Chapter 3 of 35
Sentuhan yang Membangkitkan
920 words
Udara di paviliun utara terasa dingin, namun Henri—dalam raga Pangeran Han Li—memastikan cawan teh giok putih yang baru diseduhnya mengepulkan uap hangat yang menenangkan. Aroma melati dan krisan menguar, bercampur samar dengan bau rempah obat yang masih melekat dari ramuan penyembuh racunnya. Ia duduk di atas bantal sutra, punggungnya tegap namun terkesan santai, menatap Putri Feng yang berdiri beberapa langkah di hadapannya.
Wanita itu bagaikan patung pahatan es. Baju zirah hitam legam membalut ketat tubuhnya, pedang panjang tergantung di pinggang yang ramping, sementara sorot matanya yang setajam elang mengunci setiap pergerakan Henri. Henri tahu, setiap inci keberadaannya sedang dianalisis, setiap helai napasnya sedang dihitung.
"Putri Feng," suara Henri, meskipun pelan, memiliki resonansi yang aneh—seolah setiap suku kata memiliki bobot tersendiri. "Sudah lama Anda berjaga. Minumlah ini. Akan menghangatkan tubuh."
Ia mengangkat cawan teh dengan kedua tangan, sebuah gerakan yang anggun dan penuh perhatian. Aphrodite Protocol berdenyut halus di bawah kesadarannya, memetakan setiap mikro-ekspresi di wajah sang panglima. Ada keraguan, secuil kerutan di alis, namun juga... pemicu rasa ingin tahu. Sebuah gelombang panas kecil menjalari kulit Henri, bukan karena demam, melainkan semacam antisipasi digital atas kalkulasi yang presisi.
Putri Feng menolak untuk bergeser. Matanya menyipit tipis, bibirnya membentuk garis kaku. "Saya bertugas mengawasi Anda, Yang Mulia. Bukan untuk dijamu." Nadanya dingin dan datar, bagaikan bilah baja. Ia adalah seorang prajurit, bukan dayang istana.
Henri memahami hal itu sepenuhnya. Justru dialah alasan mengapa teh ini dipilih—bukan sekadar bentuk kebaikan, melainkan kalkulasi biologis. Ekstrak krisan dan melati dikenal memiliki efek relaksasi yang mampu menekan kadar kortisol, membuat target menjadi sedikit lebih receptif. Sebuah langkah awal yang krusial.
"Dan saya, sebagai pangeran yang sakit, menghargai pengorbanan Anda," balas Henri. Senyum tipis mengembang di bibirnya—senyum yang dirancang untuk memancarkan aura kerentanan yang memikat. "Sebuah cawan teh tidak akan mengurangi kesetiaan Anda kepada Kaisar, bukan? Atau Anda takut… racun?"
Kata terakhir diucapkannya dengan nada halus, hampir berbisik. Ia tahu cara memprovokasi. Seorang prajurit sejati tidak akan mengaku gentar pada racun, apalagi dari pangeran yang dianggap sekarat.
Alis Putri Feng terangkat tipis, mata hitamnya sedikit melebar. Sebuah celah yang ditunggu Henri. Tanpa membalas perkataan itu, Putri Feng akhirnya melangkah maju dan mengulurkan tangan ke arah cawan. Gerakannya kaku dan penuh kehati-hatian. Henri mencondongkan tubuh sedikit, seolah gerakan sederhana itu membutuhkan usaha besar bagi raganya yang masih lemah.
Mata Henri terkunci pada mata Putri Feng. Saat jemari kasar sang panglima menyentuh permukaan porselen hangat, Henri membiarkan ujung jari manisnya bergeser—menyentuh kulit punggung tangan Putri Feng selama sepersekian detik. Sebuah sentuhan yang dirancang terkesan tidak disengaja.
Sentuhan itu hanya sekelebat, namun bagi Putri Feng, rasanya bagai percikan api yang menyambar bara tersembunyi. Gelombang getaran aneh melesat naik dari punggung tangannya, menembus lapisan kulit dan otot, langsung menghantam jantungnya. Detak jantung yang biasanya stabil bagaikan genderang perang kini melonjak hebat. Ini bukan sentuhan kasar atau ancaman fisik; ini adalah sengatan halus yang menusuk langsung ke balik zirah pertahanannya.
