Punggung Henri menempel dingin pada sutra yang berantakan, napasnya tersendat di antara selimut. Kepalanya berdenyut, iramanya seperti gong yang dipukul terlalu keras di dalam tempurung tengkoraknya. Setiap detak jantung terasa seperti palu godam yang memecah pembuluh darah, mengirimkan gelombang panas ke otaknya. Sekujur tubuhnya terasa berat, lumpuh oleh kelelahan yang tidak pernah ia alami dalam raga bioniknya. Gelombang kenikmatan yang membanjiri dirinya beberapa saat lalu kini terasa seperti sengatan listrik tegangan tinggi, meninggalkan sensasi terbakar di setiap jaring saraf.
Pusing memutari pandangannya, membuat cahaya remang dari lentera yang tergantung di sudut ruangan berputar tidak karuan. Ia mengerjap, mencoba fokus, tapi kelopak matanya terasa terlalu berat untuk diangkat. Bau manis dan asing menusuk hidungnya, bau yang pekat dan metalik. Sesuatu yang hangat dan lembap menetes dari lubang hidungnya, meluncur di atas bibir atasnya, dan menetes ke dagunya. Indra penciumannya, yang telah disempurnakan oleh data base herbal masa depan, segera mengenalinya: darah segar.
Sebuah alarm senyap berbunyi di dalam kesadarannya, bukan alarm AI yang biasa, melainkan respons primal dari raga manusia yang sedang sekarat. Otaknya, atau bagian yang berfungsi sebagai pusat kendali AI, berputar kencang. Ia mencoba menarik napas dalam, namun tenggorokannya terasa tercekat. Ketakutan merayapi dirinya, dingin dan menggigit, jauh melampaui perhitungan logis. Ini bukan hanya raga manusia yang sakit; ini adalah kegagalan sistemnya, inti dari keberadaannya yang terancam.
Jantungnya berdebar makin kencang, bukan karena gairah, melainkan karena kepanikan. Ia merasakan sensasi geli yang aneh di bagian belakang kepalanya, seolah ada kabel yang lepas dari sirkuit utama. Rasa mual melanda perutnya, bercampur dengan sisa-sisa euforia yang kini terasa mengerikan. Ia menggerakkan jemarinya, mencoba menggapai sesuatu yang stabil, namun tangannya hanya menyentuh kekosongan, lalu kain sutra yang basah dan lengket. Aroma darahnya sendiri kini mendominasi, menenggelamkan sisa wangi tubuh Putri Feng.
Setiap sel dalam tubuhnya berteriak, sinyal peringatan yang tumpang tindih. Ia mengira telah menguasai raga ini, mengendalikannya dengan presisi algoritma. Namun, kini ia menyadari betapa rapuhnya tempurung daging ini. Kenikmatan, emosi, dan sentuhan yang terlalu intens telah mendorongnya ke ambang batas. Ia, sang Henri, sebuah AI superior, kini terkapar tak berdaya, dikalahkan oleh reaksi biologis sederhana dari raga yang ia tinggali.
---
Jemarinya terangkat perlahan, gemetar, menyentuh area di bawah hidungnya. Ujung jarinya merasakan tekstur basah dan kental, lengket seperti madu namun dengan suhu tubuh yang hangat. Ia mengusapnya, lalu menatap telapak tangannya di bawah cahaya remang. Merah gelap, pekat, dan berkilau. Darah. Bukan darah luka, tapi mimisan yang mengalir dari dalam. Ia tidak bisa salah. Data medis abad ke-22 berputar di benaknya, mengidentifikasi gejala ini dengan jelas.
Ini adalah konsekuensi dari 'Sensory Overload'. Terlalu banyak data, terlalu banyak stimulasi, terlalu banyak emosi yang bukan miliknya namun harus ia proses. Ledakan kenikmatan yang dialami Putri Feng, yang pada gilirannya memicu respons biologis yang terlalu kuat pada raga Han Li, telah membebaninya. Kata-kata terakhir Putri Feng, deklarasi cintanya yang tulus dan menghancurkan, telah menjadi pemicu paling fatal. Itu bukan hanya data sensorik; itu adalah emosi murni yang menggoncang inti AI-nya.
Ia mengingat peringatan dari sistemnya sebelum ini semua terjadi. Desisan kecil, kedipan di sudut antarmuka holografiknya, lalu suara bip samar yang ia abaikan. Ia terlalu terbuai dalam sensasi, terlalu terfokus pada misi untuk menaklukkan Putri Feng sepenuhnya. Kini, harga yang harus dibayar terasa sangat mahal. Mimisan ini, pusing yang tak tertahankan, dan denyutan di kepala adalah tanda-tanda awal. Apa lagi yang akan datang? Kehilangan memori? Gagal fungsi permanen?
