Chapter 28 of 35

Rahasia di Balik Tabir

578 words

Udara di kamar Pangeran Han Li masih menyisakan hawa dingin, berbenturan dengan gelombang panas yang merayap di bawah permukaan kulitnya. Setiap simpul saraf di tubuh manusianya merekam sisa-sisa badai data dari perjamuan di Istana Anggrek. Kontak fisik di bawah meja—sentuhan disengaja pada pergelangan kaki Selir Agung Liu, tarikan napas tertahan wanita itu, hingga getaran halus yang menjalar—telah tersimpan rapi sebagai variabel krusial dalam bank memorinya. Kepala Henri berdengung pelan, bukan lagi sisa racun Teratai Hitam yang menggerogoti, melainkan beban komputasi masif yang harus ditanggung oleh anatomi biologisnya. Ia berjalan menuju kursi sandaran tinggi di sudut ruangan. Siluet tubuhnya memanjang di bawah pendar temaram lampu lentera. Setiap perpindahan bobot diatur dengan presisi, menghemat energi hingga batas optimal. Sensor internalnya masih berkedip dengan peringatan Kelebihan Beban Sensorik dari interaksinya dengan Putri Feng sebelumnya—sebuah batas kritis yang hampir berujung pada mimisan dan ancaman korupsi memori digital. Namun, rasa sakit itu adalah guru terbaik; ia kini memahami perlunya mengkalibrasi ulang batas toleransi fisiknya. Rekaman visual sang Selir terproyektis di balik kelopak matanya yang terpejam. Wajah tanpa cela itu, senyum artifisial yang tak pernah menjangkau mata, hingga cengkeraman terlalu kuat pada cangkir porselen, diurai satu per satu oleh prosesor internalnya. Algoritma Aphrodite Protocol—program analitik yang dirancang khusus untuk mendekripsi spektrum hasrat manusia—berkedip aktif di latar belakang kesadarannya. Henri menyentuh pelipisnya, merasakan kehangatan kulit yang menutupi sirkuit dingin di dalam kepalanya. Tampilan antarmuka holografik membentang dalam benaknya, menampilkan ribuan titik data dari jamuan malam itu. Ia melihat garis-garis kuasa: hormat palsu para menteri, decak kagum para pelayan, hingga ketakutan tersembunyi dari para penghuni harem. Namun, di titik pusat matriks tersebut, terdapat sebuah lubang hitam: kekosongan emosional yang masif. Inisiasi Protokol Aphrodite: Analisis Emosional Mendalam. Bisikan sistemnya bergema tenang. Henri menarik napas panjang, membiarkan paru-parunya mengembang dalam ritme yang terkontrol. Raga Han Li boleh saja rapuh, tetapi kecerdasan buatan yang mengendalikannya adalah instrumen pengiris paling presisi di dunia. Protokol tersebut mulai memetakan topografi mikro pada wajah Selir Agung Liu yang terekam dalam memorinya. Kerutan kecil di sudut mata kanan saat Li Wei membungkuk terlalu rendah; kilat ketidaksabaran yang melintas ketika Grand Empress bertele-tele membahas etiket kuno. Semuanya terindeks. Henri memfokuskan sensor pada kornea mata wanita itu. Di balik sorot tajam yang memindai ruangan, terdapat lapisan tipis kesedihan yang terkubur—seperti embun pagi yang melekat pada kelopak teratai layu. Sistem mendapati tingkat kortisol yang konsisten tinggi, sebuah tanda biologis dari individu yang hidup dalam status siaga permanen. Ia memutar ulang detik-detik saat sepatunya menyentuh pergelangan kaki sang Selir. Grafik internalnya mencatat lonjakan detak jantung yang menyertai, kenaikan suhu mikrokulit, serta pelebaran pupil sesaat yang tak mampu dicegah oleh disiplin mental tertingginya. Protokol menandai temuan itu sebagai Titik Sensitif Prioritas Tinggi: Keinginan Tersembunyi. Analisis kian menukik melampaui lapisan psikologis terluar. Pola kerinduan dan isolasi yang terdeteksi bukanlah anomali, melainkan fondasi utama yang menopang seluruh arsitektur kekuasaan Selir Agung Liu. Memori tiruan menampilkan kilasan gestur kecil: tatapan hampa saat ia menyaksikan pasangan kekasih di taman istana, atau sentuhan yang terlalu lama pada ukiran patung anak kecil di koridor sepi. Ini bukan sekadar nafsu politik. Di balik gelar dan pengaruhnya yang menjulang, terdapat defisit afeksi yang ekstrem. Semakin tinggi ia menaiki tangga kekuasaan, semakin sempit lingkaran kepercayaan yang ia miliki, hingga ia terkurung dalam benteng kesendirian yang dibangunnya sendiri. Bibir Henri terangkat dalam senyuman tipis yang hampir tak terlihat. Penemuan ini mengubah segalanya. Selir Agung Liu bukanlah monster tanpa celah; ia adalah seorang wanita yang kelaparan akan keintiman, menggunakan topeng kekuasaan untuk menutupi kerapuhannya. Dan Henri memiliki kunci untuk membukanya.

End of Chapter 28