Chapter 27 of 35

Sentuhan di Bawah Meja

737 words

Udara di Istana Anggrek terasa pekat, mengentalkan aroma dupa cendana yang membakar perlahan di sudut-sudut ruangan berukir emas. Wewangian melati buatan menyengat tajam di sela-sela embusan napas para penghuni istana, menciptakan kontras yang menyesakkan dengan keheningan formal yang membentang. Henri bersandar tegak pada tumpukan bantal sutra merah tua. Posturnya memancarkan wibawa pangeran yang tak tercela, namun di balik topeng ketenangan itu, prosesor biologis di dalam kepalanya bekerja pada kapasitas penuh. Meja rendah dari giok hitam di hadapannya dipenuhi sajian megah—mangkuk-mangkuk sup sirip hiu yang mengepulkan uap tipis, piring perak berisi irisan bebek peking berbalut kulit renyah, serta manisan buah naga yang ditata presisi menyerupai kelopak bunga. Ia tahu semua kemewahan ini hanyalah panggung sandiwara. Sebuah pelataran perjamuan yang sengaja diciptakan untuk menyembunyikan intrik beracun di bawah permukaan yang berkilau. Di seberangnya, Selir Agung Liu duduk bagaikan patung porselen hidup. Balutan gaun sutra berwarna biru keunguan memeluk tubuhnya yang ramping, disulam dengan benang emas murni yang memantulkan pendar temaram lampu lentera. Senyum tipis yang terukir di bibirnya tidak pernah mencapai mata. Henri mencatat anomali itu sebagai indikator disiplin mental tingkat tinggi; wanita ini adalah benteng pertahanan yang nyaris mustahil ditembus dengan konfrontasi terbuka. Putri Feng mengambil tempat di sisi kiri Henri. Ketenangan seorang prajurit elite masih melekat pada garis bahunya yang lurus, meski lirikan mata wanita itu sesekali jatuh pada Henri, menyiratkan gelombang kecemasan yang hanya bisa dibaca oleh sensor internal bioniknya. Di ujung meja utama, Grand Empress mengawasi jalannya perjamuan dalam kebisuan yang mutlak. Sepasang mata wanita tua itu tajam, mengintai layaknya burung pemangsa yang bersiap menerkam mangsa di balik rumput tinggi. Henri menarik napas perlahan. Sensasi hangat teh krisan mengalir di tenggorokannya, meredakan denyut sisa racun yang sewaktu-waktu masih mengancam stabilitas raganya. Ini adalah momen krusial untuk menguji pertahanan sang Selir. Sinyal listrik dikirimkan dari pusat sarafnya ke ujung kaki. Bergerak di balik lipatan jubah brokat yang tebal, sepatu bersarung sutra hitam miliknya meluncur turun tanpa suara. Ujung sepatunya merayap di atas lantai kayu yang dipoles mengilap, menyelinap melewati batas bayangan meja giok, mencari target dengan presisi seorang penembak jitu. Sentuhan. Ujung sepatu Henri mendarat tepat di pergelangan kaki Selir Agung Liu. Kontak itu sangat ringan, hampir menyerupai hembusan angin atau gesekan kain yang tak disengaja, namun sarat dengan muatan kesengajaan. Reaksi wanita itu terjadi seketika. Selir Agung Liu tersentak kecil. Napasnya tertahan di ujung tenggorokan, menciptakan jeda mikro yang lolos dari pendengaran orang biasa, namun tertangkap sempurna oleh sistem audio internal Henri. Kontraksi otot di rahangnya mengencang sesaat sebelum ia berhasil memaksanya mengendur. Pupil matanya melebar sepersekian milidetik, dan jemari lentik yang memegang sumpit sempat bergetar tipis. Henri tidak melepaskan tekanannya. Ia membiarkan ujung sepatunya bertahan di sana, menjadi gangguan konstan yang mengikis konsentrasi sang Selir dari balik kemegahan hidangan istana. "Hiasan ranting plum di sudut ruangan itu," ucap Henri memecah keheningan, suaranya tenang, mengalun lembut menembus alunan musik istana yang sayup-sayup terdengar. "Apakah ia dipetik langsung dari kebun pribadi Yang Mulia?" Pertanyaan itu meluncur tanpa beban, sebuah basa-basi kosong di permukaan, namun dirancang khusus untuk memaksa Selir Agung membagi fokusnya antara etiket sosial dan sensasi asing yang menggelitik pergelangan kakinya di bawah meja. Liu mengangkat wajahnya. Senyumnya terpasang kembali dengan sempurna, meski ada ketegangan laten yang berdenyut di balik nadinya. "Benar, Pangeran Henri. Pohon itu mekar lebih awal tahun ini. Sebuah berkah yang langka." Suaranya halus, menyerupai gesekan kain sutra yang bergeser di atas batu marmer. Namun, Henri merasakan getaran halus dari kontak fisik di bawah meja—denyut nadi di pergelangan kaki wanita itu berdetak jauh lebih cepat dari batasan normal ketenangannya. "Keindahan yang langka seringkali menyimpan racun paling mematikan," balas Henri penuh makna. Sudut bibirnya terangkat dalam senyuman tipis yang hanya bisa dilihat oleh wanita di seberangnya. Tekanan di bawah meja ia perkuat sedikit lagi. Bukan lagi sekadar sentuhan pasif, melainkan sebuah desakan terukur yang menuntut perhatian penuh sang Selir. Putri Feng di sampingnya mengamati perubahan kecil pada ritme napas Liu. Ketenangan prajurit itu berubah menjadi kewaspadaan tinggi, jemarinya mengepal di bawah meja, siap siaga menghadapi segala kemungkinan terburuk yang bisa meledak di tengah jamuan makan malam kekaisaran. Grand Empress menyipitkan mata. Pandangan tertuju pada interaksi singkat di antara keduanya, menilai setiap tarikan napas dan perubahan mikro-ekspresi dengan pengalaman puluhan tahun menguasai intrik istana. Henri tahu ia sedang bermain di atas kawat tipis di atas jurang kehancuran. Namun, di dalam kepalanya, kalkulator taktis terus memperbarui data keberhasilan. Benteng pertahanan Selir Agung Liu telah retak, dan ia tidak akan berhenti sampai dinding itu runtuh sepenuhnya.

End of Chapter 27