Chapter 15 of 35
Chapter 15: Pertarungan di Meja Makan
816 words
Udara dingin malam menusuk kulit, namun langkah Henri tetap mantap. Koridor istana membentang di bawah pendar lampion gantung yang berpendar redup, memproyeksikan bayangan panjang di atas lantai batu. Di sisinya, Putri Feng berjalan anggun dengan jubah komandannya yang berdesir halus. Langkah sang panglima presisi, namun modul Bio-Feedback Scanner Henri merekam lonjakan biometrik yang signifikan:
Detak Jantung: +18 bpm di atas ambang normal.
Kortisol & Adrenalin: Melonjak tajam.
Status: Ketegangan taktis tinggi.
"Mereka tahu sesuatu," bisik Putri Feng rendah. Matanya menatap lurus ke depan, namun kecemasan tersirat jelas dalam artikulasinya. "Permaisuri Agung tidak akan pernah memanggilmu ke Istana Anggrek tanpa kalkulasi matang. Terlebih dengan instruksi 'Bawa sekutumu'."
Henri mengangguk tipis. Emisi feromon sintesisnya bekerja secara halus untuk meredam kecemasan sang panglima. "Tentu saja mereka menduga sesuatu," balas Henri dingin. "Li Wei telah bergerak cepat. Pertanyaannya: seberapa jauh asumsi yang berhasil mereka susun?"
Ia mengerling tegas ke arah Putri Feng. Pertempuran di Istana Anggrek bukanlah konfrontasi fisik, melainkan perang psikologis dan narasi. Setiap gestur, jeda napas, dan intonasi akan menjadi kalkulasi di papan catur kekuasaan.
"Apa pun yang terjadi," tegak Putri Feng dengan nada memadat, "aku akan melindungimu."
Henri tidak menjawab. Gerbang utama Istana Anggrek yang berukirkan naga dan phoenix kini telah menjulang di hadapan mereka.
Daun pintu kayu cendana itu terbuka pelan, menyingkap ruang perjamuan megah yang dibalut kehangatan palsu. Cahaya obor memantul pada pilar-pilar bersepuh emas dan meja giok panjang di tengah ruangan.
Di ujung meja, Permaisuri Agung duduk tegak dalam balutan jubah sutra merah marun. Hiasan phoenix giok menghiasi sanggul tingginya. Di sisinya, Pangeran Zheng dan Selir Agung Liu telah hadir. Pangeran Zheng menampilkan ekspresi tenang yang dibuat-buat, sementara Li Wei berdiri sigap di belakang Permaisuri dengan wajah netral.
"Selamat datang, Pangeran Han Li," suara Permaisuri Agung meluncur halus bagai air mengalir, namun membawa bobot otoritas yang mengikat. "Dan Panglima Feng. Silakan bergabung."
Henri menarik kursi di hadapan Pangeran Zheng, sementara Putri Feng mengambil posisi tepat di sebelahnya. Sistem Aphrodite Protocol pada Henri merekomendasikan kalkulasi gestur: menampilkan kerentanan fisik yang terukur, dipadukan dengan wibawa tersembunyi.
"Kami sangat menghargai kehadiranmu, Pangeran," lanjut Permaisuri, mengunci pandangannya pada Henri. "Terutama pasca-insiden keracunan yang hampir merenggut nyawamu. Kesehatanmu tampak membaik, terima kasih pada Kehendak Langit."
Penekanan pada kata 'Kehendak Langit' disambut lirikan terselubung antara Pangeran Zheng dan Selir Agung Liu—sebuah kode taktis yang terekam sempurna oleh pemindai Henri.
Pelayan menyajikan hidangan pembuka: irisan daging bebek panggang bersaus plum dan sup sirip hiu yang mengepul. Permaisuri Agung menyesap tehnya sebelum kembali membuka serangan diplomatik.
