Chapter 14 of 35

Pesan Tersembunyi dari Istana

848 words

Udara di Paviliun Utara terasa dingin, namun kehangatan tubuh Putri Feng yang bersandar di bahu Henri menyajikan kontras tersendiri di tengah ketegangan. Diskusi mereka mengenai manuver Li Wei baru saja mereda, menyisakan jejak kewaspadaan samar pada diri sang panglima. Detak jantung Putri Feng yang melambat terekam jelas oleh modul Bio-Feedback Scanner—sinyal bahwa sang panglima mulai melonggarkan benteng pertahanannya dan mempercayakan beban pikirannya pada Henri. Aroma tubuh sang putri yang samar bercampur dengan feromon sintesis buatan Henri, menciptakan respons relaksasi yang terukur. Henri membiarkan sistem komputasinya terus memindai area sekitar, mendengarkan keheningan malam yang pekat untuk mengantisipasi anomali. Ia paham betul, ketenangan pasca-konfrontasi dengan Li Wei hanyalah jeda singkat sebelum badai politik yang lebih besar menerjang. Otaknya yang beroperasi layaknya superkomputer sibuk memetakan potensi respons Pangeran Zheng dan Selir Agung Liu. Putri Feng menghela napas panjang, mengistirahatkan kepalanya lebih dalam pada bahu Henri. Rambut hitamnya yang halus terurai di dada sang pangeran. Henri mengusap lengan sang putri dengan gerakan ibu jari yang tenang dan terhitung. Misi awal untuk menaklukkan benteng emosional Putri Feng telah selesai, kini bertransformasi menjadi kalkulasi taktis untuk mengunci aliansi mereka. Tiba-tiba, keheningan malam pecah. Bukan suara langkah kaki yang mendekat, melainkan ketukan mendesak yang menghantam daun pintu kayu tua. Tok! Tok! Tok! Gema ketukan itu memantul keras di dinding kamar, membawa irama urgensi yang menggetarkan udara. Putri Feng tersentak. Seluruh tubuhnya menegang dalam hitungan milidetik. Refleks militernya serta-merta mengambil alih: mata elangnya menyala, otot-otot tubuhnya mengencang saat ia serta-merta bangkit dari sandarannya. Tatapannya menajam lurus ke arah pintu, bersiap menghadapi potensi ancaman fisik. Stimulasi tantangan itu memicu respons taktis pada sistem Henri. Modul pendengarannya langsung memfokuskan frekuensi, menganalisis pola ketukan serta irama napas di balik pintu. Tidak ada indikasi pendekatan tersembunyi; figur di luar sana berdiri terang-terangan dengan tingkat kepanikan tinggi. Ini bukan sekadar kunjungan malam—ini adalah penyampaian pesan darurat. TOK! TOK! TOK! TOK! Ketukan itu berulang, makin cepat dan tak sabar. Henri menyentuh lembut lengan Putri Feng—sebuah isyarat taktis agar sang panglima tetap menahan diri. Ia menggeser tubuhnya dari ranjang, melangkah tanpa suara di atas lantai marmer yang dingin. Di balik pintu, pemindai Henri menangkap pola napas yang terengah-engah dan frekuensi detak jantung yang melonjak drastis. Status: Bukan ancaman kombatan, melainkan kurir pembawa pesan darurat. Putri Feng mengekor di samping Henri seperti siluet yang siap menerkam. Henri mengulurkan tangan, memutar kenop perunggu, dan membuka celah pintu secukupnya. Cahaya temaram dari koridor menerpa wajah seorang kurir muda istana. Pakaian resminya kusut, pelipisnya dibasahi keringat dingin, dan dadanya naik-turun memburu. Wajahnya pucat pasi di bawah bayang-bayang malam. Jemari kurir itu gemetar saat menyodorkan selembar gulungan kertas tebal. Gulungan tersebut terikat pita sutra merah tua dan dikunci oleh segel lak keemasan. Di permukaan lak itu, tertera cetakan lambang Phoenix yang terukir presisi—lambang kekuasaan mutlak milik Permaisuri Agung. Pria itu membungkuk dalam-dalam, tak berani menatap langsung ke arah Henri maupun Putri Feng. Napasnya tercekat saat berbisik parau, "Pangeran... pesan darurat dari Istana Anggrek." Kurir itu menyerahkan gulungan tersebut seolah benda itu adalah bara api yang harus segera dilepaskan. Henri menerima gulungan itu tanpa ragu, merasakan tekstur kertasnya yang halus serta dinginnya lak segel di telapak tangannya. "Permaisuri Agung... meminta kehadiran Anda secepatnya, Pangeran," tambah kurir itu dengan suara bergetar. Setelah membungkuk sekali lagi, pria itu berbalik dan bergegas pergi, langkah kakinya menghilang cepat di kegelapan koridor. Henri menutup pintu kamar, mengunci kembali keheningan yang kini terasa jauh lebih berat. Gulungan bersurat Phoenix itu berada di tangannya—sebuah variabel baru yang ditarik masuk ke dalam papan catur politik istana. Ia merasakan tatapan tajam Putri Feng yang menuntut penjelasan taktis. Dengan satu gerakan presisi, Henri mematahkan segel lak keemasan itu. Suara retakan kecil menggema pelan. Ia melepas pita sutra merah dan membentangkan gulungan kertas di tangannya. Goresan kaligrafi yang elegan dan tajam memenuhi permukaan kertas. Pemindai optik Henri memproses baris demi baris teks dengan kecepatan tinggi. Namun, saat analisis data mencapai bagian akhir, garis di antara kedua alisnya menegang. Sudut bibirnya mengatup rapat, dan mata sedingin bajanya menyipit halus. Pesan itu berisi instruksi resmi: Permaisuri Agung menggelar pertemuan darurat di Istana Anggrek pada dini hari—tepat satu jam dari sekarang. Beberapa nama tokoh kunci dari faksi utama tercantum di sana, termasuk Pangeran Zheng dan Li Wei. Namun, yang menarik perhatian Henri adalah baris kalimat tambahan di bagian paling bawah, ditorehkan dengan kuas bernoda tinta lebih gelap: Bawa sekutumu. Kalimat singkat itu langsung memicu kalkulasi ulang pada sistem Henri. Permaisuri Agung—figur yang dikenal sangat tertutup dan manipulatif—tidak pernah menggunakan diksi sejelas itu dalam dokumen resmi tanpa motif tersembunyi. Penggunaan kata "sekutu" secara terbuka mengindikasikan dua kemungkinan: sebuah keputusasaan politik yang terdesak, atau sebuah jebakan yang dirancang secara halus. Sistem alarm internal Henri berdengung dalam frekuensi rendah. Undangan ini adalah pedang bermata dua. Menolak panggilan ini akan dianggap sebagai bentuk pembangkangan politik dan indikasi kelemahan. Sebaliknya, memenuhinya berarti melangkah masuk ke tengah sarang predator tanpa peta kekuatan yang utuh. Putri Feng mencondongkan tubuhnya ke depan, mata elangnya menyapu lambang Phoenix serta baris-baris kaligrafi di tangan Henri. Meskipun ia tidak membaca seluruh detailnya, keberadaan stempel Permaisuri Agung sudah cukup untuk mengaktifkan insting perwiranya. "Apa isinya, Henri?" bisik Putri Feng, suaranya kembali mengeras oleh ketegangan militernya.

End of Chapter 14