Chapter 11 of 75
Chapter 11 — Jejak yang Lebih Dalam
899 words
Beberapa minggu berlalu setelah Lunara mulai tinggal di kediaman Varell.
Kehadiran makhluk itu perlahan menjadi bagian dari kehidupan keluarga.
Pada awalnya, para pelayan selalu menjaga jarak.
Mereka belum terbiasa melihat Moon Lynx berjalan bebas di sekitar rumah.
Namun Lunara tidak pernah membuat masalah besar.
Ia hanya sering tidur di tempat-tempat yang terkena matahari, mengikuti Julian ke halaman, dan menghilang ke hutan ketika Julian sedang tidak berada di rumah.
Elena adalah orang yang paling sering mencoba mendekatinya.
Dan paling sering ditolak.
“Lunara.”
Elena berjongkok di halaman.
“Ayo sini.”
Lunara menatapnya dari bawah pohon.
Elena mengulurkan tangan.
Lunara berdiri.
Elena tersenyum.
“Bagus.”
Lunara berjalan mendekat.
Elena semakin tersenyum.
Lima langkah.
Empat.
Tiga.
Dua.
Lunara berhenti.
Kemudian berbalik dan berjalan ke arah Julian.
Elena membeku.
“...Dia sengaja.”
Julian yang sedang duduk membaca buku menahan tawa.
“Sepertinya.”
“Jangan tertawa!”
“Saya tidak tertawa.”
“Kau jelas sedang menahan tawa!”
Julian akhirnya tertawa kecil.
Lunara duduk di sampingnya.
Elena menunjuknya.
“Suatu hari aku akan membuatnya menyukaiku.”
Julian menutup bukunya.
“Semoga berhasil.”
“Aku serius.”
“Aku tahu.”
Kehidupan seperti itu berlangsung hampir setiap hari.
Sederhana.
Tenang.
Dan Julian menyukainya.
Namun ketenangan itu tidak berarti hutan di belakang kediaman Varell berhenti berubah.
Justru sebaliknya.
Dalam beberapa minggu terakhir, Julian mulai menemukan semakin banyak tanda aneh.
Jejak kaki monster yang semakin jauh masuk ke wilayah manusia.
Pohon yang bekas cakarnya semakin besar.
Beberapa sarang hewan kosong.
Dan pagi itu, ketika Julian berjalan bersama Lunara, ia menemukan sesuatu yang berbeda.
Jejak kaki.
Bukan tiga.
Bukan empat.
Puluhan.
Julian berjongkok.
Lunara berdiri di sampingnya.
“Ini bukan kawanan kecil.”
Julian menyentuh tanah.
Masih lembap.
Jejaknya baru.
“Mereka bergerak ke arah timur.”
Lunara mengendus udara.
Kemudian telinganya berdiri.
Julian langsung memperhatikan.
“Ada sesuatu?”
Lunara menatap ke arah pepohonan.
Julian berdiri.
Ia mengambil busurnya.
Tidak menarik anak panah.
Belum.
Mereka berjalan lebih dalam.
Sekitar dua puluh menit.
Kemudian Julian melihat pohon besar yang batangnya rusak.
Tiga bekas cakar membelah kulit pohon.
Jauh lebih tinggi dari tubuhnya.
Julian memperhatikan ukuran luka.
“Besar.”
Lunara menggeram pelan.
Julian langsung berhenti.
“Tenang.”
Ia tidak panik.
Namun tubuhnya berubah.
Punggung sedikit merendah.
Pandangan menyapu lingkungan.
Tangan tetap dekat dengan senjata.
Bukan karena ia takut.
Insting lamanya hanya mengambil alih ketika situasi menjadi tidak jelas.
Ia memeriksa angin.
Arah cahaya.
Semak.
Tanah.
Tidak ada suara.
Tidak ada gerakan.
Tetapi sesuatu jelas pernah berada di sini.
Julian mendekati batang pohon.
Ada serpihan hitam di salah satu bekas cakar.
Ia mengambilnya.
Bukan kulit pohon.
Benda itu seperti sisik.
Julian mengerutkan kening.
“Monster?”
Lunara mencium serpihan itu.
Kemudian langsung mundur.
Julian memperhatikan reaksinya.
“Kau tidak menyukainya.”
Lunara menggeram lagi.
Julian menyimpan serpihan tersebut dalam kantong kecil.
Ia tidak melanjutkan perjalanan.