"Pangeran Han Li, saya mendengar kabar bahwa Anda kini jauh lebih... mandiri," tutur Permaisuri dengan nada penuh kepedulian artifisial. "Bahkan Panglima Feng kini lebih sering terlihat berjaga di kediamanmu. Apakah ada ancaman khusus yang membuatmu membutuhkan pengawalan ekstra?"
Pertanyaan itu meluncur tajam seperti sembilu yang terbungkus sutra. Pemindai Henri mencatat lonjakan tekanan darah mendadak pada Putri Feng.
Henri meletakkan sumpit gioknya perlahan tanpa menimbulkan suara. "Permaisuri Agung terlalu mengkhawatirkan saya," ujarnya tenang. "Sebagai pangeran ketujuh yang memiliki kondisi fisik rapuh, insiden keracunan kemarin membuka mata saya. Wajar jika saya meminta petunjuk dan perlindungan dari perwira paling loyal di istana ini. Kesetiaan Panglima Feng kepada takhta dan Kaisar tidak perlu diragukan."
Henri mengalihkan pandangannya, mengunci mata Pangeran Zheng. "Setelah hampir melintasi gerbang kematian, kehati-hatian adalah satu-satunya perisai saya. Bukankah berjaga-jaga dari ancaman tersembunyi adalah tindakan yang bijaksana?"
Narasi itu membalikkan tuduhan 'ketergantungan' menjadi 'kewaspadaan rasional'. Modul pemindai mencatat penurunan frekuensi napas Permaisuri—tanda ia sedang mengalibrasi ulang argumennya.
Permaisuri Agung tersenyum tipis, matanya menyipit halus. "Kehati-hatian memang kebijaksanaan, Pangeran. Namun, saya juga mendengar dinamika baru dalam dirimu. Sebuah kebangkitan? Pangeran yang dulunya terisolasi kini mulai menaruh perhatian pada urusan administrasi kekaisaran."
Pangeran Zheng mencondongkan tubuhnya, sementara Selir Agung Liu mengamati setiap pergerakan mikro di wajah Henri.
Henri menyesap teh melatinya, menciptakan jeda dramatis yang terkendali. "Pengalaman di ambang kematian merubah cara pandang seseorang, Permaisuri," sahut Henri dengan intonasi melankolis yang terukur. "Saya menyadari betapa sia-sianya menghabiskan waktu dalam kemunduran. Saya ingin belajar dan berkontribusi bagi kekaisaran. Panglima Feng banyak membantu saya memahami protokol dan struktur istana."
Dengan menyeret nama Putri Feng secara terbuka sebagai 'instruktur kedinasan', Henri melegitimasi intensitas kehadiran sang putri di kediamannya tanpa memicu kecurigaan moral.
Jamuan berlanjut. Hidangan utama digantikan oleh manisan buah persik dan kue beras hangat. Pangeran Zheng dan Selir Agung Liu sesekali melontarkan pertanyaan formal untuk menguji kedalaman analisis Henri, yang direspons dengan presisi data sejarah dan kalkulasi taktis oleh kesadaran AI-nya.
Saat para pelayan selesai membersihkan meja, Permaisuri Agung meletakkan cangkirnya. Keheningan mendadak melingkupi ruangan. Modul Bio-Feedback Scanner Henri seketika memancarkan alarm internal berfrekuensi rendah: Puncak Konfrontasi Dimulai.
Permaisuri Agung menatap Henri dengan senyum hangat yang memancarkan aura intimidasi mutlak.
"Pangeran Han Li," bisik Permaisuri, suaranya sehalus beludru namun sarat dengan ancaman terselubung. "Saya mendengar kabar menarik dari kediamanmu malam ini... Kau ditiupkan bakat baru yang sangat luar biasa. Maukah kau membagikannya di hadapan kami?"
Pertanyaan itu menggantung tegang di udara, menguji ketahanan taktis Henri dan Putri Feng hingga titik terdepan.