Chapter 22 of 35

Chapter 22: Investigasi Diam-diam

1.2k words

Aroma musk Henri yang maskulin masih melekat kuat di kulit Putri Feng, memabukkan indranya. Ia merasakan setiap ototnya meregang, lelah namun dipenuhi kehangatan pasca-klimaks yang merayap di seluruh tubuhnya. Napasnya masih terengah, lambat dan dalam, dadanya naik turun di samping Henri yang kini duduk tegak di divan, menyandarkan punggung ke bantal sutra. Henri menatapnya, sorot matanya yang dingin kini sedikit melunak. Jemarinya yang panjang dan ramping bergerak, menyisir helai rambut hitam Feng yang berserakan di pipinya. Sentuhan itu ringan, namun memancarkan keintiman yang baru, sebuah kepemilikan yang manis. Putri Feng merasakan detak jantungnya kembali berdenyut cepat di bawah sentuhan itu. Pikirannya masih berputar-putar antara kenikmatan semalam dan kata-kata cinta yang terucap begitu saja dari bibirnya. Ia memejamkan mata sesaat, membiarkan sentuhan Henri meresap, menghapus sedikit rasa malu yang masih tersisa. "Kau baik-baik saja, Feng?" Suara Henri terdengar rendah, sebuah bisikan yang hanya mereka berdua bisa dengar di dalam kamar yang sunyi itu. Ada nada perhatian yang tulus di sana, bukan sekadar basa-basi. Feng membuka matanya, menatap wajah sempurna Henri. Ia mengangguk pelan, bibirnya sedikit tersenyum. "Aku... aku tidak pernah merasa sehidup ini, Tuanku." Kelelahan di tubuhnya terasa nikmat, seperti bukti dari badai yang baru saja mereka lalui. Henri tersenyum tipis, sebuah lekukan kecil di bibir yang membuat pandangan Feng terpaku. Senyum itu tidak sepenuhnya hangat, namun di matanya, ada kilatan kepuasan. Ia mengamati rona merah di pipi Feng, pupil matanya yang sedikit melebar, dan napasnya yang masih sedikit tersengal. Sistem Bio-Feedback-nya mencatat kadar oksitosin yang tinggi, menegaskan ikatan yang baru terbentuk. "Semalam... kau benar-benar memberiku segalanya," kata Henri, ibu jarinya membelai tulang pipi Feng. Kalimatnya bukan pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan. Sebuah penegasan atas penaklukan yang mutlak, namun diucapkan dengan kelembutan yang mematikan. Putri Feng menelan ludah, seluruh tubuhnya menegang lagi di bawah sentuhan Henri. Ia mengingat setiap bisikan, setiap sentuhan yang mendorongnya ke ambang batas. Rasanya seperti mimpi, namun memori sensasinya begitu nyata, begitu membakar. "Aku... aku hanya ingin melayanimu, Tuanku. Sepenuhnya." Suaranya hampir tidak terdengar, namun ketulusannya mengalir jelas. "Dan aku menerimanya," jawab Henri, jemarinya kini mengusap lembut bibir bawah Feng. Kehangatan kulitnya merambat, memicu kembali getaran halus di seluruh tubuh Feng. "Sekarang, kita punya urusan yang lebih mendesak." Nada suaranya sedikit berubah, menjadi lebih tajam, lebih fokus. Sisa-sisa kelembutan mulai memudar, digantikan oleh ketegasan seorang pemimpin. Feng mengangguk, berusaha menarik dirinya dari kabut gairah. Ia tahu momen intim ini akan berakhir, dan realitas istana yang kejam akan kembali menyeruak. Tubuhnya terasa berat, namun pikirannya mulai berputar, mencoba mengantisipasi apa yang akan Henri katakan. "Li Wei," ucap Henri, suaranya kini dingin seperti baja yang diasah. Ia menarik tangannya dari wajah Feng, gestur yang memutus ikatan emosional sejenak, mengembalikan Putri Feng pada perannya sebagai panglima. "Kasim itu, dia adalah mata dan telinga Pangeran Zheng dan Selir Agung Liu. Dia melihat kita." Henri tidak perlu menjelaskan apa yang dilihat Li Wei, karena mereka berdua tahu konsekuensinya. Alis Putri Feng bertaut. Nama Li Wei sudah tidak asing baginya, seorang kasim kepala yang licik dan selalu bergerak dalam bayangan. Ia selalu merasa tidak nyaman dengan keberadaan Li Wei di istana. "Ya, Tuanku. Dia selalu ada di mana-mana." Nada suaranya penuh kewaspadaan, mata tajamnya kini memancarkan api tersembunyi. "Dia adalah kunci pertama untuk memahami pergerakan mereka," Henri melanjutkan, mencondongkan tubuh sedikit ke depan. Aura dominannya kembali terpancar, mengisi ruangan. "Aku ingin kau menyelidikinya secara diam-diam. Setiap detail kecil, setiap jejak yang dia tinggalkan." Ada urgensi dalam nadanya, sebuah perintah yang tidak bisa ditawar. Putri Feng menegakkan tubuh, duduk bersila di hadapan Henri. Seketika, ia kembali menjadi Panglima Feng yang tangguh, meskipun tubuhnya masih menyimpan bekas keintiman semalam. "Menyelidiki Li Wei?" Ia mengulang, memastikan ia memahami lingkup tugasnya. "Apa yang