Chapter 8 of 51

Chapter 8 — Anak yang Belum Dilahirkan

1.0k words

Ruangan keluarga Veylcrest tetap sunyi. Tidak ada seorang pun yang segera berbicara setelah pengakuan Alaric. Monn berdiri di sisi meja. Matanya masih tertuju pada token logam di hadapannya. Edrin Veylcrest. Adik Duke Alaric. Pemilik Blood Thread sebelum dirinya. Dan seseorang yang menghilang tepat tujuh belas tahun sebelum Monn lahir. Ada terlalu banyak kebetulan. Atau mungkin— tidak ada satu pun yang kebetulan. “Siapa yang memberitahunya?” Pertanyaan Monn akhirnya memecah keheningan. Alaric tidak menjawab. “Ayah.” “Tidak ada yang tahu.” “Mustahil.” “Memang.” Monn menatap ayahnya. “Kalau Edrin mengetahui aku akan lahir, seseorang pasti memberitahunya.” Alaric menggeleng. “Tidak selalu.” “Lalu bagaimana?” “Karena Edrin tidak melihat masa depan.” Monn terdiam. Alaric melanjutkan. “Dia melihat sesuatu yang lebih buruk.” “Apa?” “Pola.” Alaric mengambil token tersebut. Jarinya menyentuh permukaan logam. “Edrin percaya bahwa ada kejadian-kejadian tertentu yang selalu berusaha kembali ke tempatnya.” Monn mengerutkan kening. “Seperti takdir?” “Dia membenci kata itu.” “Kenapa?” “Karena menurutnya takdir membuat manusia terlalu mudah menyerah.” Monn terdiam. Kalimat itu terdengar sangat familiar. Alaric melanjutkan. “Edrin mengatakan kehidupan manusia bukan garis lurus.” “Lalu?” “Lebih seperti jaringan.” Monn langsung memikirkan Blood Thread. Alaric memandangnya. “Setiap keputusan menciptakan hubungan baru. Setiap hubungan menciptakan kemungkinan baru. Jika cukup banyak kejadian memiliki pola yang sama, hasilnya bisa terlihat seperti sesuatu yang sudah ditentukan.” Monn menatap token. “Jadi Edrin tidak melihat masa depanku.” “Tidak.” “Dia hanya memperkirakannya.” “Benar.” “Dan dia salah.” Alaric diam. Monn tersenyum tipis. “Karena aku sudah kembali.” Tidak ada yang membantah. Namun Evelyne akhirnya berbicara. “Justru itu yang membuat semuanya berbahaya.” Monn menoleh kepada ibunya. “Apa maksud Ibu?” Evelyne menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. “Kalau kehidupanmu benar-benar sudah berubah, berarti semua perkiraan Edrin tidak lagi berlaku.” “Bukankah itu bagus?” “Tidak selalu.” “Kenapa?” “Karena kita tidak tahu apa yang akan menggantikannya.” Monn terdiam. Ia sudah mengetahui itu. Dalam kehidupan pertama, keluarganya hancur. Dalam kehidupan kedua, ia mencegah beberapa kejadian. Namun sekarang serangan terjadi dua tahun lebih awal. Garrick menerima token. Asterion muncul. Mortis bergerak sendiri. Dan seseorang sudah mengetahui kepulangannya. Setiap kali Monn mengubah satu hal— sesuatu yang lain muncul. Bukan seperti dunia yang mengikuti perintahnya. Lebih seperti dunia sedang menjawab tindakannya. Alaric meletakkan token kembali di meja. “Edrin tidak hanya mempelajari Blood Thread.” Monn menatapnya. “Dia mencoba menggunakannya untuk menemukan sumber kemampuan itu.” “Dan?” “Dia gagal.” “Kenapa?” “Karena semakin jauh dia menariknya, semakin banyak hal yang mulai muncul.” “Apa?” Alaric menatap Monn. “Nama-nama.” Monn mengerutkan kening. “Nama?” “Orang-orang yang belum lahir.” Ruangan kembali sunyi. Monn menatap ayahnya. “Berapa banyak?” “Tidak ada yang tahu.” “Dan aku?” Alaric tidak menjawab. Monn memahami jawabannya. “Namaku ada di sana.” Alaric mengangguk. “Ya.” “Bersama siapa?” “Tidak ada.” Monn sedikit mengerutkan kening. “Maksudnya?” “Namamu muncul sendirian.” “Tidak ada nama orang lain?” “Tidak.” “Tidak ada tanggal?” “Tidak.” “Tidak ada penjelasan?” Alaric menggeleng. “Hanya namamu.” Monn menatap meja. Sesuatu terasa salah. Jika Edrin benar-benar melihat pola— mengapa hanya dirinya yang tercatat? Dan kenapa tepat tujuh belas tahun sebelum ia lahir? “Di mana catatan itu?” Alaric tidak menjawab. “Ayah.” “Sudah dihancurkan.” Monn menatapnya. “Siapa yang