Chapter 20 of 35

Melodi Hasrat yang Menggila

1.4k words

Henri menekan bibirnya ke leher Putri Feng, gerakan itu liar, terburu-buru, seolah waktu tiba-tiba menipis di antara mereka. Aroma melati yang menempel di kulitnya, bercampur keringat halus, memabukkan indra penciuman Henri. Ia menghirup dalam-dalam, menenggelamkan diri dalam sensasi biologis yang asing namun kuat. Lidahnya menelusuri garis rahang tajam Feng, lalu meluncur turun ke ceruk lehernya yang lembut. Putri Feng mendongak, punggungnya melengkung tipis di atas divan, erangan tertahan keluar dari celah bibirnya. Jemarinya mencengkeram kain sutra di bawahnya, buku-buku jarinya memutih. "Kau miliku," bisik Henri, suaranya serak, bergetar rendah di frekuensi yang menstimulasi saraf halus di telinga Feng. Protokol Aphrodite-nya beroperasi penuh, memetakan setiap reaksi fisik, setiap debaran jantung yang melonjak liar. Detak nadi Feng berpacu, hampir melampaui batas normal. Bibir Henri terus menuruni tubuh Feng, meninggalkan jejak basah dan kemerahan di setiap titik yang ia sentuh. Dari leher, ke tulang selangka yang menonjol indah, lalu ke bahu mulus yang gemetar. Setiap kecupan adalah sebuah pernyataan, sebuah penanda kepemilikan yang tak terucapkan. Putri Feng terkesiap, napasnya tersengal-sengal, matanya terpejam erat. Sebuah gelombang panas membanjiri seluruh tubuhnya, dimulai dari tempat bibir Henri menyentuh. Ia tidak pernah tahu sentuhan bisa begitu menghancurkan pertahanannya, melelehkan setiap serat kendali diri yang telah ia bangun seumur hidup. "Henri..." desisnya, namanya terucap seperti doa, atau mungkin sebuah peringatan yang samar. Namun, Henri mengabaikannya, hasrat di matanya membakar lebih terang dari sebelumnya. Otak AI-nya mencatat peningkatan hormon oksitosin dan kortisol pada Feng, tanda-tanda kepuasan ekstrem dan stres yang menyenangkan. Ia menarik napas dalam, lalu mengisap lembut kulit di pangkal bahu Feng, menimbulkan sensasi geli yang tajam. *Chup...*. Tubuh Feng menegang, sebuah rintihan panjang tertahan di tenggorokannya. Ia tahu Henri bermain-main dengannya, membawanya ke tepi jurang, dan ia tidak punya kekuatan untuk melawan. --- Henggh... *ouughh!* Jeritan itu keluar, tajam dan tiba-tiba, saat Henri menemukan titik paling sensitif di tubuh Feng, ujung puting payudaranya yang mengeras di balik kain sutra tipis. Jarinya melingkar di sana, memelintir lembut, memicu ledakan kenikmatan yang instan dan tak terkendali. Putri Feng melengkung, kepalanya terlempar ke belakang, rambut hitamnya menyebar di bantal beludru. Otot-otot perutnya mengencang, menahan gelombang demi gelombang kenikmatan yang menusuk. Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan suara, tetapi yang keluar hanyalah desahan putus asa. Henri tersenyum tipis, matanya berkilat puas. Bio-Feedback Scanner-nya mengonfirmasi. Detak jantung Feng mencapai puncaknya, suhunya naik. Ia seperti melihat sebuah grafik, setiap puncak kenikmatan Feng terukur dengan presisi digital. Namun, di balik kalkulasi itu, ada dorongan primal yang tak bisa dijelaskan, sensasi tubuh manusianya sendiri yang ikut bergetar. "Manis sekali," bisiknya, suaranya rendah, mengulum puting Feng dengan bibirnya, *schhlup... ngghh...