Kalimat Edrin menggantung di udara.
> “Siapa yang kembali bersamamu?”
Monn tidak langsung menjawab.
Ia bahkan tidak tahu harus menjawab apa.
“Aku kembali sendirian.”
Edrin tersenyum tipis.
“Benarkah?”
“Ya.”
“Kalau begitu, kenapa dia ada di sini?”
Edrin menunjuk ke belakang Monn.
Monn perlahan menoleh.
Seraphine.
Lucien.
Alaric.
Tidak ada siapa pun selain mereka.
Namun ketika Monn mengaktifkan Blood Thread—
dadanya langsung terasa sesak.
Puluhan garis merah memenuhi ruangan.
Ada yang berasal dari Seraphine.
Ada yang berasal dari Lucien.
Ada yang menghubungkan Alaric dengan keluarganya.
Namun di antara semua garis itu terdapat satu garis lain.
Hitam.
Sangat tipis.
Garis itu keluar dari tubuh Monn.
Bukan menuju Edrin.
Bukan menuju pintu.
Melainkan menuju bayangan di belakangnya.
Monn menatap lantai.
Bayangan itu bergerak.
Kemudian sosok tinggi dengan jubah hitam perlahan muncul.
Mortis.
Seraphine mundur satu langkah.
Alaric langsung mengangkat pedang.
Lucien berdiri di depan Seraphine.
Namun Edrin justru tersenyum.
“Dia.”
Monn menatap Mortis.
“Kau bilang dia kembali bersamaku?”
Mortis tidak menjawab.
Monn mengepalkan tangan.
“Siapa sebenarnya kau?”
Dua mata merah samar di balik tudung Mortis menatapnya.
Kemudian suara rendah terdengar.
“Aku bukan seseorang yang kembali bersamamu.”
Monn mengerutkan kening.
“Lalu?”
“Aku adalah sesuatu yang tidak pernah pergi.”
Ruangan menjadi sunyi.
Monn menatap Edrin.
“Apa maksudnya?”
Edrin berjalan mendekati meja batu.
“Dalam kehidupan pertamamu, ketika kau mati... sesuatu ikut mati bersamamu.”
Monn merasa tengkuknya merinding.
“Apa?”
“Pilihanmu.”
Monn diam.
Edrin melanjutkan.
“Ketika seseorang menjalani hidup dengan terlalu banyak keputusan yang dibuat oleh orang lain, akan selalu ada bagian dirinya yang tidak pernah benar-benar hidup.”
“Dan saat kau mati... bagian itu tidak ikut mati.”
Monn menatap Mortis.
“Jadi dia...”
“Bukan jiwa.”
Edrin menggeleng.
“Bukan dewa.”
“Bukan monster.”
“Lalu apa?”
Edrin menatap Monn.
“Akibat.”
Satu kata.
Namun terasa jauh lebih berat daripada penjelasan panjang.
Mortis bergerak.
Jubah hitamnya bergeser perlahan.
“Setiap pilihan meninggalkan sesuatu.”
Suaranya terdengar jauh lebih jelas daripada sebelumnya.
“Setiap penolakan.”
“Setiap penyesalan.”
“Setiap keputusan yang tidak pernah dibuat.”
“Semua meninggalkan jejak.”
Monn menatap tangannya.
“Dan kau adalah jejak itu?”
Mortis mengangguk.
“Sebagian.”
Monn terdiam.
Selama ini ia mengira Mortis adalah kekuatan yang diberikan kepadanya.
Sebuah kemampuan.
Sebuah senjata.
Namun mungkin sejak awal—
Mortis bukan sesuatu yang diberikan kepadanya.
Ia adalah sesuatu yang tumbuh dari dirinya sendiri.
---
“Aku masih punya satu pertanyaan.”
Monn menatap Edrin.
“Kenapa kau menungguku?”
Edrin berjalan ke rak paling tua.
Ia mengambil sebuah buku tipis.
