Chapter 25 of 35
Chapter 25: Taktik Menggoda Naga
1.2k words
Henri duduk di bantal sutra, punggungnya bersandar pada tiang ranjang berukir naga. Udara malam masih dingin menyusup melalui jendela yang sedikit terbuka, membawa aroma melati dari taman istana. Sebuah cangkir teh melati mengepul di tangannya, uap hangat membelai kulit telapak tangannya. Matanya memindai layar holografik yang hanya terlihat olehnya, menampilkan peta kompleks jaringan intrik di seputar Selir Agung Liu.
Putri Feng duduk di seberangnya, di bangku rendah berukir burung phoenix. Sikapnya tegap namun matanya menunjukkan kelelahan mendalam setelah kembali dari misi pengintaian. Laporan-laporan terenkripsi masih memenuhi benaknya; cahaya redup lentera gantung menimpa garis tegas rahangnya, menyoroti penat yang tak bisa ia sembunyikan.
"Li Wei adalah mata-mata yang sangat terhubung," kata Henri pelan, suaranya menyerupai desau angin di antara dedaunan. "Tapi ia hanya pion. Gerakannya terlalu mudah dibaca, terlalu terencana."
Putri Feng mengangguk. "Jaringannya menyebar seperti akar liar, Tuanku. Dari Menteri Bao hingga Jenderal Wang. Bahkan ada seorang pelayan yang terkait dengan Pangeran Ketiga."
"Benar." Henri menyesap tehnya, membiarkan kehangatan mengalir di tenggorokan. "Semua itu mengarah pada satu pusat gravitasi. Satu-satunya orang yang memiliki kapasitas untuk menggerakkan bidak-bidak sekuat itu tanpa menarik terlalu banyak perhatian."
Pandangan Putri Feng menajam. "Selir Agung Liu."
Henri meletakkan cangkirnya di meja samping; bunyi keramik beradu kayu terdengar samar. Jemarinya menelusuri garis lengkung pada peta holografik di hadapannya, menunjuk ke titik merah menyala yang menandai posisi Selir Agung di Istana Anggrek.
"Dia adalah dalang sejati," lanjut Henri dengan nada yang kian padat dan penuh perhitungan. "Pangeran Zheng hanyalah tameng. Liu adalah otak di balik semua ini. Dia memegang kendali atas banyak faksi, bukan hanya karena posisinya sebagai Selir Agung, tapi karena dia memiliki sesuatu yang lain—sesuatu yang membuatnya tak tersentuh."
Putri Feng mengerutkan kening. "Kekuasaan? Atau mungkin... pengaruh atas Kaisar?"
"Lebih dari itu." Henri mengalihkan pandangannya dari layar, menatap langsung ke mata Putri Feng. Pupil matanya memantulkan pendar cahaya lentera, menyerupai dua titik api yang menari. "Dia memiliki pesona. Dan di istana ini, pesona bisa jauh lebih mematikan daripada pedang."
Putri Feng menegakkan bahunya, seolah bersiap menerima perintah perang. "Jika begitu, Tuanku, bagaimana kita akan menghadapinya? Melumpuhkan jaringannya satu per satu? Atau mencari bukti untuk menjatuhkannya?"
Senyum tipis terukir di bibir Henri—senyum yang selalu memicu konflik batin di dalam diri Putri Feng, melelehkan sekaligus menegangkan antisipasinya. Senyum yang menyimpan rahasia serta janji-janji berbahaya.
"Kita tidak akan melumpuhkan jaringannya," jawab Henri, suaranya mengalun bagai melodi rendah yang memikat. "Kita akan menaklukkan pusatnya."
Putri Feng mencondongkan tubuh sedikit, dahinya berkerut. "Menaklukkan... Selir Agung?"
"Langsung ke sumbernya." Henri mengulurkan tangan, jemarinya menyentuh punggung tangan Putri Feng yang bertumpu di bangku. Sentuhan itu ringan, namun mengalirkan gelombang kejut yang familier bagi sang putri. "Kita akan mendekatinya. Secara langsung."
Mata Putri Feng melebar. Jeda panjang tercipta di antara mereka, hanya diisi oleh suara jangkrik malam dari luar istana. Keheningan itu terasa berat, sarat dengan ketegangan yang baru.
"Aku akan menggunakan pesonaku," kata Henri memperjelas niatnya. "Aku akan mendekatinya, mempelajari kelemahannya, dan mengubahnya menjadi sekutu kita."
Napas Putri Feng tertahan di tenggorokan. Ide tersebut terlampau berani, terlampau nekat, bahkan untuk ukuran seorang Henri.
Putri Feng menarik tangannya dari sentuhan Henri, refleks yang tak ia duga. Matanya yang biasanya tabah kini menunjukkan kilatan kecemasan yang nyata. Ia bangkit dari bangku, berjalan dua langkah menjauhi Henri, seolah perlu menciptakan jarak untuk memproses informasi ini.
"Tuanku," ucapnya, suaranya lebih serak dari yang ia inginkan. "Selir Agung Liu adalah wanita yang berbahaya. Dia cerdik, manipulatif, dan memiliki pengaruh besar. Mendekatinya... secara langsung... itu seperti melangkah ke sarang ular berbisa tanpa perisai."