menghancurkan?” “Aku.” “Kenapa?” “Karena setelah membaca namamu, Edrin menghilang.” Monn terdiam. Alaric melanjutkan. “Beberapa hari kemudian, aku menemukan ruang penelitian Edrin kosong.” “Tidak ada mayat?” “Tidak.” “Tidak ada jejak?” “Tidak.” “Tidak ada catatan?” “Hanya satu.” Monn menahan napas. “Apa isinya?” Alaric memandangnya. “Jangan biarkan anak itu menemukan benangnya.” Monn membeku. “Anak itu... aku?” “Ya.” Monn menutup mata. Jadi sejak sebelum ia lahir— seseorang sudah takut terhadap kemampuannya. Namun pertanyaan lain muncul. Jika Edrin ingin mencegahnya menemukan Blood Thread... kenapa kemampuan itu tetap muncul? Kenapa Monn kembali? Kenapa Mortis hadir? Dan siapa Asterion? Tiba-tiba— BRAK! Pintu ruang rapat terbuka. Seorang pelayan berdiri dengan napas terengah-engah. “Tuanku!” Alaric langsung menoleh. “Apa?” “Ruang arsip.” Pelayan itu menelan ludah. “Terjadi sesuatu.” Monn langsung berdiri. “Apa yang terjadi?” “Buku hitam itu...” Monn membeku. “Bukankah ada di ruang kerjaku?” “Ya, Tuan Muda.” “Lalu?” Pelayan itu menatapnya. “Buku itu sekarang terbuka sendiri.” Mereka tiba beberapa menit kemudian. Pintu ruang kerja Monn terbuka. Seraphine berdiri di depan meja. Wajahnya serius. “Aku tidak menyentuhnya.” Monn mendekati meja. Buku hitam itu terbuka pada halaman terakhir. Namun tulisan yang sebelumnya ada di sana telah berubah. Nama MONN VEYL CREST masih terlihat. Tanggal tujuh belas tahun sebelum kelahirannya juga masih ada. Tetapi sekarang terdapat tulisan baru. Satu kalimat. “SUBJEK TELAH KEMBALI.” Monn menatapnya. Kemudian muncul kalimat kedua. “VARIASI TELAH DIMULAI.” Seraphine perlahan mendekat. “Apa artinya?” Monn menggeleng. “Aku tidak tahu.” Tulisan ketiga muncul. Lebih lambat. Seolah seseorang sedang menulis dari sisi lain halaman. “PENGAMAT TELAH TERBANGUN.” Monn merasakan hawa dingin. “Pengamat?” Tulisan berikutnya muncul. “JANGAN BIARKAN DIA MENEMUKANMU.” Lalu semua tulisan menghilang. Buku kembali kosong. Monn menatap halaman itu. Untuk pertama kalinya, ia merasa Blood Thread bukan satu-satunya sesuatu yang mengawasinya. Ada seseorang. Atau sesuatu. Yang hanya menunggu. Seraphine berbisik, “Monn.” “Hm?” “Lihat.” Ia menunjuk jendela. Monn menoleh. Di luar kediaman, jauh di atas bukit Blackvale, berdiri seseorang. Siluet hitam. Tidak bergerak. Tidak mendekat. Hanya mengawasi. Monn langsung mengaktifkan Blood Thread. Garis-garis merah muncul. Para penjaga. Para pelayan. Seraphine. Keluarganya. Namun sosok di bukit itu— kosong. Tidak ada satu pun garis. Monn membeku. “Tidak mungkin.” Seraphine menatapnya. “Kau melihat sesuatu?” Monn mengangguk perlahan. “Orang yang sama.” “Asterion?” “Bukan.” Sosok itu mengangkat satu tangan. Kemudian menunjuk tepat ke arah Monn. Monn merasakan tekanan aneh di dadanya. Blood Thread miliknya bergerak sendiri. Satu garis merah keluar dari tubuhnya. Bukan menuju sosok itu. Melainkan— ke tanah. Jauh ke bawah. Seolah ada sesuatu di bawah kediaman Veylcrest yang sedang menariknya. Monn mundur satu langkah. “Tidak...” Seraphine melihat perubahan wajahnya. “Apa yang terjadi?” Monn menatap lantai. “Edrin tidak menghilang.” “Apa?” “Dia turun.” Monn menatap fondasi kediaman. “Ke bawah rumah ini.” Seraphine terdiam. Di kejauhan, sosok di bukit menghilang. Dan tepat pada saat yang sama— terdengar ketukan dari bawah lantai. Tok. Monn membeku. Tok. Sekali lagi. Tok. Tiga ketukan. Kemudian suara yang sangat pelan terdengar dari bawah mereka. “Monn...” Mata Monn melebar. Ia mengenal suara itu. Bukan dari kehidupan kedua. Bukan dari kehidupan pertama. Namun dari sesuatu yang jauh lebih tua. Suara yang pernah ia dengar ketika dirinya masih belum mengerti apa arti Blood Thread. Suara yang sekarang membuat satu kesimpulan muncul di kepalanya: Seseorang telah menunggunya selama tujuh belas tahun.

End of Chapter 8