetap hidup.
Tetapi ia juga tahu bahwa rasa ingin tahu yang tidak dikendalikan bisa membawa seseorang ke tempat yang seharusnya tidak ia datangi.
Damir memperhatikan putranya.
“Kau tidak ingin pergi melihatnya?”
“Tidak.”
Damir sedikit mengangkat alis.
Julian tersenyum.
“Saya ingin tahu, tetapi bukan berarti saya harus melihatnya sendiri.”
Untuk pertama kalinya pagi itu, wajah Damir terlihat sedikit lebih santai.
“Bagus.”
Julian memandang hutan dari kejauhan.
“Kalau Ayah sudah mengirim orang untuk memeriksa, saya tidak perlu ikut campur.”
“Benar.”
Damir kemudian berjalan mendekatinya.
“Tetapi ada hal lain.”
“Apa?”
“Mulai minggu depan, latihanmu akan berubah.”
Julian menoleh.
“Berubah bagaimana?”
“Kita akan mulai melatih tubuhmu secara lebih serius.”
Julian diam.
“Bukan untuk membuatmu kuat secepat mungkin,” lanjut Damir. “Justru sebaliknya.”
Damir menatap tubuh kecil putranya.
“Kita akan membuat tubuhmu mampu menanggung kemampuan yang sudah kau miliki.”
Julian memahami maksudnya.
Bukan belajar menjadi petarung.
Bukan belajar cara menggunakan pedang.
Tetapi membangun wadah yang mampu mengikuti dirinya.
Dan ada satu hal lagi yang belum bisa ia lakukan.
Mana.
Julian masih belum benar-benar bisa merasakan energi itu.
Ia sudah tahu bahwa energi tersebut ada.
Ia sudah tahu bahwa tubuh manusia memiliki Mana Core.
Tetapi mengetahui sesuatu berbeda dengan mampu menggunakannya.
“Ayah.”
“Ya?”
“Apakah latihan itu juga akan membantuku merasakan Mana?”
Damir terdiam sebentar.
“Mungkin.”
“Bukan pasti?”
“Mana tidak bisa dipaksa.”
Jawaban itu membuat Julian terdiam.
Damir melanjutkan.
“Tubuhmu perlu berkembang. Pikiranmu perlu tenang. Dan pada waktunya, kau akan merasakannya.”
Julian mengangguk.
“Kalau begitu saya akan menunggu.”
Damir tersenyum tipis.
“Itu jawaban yang bagus.”
Julian kembali melihat hutan.
Angin bergerak melewati pepohonan.
Daun-daun bergoyang perlahan.
Untuk pertama kalinya sejak terlahir kembali, Julian mulai merasa bahwa ia tidak perlu mengejar semuanya sekaligus.
Dulu, Adrian hidup berdasarkan target.
Satu misi selesai.
Lalu misi berikutnya.
Satu target mati.
Lalu target berikutnya.
Tidak pernah ada waktu untuk berhenti.
Sekarang berbeda.
Ia bisa menunggu.
Ia bisa belajar.
Ia bisa tumbuh.
Ia bisa makan bersama keluarganya.
Ia bisa berburu bersama Lunara.
Ia bahkan bisa menghabiskan pagi hanya dengan duduk melihat hutan.
Julian tersenyum kecil.
Mungkin...
Beginilah rasanya hidup sebagai manusia.
Namun jauh di dalam hutan, terdengar suara ranting patah.
Krakk.
Lunara langsung mengangkat kepalanya.
Julian juga menoleh.
Untuk beberapa detik, ia menatap pepohonan.
Tidak ada apa-apa.
Hanya angin.
Lunara akhirnya kembali tenang.
Julian tidak bergerak.
Ia hanya memperhatikan hutan sebentar, lalu berbalik.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “saya akan sarapan kedua.”
Damir menatapnya.
“Kau baru saja sarapan.”
“Saya masih lapar setelah latihan.”
Damir menghela napas.
“Baiklah.”
Dari kejauhan terdengar suara Elena.
“JANGAN MAKAN TERLALU BANYAK!”
Julian berhenti.
Damir menatap putranya.
Julian menatap ayahnya.
Keduanya terdiam.
Lalu Damir berkata datar,
“Lebih baik kita patuhi ibumu.”
Julian mengangguk serius.
“Setuju.”
Untuk pertama kalinya hari itu, ayah dan anak tersebut berjalan kembali menuju rumah tanpa membawa pedang, tanpa membicarakan monster, dan tanpa memikirkan ancaman apa pun.
Hanya dua orang dari keluarga Varell yang sedang menuju meja makan.
Dan untuk Julian, momen sederhana seperti itu terasa jauh lebih berharga daripada seribu misi yang pernah ia jalani sebagai Adrian Voss.