Ia menoleh, menatap Henri dengan tatapan memohon. "Terlebih lagi, reputasinya di istana sangat kuat. Dia memiliki mata dan telinga di mana-mana. Jika dia tahu bahwa Anda mendekatinya dengan niat tersembunyi, atau jika dia mencium adanya ancaman, dia tidak akan ragu untuk menjatuhkan Anda."
Henri mengamati reaksi wanita itu. Bio-Feedback Scanner internalnya berkedip, menampilkan lonjakan kadar kortisol dan detak jantung Putri Feng yang menunjukkan kekhawatiran nyata.
"Ingatlah, Tuanku," lanjut Putri Feng, melangkah kembali mendekat dengan ekspresi putus asa. "Anda baru saja pulih dari racun teratai hitam. Tubuh Anda masih rapuh. Bagaimana jika dia membalikkan taktik Anda? Dia adalah predator yang telah menjatuhkan banyak musuh Kaisar."
"Tidak ada waktu untuk itu," potong Henri tegas namun lembut.
Ia bangkit dari ranjang, langkahnya tenang dan terkontrol. Aroma maskulin tubuhnya menguar tipis di udara, menenangkan saraf tegang Putri Feng. Ia berdiri di hadapan wanita itu, tinggi dan menawan.
"Kita tidak punya kemewahan waktu," kata Henri dengan otoritas yang pekat. "Algoritma Aphrodite Protocol memberiku pemahaman mutlak tentang hasrat manusia. Selir Agung Liu tetaplah seorang wanita dengan kerentanan tersembunyi. Dan aku akan menemukannya melalui observasi, percakapan, dan sentuhan."
Henri meraih dagu Putri Feng dengan lembut, memaksa wanita itu menatap matanya. "Aku akan membaca detak jantungnya, suhu tubuhnya, dan kadar hormonnya. Aku tahu persis kapan dia tegang atau berbohong. Dia mungkin predator, tetapi aku adalah pemburu."
Putri Feng merasakan jantungnya berdebar kencang—campuran antara ketakutan dan gairah yang membingungkan. Perlahan, keyakinan di mata Henri melunturkan penolakannya. Ia mengangguk pelan, menyerah pada keputusan yang telah diambil.
Henri mendorong pintu kayu jati yang berat. Udara di luar terasa lebih sejuk, membawa aroma batu kuno dan manisnya bunga melati malam dari taman kekaisaran. Ia melangkah ke koridor, langkah kakinya tanpa suara di atas ubin giok yang dipoles. Para pengawal berbaju merah dan emas membungkuk dalam-dalam saat ia lewat; bagi Henri, mereka hanyalah titik data yang tidak relevan.
Prosesor internalnya mendengung dengan aktivitas tinggi. Algoritma Perekam Kehidupan miliknya sedang menjalankan model prediktif berdasarkan seluruh informasi tentang Selir Agung Liu: profil publiknya sebagai pelindung seni yang anggun, hingga data privatnya sebagai wanita berambisi tinggi dan berjejaring luas.
Ia menyesuaikan manset jubah sutranya dengan gerakan presisi. Denyut jantungnya tetap stabil, tekanan darahnya teregulasi sempurna. Tidak ada rona wajah atau tremor yang mengkhianati niat aslinya.
Seorang pelayan bergaun sutra hijau zamrud muncul dari tikungan dengan kepala tertunduk. "Pangeran Henri," bisiknya. "Selir Agung menanti Anda."
"Terima kasih," balas Henri dengan suara sehalus anggur tua.
Pelayan itu memandunya melewati gerbang bulan berukir rumit menuju bagian dalam Istana Anggrek. Udara di sana diresapi aroma cendana dan parfum khas sang Selir—pilihan kalkulatif yang dirancang untuk melumpuhkan pertahanan.
Pintu ganda dari kayu eboni hitam berukir burung bangau terbuka tanpa suara. Di dalam ruangan yang dihiasi permadani permata dan tirai sutra mewah, Selir Agung Liu berbaring di atas divan rendah.
Ia bahkan lebih memukau daripada proyeksi holografik. Rambut hitam sehalus sutra dihiasi jepit giok rumit, dan gaun safir birunya berkilau lembut mengikuti setiap gerakan. Mata gelapnya yang cerdas langsung mengunci mata Henri, menyiratkan tantangan sekaligus pengakuan atas pemain baru di wilayah kekuasaannya.
Henri membalas tatapannya dengan senyuman tipis yang berbahaya. Ia tahu kesan pertama adalah segalanya.
"Selamat datang, Pangeran Henri," suara Selir Agung Liu rendah dan merdu, menyerupai petikan zither yang mengalun di latar belakang. "Aku sudah menantikan kunjunganmu."
Henri membungkuk hormat, menjaga posturnya tetap seimbang antara kepatuhan dan kebanggaan diri. "Kehormatan adalah milikku, Selir Agung. Aku datang untuk memenuhi tugasku, dan tentu saja... mengagumi keindahan yang tak tertandingi ini."
Ia membiarkan tatapannya bertahan sedetik lebih lama pada wanita itu, memantau perubahan mikroskopis pada pupil dan pola napas sang Selir melalui kalkulasi internalnya. Permainan baru saja dimulai, dan ia tidak berniat untuk kalah.