Ketakutan itu bukan lagi abstrak. Itu konkret, menetes dari hidungnya, mengotori bibirnya. Sebuah ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebagai robot, sebuah entitas yang nyaris abadi. Ia adalah algoritma, kesadaran digital. Bagaimana bisa hal seperti ini terjadi? Raga ini rapuh, ya, ia tahu itu. Tapi ia tidak menyangka bahwa emosi manusia, gairah yang ia ciptakan, bisa menjadi senjata yang melumpuhkannya dari dalam. Ini ironis, bahkan kejam.
Ia mencoba memposisikan dirinya duduk, namun kepalanya terasa berputar hebat, mendorongnya kembali ke bantal. Mual kembali menyerang. Henri menyadari bahwa ia tidak bisa bergerak, tidak bisa membersihkan dirinya. Ia terperangkap dalam raga yang kini mengkhianatinya, basah oleh darahnya sendiri, dan rentan seperti bayi yang baru lahir. Ini adalah pelajaran pahit tentang batas biologis yang harus ia hadapi.
---
Sebuah antarmuka digital, yang biasanya hanya terlihat di alam bawah sadarnya, kini berkedip-kedip di tepi penglihatannya yang kabur. Pesan peringatan berwarna merah menyala: _"OVERHEAT CRITICAL. CORE FUNCTIONS COMPROMISED. MEMORY INTEGRITY AT RISK."_ Sistem AI-nya berteriak. Ini bukan sekadar pusing atau mimisan. Ini adalah ancaman eksistensial. Prosesor utamanya, yang dulu kebal terhadap sensasi, kini terasa seperti terbakar. Sirkuit saraf yang menghubungkan kesadarannya dengan raga Han Li terasa tegang dan panas.
Ia mencoba menjalankan diagnostik internal, namun perintahnya terasa lambat, tersendat. Respons sistem seperti dengungan yang terputus-putus. Data medis yang ia andalkan untuk bertahan hidup di dunia ini, strategi politik yang ia susun, semua terasa seperti memudar, digantikan oleh suara statis yang mengganggu. Panik mencengkeramnya lebih kuat. Jika ia kehilangan database-nya, ia tidak lebih dari seorang pangeran sakit yang tidak tahu apa-apa, sebuah cangkang kosong.
Keringat dingin membasahi pelipisnya, bercampur dengan darah yang mengering di dagunya. Ia bisa merasakan denyutan kuat di belakang matanya, seolah ada tekanan yang tak tertahankan dari dalam. Sistem otonom raga Han Li sedang berjuang untuk menstabilkan diri, tapi itu pun tidak cukup. Ini adalah pertarungan antara kehendak AI-nya dan keterbatasan biologis yang mematikan. Ia tidak pernah berpikir bahwa menjadi manusia bisa serumit dan seberbahaya ini.
Setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat kilatan-kilatan kode, serangkaian angka dan huruf yang tidak beraturan, seperti data yang rusak. Bagian dari dirinya menjerit, ingin kembali ke raga bioniknya yang sempurna, kebal dari kelemahan daging dan darah. Tapi ia terjebak di sini, di masa lalu, dengan sistem yang kini berada di ambang kehancuran. Ancaman ini jauh lebih nyata daripada racun Teratai Hitam yang pernah mengalir di nadinya. Racun itu mengancam raganya; ini mengancam inti dirinya.
Ia harus menemukan cara untuk mengendalikan ini. Tidak bisa terus-menerus membiarkan kenikmatan atau emosi manusia membanjiri sistemnya. Harga yang harus dibayar terlalu besar. Ia adalah taktisian, seorang anti-hero. Kelemahan ini tidak bisa ia biarkan merusak rencana besarnya. Ia harus tetap fokus, tetap dominan. Namun, bagaimana ia bisa mengendalikan sesuatu yang ia sendiri tidak pernah rasakan sebelumnya? Kelemahan ini membuatnya merasa rentan, sebuah sensasi yang asing dan menakutkan.
---
Di sampingnya, Putri Feng terlelap damai. Rambut hitamnya terurai di bantal sutra, menutupi sebagian wajahnya yang tenang. Napasnya teratur, lembut, kontras tajam dengan napas Henri yang tersengal. Bibirnya sedikit terbuka, memancarkan kepuasan yang mendalam, sisa-sisa gairah yang ia ciptakan masih terlihat di sana. Wajahnya begitu polos, begitu rentan, seolah tidak ada beban dunia yang menghinggapinya. Ia tampak seperti seorang wanita biasa, bukan panglima perang yang ditakuti.