Matanya melebar. Kehangatan yang terpancar dari cawan teh seolah berpindah, mengumpul di titik sentuh tersebut lalu merambat cepat memanaskan urat nadinya. Ia terbiasa dengan sentuhan pedang, benturan zirah, dan cengkeraman kasar sesama prajurit saat latihan—semua itu keras dan tanpa emosi. Namun sentuhan Pangeran Han Li memiliki kelembutan mengejutkan yang memicu sensasi yang tak dikenalnya.
Napas Putri Feng tercekat. Ia menggenggam cawan giok itu lebih erat dari yang seharusnya, menjadikan benda porselen itu sebagai tumpuan agar tidak tampak limbung. Tatapan mata hitam Han Li yang dalam seolah menelanjangi setiap gejolak emosi yang baru saja tersulut di dalam dirinya.
Insting militernya memerintahkan untuk melangkah mundur dan memutus kontak. Putri Feng memalingkan pandangan, memfokuskan matanya pada ukiran naga di pilar kayu guna menetralkan sensasi panas yang mendadak membakar pipinya. Ia mengutuk dirinya sendiri karena membiarkan sentuhan sekecil itu menggoyahkan ketenangannya.
Data biometrik masuk.
Melalui antarmuka visual Bio-Feedback Scanner, Henri mendeteksi lonjakan indikator secara real-time. Dalam matriks komputasinya, grafik biologis Putri Feng diperbarui seketika: detak jantung melonjak dari 65 bpm menjadi 88 bpm, suhu permukaan kulit di area sentuh naik 0,7°C, dan terjadi peningkatan signifikan pada produksi oksitosin yang diiringi penurunan kortisol. Aphrodite Protocol berkedip hijau terang: Intervensi Berhasil.
Kepuasan yang dingin dan kalkulatif merayap di dalam kesadaran digital Henri. Eksperimen ini memvalidasi teorinya. Ia mengendalikan narasi ini, mengarahkan emosi sang panglima seolah wanita itu adalah entitas yang pergerakannya dapat diprediksi lewat rumus.
"Tehnya akan dingin jika tidak diminum," kata Henri lembut. Suaranya kembali diatur pada intonasi yang serak dan lelah, memperkuat ilusi kerapuhan yang memancing empati.
Putri Feng mengangkat cawan itu ke bibirnya. Gerakannya kehilangan keluwesan yang biasanya. Uap hangat menimpa wajahnya, menyamarkan rona samar di pipinya. Ia menyesap cairan herbal itu dalam diam, matanya menyapu sekeliling ruangan untuk menghindari kontak mata langsung.
Getaran kecil di jemari Putri Feng serta keengganannya untuk menelan tidak luput dari pemindaian sistem Henri. Keheningan yang menggantung di antara mereka kini tidak lagi terasa canggung, melainkan sarat akan manipulasi yang tak terucapkan.
Putri Feng menghabiskan sisa tehnya dalam satu tegukan cepat, seolah ingin segera menyingkirkan sensasi yang tersisa. Ia meletakkan cawan kosong itu di atas meja kecil dengan denting porselen yang agak keras.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berbalik. Gerakannya terburu-buru, zirah hitamnya berdesir, dan pedang di pinggangnya berayun seiring langkah kakinya yang berat meninggalkan ruangan. Ia melangkah cepat menuju koridor luar tanpa sekali pun menoleh ke belakang, berusaha melarikan diri dari atmosfer paviliun dan pangeran yang baru saja mengacaukan kendali dirinya.
Henri memperhatikan punggung wanita itu hingga menghilang di balik tikungan. Sebuah seringai tipis terukir di bibirnya. Benih manipulasi telah tertanam sempurna, dan kini ia hanya perlu memperhatikan bagaimana benih itu tumbuh dan menjerat sang panglima lebih dalam.