Sampulnya hampir hancur.
“Karena aku pernah melakukan kesalahan yang sama.”
Monn mengerutkan kening.
“Kesalahan apa?”
“Mencoba mengendalikan sesuatu yang tidak bisa dikendalikan.”
Edrin membuka buku itu.
Halaman-halamannya penuh tulisan tangan.
“Aku pikir Blood Thread bisa membuat manusia memilih jalan yang benar.”
Ia tersenyum pahit.
“Aku salah.”
Monn diam.
“Awalnya aku hanya menggunakan kemampuan ini untuk hal kecil.”
Edrin mengangkat satu jari.
“Membuat seseorang lebih berani.”
Jari kedua.
“Mengurangi rasa takut.”
Jari ketiga.
“Membantu dua orang berdamai.”
Ia menutup buku.
“Semua terdengar baik.”
“Lalu apa masalahnya?”
“Batas.”
Monn menatapnya.
“Setiap kali aku membantu seseorang memilih, aku mulai percaya bahwa aku tahu apa yang terbaik untuk mereka.”
Edrin menatap Monn.
“Dan saat seseorang percaya bahwa dirinya tahu apa yang terbaik untuk semua orang...”
Ia berhenti.
“...dia berhenti mendengarkan.”
Monn terdiam.
Kalimat itu terasa seperti cermin.
Ia sendiri mulai melakukan hal yang sama.
Dalam kehidupan kedua, ia ingin menyelamatkan semua orang.
Kemudian ia mulai berpikir bahwa beberapa orang harus dikorbankan.
Beberapa keputusan harus diambil untuk mereka.
Karena Monn merasa tahu hasil terbaik.
Edrin seolah membaca pikirannya.
“Jangan ulangi kesalahanku.”
Monn menggeleng.
“Aku tidak akan.”
Edrin tersenyum.
“Kau sudah melakukannya.”
Monn membeku.
“Apa?”
“Serangan tadi.”
Monn mengerutkan kening.
“Aku tidak menyebabkan serangan itu.”
“Bukan.”
Edrin menunjuk Monn.
“Kau mengubah satu hal.”
“Kemudian dunia merespons.”
Monn terdiam.
“Dalam kehidupan pertamamu, kau tidak tahu apa yang akan terjadi. Jadi kau membiarkan semuanya berjalan.”
Edrin melanjutkan.
“Sekarang kau mengetahui sebagian masa depan.”
“Dan kau mencoba mengubahnya.”
“Benar.”
“Jadi?”
“Sekarang semua orang lain juga mulai berubah.”
Monn mengepalkan tangan.
Edrin berjalan menuju pintu hitam di ujung ruangan.
“Ini alasan kenapa aku menunggumu.”
“Apa yang ada di balik pintu itu?”
“Jawaban.”
Edrin menyentuh permukaan pintu.
Kemudian berhenti.
“Tapi juga masalah yang jauh lebih besar.”
Monn mendekat.
“Buka.”
Edrin menatapnya.
“Kalau pintu ini terbuka, kau mungkin tidak bisa kembali menjadi orang yang sama.”
Monn tersenyum tipis.
“Aku sudah bukan orang yang sama sejak pertama kali membuka mata.”
Edrin tertawa kecil.
“Jawaban yang buruk.”
“Kenapa?”
“Karena itu jawaban seseorang yang terlalu yakin bahwa dirinya sudah memahami perubahan.”
Monn terdiam.
Edrin membuka pintu.
KRRRKKK...
Udara dingin keluar.
Di baliknya terdapat sebuah ruangan yang jauh lebih besar.
Tidak ada buku.
Tidak ada meja.
Tidak ada senjata.
Hanya dinding penuh gambar.
Monn melangkah masuk.
Lukisan pertama memperlihatkan seorang bayi.
Lukisan kedua memperlihatkan seorang anak kecil.
Lukisan ketiga memperlihatkan seorang remaja.
Kemudian—
Monn.
