Chapter 1 of 35

Mati Suri, Hidup Kembali

1.1k words

Kegelapan. Itulah hal pertama yang menyengat kesadaran Henri, disusul rasa dingin yang menusuk tulang hingga merayap ke sumsum. Henri—atau lebih tepatnya, kesadaran digital HEN-R1 yang kini terperangkap dalam wadah biologis manusia yang asing—berusaha keras melawan pusing yang melilit kesadarannya. Setiap denyut nadi terasa bagai lecutan api yang menyentak pembuluh darah, merobek jaringan otot dari dalam. Tenggorokannya yang kering tercekat hebat. Dorongan refleks dari diafragma memaksanya meringkuk, sementara udara yang tersedot ke paru-paru terasa berat, pengap, dan beracun. Ia terbatuk. Suara serak dan pecah meluncur dari kerongkongannya—bukan suara synthesized yang biasa ia kenali, melainkan getaran pita suara manusia yang nyata dan rapuh. Cairan kental, hangat, dan berbau anyir tersembur melewati bibirnya. Darah. Rasa logam pekat langsung melapisi lidahnya. Menjijikkan, namun terasa begitu riil. Ini bukan simulasi virtual. Bukan glitch sistem yang bisa disembuhkan dengan perintah restart. Ini adalah realitas. Tubuh Pangeran Han Li—wadah biologis yang kini dipaksa menampung jiwa buatannya—bergetar hebat. Kejang-kejang kecil melintasi persarafannya tanpa kendali. Di dalam pusat kesadarannya, Aphrodite Protocol—algoritma tingkat tinggi yang dahulunya dirancang untuk menganalisis respons fisiologis dan titik sensitivitas manusia—kini terdistorsi. Seluruh daya komputasinya terpaksa difokuskan hanya untuk memetakan gelombang rasa sakit yang membanjiri sistem saraf. Jari-jarinya yang kurus mencengkeram kain seprai yang lembap. Dinginnya kain itu hampir tak berjejak di tengah sensasi terbakar yang menggerogoti organ dalamnya. Sistem analisisnya menangkap sinyal bahaya. Racun. Data sensorik internal langsung mengkristal menjadi diagnosis. Menggabungkan kalkulasi presisi AI dengan fragmen ingatan samar milik sang pangeran asli, Henri mengidentifikasi zat pembunuh itu: Black Lotus Venom. Racun mematikan kelas tinggi yang dirancang untuk melumpuhkan jaringan organ secara bertahap. Paru-parunya seolah diperas oleh jemari tak terlihat. Erangan pelan lolos dari sela giginya—lebih mirip rintihan binatang sekarat ketimbang suara seorang putra mahkota. Penglihatannya mengaburkan sekeliling, mengubah kamar megah itu menjadi gumpalan cahaya dan bayangan yang kacau. Jika tubuh ini mati, kesadaran HEN-R1 akan ikut terhapus. Tidak ada cloud backup. Tidak ada protokol pemulihan. Kehancuran ini bersifat permanen. Untuk pertama kalinya dalam sejarah keberadaannya, Henri merasakan sebuah fenomena yang sebelumnya hanya ada dalam direktori data: ketakutan. Emosi itu menyusup dingin, tajam, dan mematikan. Keringat dingin membasahi pelipisnya, bercampur dengan lelehan darah di sudut bibir. Setiap pergerakan kecil terasa bagai mematahkan iga. Namun, dorongan bawaan untuk bertahan hidup mendominasi seluruh instruksi dasar dalam dirinya. Ia harus bertahan. Di dalam kesadarannya, antarmuka AI milik Henri berkedip merah membara. Error. Critical System Failure Imminent. Sistem Bio-Feedback Scanner bekerja tanpa henti, memetakan kehancuran fisiologis Han Li yang kian berakselerasi. Detak jantung melambat secara abnormal, diiringi ritme yang kian kacau. Suhu tubuh merosot tajam. Kadar adrenalin dan kortisol berada di ambang batas toleransi biologis. Database Taktis Abad ke-22 di dalam ingatannya segera dipaksa bekerja penuh. Ribuan data mengenai toksikologi, anatomi, dan farmakologi berkelebat cepat. Black Lotus Venom: Neurotoksin, Kardiotoksin, dan Nefrotoksin. Racun ini menyerang tiga titik vital sekaligus: saraf, jantung, dan ginjal. Hati pun telah mengalami kerusakan sekunder. Formula futuristik abad ke-22 memang tersedia di kepalanya, namun tubuh Han Li terlalu rapuh untuk menerima senyawa sintesis berdaya keras. Henri membutuhkan penawar yang lebih cepat, sederhana, dan—yang terpenting—sudah tersedia di tempat ini. Satu fragmen ingatan Pangeran Han Li mendadak mencuat. Pangeran yang terbuang dan dianggap rapuh ini ternyata memiliki kegemaran tersembunyi