Chapter 9 of 51

Chapter 9 — Suara dari Bawah

1.0k words

“Monn...” Suara itu kembali terdengar. Pelan. Hampir seperti bisikan yang datang dari balik dinding. Monn tidak bergerak. Seraphine berdiri di sampingnya, wajahnya mulai tegang. “Siapa itu?” Monn menggeleng. “Aku tidak tahu.” Namun sebenarnya ia tahu satu hal. Suara itu bukan suara orang asing. Ada sesuatu dalam nada tersebut yang terasa terlalu dekat. Bukan seperti seseorang yang baru mengenalnya. Melainkan seperti seseorang yang sudah lama menunggunya. Tok. Lantai kembali diketuk dari bawah. Kali ini lebih keras. Beberapa pelayan yang berada di luar ruangan langsung berteriak kaget. Duke Alaric menarik pedangnya. “Semua keluar.” Para penjaga segera mengosongkan ruangan. Lucien berdiri di dekat pintu. “Monn, mundur.” Monn tidak bergerak. Matanya tetap tertuju pada lantai. Blood Thread di dalam tubuhnya bergetar. Satu garis merah menembus lantai. Terus turun. Semakin jauh. Seolah melewati beberapa lapisan batu. Lalu berhenti. Monn menutup mata. Ia mencoba mengikuti garis tersebut. Dan tiba-tiba— sebuah gambaran muncul di pikirannya. Ruangan gelap. Rak-rak penuh buku. Lilin yang hampir habis. Seorang pria muda duduk sendirian di depan meja. Rambut hitam. Wajah pucat. Di tangannya terdapat beberapa lembar catatan. Monn tidak mengenal wajah itu secara langsung. Tetapi ada sesuatu yang membuatnya yakin. Edrin. Pria itu sedang menulis. Tangannya gemetar. “Aku salah.” Monn mendengar suaranya seperti gema jauh. “Blood Thread bukan kemampuan untuk melihat masa depan.” Edrin berhenti menulis. Ia menatap sesuatu di depannya. Sebuah garis hitam. “Ini bukan benang.” Wajahnya berubah. “Ini jalan.” Gambaran itu pecah. Monn membuka mata. Napasnya berat. Seraphine segera memegang bahunya. “Monn!” “Aku melihat sesuatu.” “Apa?” “Edrin.” Alaric langsung menatapnya. “Apa yang kau lihat?” “Dia berada di bawah rumah ini.” Wajah Alaric berubah. “Kau yakin?” Monn mengangguk. “Dia sedang menulis sesuatu.” “Apa?” Monn mengingat gambaran tadi. “Dia mengatakan Blood Thread bukan kemampuan untuk melihat masa depan.” Alaric diam. Monn melanjutkan. “Katanya... ini bukan benang.” Seraphine bertanya, “Lalu apa?” Monn menatap lantai. “Jalan.” --- Mereka memindahkan sebuah rak buku. Di bawahnya terdapat pola batu yang berbeda. Monn berlutut. Tangannya menyentuh permukaan lantai. Ada ukiran. Hampir tidak terlihat. Sebuah lingkaran dengan garis di tengah. Simbol yang sama. Alaric berdiri di belakangnya. “Tidak mungkin.” “Kenapa?” “Aku sudah mencari ruang ini selama bertahun-tahun.” Monn menatapnya. “Dan sekarang ruang itu menemukan kita.” Ia mengaktifkan Blood Thread. Garis merah muncul dari telapak tangannya. Monn menyentuh simbol tersebut. Klik. Batu bergeser. Sebuah celah terbuka. Tangga turun ke kegelapan. Udara dingin keluar dari dalam. Lucien langsung menghunus pedangnya. “Aku ikut.” Monn mengangguk. “Seraphine, kau tetap di sini.” “Tidak.” “Ini bukan tempat untukmu.” “Dan kau bukan orang yang berhak menentukan itu.” Monn terdiam. Seraphine menatapnya. “Kau sendiri yang mengatakan keputusan akhir harus menjadi milik seseorang.” Monn hampir tersenyum. “Baik.” Alaric menatap mereka. “Aku ikut.” Monn menoleh. “Tidak.” “Aku mengenal tempat ini lebih baik darimu.” “Justru itu.” Monn menatap ayahnya. “Ayah sudah terlalu banyak menyembunyikan sesuatu.” Alaric terdiam. “Aku perlu melihatnya sendiri.” Beberapa detik kemudian Alaric mengangguk. “Baik.” Mereka bertiga turun. Lucien mengikuti paling belakang. --- Tangga itu jauh lebih panjang daripada yang seharusnya. Sepuluh anak tangga. Dua puluh. Tiga puluh. Namun mereka masih belum sampai. Monn mengangkat lampu. Dinding di kiri dan kanan dipenuhi ukiran. Nama-nama. Tanggal. Simbol. Beberapa di antaranya sudah hampir hilang. Seraphine menyentuh salah satu tulisan. “Ini