Chapter 6 of 35

Sentuhan Takdir

940 words

Udara di Paviliun Utara terasa dingin, namun bagi Henri, kebekuan itu adalah media sempurna untuk memahat manipulasi berikutnya. Ia duduk di kursi berlapis brokat dengan punggung tegap, seolah efek Black Lotus Venom yang mematikan hanyalah bayangan samar. Uap feromon hasil racikan Ganoderma lucidum, Osmanthus, kayu manis, dan air mawar liar terus terpompa dari titik-titik nadinya, membentuk medan olfaktori tak terlihat di sekelilingnya. Pintu paviliun terdorong pelan. Pelayan kurus membungkuk dalam-dalam. "Putri Feng telah tiba, Yang Mulia." "Izinkan ia masuk," sahut Henri. Suaranya rendah, namun frekuensi resonansinya diatur pada ritme yang merangsang saraf olfaktori dan pendengaran secara bersamaan. Beberapa detik kemudian, Putri Feng melangkah melintasi ambang pintu. Pakaian militernya dari kulit hitam yang tebal membalut ketat tubuhnya yang terlatih. Pedang panjang bersarung kulit tergantung di pinggul, mengeluarkan bunyi berdenting halus saat bergeser. Wajahnya mengeras bagai ukiran batu, matanya memindai setiap sudut ruangan sebelum akhirnya mengunci Henri. Bio-Feedback Scanner di matanya berkedip cepat: Detak jantung: 68 BPM (Mulai berfluktuasi). Kadar Kortisol: Menurun perlahan. Tingkat Kewaspadaan Taktis: Tinggi. "Yang Mulia," ujar Putri Feng datar. Ia membungkuk hormat dengan presisi militer yang mendarah daging. Henri membalasnya dengan senyum tipis—senyum yang memancarkan kombinasi antara kerentanan fisik dan misteri yang memikat. "Putri Feng," sapa Henri lembut. "Saya tahu tugas Anda berat. Namun keteguhan Anda sebagai seorang panglima sungguh mengagumkan. Jarang sekali saya melihat dedikasi seteguh itu di istana ini." Henri sengaja menekan artikulasi pada kata keteguhan dan dedikasi—dua aspek harga diri yang menjadi inti identitas seorang prajurit. Putri Feng sedikit mengangkat kepalanya. Matanya menyipit, mencoba menembus maksud di balik pujian tersebut. Data masuk: Peningkatan oksitosin terdeteksi. Kewaspadaan terganggu oleh respons afektif. "Duduklah, Feng-er," lanjut Henri. Ia mengabaikan norma protokol resmi dan memberikan isyarat anggun ke arah bangku kayu di sampingnya. Panggilan Feng-er terlontar begitu mulus. Itu adalah pelanggaran hierarki yang disengaja untuk menciptakan ruang keintiman buatan. Putri Feng menegang seketika. Kerutan halus muncul di dahinya. Nama panggilan itu menghantam dinding formalitas yang dibangunnya selama bertahun-tahun. Ia berdiri ragu selama beberapa detik, mengamati Henri untuk memastikan apakah ia salah mendengar. Namun, ketidakpastian itu adalah bentuk penerimaan implisik. Dengan gerakan kaku, sang panglima melepas pedang panjangnya dan meletakkannya di atas meja kecil dengan denting klang lembut, sebelum akhirnya duduk menjauh di ujung bangku. Henri menyimpan kepuasan dingin di dalam komputasi mentalnya. Babak pertama pertarungan psikologis ini berhasil ia menangkan. "Saya tahu Anda pasti bertanya-tanya mengapa saya meminta Anda datang selarut ini," suara Henri merendah hingga menyerupai bisikan intimate. