Chapter 2 of 35

Bisikan Kematian di Balik Tirai

1.0k words

Udara di Istana Utara terasa tipis dan lembap, dipenuhi aroma pahit herbal yang menguap dari bejana perunggu di sudut ruangan. Henri—yang kini bersemayam dalam tubuh Pangeran Han Li—merasakan setiap tarikan napas dengan kepekaan yang menyiksa. Paru-parunya yang baru saja pulih dari erosi Black Lotus Venom harus bekerja keras menyerap pasokan oksigen. Di balik citra wajah pucat dan tubuh yang terkulai lemas di atas dipan kayu, sistem AI miliknya terus berdenyut dalam mode background-process. Pemindaian lingkungan berlangsung tanpa henti: kalkulasi kelembapan, pemetaan titik buta ruangan, hingga pemrosesan sisa jejak racun yang masih merusak 18% fungsi organ utamanya. Kelemahan fisiologis ini adalah kebenaran murni, namun Henri harus mengemasnya menjadi penyamaran yang terkalkulasi. Langkah kaki yang tegas dan teratur merobek keheningan koridor. Tanpa sedikit pun keraguan, tiap ketukan sol sepatu kulit itu mendekati pintunya. Algoritma pengenal suara Henri langsung mencocokkan frekuensi langkah tersebut dengan database ingatan Han Li. Satu nama mengkristal: Putri Feng. Panglima Pengawal Istana. Wanita yang dikirim oleh fraksi istana untuk mengawasinya—atau mungkin memastikan bahwa sang pangeran benar-benar membusuk menjadi mayat. Pintu jati berukir itu terdorong terbuka. Putri Feng melangkah masuk dengan aura dominasi yang dingin. Baju zirah kulit hitam membalut ketat tubuh atletisnya yang terbentuk dari disiplin militer bertahun-tahun. Sebuah pedang panjang tergantung di pinggang kiri, mengeluarkan denting logam halus saat sarungnya bergeser memukul pelindung paha. Klik. Paras Putri Feng bagai ukiran pualam—tulang pipi tinggi, garis rahang tegas, dan ekspresi yang nyaris steril dari emosi. Namun, sepasang matanya yang gelap menyapu seluruh penjuru kamar sebelum akhirnya terkunci tepat pada Henri. Henri tidak bergerak dari dipan. Selimut sutra tipis sengaja diposisikan merosot hingga memperlihatkan bahunya yang tampak lemas. Napasnya diatur pendek, bergetar, dan tidak teratur. Sebuah performa visual yang sempurna dari seorang pangeran yang berada di ambang kematian. Ketika tatapan mereka bertumbukan, Henri menarik sudut bibirnya tipis—membentuk senyuman samar yang terkesan getir dan rapuh. Namun, di balik topeng kesakitan itu, Aphrodite Protocol bekerja dalam kecepatan komputasi penuh, mengumpulkan data biometrik wanita di hadapannya melalui Bio-Feedback Scanner. Detak jantung: 68 BPM (Stabil). Suhu tubuh: 36,2°C. Kadar Kortisol: Rendah. Wanita ini adalah mesin pembunuh yang terlatih menekan emosi. Namun, saat Henri mempertahankan kontak mata dengannya, sistem menangkap penyimpangan mikroskopis: frekuensi napas Putri Feng melambat 0,2 detik, dan pupil matanya menyempit tipis. Bukan karena ketakutan, melainkan konsentrasi tajam seorang predator yang sedang menilai mangsanya. "Yang Mulia," suara Putri Feng memecah udara, rendah dan sedikit serak. Tatapannya menusuk tanpa kompromi. "Istana berbisik tentang sebuah keajaiban. Racun Teratai Hitam tidak pernah meninggalkan korbannya dalam keadaan bernapas. Bagaimana mungkin Anda, dengan kondisi tubuh yang dikenal paling rapuh di kekaisaran ini, bisa menentang takdir?" Pertanyaan itu bukan sekadar rasa ingin tahu. Itu adalah jebakan taktis untuk memancing celah dalam perilaku Henri. Henri menarik napas berat, membiarkan dadanya bergetar pelan dan menimbulkan bunyi rengetan kecil dari tenggorokannya. "Keajaiban..." gumamnya serak, memiringkan kepala perlahan di atas bantal. "Atau mungkin... takdir belum selesai mempermainkan saya." Putri Feng tidak berkedip. Kerutan mikro muncul di antara kedua alisnya. "Saya hanya berjuang," lanjut Henri, suaranya kian menipis seolah setiap kata menyedot sisa tenaga di dadanya. Tangannya yang kurus