Chapter 8 of 35
Perjanjian Malam Hari
732 words
Henri melangkah mendekat. Bayangan tubuhnya memanjang di atas lantai marmer, menelan cahaya remang dari lentera dinding. Uap feromon beraroma osmanthus, kayu manis, dan racikan herbal abad ke-22 yang mengepul halus dari titik-titik nadinya kian pekat membelit indra penciuman Putri Feng. Setiap langkah Henri terukur, tenang, namun menyebarkan dominasi yang tak terbantahkan.
Ia berhenti tepat di hadapan Putri Feng. Jarak di antara mereka tak lebih dari sejengkal, cukup dekat untuk membuat uap napas mereka beradu kaku.
"Putri Feng," suara Henri merendah. Intonasinya dipatok pada frekuensi khusus yang dirancang untuk menggetarkan saraf pendengaran lawan. "Kau adalah pilar kekaisaran ini—tulang punggung yang menjaga ketertiban. Kesetiaanmu pada Tahta tak diragukan, bahkan di tengah pembusukan intrik para kasim dan selir."
Henri mencondongkan tubuhnya. Jarinya melayang menyapu ujung lengan seragam kulit sang panglima.
Bio-Feedback Scanner di matanya segera menangkap respons seketika:
Detak jantung: 112 BPM.
Kortisol: Berfluktuasi.
Status: Bertahan dalam tekanan ambisi.
"Namun," bisik Henri dengan nada bergetar penuh janji, "bukankah kau lelah berjuang dalam bayang-bayang? Bukankah ada ambisi yang lebih besar... potensi yang tak pernah diberi ruang di dalam dirimu?"
Henri menggeser sudut berdirinya, memutus ruang gerak Putri Feng secara halus dan memaksanya mengikuti alur kedaulatan fisik yang ia ciptakan. "Aku menawarkan sebuah perjanjian. Sebuah pakta yang akan mengubah takdirmu—dan takdir dinasti ini."
"Para pangeran lain," lanjut Henri, suaranya mengalun bagai intonasi hipnotik, "hanya akan melihatmu sebagai alat. Sebilah pedang yang harus mereka genggam. Mereka memuji kesetiaanmu, namun tak akan pernah memberimu pengakuan yang setara. Mereka memenjarakanmu dalam peran prajurit, bukan meninggikanmu ke posisi yang pantas kau duduki."
Jemarinya bergerak lagi, mengusap pelan bahu bersalut kulit milik sang panglima. Otot-otot Putri Feng menegang hebat di bawah sentuhan itu.
"Aku berbeda," bisik Henri tepat di samping daun telinga Putri Feng.
Sebuah desah napas pendek yang terhalang lolos dari bibir sang putri. Senyum tipis, dingin, dan penuh kalkulasi terukir di sudut bibir Henri.
"Aku melihat lebih dari sekadar panglima perang. Aku melihat seorang arsitek strategi, seorang wanita dengan keberanian tanpa tanding. Tidakkah kau merindukan hal yang lebih besar dari sekadar mempertahankan status quo?"
Henri menarik tubuhnya berjarak beberapa inci, memberi ruang bagi uap feromon untuk meresap ke dalam sistem limbis target.
"Di bawah pemerintahanku, Feng-er, kau akan menjadi tangan kananku yang tak tergantikan. Bukan sekadar penjaga di pintu gerbang, melainkan pembuat keputusan. Nama Putri Feng akan terukir dalam sejarah—bukan sebagai bayangan di balik takhta, melainkan sebagai cahaya yang setara dengan sang kaisar."
"Kekuasaan tanpa batas, pengaruh yang tak tertandingi," bisiknya lagi. "Itu yang kutawarkan. Kemitraan sejati... bukan hubungan tuan dan pelayan."
Putri Feng terpaku. Kelopak matanya berkedip pelan saat ia mencerna setiap kata yang ditancapkan Henri. Pikirannya berputar hebat. Janji-janji itu merembes bagai racun manis yang membangkitkan ambisi terpendam—sesuatu yang selama ini ia kubur demi norma kehormatan prajurit. Ia telah mengorbankan segalanya demi kekaisaran, namun ia sadar bahwa di mata para bangsawan pria, pencapaiannya kerap dipandang sebelah mata.
Jantungnya berdentang keras di dalam dada. Bukan hanya karena jarak fisik mereka atau aroma memabukkan yang mengepungnya, melainkan akibat bobot penawaran itu: pengakuan, kekuasaan, dan kesetaraan.
Ia mengalihkan pandangannya, menatap kosong ke dinding paviliun. Tangannya mengepal rapat di sisi tubuh, meremas kain keras seragamnya. Sumpah kesetiaan pada Kaisar Taizong adalah fondasi hidupnya. Namun, sosok di hadapannya—Pangeran Han Li yang dulu rapuh—kini berdiri dengan aura kedaulatan absolut, menawarkan dunia yang belum pernah dibayangkan siapapun.
Konflik internal membakar batinnya, membelah loyalitasnya menjadi dua.
Melalui raga biologis ini, Henri merasakan lonjakan adrenalin ringan dalam sistem tubuhnya sendiri—sebuah reaksi insting atas ketegangan yang ia kendalikan. Scanner mengonfirmasi bahwa detak jantung Putri Feng mulai melambat perlahan: ia sedang menimbang secara rasional, bukan menolak. Kadar oksitosin yang tetap tinggi mengindikasikan keterikatan emosional buatan yang berhasil ditanamkan.
Henri sengaja membiarkan keheningan menggantung. Memaksa jawaban saat ini hanya akan memicu refleks bertahan dari seorang prajurit. Ia harus membiarkan benih ambisi itu membelah pertahanan batin sang putri hingga wanita itu meyakinkan dirinya sendiri bahwa pakta ini adalah satu-satunya jalan.
Keheningan tebal menyelimuti paviliun utara. Lentera dinding berkedip pelan, memantulkan bayangan mereka yang tumpang tindih.
Secara perlahan, Putri Feng mengangkat wajahnya. Gerakannya kaku dan berbobot. Matanya yang biasa dingin memancarkan badai emosi: kebingungan, godaan gairah kekuasaan, dan benih tekad baru.
Ia menatap Henri, mencoba menembus topeng ketenangan sang pangeran untuk mencari kepastian di balik janji-janji tersebut. Rahangnya mengetat, memperlihatkan keputusasaan dan keberanian yang beradu keras.
Putri Feng tetap bungkam, namun tatapannya yang tak lagi berpaling telah menjadi kesepakatan bisu—sebuah pakta tanpa kata yang baru saja menandai awal runtuhnya tatanan lama kekaisaran.