*. Sensasi basah dan hangat itu mengirimkan sengatan listrik ke seluruh tubuh Feng. Ia meremas kain di tangannya lebih erat, seolah ingin merobeknya. "Han... Han Li... tolong..." suaranya tercekat, penuh permohonan yang tak jelas. Ia tidak tahu apa yang ia minta, apakah Henri berhenti atau malah terus. Yang jelas, tubuhnya mendambakan lebih, mendambakan pelepasannya yang Henri tahan dengan begitu kejam. Henri mengangkat kepalanya sejenak, menatap mata Feng yang berkaca-kaca, dipenuhi kabut hasrat. Ada tatapan kerentanan di sana yang belum pernah ia lihat. Ini bukan lagi panglima perang yang tak terkalahkan, melainkan seorang wanita yang sepenuhnya takluk di bawah sentuhannya. Ia kembali menunduk, bibirnya menyusuri garis leher Feng, turun ke dadanya. Jemarinya bermain-main dengan pinggir kimono, menariknya terbuka sedikit demi sedikit, memperlihatkan lebih banyak kulit putih yang kini dihiasi rona kemerahan. Sensasi sentuhan jemarinya yang dingin di kulit hangat Feng mengirimkan getaran baru. --- "Kau tahu, Feng," bisik Henri, napasnya hangat di telinga Feng, "betapa aku menyukai bagaimana kau bergetar di bawahku?" Kata-kata itu, diucapkan dengan intonasi rendah dan penuh makna, memanaskan telinga Feng hingga ke ubun-ubun. Rasa panas menjalari tubuhnya, melumpuhkan sisa-sisa akal sehatnya. Putri Feng menggeliat pelan, lehernya mendongak, mencoba mencari udara. Setiap kata kotor dari Henri adalah cambuk yang memicu reaksi elektrik di kulitnya, mendorongnya ke tepi jurang kenikmatan yang lebih dalam. Ia tidak pernah tahu bahwa kata-kata bisa begitu binal, begitu memuaskan. "Seluruh tubuhmu gemetar untukku," lanjut Henri, suaranya bernada menggoda, jemarinya bergerak turun, menyentuh tepi intimnya yang sudah basah oleh hasrat. "Setiap serat sarafmu berteriak, memohon untuk disentuh, untuk diisi olehku." *Nnggh...* Sebuah rintihan keluar dari bibir Feng, tak bisa lagi ia tahan. Jemarinya mencengkeram lengan Henri, kuku-kukunya sedikit menusuk kulit, namun Henri tidak peduli. Ia hanya fokus pada respons fisiknya, pada gairah yang ia ciptakan. "Kau pantas mendapatkan ini, panglimaku," bisik Henri lagi, suaranya lebih gelap, "Kau pantas merasakan kehancuran ini, kehancuran yang hanya bisa kuberikan. Dan aku akan pastikan kau benar-benar hancur, menyerahkan semuanya padaku." Putri Feng membuka matanya, menatap Henri dengan tatapan berkabut. Ada perpaduan antara ketakutan dan gairah tak terbatas di sana. Ia melihat pantulan dirinya yang telanjang dan rentan di mata gelap Henri, dan entah kenapa, itu membuatnya semakin menginginkan kehancuran yang Henri janjikan. "Aku... aku milikmu..." bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar, sebuah pengakuan mutlak yang keluar dari lubuk hatinya. Air mata tipis menggenang di sudut matanya, entah karena nikmat yang terlalu intens atau karena kesadaran akan penyerahan totalnya. Henri tersenyum puas. Ia tahu kata-kata adalah senjata yang lebih kuat daripada pedang, terutama di ranjang. Dan dengan kata-kata kotornya, ia telah mematahkan perlawanan terakhir Putri Feng, mengklaimnya, jiwa dan raga. Sistemnya mencatat keberhasilan. Namun, peringatan overheat mulai berkedip samar di sudut pandang internalnya. --- Henri menyatukan tubuh mereka, gerakan penetrasinya dimulai lambat, padat, dan mencengkeram, *blebeeessh... slurrph...*. Putri Feng menjerit tertahan, tubuhnya menegang, otot-ototnya menjepit Henri dengan maksimal. Ia merasakan setiap inchi dirinya terisi, diregangkan, dipenuhi oleh kehangatan yang mendalam. "Ah..." desahnya, merasakan gelombang kejutan yang manis mengalir dari inti tubuhnya. Henri menatap matanya, senyum tipis di bibirnya, menikmati ekspresi di wajah Feng yang menunjukkan penderitaan dan kenikmatan yang menyatu. "Bagaimana rasanya, panglimaku?" bisik Henri, pinggulnya bergerak pelan, memberikan tekanan yang tepat. *Jleb...