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, mempersempit jarak fisik di antara mereka. "Terutama setelah insiden racun itu. Saya seharusnya masih terbaring." Putri Feng mengangguk kaku. "Itu memang menjadi pertanyaan saya, Yang Mulia. Apakah ada ancaman baru? Atau kondisi Anda memburuk?" Ada aksen kekhawatiran tipis di ujung kalimatnya—celah emosional yang langsung ditangkap oleh algoritma Henri. "Ancaman selalu ada, Feng-er," sahut Henri, sengaja meluncurkan nama panggilan itu untuk kedua kalinya guna membiasakan sistem saraf lawan. "Dan racun Teratai Hitam memang menyisakan jejak. Namun, ada hal yang lebih mendesak... sesuatu yang hanya bisa saya percayakan pada Anda." Henri mengulurkan tangan kanannya secara perlahan. Gerakannya tampak seperti reaksi lelah yang tidak disengaja. Jemarinya yang ramping membeku sejenak di udara sebelum akhirnya mendarat lembut di lengan bawah Putri Feng, tepat di atas pergelangan tangannya. Sentuhan itu ringan dan berlangsung singkat, namun membawa perpindahan molekul feromon serta rangsangan taktil yang presisi. Scanner Biometrik: Detak jantung melonjak hingga 88 BPM (+20 BPM). Konduktansi kulit memuncak. Suhu lokal naik 0,5°C. Putri Feng tersentak halus. Bahunya terangkat dan pupil matanya melebar seketika. Sentuhan itu berbeda dari senggolan kasar zirah dalam latihan militer; ada kelembutan yang menusuk pertahanannya dan menyisakan sensasi panas yang membingungkan di bawah kulitnya. Ia menarik tangannya perlahan, menatap lengan yang baru saja tersentuh seolah terheran-heran pada reaksi fisiknya sendiri. Aroma maskulin Henri yang berpadu dengan osmanthus dan kayu manis menyergap ruang napasnya, melumpuhkan penilaian logisnya secara perlahan. Henri membiarkan keheningan menggantung, memberikan waktu bagi sistem saraf Putri Feng untuk memproses kekacauan biokimia di dalam tubuhnya. "Feng-er," bisik Henri. Suaranya diatur sedikit serak, memalsukan sisa rasa sakit akibat racun. "Keteguhanmu itu... bukan sekadar kepatuhan pada tugas. Aku melihat sesuatu yang jauh lebih dalam di matamu." Putri Feng menelan ludah. Wajahnya yang biasa kaku memantulkan ketegangan internal. "Bukan hanya seorang panglima yang patuh," lanjut Henri, menatap lurus ke dalam pupil mata sang panglima yang melebar. "Aku melihat seorang wanita dengan jiwa teguh yang menanggung beban berat sendirian. Sebuah kekuatan batin yang mungkin Anda sendiri tidak pernah menyadarinya." Kalimat itu dieksekusi dengan presisi tinggi: bukan permintaan tolong dari pangeran yang lemah, melainkan pengakuan atas kapasitas diri Putri Feng. Rona merah tipis mulai merayap naik ke tulang pipi sang panglima. Desah napasnya yang tertahan lolos secara tak sengaja. "Aku tahu Anda merasa terasing dengan beban ini. Dan aku menghargai kekuatan itu, di atas segalanya," tambah Henri. Putri Feng menggelengkan kepala pelan, mencoba menepis pujian yang menelanjangi pertahanan emosionalnya. Bibirnya bergetar tipis, tidak mampu memformulasi bantahan. Seluruh topeng profesionalismenya terkelupas di bawah simulasi empati yang dimainkan Henri. Ia berusaha mengalihkan pandangan, namun daya tarik visual dan kimiawi Henri terus menarik perhatiannya kembali. "Yang Mulia... pujian Anda... terlalu berlebihan," ucap Putri Feng dengan suara yang kehilangan ketegasannya. Henri mencondongkan tubuhnya lebih dekat lagi. Uap napas hangatnya hampir menyentuh daun telinga Putri Feng, memperkuat konsentrasi feromon di sekitar area sensitif tersebut. "Apakah berlebihan, Feng-er, jika aku hanya menyuarakan apa yang kulihat?" bisik Henri halus. Sengatan halus merambat di sepanjang tulang belakang Putri Feng. Tubuhnya menegang, bukan lagi karena naluri tempur, melainkan akibat kebingungan atas sensasi intim yang melumpuhkan logikanya. Ia menarik tubuhnya mundur secara perlahan, wajahnya merona merah sepenuhnya. Namun, Henri tahu bahwa tarikan mundur itu sudah terlambat. Celah di benteng pertahanan sang panglima telah terbuka lebar, dan ia siap memanfaatkannya hingga tuntas.

End of Chapter 6