Chapter 24 of 35

Permaisuri, Ancaman Sejati

1.2k words

Udara malam di Istana Utara terasa dingin, menusuk hingga ke bionik terdalam kesadaran Henri. Ia duduk tegak di meja cendana, jemarinya yang panjang merangkai potongan-potongan perkamen yang baru saja dibawa Putri Feng. Aroma tinta basah dan lilin lebah memenuhi rongga hidungnya, kontras dengan bau anyir darah yang masih samar menempel di ingatannya dari insiden mimisan tadi siang. Sistemnya masih mengirim peringatan rendah, sebuah pengingat brutal tentang batas raga manusia yang rapuh. Setiap garis tulisan kasual pada perkamen itu, setiap nama yang disebut dalam laporan Putri Feng, terasa seperti bit data yang mengalir deras ke dalam prosesornya. Li Wei. Nama itu berulang, menjadi poros dari seluruh jaringan informan yang terkuak. Henri menyematkan pin virtual pada setiap titik koneksi yang teridentifikasi, menciptakan peta kompleksitas yang perlahan mengambil bentuk di benak digitalnya. Kepalanya berdengung pelan. Bukan lagi efek kelebihan beban sensorik, melainkan suara komputasi berkecepatan tinggi yang bekerja tanpa henti. Ia mengaktifkan antarmuka holografisnya, memproyeksikan data ke udara tipis di hadapannya. Simpul-simpul merah muncul, menunjukkan faksi-faksi yang saling bertautan, loyalitas yang terpecah, dan benang-benang kekuasaan yang kusut. Database Taktis Abad ke-22-nya memindai setiap nama, mencari anomali, pola, dan hubungan historis. Informasi tentang Li Wei sebagai kepala kasim di sayap Pangeran Zheng dan Selir Agung Liu sudah jelas. Namun, laporan Putri Feng menyebutkan sesuatu yang lebih, bisikan tentang pengaruh Li Wei yang melampaui batas posisinya, jangkauan jaringannya yang terlalu luas untuk sekadar seorang pelayan. Jari-jari Henri berhenti melayang di atas proyeksi. Sebuah pola minor terlihat. Beberapa informan Li Wei, yang secara resmi berafiliasi dengan Pangeran Zheng, ternyata juga memiliki catatan transaksi mencurigakan dengan pelayan-pelayan kelas atas di lingkungan pribadi Selir Agung Liu. Ini bukan kebetulan. Ia memejamkan mata sesaat, membiarkan algoritma prediktifnya bekerja. Potongan-potongan kecil itu mulai membentuk gambar yang lebih besar, jauh lebih berbahaya dari sekadar intrik seorang pangeran yang ambisius. Ada tangan lain yang bergerak dalam bayangan, menggunakan Li Wei sebagai pion, sebagai perpanjangan dari ambisinya sendiri. Suara langkah kaki yang akrab mendekat. Putri Feng masuk ke ruang kerja Henri, membawa nampan berisi teh herbal hangat. Matanya yang tajam memindai ekspresi Henri, mencari jejak kelelahan atau kekhawatiran. Ia meletakkan nampan itu di sisi meja, gerakannya tenang dan pasti. Sorot mata Henri, yang masih memancarkan pendar redup dari layar holografis, terkunci pada Putri Feng. "Kau datang tepat waktu," ujarnya dengan suara lebih rendah dari biasanya. Getaran resonansi digital masih terasa di balik nada manusiawinya. Ia mendorong beberapa gulungan perkamen yang telah ditandai dengan stylus virtual ke arah sang putri. "Li Wei. Jaringan informannya meluas ke luar sayap Pangeran Zheng. Jauh melampaui apa yang seharusnya dimiliki seorang kepala kasim." Putri Feng mengambil gulungan itu, tatapannya menyapu tanda-tanda merah yang dibuat Henri. Ia tidak bertanya, hanya menunggu. Henri menghargai efisiensi itu. "Beberapa titik, yang secara nominal terhubung dengan Pangeran Zheng, ternyata memiliki ikatan tersembunyi dengan staf di paviliun pribadi Selir Agung Liu," lanjut Henri, jemarinya mengetuk proyeksi holografis yang masih melayang. Simpul-simpul merah itu berkedip, menunjukkan transaksi kecil, pengiriman pesan, hingga pertemuan singkat di area terlarang. "Selir Agung?" tanya Putri Feng, nadanya datar, namun ada kerutan halus di antara alisnya. Informasi ini jelas mengejutkannya, sebab semua intrik selama ini selalu berpusat pada perebutan takhta antar-pangeran. Selir Agung Liu, meskipun memiliki kedudukan, secara tradisional dianggap tidak memiliki ambisi politik langsung. "Secara resmi, ia memang tidak," Henri membenarkan. "Namun, data ini tidak berbohong. Terlalu banyak anomali untuk diabaikan sebagai kebetulan. Aku butuh lebih dari sekadar bisikan pasar, Putri Feng." Ia mencondongkan tubuh sedikit, tatapannya kian tajam. "Aku butuh bukti konkret. Setiap koneksi, setiap pembayaran, setiap pesan rahasia yang melewati jaringan Li Wei dan berakhir di dekat Selir Agung." Putri Feng mengangguk pelan. "Bagian mana yang harus menjadi fokus utama saya?" "Fokuskan pada para pelayan terdekat Selir