Henri berdiri, siluetnya memanjang di bawah remang lentera paviliun utara. Uap feromon yang menyatu dengan aroma akar wangi dan melati hutan terus berembus halus dari titik-titik nadinya, mengepung Putri Feng dalam ruang olfaktori yang intim.
Visinya baru saja terhampar di udara, meninggalkan jejak ambisi dan tawaran kekuasaan yang berat. Putri Feng duduk membisu dengan rahang mengetat, mencerna setiap detail yang disampaikan sang pangeran.
Bio-Feedback Scanner di matanya mencatat respons biometrik secara real-time:
Detak jantung: Melonjak hingga 118 BPM.
Kadar Oksitosin: Memuncak.
Kortisol: Berfluktuasi tinggi.
Status: Konflik emosional dan desinkronisasi logika.
"Kau terlihat lelah, Feng," suara Henri mengalun lembut, memecah keheningan dengan intonasi yang dirancang merangsang saraf pendengaran lawan. Ia melangkah mendekat secara terukur, lalu mengulurkan tangan kanannya. Jemarinya yang panjang dan terawat membentuk gestur undangan yang tenang. "Maukah kau menari denganku?"
Putri Feng mengangkat wajahnya. Mata hitamnya berkilat tajam, menatap tangan yang terulur di hadapannya. Alisnya berkerut tipis—di dunia militer yang ia geluti, tarian adalah hiburan para selir atau perayaan rakyat, bukan sesuatu yang dilakukan seorang panglima pengawal istana bersama seorang pangeran buangan. Namun, ketenangan mendominasi di mata Henri menahan setiap sanggahan di tenggorokannya. Rona hangat merayap perlahan di pipinya.
"Jangan ragu, Feng. Ini hanya sebuah tarian," bisik Henri menggoda.
Dari balik tirai di sudut paviliun, alunan lembut musik mulai terdengar—seruling bambu memainkan melodi lambat yang disusul petikan guzheng ritmis. Musik itu merayap mengisi kekosongan, membuai atmosfer ruangan.
Putri Feng tidak mempertanyakan dari mana asal instrumen tersebut. Seluruh perhatiannya terkunci pada jemari Henri. Tangannya yang terbiasa memegang gagang pedang terasa kaku. Nalar militernya berteriak bahwa ini adalah bentuk manipulasi psikologis, namun respons biologis tubuhnya tertarik oleh daya pikat tak kasat mata.
"Atau kau takut, Panglima Feng?" tantang Henri dengan bisikan yang menyengat harga diri sang prajurit.
Tantangan itu menyengat. Sebagai panglima, ia tidak pernah mundur dari gertakan. Dengan gerakan lambat dan kaku, Putri Feng mengangkat tangannya, membiarkan jemarinya menyambut telapak tangan Henri.
Sentuhan pertama itu bekerja bagai arus pendek. Kehangatan kulit Henri merambat cepat naik ke lengan sang putri, memicu lonjakan suhu lokal. Henri tersenyum tipis, menarik tubuh sang panglima dengan usapan lembut namun tegas.
Jarak di antara mereka memangkas sisa ruang personal. Tangan kiri Henri melingkar rapi di pinggang Putri Feng, menembus lapisan sutra jubah militernya. Secara refleks, tangan bebas Putri Feng mendarat canggung di bahu Henri, merasakan ketegangan otot di balik kain jubah sang pangeran.
"Tenanglah, Feng," bisik Henri tepat di samping telinganya. Uap napas hangatnya menyapu daun telinga sang putri. "Ikuti saja iramanya."
Henri mulai memindahkan tumpuan kakinya. Langkahnya pelan dan teratur, membawa Putri Feng berayun mengikuti ritme. Meski awalnya kaku, naluri tubuh sang panglima mulai menyesuaikan diri secara bertahap. Pelukan Henri di pinggangnya memangkas celah di antara mereka hingga dada dan paha mereka bergesekan halus pada setiap perputaran.
Bio-Feedback Scanner memperbarui analisis:
Dopamin: Membanjiri sistem saraf pusat.
Sensitivitas Taktil: Meningkat 40%.
Pertahanan Logika: Melunak.
"Bagus," puji Henri halus. "Kau belajar dengan sangat cepat."
Putri Feng menundukkan pandangannya, menatap kerah jubah Henri karena tak sanggup berhadapan langsung dengan intensitas mata sang pangeran. Namun, terpaan aroma feromon dan tekanan jemari Henri di pinggangnya terus membangkitkan kehangatan asing yang selama ini terkunci rapat di balik zirah besi yang biasa ia kenakan.
"Biarkan dirimu merasakan," bisik Henri lagi, memiringkan kepala hingga bibirnya menyapu rambut halus di dekat telinga Putri Feng. "Lepaskan semua pertimbanganmu, Feng. Hanya ada kita dan irama ini."
Kata-kata itu bekerja bagai mantra biokimia. Kesetiaan kaku pada hierarki istana perlahan kabur, tergantikan oleh sensasi taktil yang dominan. Jemari Putri Feng tanpa sadar mencengkeram kain jubah di bahu Henri, mencari tumpuan saat keseimbangan logisnya meluruh.
Putaran demi putaran membawa mereka semakin rapat. Paha dan perut mereka menempel erat, mempertemukan kehangatan tubuh secara langsung.
"Kau sangat anggun, Feng," suara Henri terdengar serak dan dalam. "Setiap gerakmu adalah kekuatan yang tersembunyi di balik kelembutan. Dan aku melihat seluruh potensi itu."
Pujian pribadi itu menusuk langsung ke dalam rasa harga diri Putri Feng. Sebagai prajurit, ia terbiasa dipuji atas keberanian dan ketangkasan membunuh, bukan atas keanggunan sebagai seorang wanita. Pipinya merona pekat hingga ke leher.
"Aroma tubuhmu..." lanjut Henri dengan bisikan yang kian rendah, "seperti bunga malam yang merekah, khusus untukku."
Posisinya meliuk halus saat irama musik memasuki bagian penutup yang syahdu. Henri memutar tubuh Putri Feng untuk terakhir kalinya sebelum menariknya kembali tanpa menyisakan celah. Putri Feng mendongak kaku. Matanya yang sedikit berkaca-kaca bertemu langsung dengan tatapan tajam sang pangeran.
Henri menurunkan posisinya secara perlahan, memberikan ruang buatan seolah memberi kesempatan untuk menolak. Namun Putri Feng tetap gemetaran di tempatnya—bukan karena takut, melainkan akibat penantian sensorik yang melumpuhkan kehendaknya.
Bibir Henri makin mendekat, menyatukan uap napas mereka yang hangat. Bulu mata Putri Feng bergetar pelan saat matanya terpejam secara refleks. Seluruh doktrin militer dan sumpah kesetiaannya pada kekaisaran kini hancur berantakan, bertarung habis-habisan dengan gairah dan stimulasi hormon yang dibangkitkan oleh Henri.
Bibir mereka terpisah kurang dari sehelai rambut. Di antara helaan napas yang beradu, Henri berbisik halus, mengunci kemenangan manipulasi psikologisnya:
"Kau milikku, Feng."