harus saya cari, Tuanku?" Perhatiannya sepenuhnya terpusat pada Henri, setiap sarafnya siaga. Henri mengangguk. "Afiliasinya. Selain Pangeran Zheng dan Selir Agung Liu, siapa lagi yang dia layani? Apa motif tersembunyinya? Setiap kasim memiliki ambisi, Feng. Li Wei bukan pengecualian. Aku ingin kau mencari tahu apa yang dia inginkan, apa ketakutannya." Ia berbicara dengan presisi, seolah membongkar sebuah mesin rumit. Putri Feng merasakan hawa dingin merambat di punggungnya. Ini bukan sekadar investigasi biasa. Ini adalah perburuan informasi vital yang bisa mengubah arah intrik istana. "Dia sangat berhati-hati, Tuanku. Kasim itu seperti bayangan. Menangkapnya akan sulit." Ia tidak menyangkal, hanya memberikan gambaran realitas tantangan yang akan ia hadapi. "Itulah mengapa aku mempercayakannya padamu, Feng," kata Henri, tatapannya menembus Putri Feng. Ada kepercayaan mutlak dalam sorot matanya yang dingin, sebuah pengakuan akan kemampuan Feng yang tak tertandingi. "Kau adalah mata dan telingaku yang paling tajam. Aku membutuhkan kejelianmu yang hanya bisa dilakukan oleh seorang Panglima." Ia tahu bagaimana memuji dan memotivasi Feng, menyentuh harga dirinya sebagai seorang prajurit. Putri Feng merasakan debaran bangga di dadanya. Pujian dari Henri, terutama setelah semua yang mereka bagi semalam, terasa seperti medali kehormatan. Darahnya terasa panas, memompa semangat baru ke dalam tubuhnya. "Aku akan menemukan semua yang Tuanku butuhkan," janjinya, suaranya mantap. "Kerahasiaan adalah kuncinya, Feng," Henri menekankan, menurunkan nadanya, membuat kata-katanya terdengar seperti bisikan ancaman. "Jangan sampai ada yang tahu kau bergerak atas perintahku. Jika Li Wei mencium bau investigasi, dia akan menghilang ke dalam bayangan, dan kita akan kehilangan kesempatan berharga." Matanya berkilat tajam, menyorotkan bahaya yang tak terucapkan. Putri Feng mengangguk. Dia mengerti betul implikasinya. Kegagalan berarti bahaya besar bagi mereka berdua. "Aku akan bergerak seperti hantu, Tuanku. Tidak akan ada jejak." Tekadnya membara, membakar keragu-raguan kecil yang mungkin muncul. Henri menatapnya lama, seolah menimbang kekuatan dan keteguhan di balik mata Putri Feng. Ia melihat bukan hanya seorang prajurit yang patuh, tetapi juga seorang wanita yang kini terikat padanya oleh gairah dan loyalitas yang mendalam. Kepercayaan ini bukan hanya taktik, melainkan sebuah ikatan yang telah mereka tempa. "Informasi tentang Li Wei akan menjadi senjata pertama kita melawan mereka," Henri menjelaskan, suaranya kini lebih lembut, seolah berbagi rahasia penting. "Setiap kebiasaannya, setiap orang yang dia temui, setiap kelemahan pribadinya... semua itu adalah celah yang bisa kita manfaatkan." Strategi ini terasa dingin, perhitungan, namun vital untuk kelangsungan hidup mereka di istana. Putri Feng mendengarkan setiap kata, memprosesnya dengan kecepatan seorang ahli taktik. Ia membayangkan peta intrik istana, melihat Li Wei sebagai salah satu benang kusut yang perlu diurai. "Begitu saya memiliki informasi itu, apa rencana Tuanku selanjutnya?" Dia bertanya, mencari kejelasan, ingin menjadi bagian integral dari setiap langkah. Henri tersenyum misterius. "Begitu kita tahu siapa yang menarik tali dan siapa yang menjadi boneka, kita bisa memotong talinya satu per satu. Atau, jika perlu, memanipulasi boneka-boneka itu untuk menari mengikuti irama kita." Ada kekejaman yang tersembunyi di balik senyum itu, sebuah janji akan manuver yang berani dan tak terduga. Putri Feng merasakan sensasi dingin dan mendebarkan menjalar di sekujur tubuhnya. Rencana Henri selalu lebih besar, lebih berani, lebih berbahaya dari yang bisa ia bayangkan. Namun, rasa takut itu bercampur dengan gairah untuk bertarung di sisinya, untuk menjadi bagian dari strateginya yang jenius. Loyalitasnya pada Henri kini jauh melampaui tugasnya sebagai pengawal kekaisaran. "Kita akan membalikkan keadaan, Feng," kata Henri, pandangannya mengeras. "Pangeran Zheng dan Selir Agung Liu berpikir mereka memiliki keuntungan. Mereka akan segera menyadari bahwa mereka telah membangunkan seekor naga." Kata-katanya mengandung janji akan pertarungan yang sengit, dan Putri Feng merasa siap untuk menghadapi badai itu bersamanya. Putri Feng membungkuk, 'Akan saya laksanakan, Tuanku,' katanya, tetapi di matanya, ada kilatan bahaya yang belum pernah Henri lihat sebelumnya, seolah dia siap untuk berperang demi dia.

End of Chapter 22