Chapter 23 of 35

Jaringan Bayangan Li Wei

934 words

Babak Investigasi Istana Utara Udara di Istana Utara terasa tipis, namun bukan karena hawa dingin. Itu adalah antisipasi. Henri bersandar pada bantal sutra di divan, jemarinya mengetuk pelan pada paha sendiri. Luka dalam akibat racun Teratai Hitam masih terasa menggerogoti, sebuah bisikan konstan di tepi kesadarannya, mengingatkan pada kerapuhan raga manusia ini. Di saat yang sama, debaran jantungnya, respons biologis yang kini ia rasakan langsung, berdetak lebih cepat setiap kali memikirkan Putri Feng. Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan gambaran Feng mengisi benaknya. Wanita itu bergerak lincah, bayangan yang melesat tanpa suara di lorong-lorong istana. Mata tajamnya memindai setiap sudut dan celah, mencari anomali sekecil apa pun. Henri telah mengajarinya cara membaca mikro-ekspresi serta merasakan aura ketegangan di antara para kasim dan dayang—pengetahuan yang jauh melampaui pelatihan militernya. Feng memulai dengan rutinitas harian Li Wei: kapan kasim itu bangun, siapa orang pertama yang ditemuinya, serta jalur yang ia ambil dari kediamannya menuju Paviliun Anggrek atau Balairung Naga. Setiap detail adalah sepotong data berharga. Henri telah menanamkan algoritma observasi ke dalam pikiran wanita itu. Ketika malam merambat turun dan rembulan naik tinggi di langit, bayangan Feng memanjang di lantai batu yang dingin. Henri merasakan perubahan halus pada detak jantungnya saat wanita itu melangkah masuk. Ada ketegangan di bahunya, sebuah kekencangan otot yang tak terlihat, menandakan ia membawa sesuatu yang signifikan. Feng tidak langsung bicara; ia berlutut di hadapan Henri, menundukkan kepala dengan napas sedikit memburu. “Bangun, Feng,” suara Henri rendah dan memerintah. Ia tidak suka melihatnya di posisi itu. Wanita itu bangkit, gerakannya anggun meskipun ada kelelahan samar di sudut matanya. Cahaya lilin melukis bayangan di wajahnya, menyoroti garis rahang yang tegas. Henri memindai sosok itu; sistem bioniknya mencatat setiap detail: denyut nadi yang sedikit di atas normal, kelembaban kulit minimal akibat aktivitas fisik, namun pikirannya tetap tajam luar biasa. Ia adalah instrumen yang disetel sempurna. “Ceritakan semuanya,” ujar Henri dengan tatapan lekat. Feng menghela napas. Suaranya tenang, menyerupai permukaan danau yang dalam. Ia mulai dengan Li Wei dan pagi harinya yang teratur, selalu diawali dengan teh melati yang dibawa oleh seorang kasim muda bernama Xiu. “Xiu selalu tiba tepat pukul enam seperempat. Tangannya gemetar hari ini, Yang Mulia,” lapor Feng tanpa mengedipkan mata. “Bukan karena takut, melainkan karena menahan sesuatu. Sebuah paket kecil tersembunyi di lengan jubahnya.” Henri memproses informasi itu, membandingkannya dengan data perilaku dasar para kasim istana. Sebuah anomali. Feng melanjutkan penjelasannya mengenai perjalanan Li Wei melalui koridor barat. “Biasanya, ada dua dayang yang menyapu di sana. Hari ini, hanya ada satu. Kasim pengawas berdalih yang lainnya sakit mendadak. Tapi saya melihat dayang tersebut membersihkan jendela di Paviliun Timur dua jam kemudian.” Setiap penyimpangan pola adalah benang merah. Feng menguraikan bagaimana Li Wei sempat berhenti di dekat pot bunga teratai selama perjalanannya ke Balairung Naga. “Ia tidak menyentuhnya, Yang Mulia, hanya menggeser pot itu sedikit dengan ujung sandal. Namun, saya memeriksa