Bukan karena tidak mampu.
Justru karena tidak ada alasan untuk mengambil risiko.
Ia belum tahu apa yang tinggal di dalam hutan.
Dan berburu tidak sama dengan mengejar sesuatu hanya untuk membuktikan keberanian.
Julian berbalik.
“Kita pulang.”
Lunara mengikuti.
---
Ketika Julian kembali ke rumah, Damir sedang berada di ruang kerja.
Julian mengetuk pintu.
“Masuk.”
Julian masuk.
Damir mengangkat kepala.
“Kau kembali lebih cepat.”
“Aku menemukan sesuatu.”
Julian meletakkan serpihan hitam di meja.
Damir langsung berubah serius.
Ia mengambil benda tersebut.
Membaliknya.
Memeriksanya.
“Di mana?”
“Hutan timur.”
“Seberapa dalam?”
Julian menjelaskan lokasi dan apa yang ia lihat.
Damir mendengarkan tanpa menyela.
Setelah selesai, ia menatap serpihan itu.
“Ini bukan sesuatu yang pernah kulihat di sekitar sini.”
“Monster baru?”
“Mungkin.”
Damir berdiri.
“Beberapa minggu terakhir memang ada laporan mengenai perubahan perilaku monster.”
Julian mengingat kejadian di Elaris.
Merchant yang mengatakan hal serupa.
“Apakah ada hubungannya dengan laporan dari Elaris?”
Damir memandangnya.
“Kau mengingatnya?”
“Ya.”
Damir mengangguk.
“Belum ada bukti bahwa semuanya berkaitan.”
Julian berpikir.
“Kalau begitu, apa yang harus dilakukan?”
“Untuk sementara, jangan masuk terlalu dalam.”
Julian mengangguk.
“Aku mengerti.”
Damir menyimpan serpihan tersebut.
“Aku akan mengirim beberapa orang untuk memeriksanya.”
Julian hendak pergi.
Namun Damir memanggilnya.
“Julian.”
“Ya?”
“Jangan mengejar sesuatu hanya karena kau penasaran.”
Julian terdiam.
“Ayah tahu kau mampu menjaga diri.”
Damir menatapnya serius.
“Tetapi kemampuan menjaga diri bukan berarti harus mengambil semua risiko.”
Julian mengangguk.
“Aku akan mengingatnya.”
Ia keluar.
Damir kembali menatap serpihan hitam di tangannya.
Ada sesuatu yang tidak ia sukai dari benda itu.
Bukan karena ukurannya.
Bukan karena kekuatannya.
Melainkan karena ia tidak mengenalinya.
---
Malam hari.
Julian duduk di dekat jendela.
Lunara tidur di karpet.
Ia membuka buku tentang monster.
Ia membaca satu per satu kategori.
Wild Monster.
Corrupted Monster.
Dungeon Monster.
Julian kembali melihat serpihan yang tadi ia gambar di buku catatannya.
Tidak cocok dengan apa pun.
Ia menutup buku.
“Masih banyak yang tidak kuketahui.”
Lunara membuka mata.
Julian tersenyum.
“Mungkin itu bagus.”
Ia melihat ke luar.
Dunia ini masih terlalu besar.
Ada kerajaan yang belum ia lihat.
Ras yang belum pernah ia temui.
Monster yang belum ia kenal.
Dungeon.
Mana.
Sihir.
Dan mungkin banyak hal lain yang bahkan belum pernah tertulis dalam buku.
Julian tidak merasa takut.
Ia justru merasa penasaran.
Untuk pertama kalinya, rasa penasaran itu bukan tentang bagaimana membunuh sesuatu.
Melainkan tentang bagaimana dunia ini bekerja.
Julian mengambil buku lain.
Buku tentang geografi Aetheria.
Ia membuka halaman mengenai kerajaan-kerajaan di luar Valdoria.
“Suatu hari nanti...”
Ia berhenti.
Kemudian tersenyum kecil.
“Aku ingin melihatnya sendiri.”
Lunara menutup matanya kembali.
Di luar sana, jauh di dalam hutan, terdengar suara raungan samar.
Sangat jauh.
Namun Julian mendengarnya.
Ia tidak bergerak.
Tidak mengambil senjata.
Tidak pergi mengejar.
Ia hanya menatap jendela.
Kemudian kembali membuka bukunya.
Karena untuk saat ini, ada sesuatu yang lebih penting daripada rasa penasaran.
Pulang.