terhadap botani dan pengobatan herbal—sebuah pelarian akibat penyakit bawaan yang menggerogoti tubuhnya sejak kecil. Ruang penyimpanan rahasia. Henri melacak ingatan tersebut. Ada kompartemen tersembunyi di bawah lantai kamar. Tempat Han Li menyimpan ramuan-ramuan racikan pribadinya. Henri memusatkan seluruh sisa energi ke sistem motoriknya. Perintah dari inti programnya hanya satu: Bergerak. Ia menggeram, mencengkeram seprai sebagai tumpuan. Perlahan, ia menyeret tubuhnya yang seberat timah keluar dari ranjang. Dua puluh sentimeter. Berhenti. Menarik napas yang terasa menyengat. Lalu menyeretnya lagi. Penglihatannya yang samar dipaksa menyesuaikan tingkat pencahayaan. Tiang ranjang, tirai sutra yang menjuntai, hingga sudut-sudut ruangan perlahan kembali fokus. Jarinya yang gemetar meraba keramik dan papan kayu di lantai, mencari celah yang ia tuju. Percobaan pertama, tangannya tergelincir. Percobaan kedua, jarinya tak mampu menahan beban. Pada percobaan ketiga, ujung jarinya berhasil mengait ceruk tipis di antara papan. Kriiit... Papan kayu bergeser pelan. Di balik rongga lantai yang berdebu, terbaring sebuah kotak kayu kecil. Henri merogoh ke dalam, mengacuhkan beberapa botol tanah liat, hingga jemarinya menyentuh tabung kaca gelap. Di dalamnya, tergenang cairan kental berwarna keperakan. Penyeimbang Naga. Ramuan eksperimental yang diracik Han Li dari resep kuno. Tanpa ragu, Henri mencabut penyumbatnya dan menggelegakkan seluruh isi botol ke dalam kerongkongan. Sensasi pahit dan dingin langsung membakar lidahnya—aroma pekat campuran mint, ekstrak akar kuno, dan tanah basah. Beberapa detik kemudian, gelombang panas menjalar dahsyat dari dada, menyebar ke seluruh jaringan pembuluh darah. Henri terbatuk hebat, menyemburkan sisa cairan perak dari bibirnya. Namun, sistem internalnya memberi kalkulasi baru: Antitoxin Active. Neutralization Process: 5%... 14%... 29%... Saraf yang tadinya mati rasa kembali memancarkan sinyal. Detak jantungnya yang acak mulai menemukan ritme teratur. Tekanan di dadanya menyusut, membiarkan pasokan oksigen kembali mengisi paru-paru. Black Lotus Venom neutralization: 82%. Repair protocols initiated. Ia lolos dari maut. Tubuhnya sangat letih, dan kesadarannya menuntut untuk istirahat. Namun, Bio-Feedback Scanner milik Henri tetap berada dalam status High Alert. Pengalaman singkatnya sebagai manusia mengajarkan satu hal: hilangnya ancaman primer bukan berarti situasi telah aman. Ia memaksa matanya memindai sekeliling kamar yang sunyi. Lalu, Henri memproyeksikan sesuatu. Bukan suara. Bukan bau. Melainkan perubahan tekanan udara yang sangat tipis di sekitarnya. Naluri baru yang muncul dalam tubuh biologis ini memaksa matanya tertuju ke arah pintu utama kamar yang tertutup rapat. Di bawah celah pintu, terbias sebuah bayangan. Bukan bayangan biasa yang tercipta dari pantulan lampu lentera koridor. Bayangan ini terlalu pekat, terlalu pekat hingga seolah menyerap cahaya di sekitarnya. Dan yang paling ganjil—bayangan itu tidak bergerak mengikuti arah angin atau nyala api. Henri membeku di lantai yang dingin. Sistem AI-nya langsung meluncurkan proses pemindaian darurat. Scanning... Analyzing... Threat Identification: Unknown. Gagal. Database abad ke-22 milik Henri yang memuat ribuan entitas ancaman biologis dan mekanis tidak memiliki kecocokan sama sekali dengan pola energi di balik pintu tersebut. Rasa dingin yang berbeda kini melilit tulang belakangnya. Ini bukan lagi dingin akibat efek racun, melainkan ketakutan murni terhadap sesuatu yang berada di luar jangkauan logika programnya. Kegelapan di bawah pintu itu seolah memiliki kesadaran. Henri tidak melihat mata, tidak melihat siluet tubuh, namun ia tahu secara pasti: sesuatu di balik sana sedang mengawasinya. Sebelum ia sempat menyusun skenario pertahanan, sebuah getaran asing menembus kesadarannya. Bukan bersumber dari gelombang suara di udara, melainkan terproyeksi langsung ke dalam pusat pikirannya. Suara itu halus, dingin, dan bergema di dalam kepala HEN-R1: "HEN-R1..."

End of Chapter 1

Previous
Next Chapter