Chapter 5 of 35
Chapter 5: Jebakan Wangi Malam
728 words
Henri duduk di meja kayu sederhana di sudut kamarnya yang temaram. Cahaya lilin menari pelan di atas permukaan kayu yang kasar. Di hadapannya, sebuah mangkuk porselen putih kecil menampung tumpukan dedaunan kering, kelopak bunga layu, dan beberapa jenis akar yang baru saja ia haluskan. Aroma tanah dan kepahitan herbal menyengat udara, namun ada nuansa manis yang samar, menunggu untuk diaktifkan.
Di dalam kesadarannya, Aphrodite Protocol berputar mengalkulasi setiap molekul. Bagi dunia feodal ini, apa yang ia racik mungkin dianggap sebagai ramuan pesona atau sihir kuno. Namun bagi Henri, ini adalah rekayasa feromon—ekspresi biokimia canggih yang dirancang untuk meretas sistem saraf tanpa memicu kecurigaan.
Ia mengambil sejumput serbuk Ganoderma lucidum—jamur lingzhi—yang diubahnya menjadi bubuk sehalus debu. Dalam arsip medis abad ke-22, tanaman ini dikenal sebagai adaptogen kuat yang mampu menekan kadar kortisol dan meredakan ketegangan sistem saraf pusat. Henri memadukannya dengan kelopak Osmanthus fragrans yang menguarkan aroma manis memabukkan sebagai lapisan utama, serta sedikit bubuk Cinnamomum cassia untuk memberikan efek vaskulardilatasi—meningkatkan sirkulasi darah dan memicu respons hangat pada kulit target.
"Satu tetes pelarut..." gumam Henri pelan.
Ia menuangkan air mawar liar yang disuling khusus dari taman utara. Cairan itu mengikat seluruh komponen herbal, mengubahnya menjadi pasta kental berwarna cokelat kehijauan. Setiap kali Henri mengaduknya dengan batang kayu kecil, campuran itu menguarkan gelombang aroma kompleks: manis, sedikit pedas, berkayu, namun memiliki dasar yang menenangkan secara primal. Ini bukan sekadar pewangi; ini adalah sinyal kimiawi yang dirancang untuk menembus benteng kesadaran dan langsung memicu respons pada sistem limbik—pusat emosi dan insting dasar manusia.
Dengan ketelitian seorang ahli kimia, Henri mencelupkan ujung jari telunjuknya. Sensasi dingin pasta itu segera berganti hangat saat bersentuhan dengan suhu tubuhnya. Ia mengoleskan racikan tersebut ke titik-titik nadi utama: kedua pergelangan tangan serta area leher di bawah telinga. Pembuluh darah yang berdenyut di titik-titik tersebut akan memompa partikel feromon ke udara secara konstan, berpadu dengan aroma alami tubuhnya yang telah bersih dari sisa racun teratai hitam.
Henri meletakkan mangkuk itu, lalu memanggil pelayan istana yang bertugas di koridor luar—seorang pemuda kurus yang selalu menunduk ketakutan.
"Sampaikan pada Putri Feng bahwa aku menunggunya di dalam," ujar Henri dengan suara rendah namun sarat otoritas. "Dan pastikan tidak ada yang mengganggu kita."
Pelayan itu mengangguk kaku bagaikan boneka tali, lalu bergegas pergi tanpa berani menatap mata sang pangeran. Henri kembali duduk tenang, menyesap teh herbalnya, dan membiarkan udara kamar terisi penuh oleh uap feromon yang makin matang. Jaring tak terlihat telah dibentangkan.
Beberapa menit kemudian, ketukan halus terdengar di pintu kayu mahoni, disusul denting engsel yang terdorong perlahan.
Putri Feng muncul di ambang pintu. Siluetnya terbingkai cahaya koridor sebelum ia melangkah masuk ke dalam kamar Henri yang temaram. Berbeda dari balutan zirah kulit yang biasa digunakannya saat patroli, malam ini sang panglima mengenakan gaun sutra gelap yang elegan namun tetap memberikan ruang gerak bebas. Meski demikian, pedang pendek tetap tergantung kaku di pinggangnya—sebuah simbol bahwa ia tidak pernah sepenuhnya melepaskan identitas militernya.
Namun, saat kakinya melintasi ambang pintu, langkah Putri Feng mendadak tertahan.
Dinding pertahanannya yang biasanya kokoh seolah mendapat tekanan dari arah yang tak terduga. Alisnya mengernyit tipis—bukan karena ancaman bahaya, melainkan akibat kebingungan sensorik. Hidungnya mengembang pelan, menarik napas untuk mencerna molekul-molekul aromatik yang melayang di udara dan langsung menyergap indra penciumannya.
Tatapannya bertumbukan dengan Henri yang sedang duduk tenang memegang cawan teh. Senyum tipis yang penuh kalkulasi terukir di bibir Henri saat antarmuka Bio-Feedback Scanner di matanya melaporkan grafik biologis sang panglima:
Detak jantung: Meningkat dari 68 ke 82 BPM.
Pola napas: Dangkal dan tertahan.
Respons Galvanik Kulit: Memuncak.
Putri Feng melangkah dua tindak lebih jauh ke dalam ruangan. Gerakannya kehilangan ketegasan militer yang biasa ia pamerkan. Jari-jarinya yang kuat dan terbiasa memegang gagang senjata kini menyentuh ujung lengan gaunnya sendiri—sebuah gestur ketidakpastian yang tidak sadar ia lakukan.
"Yang Mulia," suara Putri Feng terdengar sedikit lebih berat dari biasanya. Matanya melirik sejenak ke arah mangkuk porselen kosong di atas meja sebelum kembali terkunci pada sosok Henri. "Anda memanggil saya?"
"Putri Feng," sapa Henri lembut. Suaranya diatur pada frekuensi rendah yang bergema pas dengan atmosfer ruangan, membawa serta gelombang feromon yang melayang di antara mereka. "Masuklah. Udara malam di luar terlalu dingin untuk pertahanan yang kaku."
Putri Feng tidak langsung menjawab. Pupil matanya sedikit melebar, memantulkan bayangan cahaya lilin saat ia melangkah semakin mendekat ke jangkauan medan aromatik Henri. Lapisan es di wajahnya mulai mencair, tergantikan oleh rasa penasaran dan kehangatan asing yang perlahan merambat merusak kendali dirinya.