Chapter 26 of 35
Makan Malam Bersama Raja Naga
417 words
Henri melangkah melewati ambang pintu Kediaman Anggrek. Suara gesekan kain sutra halusnya berbisik pelan (sreeet), beradu dengan udara istana yang dingin menusuk kulit. Aroma dupa cendana yang berat berpadu dengan wangi melati, menciptakan atmosfir yang memabukkan sekaligus menyengat kewaspadaan.
Lantai pualam di bawah kakinya terasa padat dan kaku. Tiap langkah diatur dengan presisi, bergema pelan di lorong yang diselimuti keheningan mutlak. Saraf optiknya bekerja tanpa henti, memindai setiap detail arsitektur: ukiran naga berlapis emas yang melilit pilar-pilar kokoh, tirai brokat bersulam burung phoenix di jendela tinggi, serta vas porselen biru-putih Dinasti Ming yang berdiri anggun di sudut ruangan.
Henri berhenti sejenak di dekat vas porselen itu. Jemarinya menyentuh permukaannya yang dingin dan halus. Sebuah benda seni yang rapuh, pikirnya—serapuh kekuasaan di istana ini yang dapat berkeping-keping akibat guncangan terkecil.
Database taktis di dalam benaknya berdengung, mengingatkan bahwa kemewahan ini hanyalah kedok untuk menutupi intrik paling kejam. Ia mengaktifkan Bio-Feedback Scanner secara penuh. Lingkungan ini adalah medan perang berbalut beludru, di mana setiap bayangan dan hembusan angin bisa menjadi sandi rahasia. Sedikit denyut nyeri berkedut di pelipisnya—sisa kelelahan dari Sensory Overload sebelumnya—namun ia segera menepisnya.
Posturnya ditegakkan sempurna. Bahunya ditarik ke belakang, memancarkan wibawa pangeran yang tenang di luar, sementara intlegensi buatan di balik tempurung kepalanya menghitung ribuan variabel kalkulasi intens secara real-time.
Ia bergerak lebih dalam menuju ruangan utama yang diterangi pendar temaram lentera sutra. Samar-samar, suara gemericik air kolam ikan koi dari taman samping menciptakan kontras ganjil dengan ketegangan yang merayap di bawah kulitnya. Ini adalah jantung kekuasaan Selir Agung Liu.
Dari balik tirai sutra keemasan di ujung ruangan, sebuah siluet bergerak anggun. Langkah kaki itu begitu ringan hingga nyaris tanpa suara, memancarkan otoritas yang tak terbantahkan.
Selir Agung Liu muncul dalam balutan jubah sutra biru tua yang disulam dengan benang perak membentuk pola awan dan bangau. Rambut hitamnya tergulung rumit, dihiasi jepit giok dan mutiara yang berkilau lembut di bawah cahaya lentera. Henri mengunci pandangannya pada sosok itu, merekam setiap detail kecil: garis halus di sudut mata yang menyimpan kedewasaan, ketajaman tatapan yang menghujam, serta bibir tipis berpoles merah delima yang mengukir senyum tanpa kehangatan.
"Kau datang lewat tengah malam, Pangeran," suara Liu mengalun dingin, menusuk langsung ke pusat kesadaran. "Bukan untuk mempersembahkan upeti, kukira. Melainkan untuk menyeret dirimu sendiri ke dalam lingkaran api."
"Api tidak akan membakar mereka yang tahu cara mengendalikannya, Selir Agung," balas Henri tenang.
Ia memangkas sisa jarak di antara mereka, membiarkan aroma cendana dan feromon dingin sang Selir menyelimuti indranya, bersiap menguji batas pertahanan wanita paling berbahaya di istana tersebut.