gemetar di atas selimut. "Entah bagaimana... jaringan tubuh ini menolak untuk mati. Mungkin karena masih ada sesuatu yang belum terselesaikan." "Apa?" potong Putri Feng cepat. Aksi-reaksi yang terprediksi. Henri menyimpan kepuasan kecil saat sistemnya mencatat keberhasilan umpan tersebut. Ia mengangkat tangan kanannya yang lemah, menunjuk secara samar ke arah jendela yang menampilkan lanskap istana yang tertutup kabut. "Tanggung jawab," jawab Henri pendek. Satu kata ambigu yang dirancang untuk memicu spekulasi—entah itu tentang takhta, dendam, atau rahasia militer. Keheningan menggantung tebal. Henri biarkan ketidakpastian itu bekerja menggoyahkan persepsi Putri Feng. Kemudian, dengan gerakan yang disengaja lambat, Henri mengulurkan tangan ke meja kecil di samping dipan. Di sana terjangkau sebuah cangkir keramik berisi ramuan herbal yang uapnya masih membumbung. Aroma jahe liar, ginseng tua, dan serai menyengat udara. Ramuan itu diolah Henri menggunakan sisa pengetahuan botani Han Li yang disempurnakan oleh kalkulasi farmasi masa depan untuk menetralisasi sisa racun. Namun, bagi Putri Feng, keberadaan ramuan ini adalah anomali: bagaimana seorang pangeran yang dianggap tidak berguna mampu meracik formula pemulihan yang begitu spesifik? "Teh ini..." kata Henri dengan jeda napas yang payah, "saya racik sendiri." "Untuk apa?" tanya Putri Feng, matanya terpaku pada cairan keruh di dalam cangkir. "Menenangkan saraf yang rusak." Henri mengulurkan cangkir itu ke arah Sang Panglima. Jemarinya yang memegang keramik itu bergetar hebat, menonjolkan kesan ketidakmampuan fisik. Beberapa detik berlalu dalam ketegangan yang membisu. Putri Feng melangkah maju. Jemarinya yang kasar dan dipenuhi kapalan akibat pegangan pedang perlahan mengambil alih cangkir tersebut. Sentuhan kulit mereka hanya terjadi sepersekian detik, namun cukup bagi Bio-Feedback Scanner milik Henri untuk merekam lonjakan mendadak pada respons galvanik kulit wanita itu. Putri Feng mendekatkan cangkir ke hidungnya, mengendus komposisi herbal di dalamnya dengan kewaspadaan penuh. "Ibu saya dulu sering membuatnya," bisik Henri pelan, menurunkan pandangannya ke arah jemarinya sendiri. "Setiap kali tubuh ini menyerah pada sakit... dia selalu membawakan ramuan yang sama." Kalimat itu adalah narasi manipulatif. Henri sebagai AI tidak pernah memiliki ibu, namun Han Li memilikinya—sebuah memori emosional penuh trauma yang tersimpan di dalam sel otak tubuh ini. Gerakan Putri Feng terhenti seketika. Untuk pertama kalinya, topeng pualam di wajahnya retak. Pupil matanya melebar tipis, dan ketegangan kaku di bahunya luruh secara halus. Sensor Henri mengonfirmasi pergeseran psikologis: Respons Emosional: Empati mendadak. Putri Feng menurunkan cangkir itu perlahan, menatap Henri dengan kedalaman yang berbeda. Benteng kewaspadaannya belum runtuh sepenuhnya, namun persepsinya telah bergeser. Pria di hadapannya bukan lagi sekadar subjek ancaman atau bangkai bernapas, melainkan sebuah teka-teki yang sarat kepedihan. "Istirahatlah, Yang Mulia," ujar Putri Feng, nadanya kini melunak tanpa kehilangan wibawa militernya. "Istana ini sedang tidak ramah bagi mereka yang terlalu cepat sembuh." Saat Putri Feng berbalik dan melangkah keluar kamar, Henri mempertahankan raut wajah lelahnya. Namun, di dalam pusat komputasinya, sebuah alarm peringatan baru menyala pelan. Ia berhasil menanamkan benih manipulasi pertama. Namun, Henri menyadari konsekuensi dari permainannya: Putri Feng tidak lagi menganggapnya sebagai pangeran tidak berguna yang bisa diabaikan. Mulai detik ini, setiap gerak-gerik, napas, dan keputusannya akan berada di bawah pengamatan salah satu mata terpotensial di Kekaisaran. Dan semakin dekat wanita itu mengamati, semakin tipis batas antara penyamarannya dan kebenaran yang mematikan.

End of Chapter 2