bukan bahasa Aurelith.” Alaric menjawab, “Bahasa kuno Veylcrest.” “Seberapa tua?” “Lebih tua dari kerajaan.” Monn berhenti. Di dinding tepat di depannya terdapat sebuah kalimat. Ia mengenali tulisannya. Sama seperti tulisan dalam buku hitam. “MANUSIA TIDAK DIIKAT OLEH TAKDIR.” Monn membaca baris berikutnya. “MEREKA DIIKAT OLEH PILIHAN.” Seraphine menatapnya. “Itu...” Monn mengangguk. “Seperti yang selama ini kucari.” Ia melanjutkan membaca. “SETIAP PILIHAN MEMBENTUK JALAN.” “SETIAP JALAN MEMBENTUK HUBUNGAN.” “DAN SETIAP HUBUNGAN DAPAT DIGUNAKAN UNTUK MENGARAHKAN PILIHAN.” Monn diam. Ia memahami sesuatu. Blood Thread bukanlah kendali atas takdir. Kemampuan itu bekerja melalui hubungan. Keluarga. Persahabatan. Ketakutan. Keinginan. Harapan. Semakin kuat hubungan seseorang dengan sesuatu— semakin mudah arah pilihannya dipengaruhi. Monn mengepalkan tangan. Jadi inilah alasan Blood Thread berbahaya. Bukan karena bisa mengendalikan tubuh. Tetapi karena bisa membuat seseorang merasa bahwa keputusan yang dipengaruhi itu adalah keputusan mereka sendiri. Ia teringat ibunya. Kata-kata lembut. Nasihat yang terdengar seperti pilihan. Namun selalu berakhir dengan keputusan yang diinginkan keluarga. Monn tiba-tiba berhenti. Seraphine menyadarinya. “Monn?” “Tidak apa-apa.” Namun ia tahu. Untuk pertama kalinya, ia memahami sesuatu tentang kehidupan pertamanya. Mungkin tidak semua keputusan yang ia ambil dulu benar-benar dipaksakan. Mungkin sebagian memang pilihannya sendiri. Namun mungkin— pilihan itu telah diarahkan. Dan jika benar... siapa yang mengarahkannya? --- Mereka akhirnya sampai di dasar. Sebuah pintu batu besar berdiri di depan mereka. Tidak memiliki gagang. Hanya terdapat satu lubang berbentuk seperti telapak tangan. Monn mendekat. Alaric langsung menahannya. “Jangan.” “Kenapa?” “Karena Edrin mengatakan pintu ini tidak boleh dibuka.” Monn menatapnya. “Dan sekarang Ayah tahu kenapa?” Alaric tidak menjawab. Monn memasukkan tangannya. Tidak terjadi apa-apa. Kemudian Blood Thread muncul. Bukan merah. Bukan hitam. Melainkan putih pucat. Cahaya tipis mengalir dari telapak tangan Monn ke pintu. KRAK. Pintu terbuka. Dari baliknya terdengar suara. “Lama sekali.” Monn membeku. Suara itu sama. Suara yang memanggilnya dari bawah. Mereka masuk. Ruangan di balik pintu jauh lebih besar daripada yang diperkirakan. Rak-rak tua berdiri di sepanjang dinding. Banyak buku telah hancur. Di tengah ruangan terdapat meja batu. Dan di atasnya— seorang pria duduk. Rambutnya panjang dan berantakan. Wajahnya terlihat jauh lebih tua daripada gambaran yang Monn lihat. Namun matanya masih terbuka. Ia tidak bergerak. Monn menatapnya. “Edrin?” Pria itu tersenyum. “Jadi akhirnya kau datang.” Alaric melangkah maju. “Edrin.” Edrin menatap kakaknya. “Alaric.” Suasana berubah. Tidak ada kegembiraan. Tidak ada pelukan. Hanya dua saudara yang telah dipisahkan oleh tujuh belas tahun. Alaric menggenggam pedangnya. “Apa yang kau lakukan?” Edrin tersenyum lemah. “Menunggu.” “Menunggu apa?” Edrin memandang Monn. “Dia.” Monn maju satu langkah. “Kenapa aku?” Edrin tidak langsung menjawab. Matanya turun ke tangan Monn. “Karena kau adalah satu-satunya orang yang pernah kembali.” Monn membeku. Seraphine menatapnya. “Pernah?” Edrin mengangguk. “Ya.” Monn merasa darahnya dingin. “Apa maksudmu?” Edrin tersenyum. “Monn Veylcrest.” Kemudian ia mengucapkan kalimat yang membuat seluruh ruangan terasa membeku. “Kau bukan orang pertama yang kembali.” Monn menatapnya. “Apa?” Edrin perlahan berdiri. Dan di belakangnya— puluhan Blood Thread mulai bergerak. Satu per satu. Seolah seluruh ruangan baru saja terbangun. “Pertanyaannya bukan lagi siapa yang mengembalikanmu.” Edrin menatap Monn. “Pertanyaannya adalah...” Ia menunjuk sebuah pintu hitam di ujung ruangan. “Siapa yang kembali bersamamu?”

End of Chapter 9