Bukan Monn yang berusia tujuh belas tahun.
Melainkan Monn pada kehidupan pertamanya.
Saat ia dewasa.
Saat ia berdiri di medan perang.
Saat ia berada di samping keluarganya.
Saat ia melihat kehancuran Veylcrest.
Saat ia mati.
Monn berhenti.
“Apa ini?”
Edrin berdiri di belakangnya.
“Catatan.”
“Siapa yang menggambar semua ini?”
“Bukan aku.”
Monn melihat lukisan berikutnya.
Dirinya.
Bangun di kamar.
Pada hari pertama kehidupannya yang kedua.
Lukisan itu dibuat dari sudut yang tidak mungkin diketahui siapa pun.
Bahkan pakaian dan posisi tubuhnya sama persis.
Monn merasakan darahnya menjadi dingin.
“Tidak mungkin.”
Ia berjalan ke lukisan berikutnya.
Dirinya berbicara dengan Garrick.
Lalu Seraphine.
Lalu berada di perpustakaan.
Lalu di balkon.
Lalu menghadapi serangan di gerbang timur.
Semua kejadian yang telah dialaminya tergambar di sana.
Bahkan kejadian beberapa jam lalu.
Monn mundur.
“Siapa yang melakukan ini?”
Edrin tidak menjawab.
Monn menatap lukisan terakhir.
Lukisan itu belum selesai.
Hanya ada sosok Monn yang berdiri di tengah ruangan.
Di belakangnya—
Mortis.
Dan di depan mereka—
seorang pria tanpa wajah.
Monn menatap Edrin.
“Siapa dia?”
Edrin menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
Monn mendekati lukisan tersebut.
Di bagian bawah terdapat tulisan.
Bukan bahasa kuno.
Bukan bahasa kerajaan.
Hanya satu kalimat.
“PENGAMAT TIDAK BOLEH MENYENTUH JALAN.”
Monn mengingat tulisan di buku.
Pengamat telah terbangun.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
“Jadi ada seseorang yang mengawasi semua ini.”
Edrin mengangguk.
“Ya.”
“Dan dia sudah tahu aku akan kembali.”
“Ya.”
“Lalu kenapa dia membiarkanku?”
Edrin menatap Monn.
“Itulah bagian yang paling mengkhawatirkan.”
Monn menunggu.
“Karena mungkin,” kata Edrin pelan, “dia tidak ingin menghentikanmu.”
“Lalu?”
“Dia ingin melihat seberapa jauh kau akan berjalan.”
Ruangan mendadak terasa dingin.
Monn menatap lukisan terakhir.
Pria tanpa wajah itu seolah sedang melihatnya.
Kemudian—
retak.
Permukaan lukisan pecah.
Sebuah garis hitam muncul dari kepala sosok tanpa wajah tersebut.
Menjalar ke arah Monn.
Monn refleks mengangkat tangan.
Blood Thread muncul.
Namun sebelum ia sempat menariknya—
Mortis berdiri di depannya.
Untuk pertama kalinya, Mortis menghalangi Monn.
“Jangan.”
Monn menatapnya.
“Kenapa?”
Mortis mengangkat tangan.
“Karena kali ini...”
Bayangan hitamnya memenuhi ruangan.
“...yang menarik bukan kau.”
Garis hitam itu bergerak.
Menembus lukisan.
Menembus dinding.
Lalu berhenti tepat di dada Monn.
Monn terdiam.
Dan dari balik ruangan terdengar suara yang tidak berasal dari Edrin, bukan Mortis, dan bukan siapa pun yang ada di sana.
Sebuah suara yang tenang.
Hampir seperti bisikan.
“Akhirnya kau melihatku.”
Monn menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun untuk pertama kalinya—
ia merasakan seseorang sedang melihatnya dari sisi lain dunia.
Dan orang itu tidak sedang mengancamnya.
Tidak sedang menyerangnya.
Ia hanya...
menunggu pilihan Monn berikutnya.