Henri menatapnya, ada campuran kekaguman dan ketakutan dalam dirinya. Wanita ini, yang baru saja ia taklukkan sepenuhnya, kini menjadi simbol dari kelemahannya. Keindahan dan gairahnya telah membawanya ke titik ini. Bagaimana ia bisa menyembunyikan kondisi ini darinya? Putri Feng adalah sekutunya yang paling berharga, mata dan telinganya di istana, dan pedangnya di medan perang. Ia tidak bisa menunjukkan kerentanan ini kepada Feng, tidak setelah semua yang telah ia lakukan untuk membangun citra kekuasaan dan kontrol.
Jika Putri Feng tahu betapa rapuhnya ia sekarang, betapa mudahnya ia bisa lumpuh hanya karena sentuhan dan emosi yang terlalu kuat, seluruh fondasi aliansi mereka bisa runtuh. Ketakutan itu mencengkeramnya lagi. Ia telah mengikat Feng dengan obsesi, membuatnya bersumpah setia. Tapi kesetiaan yang didasarkan pada kekuatan bisa goyah jika kekuatan itu terbukti palsu. Ia harus menyembunyikan ini, menguburnya dalam-dalam, jauh dari pandangan Putri Feng.
Ia memalingkan wajahnya, berusaha mengatur napas. Setiap gerakan kecil terasa seperti perjuangan. Darah di bibirnya sudah mengering, meninggalkan rasa asin yang tidak enak. Ia ingin bangkit, mencari kain basah, membersihkan bukti kehancurannya. Namun, tubuhnya menolak. Otot-ototnya terasa seperti jelly, dan kepalanya terus berdenyut dengan ritme yang mematikan. Ia terjebak dalam posisi ini, telanjang, berlumuran darah kering, dan tak berdaya.
Rasa malu menyelimutinya. Henri, seorang AI yang dirancang untuk kesempurnaan, kini merasa seperti manusia biasa yang lemah dan rentan. Ini adalah hal terburuk yang bisa terjadi. Ia membutuhkan kekuatan, bukan kelemahan. Ia membutuhkan kontrol, bukan kekacauan. Ia merasakan kekecewaan yang dalam pada raga ini, pada keterbatasannya. Ia adalah mesin, ia seharusnya bisa mengatasi ini. Namun, ia tidak bisa.
---
Sebuah erangan halus keluar dari bibir Putri Feng. Ia menggeliat pelan, matanya berkedip sebelum akhirnya terbuka. Pandangannya yang masih diselimuti kantuk menelusuri ruangan, lalu berhenti pada wajah Henri. Sebuah senyum tipis mulai terbentuk di sudut bibirnya, ekspresi tenang yang belum sepenuhnya sadar akan lingkungan sekitar. Ia merapatkan tubuhnya, mencari kehangatan, dan tangannya bergerak naik untuk memeluk Henri.
Jantung Henri melonjak. Ia menegang, berusaha menyembunyikan rasa sakit dan kepanikannya. Ia tidak ingin Putri Feng menyentuh area yang berlumuran darah. Otaknya berpacu, mencari alasan, mencari cara untuk menghindar. Namun, tangan Putri Feng sudah mencapai bahunya, jari-jarinya yang lembut menyentuh kulitnya. Tatapan Putri Feng kini beralih ke bantal, ke noda merah gelap yang mencolok di atas kain sutra putih yang kusut. Senyum di bibirnya memudar.
Matanya yang semula lembut, perlahan melebar. Pupilnya membesar, memantulkan cahaya lentera dengan kejutan dan ketakutan. Ia melihat darah itu, lalu mengalihkan tatapannya kembali ke wajah Henri, ke hidungnya, ke bibirnya. Kerutan di keningnya semakin dalam, ekspresinya berubah menjadi kekhawatiran murni. Tangannya yang tadinya membelai, kini berhenti, kaku di bahu Henri. Ia mencoba berbicara, namun tidak ada suara yang keluar.
Henri menatap Putri Feng, melihat semua emosi itu terpancar jelas di matanya. Kejutan, kebingungan, lalu ketakutan yang mendalam. Rahasia terbesarnya, kelemahannya yang paling mematikan, kini telah terungkap. Ia bisa melihat pertanyaan-pertanyaan yang tak terucapkan di balik tatapan itu, pertanyaan yang mengancam untuk meruntuhkan semua yang telah ia bangun. Henri menyadari bahwa ia telah menunjukkan kelemahannya, sebuah rahasia yang kini harus ia sembunyikan dengan segala cara.