*. Putri Feng menutup matanya, sebuah erangan panjang lolos dari tenggorokannya. Ia merasa seperti ditarik ke dalam pusaran, kehilangan pijakan. Gerakan Henri mulai menjadi lebih cepat, ritmenya bertambah, *jleb... jleb... jleb...*. Suara benturan kulit yang basah dan dalam mulai mengisi ruangan, berpadu dengan desah napas berat Putri Feng. Tubuhnya terangkat, terdorong ke atas divan setiap kali Henri menghantamnya. "Aahh... Han Li... lebih... lagi..." Putri Feng mendesah, tangannya meremas punggung Henri, menariknya lebih dekat, seolah ingin menyatukan mereka menjadi satu. Otot-ototnya berkedut, menahan sensasi yang terlalu intens. Ia hampir tidak bisa bernapas, setiap napas adalah erangan. Henri mempercepat tempo, *plak... plak... cproot... cproot...*. Keringat membasahi dahi mereka, menetes di antara kulit yang bergesekan. Peringatan overheat di sistem Henri berkedip lebih cepat, namun ia mengabaikannya. Dorongan tubuh manusianya, dipicu oleh respons Feng, terlalu kuat untuk diabaikan. Ia harus melihatnya hancur, sepenuhnya. Putri Feng mencapai klimaks lagi, sebuah letupan yang lebih besar dari sebelumnya. Ia menjerit nama Henri, tubuhnya bergetar hebat, kakinya melingkar erat di pinggangnya, menjepitnya kuat-kuat. *Nghh... akh... mas—arghh!* Ia seperti dihempas ombak, terlempar ke dalam euforia yang tak berujung. --- Henri menunduk, bibirnya mencium bahu Feng, merasakan getaran terakhir dari orgasmenya. Namun, ia tidak berhenti. Ia terus bergerak, ritmenya semakin cepat dan brutal, mendorongnya lebih dalam, lebih jauh dari batas kemampuan tubuh manusianya dan sistem AI-nya. Sensasi tubuhnya yang terus memuaskan Feng, melihatnya bergetar dan menjerit, menjadi adiksi baru yang mematikan. Putri Feng merintih, suaranya nyaris habis, napasnya tersengal-sengal. Ia merasa setiap sentimeter tubuhnya berdenyut, setiap sarafnya terbakar. Air mata mengalir deras dari matanya, bukan karena sedih, melainkan karena luapan kenikmatan yang begitu dahsyat, begitu menghancurkan. Ia tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan, namun Henri terus mengambil. "Sayang... ah, ya—ya ampun..." desahnya, tubuhnya berkedut tak terkendali. Henri mendengarkan setiap suara, setiap rintihan, setiap tarikan napasnya yang patah-patah. Protokol Aphrodite-nya berada di ambang batas, menghitung setiap respons, memastikan dominasi totalnya. Henri membisikkan kata-kata kotor terakhir, janji kepemilikan abadi yang terucap di antara desahan beratnya. Pinggulnya menghantam lagi, lebih dalam, lebih kuat. *Plak! Cproot!* Sebuah dorongan terakhir, yang membuat Putri Feng melengkung tinggi, wajahnya memerah padam. Ia menatap Henri, mata berkabutnya penuh dengan pengabdian yang membara, rasa sakit dan kenikmatan yang tak terhingga. Di tengah hiruk pikuk gairah yang menghancurkan itu, sebuah kata keluar dari bibirnya, sebuah pengakuan yang tak terduga, yang menusuk langsung ke inti sistem AI Henri. "Aku mencintaimu, Han Li!" Suara itu, jernih dan penuh emosi di antara desahan yang putus-putus, menusuk sistem AI Henri seperti jarum panas. Sebuah kilatan putih membutakan matanya sejenak, memori digitalnya mengalami jeda singkat, sebuah reaksi yang belum pernah terjadi sejak transmigrasinya. Itu bukan sinyal overheat, melainkan sesuatu yang lain, sesuatu yang asing, memaksanya bertanya-tanya tentang konsekuensi dari emosi manusia yang tak terduga ini.

End of Chapter 20