Agung," perintah Henri. "Terutama kepala dayang, Janda Mei. Ia dikenal sangat setia, namun laporan lama menyebutkan dia memiliki adik yang pernah terlibat masalah utang judi di distrik bawah. Sebuah kerentanan yang bisa dieksploitasi." Henri tidak suka memperalat kelemahan pribadi, namun dalam pertarungan politik istana, itu adalah mata uang yang paling efektif. Ia menambahkan, "Aku juga ingin kau mencari tahu tentang jadwal pribadi Selir Agung. Siapa saja yang ia temui di luar pertemuan resmi? Apakah ada tamu-tamu yang tidak tercatat dalam buku tamu istana? Atau pengiriman barang-barang yang tidak biasa?" Putri Feng mencengkeram gulungan perkamen itu lebih erat. "Ini akan membutuhkan waktu. Mata-mata saya di sayap Selir Agung tidak banyak, dan mereka semua bergerak sangat hati-hati." "Waktu adalah kemewahan yang tidak kita miliki," tukas Henri. "Kerajaan ini seperti kapal yang karam perlahan, dan kebocoran ini jauh lebih besar dari yang kita duga. Jika Selir Agung terlibat, maka motif dan jangkauannya akan mengubah seluruh dinamika permainan ini." Ia mengambil cangkir teh, namun tidak meminumnya. Pandangannya kosong, menembus dinding ruang kerja, seolah ia sudah bisa melihat benang-benang intrik yang lebih dalam terbentang di seluruh penjuru istana. "Pergi sekarang, Putri Feng. Beri aku jawaban sebelum fajar menyingsing." Putri Feng bangkit, membungkuk tipis, dan berbalik pergi. Bayangannya memanjang di lantai marmer, meninggalkan keheningan yang kembali merayapi ruangan—hanya dipecahkan oleh dengungan rendah sistem Henri. Jam demi jam berlalu. Matahari telah terbit dan kini kembali merangkak turun, membiaskan cahaya jingga di celah-celah ukiran jendela. Putri Feng belum kembali dengan jawaban definitif, namun keheningan itu sendiri adalah sebuah jawaban. Ini bukan intrik biasa yang bisa dibongkar dalam semalam. Ini adalah sesuatu yang lebih dalam, seperti akar-akar tua yang menjalar di bawah fondasi istana. Bayangan Selir Agung Liu kini memenuhi ruang komputasi Henri. Bukan lagi sekadar nama yang tertera di laporan, melainkan sebuah entitas yang memancarkan aura bahaya, dingin dan tak terlihat. Selama ini, perhatian Henri terpusat pada Pangeran Zheng dan saudaranya, Pangeran Bao—dua serigala yang memperebutkan satu takhta. Namun, Selir Agung Liu selalu dipandang sebagai figur pasif, sibuk dengan upacara dan kehidupan sosial, jauh dari kancah politik kotor. Itulah letak bahayanya. Henri memproyeksikan kembali peta jaringan Li Wei. Dengan data baru yang ia kumpulkan dari arsip lama istana dan informan cadangan, koneksi Selir Agung mulai terlihat lebih jelas. Ia melihat pola kunjungan, hadiah-hadiah kecil yang ditukar, serta pergantian staf di paviliun pribadi yang terlalu sering untuk dianggap normal. Semuanya kecil dan terpisah, tetapi ketika digabungkan, hal itu membentuk mosaik pengaruh yang mengerikan. Ia adalah dalang yang sempurna. Dengan kedudukan tanpa ambisi yang jelas, ia bisa menggerakkan pion-pion di papan catur tanpa menarik perhatian. Pangeran Zheng dan Pangeran Bao mungkin hanya alat di tangannya. Jika itu benar, ancaman yang dihadapi kerajaan jauh lebih besar dari perkiraan. Henri mengusap pelipisnya. Sistemnya berkedip merah, menandakan kelelahan ekstrem, tetapi ia tidak bisa berhenti. Sebuah strategi baru mulai terbentuk di benaknya—sebuah rencana berani, bahkan nekat. Pendekatan konvensional untuk mencari bukti langsung akan memakan waktu terlalu lama dan berisiko terendus. Selir Agung terlalu licin. Ia harus memaksanya keluar dari persembunyian. Caranya adalah dengan menciptakan sesuatu yang begitu mengancam posisinya, hingga ia terpaksa menunjukkan tangan aslinya. Henri memikirkan satu nama: Pengadilan Kekaisaran. Lembaga yang ditakuti semua orang, yang punya wewenang untuk menyelidiki siapa pun di keluarga kerajaan, asalkan ada alasan yang cukup kuat. Namun, untuk menggerakkan Pengadilan Kekaisaran, ia membutuhkan sebuah skandal besar yang memicu investigasi resmi, namun cukup samar agar Selir Agung tidak bisa langsung menuding balik dirinya. Strateginya: menggunakan Li Wei sebagai umpan. Ia akan menyebarkan informasi palsu, menjatuhkan tuduhan yang menciptakan kebingungan, dan memaksa Selir Agung bertindak untuk melindungi kepentingannya sendiri. Sebuah senyum tipis, dingin, dan penuh perhitungan, tersungging di bibir Henri. Ia akan membuat sang dalang menunjukkan wajah aslinya. Ia akan mengguncang pondasi istana sampai Selir Agung tidak punya pilihan selain keluar dari bayangannya.

End of Chapter 24