pot tersebut setelahnya dan menemukan simpul benang merah di balik daun teratas—simbol yang tidak biasa, mirip dengan lambang pengawal pribadi Pangeran Kedua.” Henri mencondongkan tubuhnya; tatapannya semakin tajam. Ini bukan sekadar observasi, melainkan deteksi tingkat tinggi. Feng tidak hanya melihat, ia membaca setiap isyarat tersembunyi. Wanita itu mengakhiri laporan rutinitas pagi dengan celah keamanan di kediaman kasim agung. “Penjaga diganti setiap empat jam. Namun, selama jam makan siang, ada jeda lima belas menit di mana koridor utama tidak diawasi. Cukup waktu bagi seseorang untuk menyusup masuk atau keluar tanpa terlihat.” Feng tidak berhenti di situ. Napasnya sedikit lebih cepat, mengalirkan rentetan pengamatan berikutnya yang menuntut kapasitas penuh dari otak bionik Henri. “Selepas pertemuan pagi di Balairung Naga, Li Wei menemui Menteri Keuangan, Tuan Bao, di kantornya. Pertemuan itu berlangsung singkat, hanya lima belas menit. Saya mengamati Tuan Bao saat ia keluar; jemarinya terus-menerus mengusap liontin giok—kebiasaan yang ia lakukan hanya ketika merasa sangat puas atau sangat cemas.” Henri mencatatnya. Liontin giok itu menandakan faksi keluarga Bao, kekuatan besar yang menguasai jaringan perdagangan garam kerajaan. Feng beralih ke paruh waktu sore. “Li Wei makan siang sendirian di Paviliun Bambu. Saat ia minum teh, seorang dayang muda tak dikenal menumpahkan sedikit air di dekat kakinya. Ia meminta maaf secara berlebihan, dan Li Wei sekadar mengangguk.” Kejadian sepele, tetapi mata Feng melihat lebih dalam. “Saat membungkuk untuk membersihkan lantai, dayang itu tidak menggunakan sapu tangan yang ia bawa. Tangannya menyentuh jubah Li Wei, menyelipkan secarik kertas kecil ke dalam lipatan kain.” “Dayang itu,” lanjut Feng, “adalah putri dari kepala pengrajin perhiasan istana, pria yang dikenal memiliki koneksi erat dengan faksi Pangeran Ketiga—ancaman baru bagi stabilitas istana yang baru saja kembali dari pengasingan.” Petunjuk demi petunjuk mulai membentuk pola yang mengerikan. Malam harinya, ketika Li Wei melintasi taman menuju kediamannya, seorang penjual bunga keliling tiba-tiba muncul dan menyerahkan seikat krisan putih. “Krisan putih adalah bunga untuk makam leluhur,” gumam Henri, menghubungkan titik-titik krisis. “Siapa penjual itu?” “Seorang pria tua, Yang Mulia. Sepintas biasa saja, tetapi perhatikan jemarinya. Kasar, bukan tangan penjual bunga. Punggung tangannya dihiasi bekas luka khas tentara bayaran provinsi utara, veteran yang banyak direkrut oleh Jenderal Wang dari faksi militer.” Feng menatap Henri lekat-lekat. “Penjual itu membiarkan tangannya bersentuhan lebih lama dengan lengan Li Wei. Ada gulungan kecil di antara kelopak bunga.” Jaringan ini terbentang luas, merangkul para bangsawan, pangeran, hingga petinggi militer. “Sajikan semua data itu padaku, Feng,” pinta Henri. Bukan lagi narasi lisan, melainkan aliran data mentah yang siap diinterogasi sistem. Feng mengangguk, dan seketika tirai di dalam kepala Henri terbuka. Visualisasi holografik memenuhi ruang pandang internalnya. Sebuah simpul terang berkilau di tengah layar dengan label: Li Wei. Dari simpul pusat itu, garis-garis benang data mulai memancar keluar, menghubungkan kasim agung tersebut ke berbagai faksi dan simpul kuasa di seluruh penjuru istana.

End of Chapter 23

Chapter 23: Jaringan Bayangan Li Wei - Transmigrasi Seksual | Novel AI Studio